NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: RAHASIA

Aroma tanah basah sisa gerimis tipis sore itu mulai mengudara, berpadu dengan hembusan angin yang membawa kesejukan ke area teras rumah Aldi. Setelah kondisi tubuhnya terasa jauh lebih segar akibat tidur siang yang nyenyak, Aldi memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Jasmine yang melihat Aldi sudah bisa berjalan tegak langsung mengajaknya untuk mengobrol di teras depan.

Wanita itu sengaja memilih duduk di kursi rotan teras, membiarkan pintu utama rumah terbuka lebar agar pandangan dari arah gang luar tetap terlihat jelas. Katanya, biar tidak mengundang fitnah dari tetangga komplek yang sesekali melintas, mengingat status mereka yang berada di dalam satu rumah tanpa ada orang tua maupun Mikhaela di sana.

Di atas meja kaca kecil, dua cangkir teh manis hangat yang baru saja dibuat Jasmine tampak mengepulkan asap tipis. Aldi duduk di kursi rotan seberang Jasmine, memandangi samping wajah wanita itu yang tampak begitu tenang menatap jalanan komplek yang mulai sepi.

Kehangatan perhatian Jasmine sepanjang hari ini benar-benar membuat keberanian di dalam dada Aldi terkumpul. Setelah meminum seteguk teh hangatnya untuk membasahi tenggorokan yang masih agak serak, Aldi memajukan badannya sedikit. Tatapannya lurus, menatap matang ke arah manik mata Jasmine.

"Bu Jasmine..." panggil Aldi pelan, memecah keheningan di antara mereka.

Jasmine menoleh, menyunggingkan senyuman tipisnya yang selalu berhasil membuat debaran jantung Aldi berpacu cepat. "Iya, Mas Aldi? Ada yang terasa sakit lagi badannya?"

"Eh, enggak kok, Bu. Udah jauh lebih mendingan banget ini," kilah Aldi cepat. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan rasa gugupnya sebelum melontarkan pertanyaan yang sejak siang tadi berputar-putar di otaknya. "Bu Jasmine... emangnya Ibu gak kepikiran buat nikah lagi?"

Mendengar pertanyaan yang cukup pribadi itu, gerakan tangan Jasmine yang hendak mengambil cangkir tehnya sempat terhenti sesaat. Ia menatap Aldi dengan pandangan yang sulit diartikan, ada gurat kedewasaan sekaligus beban emosional yang mendalam di matanya. Jasmine mengembuskan napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi rotan.

"Saya itu ada anak, Mas... si Nadeo," jawab Jasmine lembut, suaranya terdengar sangat tulus namun penuh pertimbangan. "Fokus hidup saya sekarang itu cuma buat membesarkan dia dan memastikan masa depannya aman. Jadi, kalau ditanya soal nikah buru-buru... ya sepertinya belum bisa untuk saat ini. Tanggung jawabnya terlalu besar."

Aldi mengangguk-angguk paham, namun rasa penasarannya justru semakin membubung tinggi. Keberadaan sosok pria yang pernah ada di hidup Jasmine sebelum wanita itu pindah ke komplek RT 04 selalu menjadi misteri bagi anak-anak Karang Taruna. Aldi memberanikan diri untuk menggali lebih dalam, mumpung suasana sore ini terasa sangat mendukung.

"Kalau boleh tahu... memangnya mantan suami Bu Jasmine sekarang ada di mana?" tanya Aldi dengan nada sehalus mungkin, takut jika pertanyaannya akan menggores luka lama di hati wanita di depannya.

Seketika, suasana di teras rumah itu mendadak hening total selama beberapa detik. Hanya ada suara desau angin sore yang memainkan daun-daun pohon mangga di halaman. Jasmine tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya, menatap piring kecil alas cangkir tehnya dengan senyuman yang mendadak berubah menjadi getir, namun ada kelegaan tersendiri yang terpancar dari wajah cantiknya.

Jasmine kembali mendongak, menatap lekat-lekat ke dalam mata Aldi. "Mas Aldi... sebenarnya, ada satu hal besar yang gak ada satu orang pun di komplek ini yang tahu."

Dahi Aldi berkerut, perasaannya mendadak menjadi sangat peka. "Hal besar apa, Bu?"

Jasmine menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh kemantapan hatinya sebelum berbicara. "Nadeo... dia sebenarnya bukan anak kandung saya, Mas. Dia itu anak dari almarhum kakak kandung saya sendiri."

Deg.

Aldi langsung terpaku di kursinya, matanya sedikit melebar karena terkejut.

