Katarina terjebak dalam raga seorang gadis malang yang tinggal di panti asuhan, Karina Putri.
Namun sebuah takdir mempertemukannya dengan seorang wanita kaya raya yang tiba-tiba mengangkat Karina sebagai putri angkatnya.
Tetapi bukan itu masalahnya, melainkan tiga kakak angkat Karina yang ternyata adalah tokoh utama dalam novel yang pernah dibacanya. Lalu takdir ketiga kakak angkatnya tidaklah baik, mereka akan mati ditangan tokoh utama wanita.
Namun, Karina tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan mengubah takdir ketiga kakak angkatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Karena Nada masih kecil, jadi Karina mencoba menjelaskan secara pelan-pelan kepada adiknya itu. Saat ini Karina membawa Nada ke taman, tetapi Jevan mengikuti mereka.
“Nada, Kak Karina dan Kak Jevan bukan sepasang kekasih. Kami adalah kakak dan adik, seperti Kak Karina dengan Nada. Apa kamu mengerti?” Suara gadis itu mengalun begitu lembut.
Mata Nada membulat sempurna, sebelum menganggukkan kepalanya.
“Berarti Kak Jevan juga kakaknya Nada?” Anak perempuan itu menatap ke arah Jevan yang duduk di sebelah Karina.
Karina menoleh dan menatap pria itu dengan senyuman tipis di bibirnya. “Kak Jevan mau jadi kakaknya Nada?” Tanyanya kepada Jevan.
Pria itu tidak langsung menjawabnya, ia menatap lekat wajah cantik gadisnya yang masih tersenyum penuh arti.
“Iya,” jawabnya setelah cukup lama.
Nada bersorak senang, karena ia memiliki seorang kakak yang menjadi artis terkenal.
“Nanti kalau Nada sudah besar, Nada akan mencari kekasih seperti Kak Jevan!”
Karina melotot terkejut mendengarnya. “Nada, dari mana kamu mengetahui tentang kekasih?”
“Dari Ibu Guru di sekolah,” jawab Nada.
Karina memejamkan matanya sejenak, guru yang dimaksud Nada adalah guru TK yang tidak jauh dari panti asuhan.
“Kakak kenapa? Kakak marah sama Nada?” Panik Nada saat menyadari perubahan ekspresi Karina.
Jevan sedikit terkejut melihatnya, karena ini pertama kalinya Karina terlihat marah… dan gadis itu terlihat jauh lebih cantik, saat marah.
“Kalau Nada tidak mau Kak Karina marah, Nada harus fokus dulu sama sekolah dan tidak boleh memikirkan kekasih atau semacamnya. Nada harus berjanji kepada Kakak!” Karina menyodorkan jari kelingkingnya.
Tidak ingin membuat Karina semakin marah, Nada menyatukan kelingking mereka.
“Nada berjanji!” Serunya yang membuat senyum Karina kembali merekah.
“Kamu menakutinya,” bisikan itu membuat Karina terkejut dan langsung menoleh ke arah Jevan yang masih belum menjauhkan wajahnya... sehingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
“Maaf,” pria itu segera menarik wajahnya, saat melihat getaran ketakutan di mata cokelat gadisnya.
Karina menghela napas lega, jantungnya kembali berdebar sangat kencang saat ia sangat dekat dengan kakak ketiganya.
“Tapi Kak Jevan cocok jadi kekasihnya Kak Karina,” suara Nada mengejutkan keduanya.
Jevan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, agar senyumannya tidak dilihat oleh Karina.
Sedangkan gadis itu, menatap tajam Nada yang kini sudah berlari untuk mencari perlindungan.
“Aku harap Kak Jevan bisa memaafkan Nada, dia masih terlalu kecil dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya. Nanti aku akan meminta Ibu Dara untuk berbicara kepadanya.”
Karina tidak ingin Jevan berpikiran aneh-aneh, karena Nada memang masih polos dan mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitar. Jadi, nanti Karina akan membicarakan hal ini kepada Bu Dara.
“Kamu tidak perlu khawatir, dia hanya anak kecil,” ucap Jevan sambil mengusap pipi gadisnya.
Karina tersentak kaget dengan perlakuan pria itu, tetapi ia tidak berani menjauhkan tangan Jevan dari pipinya.
“Karina! Jevan! Ayo kita makan malam!” Suara Lesa terdengar.
Jevan menarik tangannya dan berdiri lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangannya di hadapan Karina yang masih terdiam.
“Apa?” Bingung gadis itu sambil mendongak untuk menatap wajah tenang kakak ketiganya.
