Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Suara pelayan itu terasa seperti petir yang menyambar tepat di atas kepala Freya.
"Nona Muda… Yang Mulia Pangeran Zevian telah tiba."
Seketika seluruh tubuh Freya membeku. Matanya melebar di balik selimut. Jantungnya berdetak sangat keras sampai rasanya hampir meloncat keluar dari dada.
Datang. Dia benar-benar datang. ZEVIAN DATANG.
'Mati aku.'
Freya langsung menarik selimut lebih tinggi sampai hampir menutupi seluruh wajahnya.
Tidak.
Dia belum siap.
Dia baru masuk ke dunia novel ini kurang dari sehari dan sekarang malah harus bertemu langsung dengan calon algojonya sendiri?
Apa dunia ini memang sengaja ingin mempercepat kematiannya?
'Tenang Freya… tenang…' batinnya mencoba menenangkan diri.
'Kau sudah berubah. Kau bukan Freya yang lama. Kau sekarang orang baik…meskipun isi kepalamu masih suka ingin ngamuk.'
Freya langsung memejamkan mata rapat-rapat lalu mengatur napasnya.
Kalau dia pura-pura tidur mungkin Zevian akan pergi.
Iya. Pasti begitu.
Sayangnya harapan hidup Freya ternyata terlalu indah.
TOK.
TOK.
TOK.
Suara langkah kaki perlahan memasuki kamar. Pelan. Tenang. Tapi entah kenapa justru terdengar lebih menakutkan.
Setiap langkah terasa seperti menghantam jantung Freya satu per satu.
Tok.
Tok.
Tok.
Dan semakin dekat suara itu datang, semakin Freya ingin kabur lewat jendela.
"Nona Muda bahkan belum sempat makan sejak sadar tadi pagi," suara Lily terdengar gugup. "Tabib bilang tubuhnya masih lemah."
"Begitu."
Suara rendah itu akhirnya terdengar. Dingin. Datar. Tidak tinggi. Tidak keras. Tapi cukup membuat bulu kuduk Freya berdiri.
'Ya ampun… suaranya persis kayak di novel...'
Freya menelan ludah. Ia tetap memejamkan mata mati-matian. 'Jangan buka mata. Jangan bergerak. Jangan mati. Itu prioritas utama.'
"Bagaimana keadaan demamnya?" tanya Zevian lagi.
"Masih naik turun, Yang Mulia."
Hening sesaat. Lalu langkah kaki itu kembali bergerak. Kali ini lebih dekat. Sangat dekat. Freya bisa merasakan keberadaan seseorang tepat di samping tempat tidurnya.
Dan anehnya… tekanan di udara langsung berubah. Begitu menyesakkan. Begitu mendominasi.
Aura Zevian benar-benar berbeda dibanding karakter lain.
Felix galak.
Tapi Zevian?
Pria ini terasa seperti seseorang yang bisa tersenyum tenang sambil menjatuhkan hukuman mati.
"Buka selimutnya."
DEG.
Freya hampir meloncat.
'HAH?'
Lily tampak ragu.
"Yang Mulia… Nona baru saja tidur…"
"Aku hanya ingin memastikan keadaannya."
Nada suara Zevian tetap datar. Tidak terdengar memaksa. Tapi juga tidak memberi ruang untuk ditolak.
Lily akhirnya menurut. Perlahan selimut yang menutupi wajah Freya ditarik turun sedikit. Dan detik berikutnya...sebuah tangan menyentuh dahinya.
Freya langsung menahan napas. Tangan itu hangat. Besar. Dan sangat kontras dibanding udara dingin di sekelilingnya.
"Masih panas."
Suara Zevian terdengar begitu dekat. Terlalu dekat. Freya bahkan bisa mencium samar aroma khas dari tubuh pria itu. Wangi kayu cedar bercampur aroma dingin seperti hujan malam.
'Kenapa bahkan parfumnya terasa mahal begini?'
Jantung Freya makin tidak karuan. Ia ingin membuka mata lalu kabur sprint keluar.
