Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17 Andre Kembali
Malamnya Max menepati janjinya mengajak Rora pergi dinner di restoran langganannya. malam ini Rora tampil cantik dengan gaun tertutup berwarna hitam dengan aksesoris kalung berlian kecil membuatnya tampil elegan dan menawan.
"Cantik sekali Aurora Gunanto" bisik Max sembari mengulurkan tangannya.
Aurora menyambut tangan Maxime sembari tersenyum. keduanya menikmati makan malam romantis dan mendengar alunan musik dari biola.
"Mau berdansa?" tanya Max.
Aurora mengangguk ia berdiri mengikuti Max, keduanya berdansa perlahan mengikuti alunan musik dari seorang violin ternama. jarak tubuh Max dan Rora begitu dekat. Aurora sedikit berdebar karena Max terus menatapnya sejak tadi.
"Aurora, ada yang mau aku katakan" kata Max hati-hati.
Rora menatap kedua mata Maxime, ia bisa melihat keseriusan di sorot mata Maxime.
"Apa aku bisa dapat kesempatan memenangkan hati mu?"
Aurora terdiam mendengar pertanyaan Maxime.
"Apa aku punya kesempatan memenangkan hatimu Rora?" Max mengulangi pertanyaannya dengan hati-hati.
Aurora berkaca-kaca ia tidak tahu harus bicara atau menjawab apa. ia sendiri masih bimbang dengan perasaannya. yang ia rasakan pada Maxime itu nyata cinta atau hanya sayang sebagai sahabat karib.
"Tidak perlu menjawab sekarang, beri aku jawaban jika kau siap"
Selesai makan malam Aurora berdiam diri di kamar. memikirkan banyak hal yang ia lalukan bersama Maxime akhir-akhir ini. tanpa disadari banyak hal manis dan aneh yang terjadi antara dirinya dan Maxime setelah pernikahan itu. Rora tersenyum sendiri ia menarik selimut menutupi wajahnya dan sekuatnya menahan getaran aneh di dadanya setiap kali ia memikirkan Maxime.
Akhirnya Rora memutuskan akan memberi kesempatan dirinya dan Maxime untuk saling mengisi kekosongan hati mereka.
Pukul dua malam Aurora baru bisa memejamkan matanya setelah ia berusaha keras tertidur. Rora merasa ia seperti anak remaja yang baru pertama jatuh cinta. ia tidak sabar menunggu pagi tiba. Rora ingin melihat wajah Maxime lagi dan lagi.
Pagi tiba Rora bangun sedikit kesiangan. ia bergegas bersiap ke kantor. Max sudah duduk di meja makan menikmati secangkir kopi. ia juga membuatkan segelas susu dan sandwich untuk Rora.
"Pagi..." suara Aurora terdengar lembut menyapa telinga Maxime.
Maxime menoleh ia meletakkan ponselnya di atas meja dan beralih memperhatikan Aurora.
"Pagi, aku membuatkan sarapan untuk mu" kata Max.
"Terimakasih" kata Aurora malu-malu.
"Rora kenapa kau tidak melihat ku?" tanya Max.
"Aku ...malu"
Max tertawa kecil ia sendiri sebenarnya juga malu tapi ia ingin memandang wajah Aurora.
"Aku ingin melihat wajah mu" kata Maxime sambil tersenyum.
Aurora mengangkat sedikit wajahnya, ia memandang Max sekilas lalu segera menggigit sandwich untuk mengalihkan perhatiannya.
"Baiklah aku harus ke kantor, kau di jemput sopir papa?" tanya Max sambil melihat jam tangannya.
"Max tunggu" Aurora menahan langkah Maxim. ia bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Max menunggu Rora dengan sedikit tidak sabar karena ia harus pergi ke kantor sebelum terjebak macet di jalanan ibu kota.
Aurora menuruni tangga membawa kotak kado berhias pita cantik. ia menyerahkannya pada Maxime. Aurora selalu kebingungan jika memberi kado pada Maxime. pria itu memiliki segalanya harta, perusahaan, semua ia bisa beli dengan uangnya. jadi Aurora memberinya kado sederhana buatan tangannya sendiri. berhari-hari Aurora membuat buku cantik berisi kenang-kenangan foto lama mereka berdua. Aurora menempel satu persatu, memberi aksesoris yang sederhana namun terlihat indah pada album foto itu. Max membuka album foto itu ia mengamati halaman demi halaman berisi fotonya dan Aurora.
"Kau mengerjakan semua ini sendiri?" tanya Max.
Aurora mengangguk cemas jika Max tidak menyukai kado darinya.
"Ini bagus sekali Rora, aku sangat suka sangat.. sangat suka. terimakasih..." Max memeluk Aurora dan Aurora membalas pelukannya.
Pagi ini mentari bersinar cerah dan hangat seperti hati Max dan Rora. keduanya memutuskan berangkat ke kantor berdua. Max akan antar Aurora lebih dulu baru ia pergi ke kantornya.
Sementara itu di airport nampak seorang pria baru saja tiba dan turun dari pesawat. pria itu menarik sebuah koper besar berjalan penuh percaya diri sembari memakai kaca mata hitam. di kejauhan seorang pria lainnya melambaikan tangan pada pria yang membawa koper itu.
"Andre!"
"Hendri?"
Hendri melangkah cepat menghampiri Andre yang merupakan rekan bisnisnya dulu.
"Selamat datang kawan" kata Hendri.
Andre baru kembali dari Norwegia. ia sudah mendengar pernikahan antara Aurora dengan Maxime. Ia juga sudah mendengar Maxime memutuskan sepihak kerja sama bisnis mereka hingga perusahaan Andre kolaps karena kesulitan keuangan di tambah citra buruk Andre yang menunggak pajak. Kini Andre kembali untuk memperbaiki hidupnya. ia sudah mendapatkan dana untuk membangun kembali perusahaannya dan bersiap merebut Aurora dari tangan Maxime.