“Mama sudah memanggil kita untuk makan malam!”
Kalimat itu sudah membuat Karina paham dan langsung menerima uluran tangan Jevan. Keduanya kembali masuk ke dalam, dengan tangan yang saling bertautan.
...***...
Karina tertidur saat perjalanan pulang ke Mansion Adhitama, gadis itu tampak kelelahan setelah bermain dengan adik-adiknya di panti asuhan.
Jevan juga ikut menemaninya, bahkan pria itu terlihat tidak canggung saat berinteraksi dengan anak kecil.
“Rasanya sangat melelahkan, tetapi Mama sangat senang melihat senyum bahagia anak-anak panti,” gumam Lesa yang masih teringat senyuman tulus anak-anak panti saat diberi hadiah.
“Mereka hebat,” Jevan menimpali mamanya.
Lesa mengangguk setuju. “Mereka memang dipilih Tuhan untuk menjadi anak-anak yang kuat, salah satu contohnya adalah Karina. Mama tidak akan membiarkan laki-laki brengsek mendekati putri kesayangan Mama, Karina harus memiliki pasangan yang tepa t dan sangat mencintainya.”
Jevan menahan senyumannya, karena kriteria yang disebutkan oleh mamanya ada dalam dirinya.
“Kamu juga! Kamu harus mencari pasangan yang tepat! Dia harus baik hati, penyayang dan mencintaimu dengan tulus!” Lesa menatap putranya yang sedang fokus menyetir.
“Jevan mengerti,” jawab pria itu yang sudah menemukan siapa orangnya.
Orang yang dimaksud Jevan adalah gadis cantik yang sedang tidur di belakang, kriteria yang disebutkan oleh Lesa ada pada Karina. Jadi, mereka akan menjadi pasangan yang sangat tepat.
“Papa baru mengirim pesan, katanya Papa ada urusan bisnis mendadak ke luar negeri dan Mama harus menemaninya. Jadi, Mama harus menyiapkan pakaian kami. Mama minta tolong untuk gendong Karina ke kamarnya dan jaga Karina selama Mama sama Papa di luar negeri,” ujar Lesa yang masih sibuk membalas pesan sang suami.
Lesa tidak mungkin meminta bantuan Jemian yang masih belum bisa menggunakan kakinya dengan baik, sedangkan Joshua juga sibuk dengan urusan di rumah sakit. Sehingga hanya Jevan yang bisa dipercaya olehnya.
“Jev?” Lesa menatap putranya yang masih belum memberikan jawaban.
“Tanpa perlu disuruh, aku akan menjaga Karina dengan baik,” jawab Jevan yang membuat mamanya tersenyum lega.
Lagipula, Jevan juga tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepada gadisnya.
Bahkan yang memerikan Karina napas buatan adalah Jevan, karena pria itu sempat memiliki firasat tidak enak dan ternyata firasatnya tidak salah. Beruntungnya ia datang tepat waktu, sehingga ciuman pertama Karina menjadi miliknya… begitupun sebaliknya.
Jevan tidak memiliki kekasih, dan jika ada adegan ciuman saat syuting… pria itu meminta peran pengganti, karena ciumannya hanya ia berikan kepada istrinya, yaitu Karina.
“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” Heran Lesa yang tidak sengaja memergoki putra ketiganya tersenyum.
“Tidak ada,” jawab Jevan yang merutuki kebodohannya, karena kelepasan tersenyum.
Namun Lesa tidak percaya, “Apa kamu sudah memiliki kekasih?”
Pertanyaan itu membuat Jevan sedikit terkejut, tetapi ia tetap tenang dan menjawab…
“Belum, tapi aku sudah memiliki calonnya.”
“Awas saja kalau kamu salah memilih, Mama akan memukul kepalamu agar otakmu bisa berfungsi dengan benar!” Ancam Lesa yang dibalas kekehan kecil oleh sang putra.
“Tenanglah, aku tidak akan salah memilih dan aku sangat yakin kalau Mama akan menyukainya… tidak, bahkan sangat menyayanginya,” jawab Jevan yang membuat mamanya semakin penasaran.
Namun mobil yang mereka naiki sudah sampai di depan gerbang Mansion, jadi Lesa akan menyimpan pertanyaannya saat pulang dari luar negeri nanti.
“Mama tidak akan melepaskanmu, tunggu Mama dan Papa pulang dari luar negeri!” Lesa menoleh ke belakang dan melihat putrinya yang tertidur begitu lelap.
“Sekarang gendong Karina ke kamarnya! Ingat, jaga Karina dengan baik!”
Bersambung!
semangat thor 💪💪