Namun tangan Zevian masih berada di dahinya. Lalu bergerak pelan ke pipinya.
Freya hampir mati di tempat.
'ASTAGA. JANGAN PEGANG PEGANG. AKU TAKUT.'
Tubuhnya refleks menegang. Dan Zevian langsung menyadarinya. Mata birunya sedikit menyipit.
"Freya." Suara rendah itu membuat Freya makin kaku.
Ia pura-pura tidak dengar.
"Freya." Kali ini nadanya lebih tegas. Lalu setelah jeda singkat... "Buka matamu."
Hening.
"Aku tahu kau tidak tidur."
Selesai.
Tamat.
Riwayat hidup Freya Valencia Vane berakhir hari ini. Freya benar-benar ingin menangis.
Perlahan, dengan gerakan super hati-hati, ia membuka mata sedikit. Dan langsung menyesal. Karena tepat di depannya berdiri Zevian Aldric Arkwright.
Dan demi Tuhan… pria itu jauh lebih menyeramkan dibanding ilustrasi novel.
Rambut hitam pekat. Mata biru dingin seperti es. Wajah tampan sempurna yang terlihat terlalu indah untuk manusia biasa.
Namun justru tatapan matanya yang membuat Freya ingin menggali kubur sendiri. Tajam.Tenang.Sulit ditebak. Seolah pria itu bisa melihat langsung isi pikiran orang.
Freya buru-buru mengalihkan pandangan. "A-Aku di sini, Yang Mulia…" suaranya terdengar kecil.
Zevian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Freya lama sekali.
Dan semakin lama pria itu diam, semakin Freya merasa bersalah meskipun dirinya belum melakukan apa pun.
'Kenapa dia diam aja? Orang dingin memang serem banget ya ampun.'
"Kau berubah."
Kalimat itu akhirnya keluar. Pendek. Datar. Namun cukup membuat jantung Freya kembali jungkir balik.
Freya memaksakan senyum kecil. "Maksud Yang Mulia?"
"Biasanya kau akan marah jika seseorang mengganggu tidurmu." Zevian menatapnya tanpa berkedip. "Atau melempar sesuatu."
Freya langsung ingin mengubur Freya asli. 'Image lo buruk banget ternyata.'
Ia tertawa kecil canggung. "Aku… hanya sedang banyak berpikir."
"Berpikir?"
Freya mengangguk pelan lalu menunduk. Ini dia. Saatnya akting menyelamatkan nyawa.
"Aku sadar selama ini aku sudah banyak membuat masalah," katanya lirih. "Aku sering bertindak kekanak-kanakan dan menyusahkan banyak orang."
Ia sengaja membuat suaranya terdengar pelan dan penuh penyesalan.
"Waktu jatuh dari kuda… aku benar-benar takut." Tangannya mencengkeram selimut pelan. "Aku pikir aku akan mati."
Dan itu bukan bohong. Freya memang hampir mati. Bedanya bukan karena jatuh dari kuda. Tapi karena nasib villainess.
"Aku jadi sadar…" lanjutnya perlahan. "Selama ini aku terlalu egois."
Ruangan kembali hening.
Freya memberanikan diri mengangkat kepala sedikit. Tatapan Zevian masih tertuju padanya. Namun kali ini tidak setajam tadi.
Tetap dingin. Tetap sulit dibaca. Tapi entah kenapa terasa lebih tenang.
"Aku ingin berubah," kata Freya pelan.
Ia menatap Zevian hati-hati. "Jadi… tolong jangan terlalu membenciku lagi, Yang Mulia."
Begitu kalimat itu keluar, Lily yang berdiri di samping langsung membelalak syok. Karena biasanya Freya tidak pernah merendahkan diri seperti ini.
Zevian sendiri tampak diam beberapa detik. Mata birunya meneliti wajah Freya lekat-lekat. Seolah sedang mencari kebohongan.
Freya hampir berkeringat dingin. 'Jangan ketahuan. Please jangan ketahuan. Aku cuma warga sipil biasa yang mau hidup damai.'
