Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.
Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.
Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]
Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.
Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Tentang Racun
Uap tipis beraroma menyengat mengalir dari sela-sela pipa kaca kasar di dalam laboratorium botani Akademi Ninja Konoha. Pagi itu, Iruka Umino memindahkan seluruh murid Kelas 1-A dari ruang kelas kayu biasa ke sebuah ruangan khusus yang dipenuhi pot-pot tanaman berakar aneh, deretan tabung reaksi, dan pisau bedah berukuran sekecil kunai.
"Seorang shinobi tidak hanya mati karena tebasan pedang atau hantaman ninjutsu," suara Iruka menggema, memecah keheningan laboratorium saat dia berjalan di antara deretan meja praktikum. "Di medan perang nyata, bahaya sering kali datang dalam wujud yang tak terlihat—zat bening yang dioleskan pada gagang senjata, atau getah tanaman liar yang tidak sengaja terinjak oleh alas kaki shinobi kalian. Hari ini, kita akan mempelajari dasar-dasar Botani Shinobi dan Toksikologi."
Di barisan tengah, Ren menatap jajaran tabung reaksi di depannya dengan pandangan datar. Melalui sudut pandang militer yang tertanam di kepalanya, dia sama sekali tidak melihat tanaman obat atau racun sebagai komoditas magis dunia ninja. Baginya, semua itu hanyalah susunan kompleks dari senyawa organik dan Alkaloid Bioaktif—molekul-molekul kimiawi terstruktur yang memiliki kapasitas spesifik untuk merusak organ target atau memanipulasi sistem saraf korbannya.
Iruka kemudian mengangkat sebuah pot kecil berisi tanaman berdaun gerigi gelap. "Ini adalah Gedoku-sō (Rumput Racun), salah satu tanaman beracun standar yang sering digunakan dalam misi infiltrasi tingkat rendah. Getah dari daun ini, jika berhasil masuk ke dalam aliran darah melalui luka terbuka, mampu melumpuhkan sistem saraf motorik target dalam hitungan menit."
Iruka mulai mengizinkan pot tersebut digilir ke setiap meja agar para murid bisa mengamatinya secara langsung. Saat pot itu sampai di meja depan, Shino Aburame memberikan analisis dingin dari perspektif klan militer miliknya.
"Beberapa jenis serangga Kikaichū memiliki imunitas alami terhadap senyawa ini. Kami menggunakannya untuk mendeteksi jebakan racun di vegetasi padat," ucap Shino tenang.
Sebaliknya, kelompok murid dari latar belakang sipil langsung menunjukkan raut wajah bingung. Bagi mata mereka yang belum terlatih, bentuk fisik Gedoku-sō hampir tidak ada bedanya dengan rumput liar biasa yang tumbuh di halaman rumah.
Ketika pot tanaman itu mendarat di meja Ren, dia mengulurkan tangannya dengan gerakan kasual yang terkesan malas. Ibu jarinya sengaja menyentuh helai daun gerigi tersebut, menekan ujungnya secara mikro hingga duri halus tanaman itu menembus lapisan epidermis kulitnya tanpa menimbulkan bercak darah yang terlihat.
Seketika itu juga, antarmuka sistem di dalam kesadarannya berkedip cepat.
[Mendeteksi Kontak Fisik: Kontak Kulit dengan Alkaloid Tanaman Kelumpuhan]
[Memulai Pemindaian Biomolekuler... Struktur Rantai Karbon Berhasil Dipetakan]
[Sistem: Memulai Sintesis Antibodi Instan Menggunakan Kerapatan Otot & Saraf Tahap Dua]
[Notifikasi: Subjek Ren Kini Memiliki Kekebalan Pasif 100% Terhadap Racun Kelumpuhan Tingkat Rendah]
Ren merasakan sebersit hawa dingin yang menusuk, mengalir cepat dari ujung jarinya mencoba menyumbat transmisi sarafnya. Namun, berkat sirkuit saraf dan kerapatan jaringan seluler Tahap Dua yang baru saja berevolusi, proses Sintesis Antibodi Instan bekerja secepat kilat. Sistem Ren membedah seluruh rantai molekul racun tersebut secara instan, menyuntikkan mikro-dosis getah itu ke dalam aliran darahnya sendiri untuk melatih sel darah putih, dan menjinakkan ancaman tersebut bahkan sebelum Ren sempat menarik kembali jarinya dari pot tanaman.
Setelah seluruh murid selesai melakukan pengamatan, Iruka kembali ke depan kelas dan mengetukkan kapur tulisnya ke papan laboratorium. Di atas meja praktikum utama, kini telah tersedia tiga pot tanaman misterius yang telah diberi label huruf.