"Beberapa tahun lalu, kakak kandung saya dan suaminya mengalami sebuah kecelakaan tragis yang menimpa mereka saat sedang perjalanan dinas. Keduanya langsung berpulang di tempat kejadian," lanjut Jasmine, suaranya bergetar tipis menahan emosi kenangan masa lalu, namun ia tetap berusaha tegap. "Saat itu, Nadeo masih bayi. Sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa, saya gak mungkin membiarkan keponakan saya sendiri telantar. Jadi, saya ambil alih hak asuhnya dan saya rawat dia seperti anak saya sendiri sampai detik ini."

Aldi mendengarkan dengan saksama, hatinya mendadak diselimuti rasa kagum yang luar biasa mendalam atas kemuliaan hati Jasmine. Namun, bagian selanjutnya dari kalimat Jasmine adalah hal yang benar-benar akan meruntuhkan seluruh logika di kepala sang Ketua Karang Taruna.

Jasmine memajukan badannya, menatap Aldi dengan tatapan yang sangat jujur tanpa ada yang ditutupi lagi. "Dan mengenai status saya yang selama ini dikenal sebagai seorang janda... yang katanya punya mantan suami... itu semua cuma karangan saya sendiri, Mas."

"Hah?!" Aldi reflek menegakkan punggungnya, mulutnya setengah terbuka dengan ekspresi wajah yang benar-benar syok. "K-karangan... maksudnya gimana, Bu?"

Jasmine tersenyum tipis melihat reaksi Aldi yang tampak sangat menggemaskan karena kebingungan. "Saya itu sebenarnya belum pernah menikah sama sekali, Mas Aldi. Masih lajang, belum pernah ada ikatan pernikahan dengan pria mana pun."

Mendengar kalimat sakral itu keluar dari mulut Jasmine, otak Aldi rasanya seperti mengalami korsleting digital gelombang ketiga. Kepalanya mendadak kosong, dan dadanya bergemuruh hebat. What?! Bu Jasmine yang selama ini digosipkan sebagai janda montok kembang komplek... ternyata belum pernah nikah?! Dia masih gadis?!

"T-terus... kenapa Bu Jasmine sengaja pasang status janda pas awal pindah ke komplek kita?" tanya Aldi dengan suara yang mendadak gagap, berusaha mencari pegangan pada realitas yang baru saja bergeser 180 derajat ini.

Jasmine terkekeh pelan, merapikan letak rambutnya yang tertiup angin sore. "Mas Aldi harus paham posisi saya waktu itu. Saya seorang perempuan muda yang belum menikah, tapi harus membawa seorang anak balita pindah ke lingkungan komplek baru yang belum saya kenal sama sekali. Di masyarakat kita, kalau ada perempuan lajang pelihara anak kecil tanpa status yang jelas, gosip dan pandangan miring dari warga pasti bakal jauh lebih kejam, kan?"

Aldi terdiam, mencerna penjelasan Jasmine. Sebagai anak muda yang sering mengurus administrasi warga bersama Pak RW, ia tahu betul bagaimana tajamnya lidah ibu-ibu komplek kalau sudah menemui hal yang dianggap janggal.

"Makanya," lanjut Jasmine dengan nada suara yang melembut, "saya sengaja mengarang cerita kalau saya ini janda yang ditinggal suami. Tujuannya cuma satu, Mas! agar tidak terjadi fitnah di kalangan komplek ini ketika saya pertama kali pindah dan menetap di sini. Dengan status janda, warga bakal menganggap Nadeo adalah anak sah dari pernikahan terdahulu saya, dan privasi saya serta ketenangan tumbuh kembang Nadeo bisa lebih terjaga tanpa perlu dihujani pertanyaan yang menyakitkan soal almarhum orang tuanya."

Penjelasan panjang dan jujur dari Jasmine sore itu benar-benar mendarat dengan telak di lubuk hati Aldi. Rasa syok yang tadinya mendominasi perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa, kagum, dan getaran cinta yang tak terbendung. Di matanya saat ini, Jasmine bukan lagi sekadar sosok Bu RT yang cantik dan matang, melainkan seorang wanita yang luar biasa tegar, rela mengorbankan status mudanya demi melindungi dan membesarkan darah daging mendiang kakaknya.

Aldi menatap lekat-lekat wajah Jasmine yang kini tampak jauh lebih lega setelah menumpahkan rahasia terbesarnya. Fakta bahwa Jasmine ternyata belum pernah menikah dan masih lajang membuat sebuah harapan baru yang sangat besar, sangat luas, dan sangat cerah mendadak membentang lebar di dalam masa depan Aldi.

"Bu Jasmine..." ujar Aldi, suaranya kini terdengar sangat dalam, mantap, dan penuh dengan aura kedewasaan seorang pria yang siap melindungi. "Makasih banyak sudah mau cerita hal sejujur ini sama saya."

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!