Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Tidak Nyaman
Napas sapi-sapi Wagyu itu terdengar pendek dan berat, tanda stres suhu mulai menyerang.
Saskia berdiri di depan kandang dengan tangan bertolak pinggang, keringat mengucur dari pelipisnya meskipun matahari belum sepenuhnya terbit. Termometer di tangannya menunjukkan angka tiga puluh dua derajat Celsius.
Pukul enam pagi. Di Malang Selatan yang biasanya sejuk, suhu setinggi ini tidak normal.
"Ini baru tiga minggu sejak kalian datang," gumamnya pada lima sapi hitam yang berdiri gelisah di kandang masing-masing. "Kalian belum terbiasa dengan cuaca sini."
Wagyu Fullblood berasal dari Japanese Black, sapi yang dibesarkan di iklim sedang Jepang. Bahkan yang dikembangbiakkan di Australia sekalipun, mereka terbiasa dengan sistem kandang tertutup berpendingin. Bukan kandang papan kayu di desa Malang Selatan yang ventilasinya hanya mengandalkan angin alami.
Sapi pertama, yang ia beri nama Dara karena posturnya yang paling anggun, menjulurkan lidahnya. Air liur menetes dari moncongnya yang hitam. Gelisah. Tanda awal stres panas.
"Ndut tidak kenapa-kenapa," kata Saskia, melirik ke kandang sebelah di mana Limosin tua itu berdiri tenang. "Ndut sudah terbiasa. Kalian belum."
Ia sudah menduga ini akan terjadi. Wagyu Fullblood punya lapisan lemak subkutan yang tebal, itulah yang membuat marbling mereka luar biasa. Tapi lapisan lemak yang sama juga membuat mereka sulit membuang panas tubuh. Di suhu di atas dua puluh delapan derajat, mereka mulai tidak nyaman. Di atas tiga puluh, mereka stres. Di atas tiga puluh lima... bisa fatal.
Tapi menduga dan mengalami adalah dua hal berbeda.
Saskia menghela nafas panjang. Punggungnya masih pegal karena kurang tidur. Tiga hari terakhir ia hanya tidur total mungkin delapan jam. Matanya merah. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap. Tapi ia tidak bisa berhenti sekarang.
"Baiklah," katanya pada diri sendiri. "Sistem pendingin darurat."
Ia berjalan ke belakang kandang, ke tumpukan bambu yang ia kumpulkan dari kebun kosong milik tetangga. Bambu-bambu tua yang sudah tidak dipakai, beberapa retak, beberapa berlubang. Tetangga itu memberikannya gratis karena menganggapnya tidak berguna.
Tapi bagi Saskia, bambu-bambu ini adalah solusi.
"Kalau tidak bisa beli AC, bikin sendiri."
Ia mulai bekerja.
Hari pertama: memotong bambu. Mengukur panjang. Menghitung diameter. Membuat sketsa di atas kertas semen bekas. Konsepnya sederhana: aliran air melalui bambu yang dilubangi, digantung di langit-langit kandang, menciptakan efek pendinginan evaporatif. Prinsip yang sama dengan AC raksasa, tapi dengan bahan seharga nol rupiah.
Hari kedua: merakit. Tangannya terluka di tiga tempat karena serpihan bambu. Darah menetes, tapi ia hanya membalutnya dengan kain bekas dan melanjutkan bekerja. Ndut melenguh setiap kali melihatnya berdarah. Mungkin kebetulan. Mungkin tidak.
Hari ketiga: pemasangan. Saskia naik ke atas kandang dengan tangga bambu darurat, menggantung pipa-pipa bambunya satu per satu. Menghubungkan ke selang air dari sumur. Mengatur katup dari botol bekas.
Ketika air mulai mengalir melalui bambu-bambu itu, menetes pelan ke lantai kandang, suhu di dalam turun dua derajat.
"Cuma dua derajat," desah Saskia. "Tapi cukup untuk sekarang."
Ia turun dari tangga. Kakinya gemetar. Kepalanya pusing. Ia duduk di sudut kandang, punggungnya menyandar ke dinding. Tangannya masih memegang slang air. Matanya terpejam. Hanya sebentar. Hanya...
