NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Atap Bocor Kamar Nomor Empat

Hujan tipis mulai turun di atas atap seng Kamar Nomor Empat, membawa bunyi ketukan berisik yang buru-buru sekaligus aroma tanah basah dari celah dinding kayu. Sialnya, salah satu sudut langit-langit kamarku mulai meneteskan air tepat di dekat pintu. Aku menggeser ember kaleng cat bekas untuk menampung tetesan itu. Ting... ting... ting. Bunyinya monoton dan bikin kepala tambah pening.

Aku berbalik dan bersendekap, menatap pemandangan luar biasa janggal di atas kasur lantai satu-satunya milikku.

Kala, dengan tubuh raksasanya yang dibungkus kain sarung kotak-kotak hijau tua peninggalan almarhum ayahku, kelihatan seperti raksasa kelaparan yang salah masuk rumah kurcaci.

Kakinya yang panjang tidak muat di kasur kapuk tipis itu. Lututnya terpaksa ditekuk sampai hampir menyentuh dada, dan kepalanya harus miring agar tidak menabrak sudut meja dispenser lipat yang agak reot.

"Mas Kala," panggilku, menahan senyum geli yang nyaris lolos. "Kosan ini disewakan buat ukuran normal. Kalau kamu meluruskan badan sedikit saja, jempol kakimu sudah resmi menjajah teras depan."

Kala membuka mata emasnya lambat-lambat. Dia melirik ujung kakinya yang memang mencuat keluar dari batas kasur, lalu mendengus dingin.

"Tempat tinggalmu ini tidak layak disebut sarang. Terlalu sempit. Dan baunya buruk."

"Wah, songong ya," sahutku, melangkah maju lalu melempar sebungkus mi instan rasa soto yang masih mentah ke arah dadanya. "Bau buruk begini yang menyelamatkan nyawamu dari kejaran anak buah Baron sore tadi. Di pelabuhan, kalau bukan karena aku yang nekat mengangkutmu pakai motor bebek, kamu paling sudah jadi tontonan calo dan kuli angkat ikan."

Kala menangkap bungkus mi instan itu dengan refleks cepat. Dia membolak-balik bungkus plastik perak itu dengan dahi berkerut, seolah aku baru saja menyerahkan benda pusaka yang bisa meledak kapan saja. "Ini apa?"

"Makanan. Tapi jangan dikunyah sama plastiknya. Biar kurebuskan dulu, itu pun kalau kamu tahu cara berterima kasih," kataku sambil meraih kompor minyak tanah kecil di sudut dapur sempitku.

Kala mencoba merubah posisi duduknya agar lebih tegak. Badan besarnya bergeser, bersandar pada pinggiran ranjang kayu tua tempatku biasa menaruh tumpukan baju bersih. Ranjang kayu itu memang sudah rapuh, peninggalan penyewa kos sebelumku yang sengaja ditinggalkan karena kakinya mulai keropos dimakan rayap pelabuhan.

Kreeek... bakkk!

Suara kayu patah yang nyaring langsung memotong sunyinya malam. Salah satu kaki ranjang itu amblas, membuat tumpukan baju bersihku merosot ke lantai, dan tubuh Kala ikut miring dengan posisi yang sangat konyol.

"Heh!" aku melompat maju, refleks membekap mulut Kala dengan telapak tanganku, padahal cowok itu bahkan tidak berteriak sama sekali.

Jantungku serasa mau copot. "Jangan berisik! Diam!" bisikku ketat tepat di depan wajahnya.

Mata emas Kala melebar, menatapku lurus-lurus dari jarak yang hanya terpaut beberapa senti.

Napasnya yang sedingin es berembus di sela-sela jariku, membuat telapak tanganku mendadak mati rasa karena beku. Namun, bukan hawa dingin itu yang membuatku panik, melainkan suara langkah kaki berat yang mulai terdengar dari ujung lorong kosan.

Itu langkah kaki Mak Kos. Induk semangku yang telinganya lebih tajam daripada radar kapal kargo.

"Lara! Woi, Lara! Suara apa itu yang patah di dalam? Kamarmu roboh?!" teriak sebuah suara cempreng dari balik pintu, disertai gedoran kasar yang membuat selot besi bergoyang.

Aku buru-buru menarik tanganku dari mulut Kala, memasang wajah seadanya, lalu membuka sedikit celah pintu. Wajah keriput Mak Kos yang sedang memegang daster batiknya langsung menyembul di sela cahaya lampu neon lorong.

"Eh, Mak... Bukan apa-apa, Mak. Itu... dispenser airku tadi slip, jatuh menabrak lantai. Maklum, kakinya sudah goyang," ujarku sambil menyengir kuda, mencoba menghalangi pandangan Mak Kos agar tidak melongok ke dalam kasur.

Mata tua Mak Kos menyipit curiga. Dia mengendus udara malam. "Kok kamarmu bau rawa? Amis sekali. Kamu mencuri ikan tongkol dari dermaga ya?"

"Mana ada, Mak! Ini bau baju jaket kerjaku belum dicuci tiga hari, kena air pasang di pelabuhan tadi sore," kilahku cepat, memutar otak jalananku. "Oh ya, Mak... soal uang sewa yang menunggak dua minggu itu..."

"Nah! Itu dia! Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan ya! Kalau sampai lusa utang sewamu belum lunas, barang-barang rongsokanmu ini kutendang keluar ke jalan lintas! Paham?!" ancam Mak Kos sambil menunjuk mukaku pakai jari telunjuknya yang gemuk, lalu berbalik pergi sambil mengomel dalam bahasa daerah yang kasar.