Akhirnya Zevian menghela napas pelan. "Mustahil seseorang berubah hanya karena jatuh dari kuda."
DEG.
Freya langsung panik. 'WADUH. DIA CURIGA.'
"T-Tapi manusia memang bisa berubah kan?" Freya buru-buru menjawab.
"Bisa."
"Lalu?"
"Tergantung apakah perubahan itu tulus atau hanya sementara."
Nah. Itu lebih menyeramkan daripada dimarahi. Karena artinya Zevian belum percaya.
Dan jujur?
Masuk akal. Kalau ada orang rese tiba-tiba berubah baik dalam sehari, siapa juga yang langsung percaya.
Freya menelan ludah.
"Kalau begitu…" katanya pelan. "Aku akan membuktikannya perlahan."
Zevian sedikit mengangkat alis.
Untuk pertama kalinya sejak masuk kamar itu, ekspresinya terlihat berubah tipis.
Seperti tertarik. Atau penasaran. Namun hanya sesaat. Tak lama kemudian wajah dinginnya kembali lagi.
"Aku akan melihatnya sendiri."
Lalu tanpa sadar, tangan Zevian bergerak merapikan selimut Freya yang sedikit berantakan.
Gerakannya tenang. Dan anehnya… sangat hati-hati.
Freya langsung bengong. 'Eh? Kenapa dia malah ngerapiin selimutku?'
Lily juga terlihat syok. Karena Pangeran Mahkota terkenal dingin dan tidak suka menyentuh orang lain.
Namun Zevian seolah tidak menyadari reaksinya.
"Istirahatlah," katanya singkat. "Kondisimu masih buruk."
Freya cepat-cepat mengangguk. "Baik, Yang Mulia."
"Dan jangan memaksakan diri."
"Baik."
"Tabib akan datang lagi malam ini."
"Baik…"
Freya mendadak merasa seperti anak kecil yang sedang dimarahi guru killer.
Zevian menatapnya sekali lagi. Lama. Lalu akhirnya berbalik pergi.
Namun tepat sebelum keluar kamar, langkahnya berhenti.
Pria itu sedikit menoleh.
"Aku belum mempercayaimu sepenuhnya, Freya."
Freya langsung menegang.
"Tapi…"
Tatapan mata biru itu kembali tertuju padanya.
"Untuk sekarang, aku tidak melihat alasan untuk membencimu."
Dan setelah mengatakan itu, Zevian pergi.
Klik.
Pintu kamar tertutup pelan.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu.
"HUAAAAHHHH!"
Freya langsung jatuh telentang di kasur.
"JANTUNGKU MAU COPOT"
Lily sampai kaget.
"N-Nona Muda?"
"Tadi serem banget." Freya memegangi dadanya dramatis. "Aku kira hidupku tamat hari ini."
Lily menatapnya tidak percaya.
"Tapi Yang Mulia tadi sangat perhatian…"
"Perhatian dari mana?"
"Beliau bahkan menyentuh dahi Nona sendiri."
"ITU PEMERIKSAAN BUKAN PERHATIAN."
Lily masih terlihat berbinar.
"Dan beliau merapikan selimut Nona…"
Freya langsung membeku.
Eh. Iya juga. Kenapa Zevian merapikan selimutnya?
Di novel asli, pria itu bahkan nyaris tidak pernah menyentuh Freya kecuali saat marah.
'Jangan bilang alurnya mulai berubah?'
Freya langsung merinding.
Tidak.
Perubahan plot itu berbahaya.
Kalau alur novel berubah terlalu jauh, berarti dia tidak bisa lagi menebak masa depan. Dan itu sama saja seperti berjalan di ladang ranjau.
'Tidak boleh.'
Ia harus memastikan semuanya tetap aman. Dan itu berarti... Aria harus dilindungi.
Freya langsung duduk tegak.
"Lily..."
"Y-ya?"
"Besok aku mau keluar."
Lily langsung panik.
"Keluar? Tapi Nona masih sakit."
"Aku sudah baikan."
