( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Side dimension creature
Mahluk Dimensi Lain
Leoric terkejut.
Di belakangnya, di pantulan cermin kamar mandi, tampak sosok asing berdiri.
Makhluk itu menyerupai manusia, namun seluruh tubuhnya hanyalah tulang belulang yang terbungkus sisa-sisa bayangan. Ia menatap Leoric tanpa bergerak.
Keringat dingin langsung mengalir di punggung Leoric.
Perasaan campur aduk mengguncang dirinya. Ia ingin berteriak, namun instingnya menahan.
Jika ia berteriak sekarang, situasinya mungkin akan menjadi jauh lebih buruk.
Di tengah ketegangan itu, makhluk tersebut berbicara lebih dulu.
“Salam kenal, manusia.”
Leoric menelan ludah.
“S-Siapa kau? Apa tujuanmu datang kemari? Aku yakin kau bukan datang untuk harta atau semacamnya, kan?”
Makhluk itu tertawa pelan.
“Hahaha… harta, harta, harta. Benar sekali… isi pikiran manusia selalu tentang harta.”
Suara itu terdengar tenang, namun menusuk.
“Tapi tenang saja. Tebakanmu salah. Aku tidak datang untuk harta… dan juga bukan untuk melukaimu.”
Leoric mengerutkan kening.
“Lalu apa? Apa tujuan kalian datang tiba-tiba lalu membantai dan menghancurkan semua yang kalian lihat?”
Makhluk itu sedikit menunduk, seolah berpikir.
“Tenanglah, Tuan. Sebelum itu… bukankah lebih baik kita berkenalan dulu?”
Ia mengangkat kepala lagi.
“Namaku Sarioth. Aku datang untuk menawarkan sedikit kekuatan padamu.”
Leoric terdiam sesaat.
“Sarioth… namaku Leoric.”
Ia menghela napas.
“Dan soal kekuatan itu… aku menolak.”
Sarioth langsung tertawa.
“HAHAHA! Menarik! Kau bahkan menolak tanpa berpikir panjang.”
Ia mencondongkan kepalanya sedikit.
“Apa kau yakin?”
Leoric tidak mundur.
“Tentu saja. Sangat mencurigakan kalau makhluk yang baru muncul dari tempat tidak jelas, yang kaumnya sedang membantai manusia, tiba-tiba menawarkan kekuatan. Apa untungnya untukmu?”
Sarioth mengangkat tangan kecilnya.
“Di sini kau salah paham. Aku memang berasal dari tempat yang sama dengan para makhluk yang kau lihat, tapi aku bukan bagian dari mereka.”
Ia berhenti sejenak.
“Bahkan bisa dibilang… aku berada di atas mereka.”
“Dan kau pasti tidak ingin disamakan dengan binatang, bukan?”
Leoric terdiam.
“Kau benar… kalau kau ingin membunuhku, kau bisa melakukannya dari tadi.”
Ia menatap tajam.
“Tapi tetap saja. Apa keuntunganmu?”
Sarioth tersenyum tipis.
“Jawaban yang bagus. Kau cepat menenangkan diri setelah melihatku. Itu nilai plus.”
Lalu ia melanjutkan.
“Aku memilihmu.”
Leoric mengernyit.
“Memilihku?”
“Dan aku tidak menawarkan kekuatan secara cuma-cuma.”
“Lalu apa bayarannya?” tanya Leoric.
“Dan kenapa aku?”
Sarioth menatapnya lebih lama kali ini.
“Karena kau anak raja yang paling cermat.”
Ia mulai menjelaskan, seolah sudah mengamati sejak lama.
“Awalnya aku mengincar anak ketiga.
Karismanya bagus, bisa dimanfaatkan. Tapi sifatnya buruk—emosional, tidak stabil.”
“Anak keempat terlalu penurut. Mudah dimanfaatkan, tapi terlalu lemah.”
Ia berhenti sebentar.
“Dan anak pertama… berbeda. Dia tidak banyak bicara, tapi ada sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang… tidak bersih.”
