"lumpur hitam akan selama nya hitam meski telah di rendam dengan emas dan berlian" celetuk nyonya Sin sinis saat melihat Orjioh keluar dari mobil mewah keluaran terbaru berwarna hitam, seketika senyumnya hilang dan moodnya pun berubah. ia tidak menyangka bahwa ternyata gadis yang ingin di kenalkan Jonathan kepadanya adalah Orjioh, teman sekolah Jonathan ketika mereka masih tinggal di kampung dulu, yang menurut nyonya Sin tidak selevel dengan keluarga nya yang seorang pengusaha dan juga memiliki sebuah restoran mewah yang dilengkapi dengan penginapan kelas atasnya sekaligus. "benar" sambung In su setuju dengan kakaknya padahal tadinya dia sempat sedikit senang karena ternyata keponakan dekat dengan orang berpengaruh, pikir in su saat mobil yang dikendarai oleh Orjioh berhenti dibelakang mobil Jonathan, ia bahkan sudah sempat berangan-angan untuk menjilat, namun semua itu sirna ketika ia melihat Orjioh keluar dari mobil itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Kotto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta semusim 3
Pukul 07:30 malam Or ji oh melihat jam berwarna putih yang melingkar cantik di pergelangan tangan kanannya yang mulus, "sepertinya sudah waktunya aku untuk pulang sekarang" kata Or ji oh mengingatkan setelah cukup lama berjalan disekitar resort bersama Jonathan, di tambah lagi hari juga sudah malam. "kalau begitu aku akan mengantar mu ke parkiran" ujar Jonathan menawarkan, karena ia ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama lagi bersama Or ji oh.
Ya mobil Or ji oh memang sudah dipindahkan ke area parkiran, tentunya atas perintah ibunya Jonathan.
"tidak usah biar aku sendiri saja." tolak Or ji oh cepat dan kembali membangun batasan antara dirinya dan Jonathan, karena mereka memang tidak memiliki hubungan apa-apa selain teman. Dia bahkan mau datang kemari hari ini hanya karena Jonathan terus memohon kepadanya, untuk menjadi kekasih pura-pura nya sehari saja agar ibunya tidak menjodohkan nya dengan Shela.
Hal yang gila memang, namun sekitar lima tahun yang lalu Or ji oh bahkan pernah melakukan hal yang lebih extreme dari ini, yaitu menikah pura-pura hanya untuk kepentingan bisnis semata, namun pernikahan itu tidak berlangsung lama hanya setahun lebih sedikit saja, selain itu hanya orang-orang tentu saja yang tahu tentang pernikahan itu.
Tentu nya jawab itu membuat Jonathan kecewa, pasalnya dia sangat berharap hubungan pura-pura ini menjadi kenyataan. Dia sudah menyukai Or ji oh sejak dulu ketika mereka masih duduk di bangku sekolah menengah akhir dulu, "kalau begitu hati-hati dan terimakasih untuk hari ini." tutur Jonathan akhirnya pasrah, karena dia tahu semakin keras ia berusaha untuk mendapatkan Or ji oh, maka akan semakin tinggi pula Or ji oh membangun batasan antara mereka.
"hmm" jawab Or ji oh hanya dengan anggukan kepala, lalu perlahan berjalan meninggalkan Jonathan menuju kearah area parkiran yang berada di basement. "huft" Or ji oh menghela nafas perlahan, setelah ia cukup jauh dari Jonathan, ia merasa sedikit kesal karena membuang waktunya untuk hal yang tidak berguna, ditambah lagi ia harus menghadapi perempuan-perempuan sombong di keluarga Jonathan, yang kadang membuatnya ingin tertawa.
Karena jika dilihat kebelakang sebetulnya keluarga Sin hanya beruntung, karena memiliki seorang kakek yang pernah berjasa menjadi supir setia presdir direktur MA&Group terdahulu, alias pendiri MA&Group perusahaan terbesar pertama disana, jika tidak, mungkin mereka tidak akan seperti sekarang dan mungkin juga tidak akan bisa bersikap sombong seperti tadi.