Aku mengembuskan napas lega yang panjang, lalu menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dua kali. Aku bersandar di daun pintu, memandangi langit-langit yang bocor. Kepalaku mendadak kosong. Sisa uang di dompetku cuma cukup buat beli bensin motor bebek besok pagi agar bisa absen di depo sortir. Kalau lusa tidak ada uang sewa, aku resmi jadi tunawisma di kota pelabuhan ini.

Saat aku berjalan kembali ke arah kasur dengan lesu, mataku menangkap sesuatu yang berkilau di lantai semen, tepat di dekat tempat Kala terduduk setelah ranjang patah tadi.

Aku berjongkok. Di antara debu dan serpihan kayu ranjang yang hancur, ada tiga lembar serpihan tipis sewarna perak yang berkilau sangat indah di bawah temaram lampu bohlam lima watt kamarku. Ukurannya sebesar koin perunggu, berbentuk mirip sisik ikan, tetapi jauh lebih keras dan memancarkan pendaran cahaya yang lembut.

Itu sisik perak Kala yang rontok dari pinggiran lukanya.

Aku memungut salah satu serpihan itu. Rasanya sangat dingin di jemariku, berat, dan terasa seperti logam murni kualitas tinggi. Otak kurirku langsung bekerja lambat laun. Di dekat pasar bawah, ada satu toko pengepul barang antik milik Ko Aliong yang biasa menerima rongsokan kapal kuno atau barang-barang ganjil yang hanyut dari laut lepas.

Benda berkilau seperti ini pasti punya nilai tinggi di mata kolektor kaya raya yang sering datang ke pelabuhan.

Aku menoleh ke arah Kala yang sedang memperhatikan gerak-gerikku dengan tatapan datar.

"Kala," panggilku, nadanya berubah tidak lagi ketus, melainkan penuh intrik dagang. Aku menyodorkan sisik perak itu di depan matanya.

"Benda ini... sering rontok dari tubuhmu?"

Kala melirik serpihan itu, lalu mendengus meremehkan. "Itu cuma sisa kulit mati yang tidak berguna. Efek kutukan sialan ini membuat tubuhku menolaknya."

Aku tersenyum lebar, jenis senyuman yang biasa kukeluarkan kalau berhasil menegosiasikan bonus tips dari juragan kargo yang barangnya kuantar tepat waktu. Aku duduk bersila di lantai, tepat di hadapannya yang masih meringkuk canggung.

"Bagi kamu ini kulit mati tidak berguna, tapi bagi anak kos yang terancam diusir seperti aku, ini adalah uang sewa," kataku sambil mengetukkan sisik perak itu ke lantai hingga mengeluarkan bunyi denting logam yang solid. "Bagaimana kalau kita buat kesepakatan dagang? Transaksi yang adil."

Kala menaikkan satu alisnya yang hitam tebal. Pupil vertikalnya menyempit. "Transaksi?"

"Iya. Aku akan terus menyembunyikanmu di Kamar Nomor Empat ini. Aku yang akan mengobati luka-lukamu setiap malam, membagi jatah mi instan dan nasi bungkusku untukmu, dan memastikan orang-orang Baron Logistics tidak mencium keberadaanmu di sekitar pasar ikan," aku menjeda kalimatku, menunjuk tiga lembar sisik perak di tanganku. "Imbalannya sederhana. Setiap kali sisik perak ini rontok dari tubuhmu, semuanya jadi hak milikku. Aku yang akan menjualnya ke pengepul barang antik untuk melunasi tunggakan kosan dan memperbaiki motor bebekku yang mogok."

Kala terdiam lama. Dia menatapku seolah aku adalah makhluk paling aneh yang pernah dia temui sepanjang hidupnya yang panjang. Di saat semua orang di pelabuhan mencarinya dengan senjata lengkap untuk membantainya demi sayembara, cewek kurir di depannya ini justru menganggapnya sebagai sumber penghasilan sampingan untuk membayar uang sewa kos yang menunggak.

"Kamu tidak takut padaku, Lara?" suaranya rendah, bergetar menggetarkan kaca jendela yang retak. "Aku bisa saja meremukkan lehermu dalam satu gerakan jika aku mau."

Aku mendengus, membersihkan debu semen di celana kargoku dengan santai. "Mas Kala, di kota pelabuhan ini, hantu atau monster rawa itu tidak ada apa-apanya dibanding kemarahan induk semang yang belum dibayar uang sewanya. Itu jauh lebih meneror hidupku." Aku menyodorkan tangan kananku ke depan dadanya, menuntut jawaban. "Jadi, bagaimana? Setuju tidak? Kalau tidak setuju, silakan bungkus sarungmu dan cari gubuk lain di luar sana."

Kala menatap tangan kurusku yang dipenuhi bekas oli motor dan goresan kertas resi pengiriman. Sudut bibirnya yang pucat tampak bergerak sedikit, membentuk seringai tipis yang nyaris tidak kelihatan. Dia mengulurkan tangannya yang besar dan dingin, menjabat telapak tanganku dengan erat hingga rasa beku kembali menyengat urat nadiku.

"Kesepakatan tercapai, Gadis Kurir," bisiknya tajam. "Jangan menyesal jika sarang sempitmu ini akhirnya runtuh karena menampungku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!