"Tapi tabib bilang Nona harus istirahat tiga hari."
"Tidak bisa."
Freya terlihat serius.
"Aku harus bertemu seseorang."
"Siapa?"
Freya menarik napas.
"Aria Elowen."
Dan efeknya langsung luar biasa. Lily pucat. Benar-benar pucat.
"N-Non…"
Pelayan itu buru-buru melihat ke pintu memastikan tidak ada orang lain.
"Jangan sebut nama itu keras-keras."
Freya berkedip.
"Kenapa?"
"Bukankah Nona paling membenci dia?"
Ah. Benar juga.
Freya asli memang musuh terbesar Aria.
Ia sering menjebak Aria, mempermalukannya, membuat gadis itu menangis, bahkan menyuruh orang mengganggunya.
Freya langsung merasa berdosa padahal pelakunya bukan dirinya.
"Itu dulu," katanya cepat.
Lily tampak ragu.
"Tapi Nona pernah bilang ingin membuat hidup Nona Aria sengsara…"
Freya langsung tepuk jidat dalam hati. 'Ya ampun Freya asli segitunya banget?'
"Aku berubah sekarang."
"Tapi…"
"Aku serius." Freya menatap Lily sungguh-sungguh. "Aku ingin meminta maaf."
Dan itu memang benar.
Karena di novel asli, semua masalah besar dimulai dari Freya yang terus menyakiti Aria.
Kalau Freya berhenti mengganggu Aria... kemungkinan besar death flag-nya ikut hilang.
Simple.
Atau setidaknya semoga begitu.
"Aku tidak mau jadi orang jahat lagi," katanya pelan.
Lily terlihat sedikit terharu.
"Nona…"
"Lagipula Aria tidak bersalah apa pun."
Freya mengepalkan tangan kecil penuh semangat.
"Mulai sekarang aku akan jadi orang baik."
Hening.
Lalu Lily tersenyum kecil.
"Kalau begitu saya akan membantu Nona."
Freya langsung tersenyum lebar.
"Bagus."
Ia kembali berbaring di kasur sambil menatap langit-langit kamar.
Hari ini benar-benar melelahkan. Baru sehari pindah dunia, tapi rasanya seperti menjalani satu season drama kerajaan.
Dan lebih parahnya lagi... Zevian ternyata lebih berbahaya dari dugaan. Karena pria itu bukan hanya tampan. Tapi juga terlalu observatif.
'Aku harus hati-hati…' batin Freya. 'Kalau sampai ketahuan aku bukan Freya asli, jangan-jangan aku malah dibakar hidup-hidup.'
Malam mulai turun perlahan. Dan di sisi lain istana, Zevian sedang duduk sendirian di ruang kerjanya.
Ruangan itu sunyi. Hanya suara api dari perapian yang terdengar pelan.
Di atas meja kerjanya terdapat beberapa dokumen. Salah satunya berisi laporan tentang Freya Valencia Vane.
Zevian menatap nama itu cukup lama. Lalu tanpa sadar teringat kembali wajah Freya tadi.
Wajah pucat. Tatapan gugup. Dan ekspresi penyesalan yang terlihat… tulus.
Pria itu menghela napas kecil. "Berubah…" gumamnya pelan.
Mustahil.
Freya yang dia kenal selama ini adalah gadis keras kepala yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan keinginannya.
Ia egois. Manja. Dan terlalu terobsesi padanya. Namun gadis yang tadi ditemuinya terasa berbeda. Sangat berbeda. Bahkan cara bicaranya berubah.
Tatapan matanya berubah. Dan yang paling aneh...untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Zevian tidak merasakan niat buruk dari Freya.
"Apakah ini hanya akting baru…" gumamnya. "Atau memang sesuatu benar-benar berubah?"
Zevian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapan matanya perlahan mengarah ke luar jendela. Namun entah kenapa…bayangan Freya yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca tadi terus muncul di pikirannya.
Dan itu sedikit mengganggu. Sangat mengganggu.
"…Aku akan mengawasimu, Freya."