"huft" hela Or ji oh sekali lagi saat ia melihat seseorang yang sedang tidak ingin ia lihat, begitu berada ditempat parkir. "apa yang kau lakukan disini?" Or ji oh bertanya dengan nada dingin dan sedikit malas, pada lelaki berkaos biru yang sedang berdiri bersandar disamping mobilnya. Baru tadi pagi ia bersitegang dengan lelaki itu dan hari ini dia harus bertemu lagi dengannya disini.
"mencari tumpangan untuk pulang." jawab lelaki itu santai sembari melihat kearah Or ji oh, matanya terlihat memerah.
"mana Kim?" tanya Or ji oh menyadari ada yang tidak beres dengan lelaki dihadapannya itu, sembari melihat ke sekeliling mencari keberadaan Kim, namun selain puluhan mobil disana hanya ada mereka berdua. "pergi lebih dulu karena ada tugas peting yang harus dia lakukan." jawab lelaki itu dengan tangan yang terlihat beberapa kali mengusap bagian area lehernya, seperti orang kepanasan.
"mengapa tidak menyetir sendiri?" Or ji oh masih berusaha untuk tidak memberi tumpangan, di tambah lagi dia juga melihat mobil lelaki itu juga terparkir disana, mobil yang sama dengan nya hanya warnanya saja yang berbeda, yaitu warna merah hati. "tidak bisa" jawab lelaki itu singkat lalu sedikit berjongkok.
"alkohol?" tanya Or ji oh kali ini mencoba menebak apa yang membuat lelaki itu terlihat seperti orang mabuk, "hmm" jawab lelaki itu dengan bergumam. "duduk di belakang, aku tidak suka mencium aroma alkohol." seru Or ji oh sembari menekan remot kunci mobil nya, hingga mengeluarkan bunyi bib dan kunci pintu pun terbuka.
"masuklah!" perintahnya setelah ia duduk didepan kemudi, sementara lelaki itu mulai berdiri, lalu mencari handel pintu bagian belakang dengan kesulitan, seperti orang mabuk pada umumnya. Melihat itu Or ji oh kembali mendesah "huft" akhirnya ia kembali melepas safety Bell, lalu turun dan membuka pintu untuk lelaki itu.
"Ma.." Or ji oh belum sempat menyelesaikan kata-katanya namun lelaki itu sudah lebih dulu mendorongnya. "apa yang kau lakukan?!" tanya Or ji oh dengan nada marah, dia tidak menduga kalau lelaki itu akan mendorong nya masuk ke bangku belakang dan ikut masuk bersama nya, Namun bukan nya menjawab lelaki itu malah langsung menerkam nya bak serigala yang lapar, menci*m* lehernya dengan membabi buta "Oh pil sun!" akhirnya Or ji oh nyebut nama lelaki itu, dia memang mengenal lebih itu, yang tak lain adalah presdir direktur Oh pil sun, pewaris perusahaan Oh&Group. "apa yang kau lakukan?!" ia berusaha dengan sekuat tenaga mendorong lelaki itu agar menjauh darinya.
Meski ia tahu apa yang di inginkan laki-laki itu dari nya, tapi dia tidak mungkin memberikannya. "OH PIL SUN! " ulang Or ji oh lebih keras menyebut nama lelaki itu lagi dengan nada marah.
Namun bukan nya berhenti Oh pil sun justru semakin menjadi, ia bahkan menyingkirkan kedua tangan Or ji oh yang berusaha mendorong nya agar berhenti, lalu menahannya dengan sebelah tangannya. Sementara Or ji oh masih terus berusaha melepaskan diri nya, "hmm" Or ji oh mencoba melepaskan tangan nya dengan sekuat tenaganya, namun Oh pil sun semakin menguatkan tangannya, hingga menimbulkan rasa sakit dikedua pergelangan tangan Or ji oh.