Ia tertidur.
Di Jakarta, di lantai dua puluh tujuh Hardjono Tower, Daniel Hardjono menatap layar laptopnya.
Sudah pukul sebelas malam. Kantor sudah kosong sejak pukul tujuh. Bahkan Budi, asistennya yang biasanya pulang paling akhir, sudah ia suruh pergi sejak dua jam lalu. Tapi Daniel masih disini, kursi kulitnya diputar menghadap jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta di malam hari.
Di layar laptopnya, delapan panel CCTV menampilkan sudut-sudut kandang Saskia.
Ia tidak seharusnya menonton ini. Rekaman CCTV disimpan otomatis di server, dan tim keamanan punya staf khusus yang bertugas memeriksanya setiap hari. Laporan akan masuk ke mejanya setiap Senin pagi. Tidak ada alasan baginya untuk memantau langsung.
Tapi ini malam Minggu. Besok bukan hari kerja. Dan Daniel sudah membuka layar ini selama satu jam.
Panel empat. Kandang utama. Lima sapi Wagyu berdiri atau berbaring, semuanya tenang. Di sudut panel, sesuatu bergerak. Daniel memperbesar.
Saskia.
Gadis itu duduk di sudut kandang, punggungnya menyandar ke dinding. Kepalanya terkulai ke samping. Tangannya masih memegang slang air yang menetes pelan. Tidur. Atau pingsan. Sulit dibedakan dari rekaman CCTV.
Daniel memperbesar lagi.
Wajah Saskia terlihat jelas di layar. Kusut. Lelah. Rambutnya acak-acakan, menempel di dahi oleh keringat. Ada noda tanah di pipinya. Ada luka kecil di tangannya, dibalut kain bekas yang sudah mulai merah oleh darah.
Daniel menatap layar itu. Jemarinya tidak bergerak di atas mouse. Hanya menatap.
Jantungnya berdetak aneh.
Ia tidak suka perasaan ini. Perasaan yang tidak bisa ia ukur dengan angka. Perasaan yang tidak ada di spreadsheet manapun. Perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika Cornell University yang sudah tertanam di otaknya selama bertahun-tahun.
Ia menutup layar laptopnya. Bukan menutup tab. Menutup seluruh laptop, dengan gerakan cepat yang hampir terlihat panik.
Lima detik kemudian, ia membukanya lagi.
Memasukkan password. Membuka tab CCTV. Panel empat. Diperbesar.
Masih disana. Masih tidur. Masih memegang slang air.
Daniel menghela nafas panjang. Tangannya mengusap wajahnya sendiri.
"Apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri?" bisiknya pada layar. "Kenapa kau tidak minta bantuan?"
Pertanyaan yang tidak akan pernah ia ucapkan langsung. Karena mengucapkannya berarti mengakui bahwa ia peduli. Dan Daniel Hardjono tidak peduli pada siapapun. Itu aturan yang ia buat untuk dirinya sendiri sejak ia mengambil alih perusahaan ini. Jangan terikat. Jangan peduli. Angka. Hanya angka.
Tapi Saskia bukan angka.
Daniel menutup layarnya lagi. Kali ini lebih pelan. Jemarinya menekan tutup laptop dengan gerakan yang hampir lembut.
Ia memutar kursinya, menatap jendela kaca. Lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip di kejauhan. Di pantulan kaca, ia bisa melihat wajahnya sendiri.
Bingung.
Daniel Hardjono, CEO termuda dalam sejarah Hardjono Agribisnis, lulusan Cornell University, laki-laki yang tidak pernah kalah dalam negosiasi apapun, sedang bingung. Karena seorang gadis desa yang tertidur di kandang sapi.
"Konyol," gumamnya.
Langkah kaki mendekat dari luar ruangan. Daniel menegang. Siapa yang masih di kantor jam segini?
Pintu terbuka. Budi masuk dengan membawa secangkir kopi yang masih mengepul.
"Pak Daniel, saya kira Bapak masih..."
Daniel seketika menutup layar laptopnya dengan cepat.