Leoric langsung menyela.
“Jadi kau awalnya mengincar Cortinus?”
Lalu wajahnya mengeras.
“Tunggu… kau sudah mengawasi kami?”
Sarioth mengangguk pelan.
“Dan soal kakakmu… bukan ‘jahat’. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan dengan sederhana.”
Leoric mengabaikan bagian itu.
“Jadi kekuatan itu apa?”
Sarioth tersenyum.
“Aku.”
Suasanya Hening.
“Aku menawarkan diriku sebagai pelayanmu. Aku akan bersumpah setia padamu.”
Ia sedikit mencondongkan badan.
“Dan soal bayaran… kau harus membuat altar, dan menyembah Dewa KnowNot, dewa pengetahuan.”
Leoric langsung bereaksi.
“Kau serius? Menyembah dewa yang bahkan tidak ada di kitab gereja?”
Sarioth mengangguk santai.
“Secara teknis… dia berasal dari dimensi kami. Wajar jika kau tidak mengenalnya.”
Leoric mengusap wajahnya pelan.
“Ini masalah besar… kalau gereja tahu aku menyembah dewa asing, aku bisa dieksekusi.”
Belum sempat jawaban Sarioth keluar…
BRAK!
Suara hantaman keras mengguncang istana.
Leoric langsung menoleh ke jendela kamar mandi.
Di luar, pemandangan kacau terbentang.
Beberapa monster raksasa—sebesar rumah dua lantai—berjumlah lima ekor, sedang melempar batu besar ke arah gerbang istana.
Para tentara Nightdoom berlarian membentuk barisan darurat.
Barikade dibuat dari kayu, batu, dan apa pun yang bisa digunakan.
Namun semua orang tahu… itu tidak akan cukup.
“Ini buang-buang waktu!” teriak seorang panglima, Leonard Lionheart.
“Barikade itu tidak akan menghentikan mereka!”
Namun Gideon Rudolf, kepala pasukan, membalas keras.
“Aku yang memimpin di sini! Laksanakan perintah!”
Leoric mengepalkan tangan.
Mereka bertengkar… di saat yang sama dunia sedang runtuh.
Sarioth kembali berbicara.
“Bagaimana, Tuan Leoric?”
“Kalau kau menerimaku… mengalahkan mereka bukan hal sulit.”
Leoric berpikir cepat.
Kalau dia menerima, dia akan dicurigai.
Kalau dia tidak menerima… orang-orang akan mati.
Tiba-tiba ia tersenyum kecil.
“Aku punya ide.”
Sarioth diam.
“Kau saja yang bertarung. Aku akan menonton dari sini dan memberi semangat.”
“Win-win.”
Sarioth menghela napas kecil.
“Itu ide buruk.”
“Kenapa?”
“Kalau aku terluka… kau juga akan merasakan dampaknya. Bukan luka fisik, tapi rasa sakitnya tetap ada.”
Leoric langsung panik.
“Lalu apa gunanya kau jadi pelayan?!”
Sarioth terdiam sebentar.
Lalu tersenyum lagi.
“Aku punya ide lain.”
“Kalau kau bisa bertarung…”
Leoric langsung tersinggung.
“Tentu saja aku bisa!”
Sarioth menunjuk ke arah luar.
“Aku bisa berubah menjadi pedang.”
“Aku cukup kuat untuk menebas mereka.”
Ia berhenti.
“Tapi aku hanya akan melakukannya jika kau menerima kontrakku.”
BOOM!
Ballista pertama ditembakkan.
Mengenai dada salah satu monster.
Namun hanya meninggalkan goresan kecil.
Para tentara terdiam.
Ketakutan mulai menyebar.
Pintu istana terbuka.
Leoric berjalan keluar.
Zirah tempurnya sudah terpasang.
Di tangannya, sebuah pedang hitam dengan gagang hitam juga.
Semua orang langsung terdiam.
Gideon dan Leonard sama-sama membeku.
Putra mahkota… turun ke medan perang.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.