"Oh pil sun apa kau sudah tidak waras? apa kau tahu siapa aku?" ujar Or ji oh mengingatkan tentang siapa dia, sembari terus berusaha melepaskan diri dengan menarik-narik tangannya, "Aku bukan Ye Eun!" seru Or ji oh lagi dengan suara lebih keras, kali menyebut nama perempuan yang pernah di cintai Oh pil sun dan mungkin juga masih ada dihatinya, Namun Oh pil sun mengabaikan nya, serigala yang tengah kelaparan itu sudah tidak perduli dengan apa pun.
Oh pil sun hanya merasa Or ji oh terlalu berisik dan ia ingin segera menutup mulutnya.
Benar saja, alih-alih berhenti, dengan cepat Oh pil sun justru membungkam mulut Or ji oh dengan mulutnya. Ia memulai c**man itu dengan amat ga**s, gerakannya begitu cepat dan gesit, "hmm" membuat Or ji oh terkejut, ia tidak menyangka bahwa Oh pil sun akan menc**m nya, dan berusaha menolak c**man itu namun tidak bisa, karena Oh pil sun tidak memberi kesempatan untuk nya melepaskan diri,
Ia bahkan semakin memperdalam c**man itu dan memaksa Or ji oh untuk menerima dirinya, namun Or ji oh masih menolak hingga akhirnya ia menyerah dan membiarkan Oh pil sun melakukan apa yang ia inginkan. Awalnya c**m itu begitu ga**s namun perlahan-lahan mulai melambat dan begitu lembut, Or ji oh yang tadi terus menolak kini mulai menikmatinya, tangannya mulai melemas tidak seperti sebelumnya yang terus meronta ingin lepas.
Menyadari mangsanya tak lagi melawan, Oh pil sun mulai ngurangin kewaspadaannya, ia tak lagi menggunakan tenaga untuk menahan tangan Or ji oh, di saat seperti itu, jika Or ji oh mau dia pasti akan berhasil lepas dari Oh pil sun. Namun Or ji oh tidak melakukannya ia malah membiarkan tangan Oh pil sun bermain di tubuhnya.
Perlahan tetapi pasti tangan Oh pil sun mulai bermain di tempat-tempat yang ia inginkan, dari bawah sampai keatas lalu berhenti di tempat yang selama ini selalu menggoda nya. Ia membelai tempat itu dengan lembut mengunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tetap menahan kedua tangan Or ji oh tanpa menggunakan tenaga yang berarti.
tangan Oh pil sun bermain dengan begitu lihai menelusuri setiap titik yang ia inginkan. "Aah!" dsh Or ji oh lirih mulai kehilangan kendali disela-sela c**man panas Oh pil sun, ditambah lagi dengan sentuhan-sentuhan hangat dari tangan Oh pil sun, yang terus menelusuri setiap inci bagian tubuh nya.
Namun tempat disela dsh itu seorang petugas keamanan tiba-tiba datang, dan mengetuk kaca jendela mobil Or ji oh, "tok, tok, tok" ketuk petugas keamanan itu sambil sekali-kali mengintip melalui kaca yang tak tembus pandang dari luar itu. Seketika membuat Oh pil sun menghentikan aksinya, dengan sedikit kesal ia menjauhkan tubuhnya sedikit dari Or ji oh, lalu menurunkan sedikit kaca jendela mobil.
Sedangkan Or ji oh mulai mencoba untuk membenarkan posisi duduknya, walau sedikit susah karena Oh pil sun tidak memberinya ruang untuk bebas bergerak. Kedatangan petugas keamanan itu sedikit membuat Or ji oh lega, meski tidak sepenuhnya bisa lepas dari Oh pil sun, namun setidaknya ia bisa bernafas lega untuk sebentar.
"apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya petugas keamanan itu setelah kaca jendela mobil sedikit terbuka, sembari mencoba untuk melihat kedalam, padahal sebelum kemari ia sudah melihat melalui kamera CCTV bagimana Oh pil sun mendorong Or ji oh masuk kedalam mobil tadi.