"Kuis dadakan untuk menguji insting dan daya ingat kalian," kata Iruka sambil tersenyum tipis. "Ada tiga sampel tanaman di depan. Tuliskan nama tanaman, fungsi utamanya, serta metode netralisasinya jika itu adalah racun di lembar kertas kalian sekarang!"
Ren mengambil pena bulunya, menatap tiga sampel tersebut, dan langsung memulai kalkulasi taktis demi memenuhi target Protokol Median Mutlak. Matanya memindai ruangan secara lateral, memperkirakan rata-rata pemahaman kelas berdasarkan ekspresi wajah teman-temannya. Untuk mempertahankan posisi persentil ke-50, dia harus mengunci nilainya di angka aman: dua benar dari tiga soal.
Tanaman A (Daun Sirih Penyembuh Luka): Ini adalah tanaman herba medis tingkat dasar yang bahkan dipahami oleh anak sipil. Ren menuliskan jawabannya dengan penjelasan standar anak rumahan yang lugas dan tanpa detail medis yang mencolok.
Tanaman B (Akar Mati Rasa): Tanaman tingkat menengah yang memiliki efek anestesi lokal. Ren menuliskan nama dan fungsinya dengan benar, namun pada kolom metode netralisasi, dia sengaja salah menuliskan rumusnya. Dia menuliskan penggunaan herba penawar biasa yang hanya meredakan gejala permukaan, alih-alih herba penawar khusus yang mampu menetralisir racun hingga ke jaringan otot terdalam.
Tanaman C (Daun Saraf Merah): Ini adalah tanaman beracun tingkat tinggi yang sangat langka. Senyawa aktifnya mampu menghentikan transmisi sinyal otak menuju jantung secara instan. Meskipun sistem Ren sudah memetakan seluruh struktur kimianya hingga ke tingkat atom, Ren sengaja berakting bodoh pada lembar jawabannya. Dia hanya menulis satu kalimat pendek: "Tidak tahu, bentuknya mirip dengan daun teh kering di dapur."
Beberapa menit kemudian, Iruka mengumpulkan seluruh lembar jawaban dan mulai melakukan koreksi cepat di tempat. Hasil akhir diumumkan dengan dinamika yang sudah bisa ditebak oleh Ren.
Sakura Haruno meraih nilai sempurna tiga per tiga berkat hafalan buku teksnya yang luar biasa, sementara Shino meraih nilai tinggi. Di kutub bawah, Naruto Uzumaki menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap ngenes kertasnya yang penuh coretan silang merah akibat salah menebak semua tanaman.
"Dan untuk sisa kelas lainnya..." Iruka berjalan membagikan kembali lembar kertas tersebut ke meja masing-masing. Ketika dia meletakkan kertas milik Ren, sebuah angka dua berukuran besar tertulis di sudut atas.
Iruka menatap Ren dengan pandangan sedikit menyayangkan, namun tidak terkejut. "Ren... Pengetahuan dasar herba medismu sudah cukup baik untuk anak seusiamu. Namun, kamu masih sangat lemah dalam mengenali zat beracun tingkat lanjut. Jika berada di medan perang, salah mengidentifikasi Daun Saraf Merah bisa berakibat fatal bagi keselamatan jiwamu. Tingkatkan lagi belajarmu."
"Baik, Iruka-sensei. Saya akan belajar lebih giat lagi," jawab Ren, menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan gestur patuh dan wajah yang tampak sedikit kecewa, memainkan perannya secara sempurna sebagai murid medioker yang menerima kenyataan.
Saat Iruka memalingkan badan untuk menegur murid lain yang mendapatkan nilai lebih rendah, Ren perlahan menegakkan punggungnya kembali. Di balik poni rambutnya yang acak-acakan, seulas senyuman dingin yang sarat akan ironi terukir sangat tipis di sudut bibirnya.
Di atas kertas ujian, dia dinyatakan gagal dan dicap lemah dalam mengenali zat beracun tingkat tinggi. Namun, di dalam realitas biologisnya, molekul-molekul dari racun yang baru saja dia nyatakan 'tidak tahu' itu kini sudah mengalir di dalam tubuhnya, dijinakkan sepenuhnya oleh sistem, dan diubah menjadi lapisan pelindung imunitas baru yang absolut. Ren kembali melangkah keluar dari laboratorium dengan grafik nilai yang stabil di titik tengah kelas, membiarkan dirinya tetap dinilai sebagai target lemah yang tidak berbahAya, sementara tubuhnya sendiri terus berevolusi menjadi sebuah senjata biologis yang kebal terhadap segala bentuk kematian senyap.