Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 Sama Saja
"Tidak salah Zivanna, tetapi kamu harus mematuhi kodrat kamu sebagai wanita, sama halnya seperti saya seorang ibu yang hanya mengurus suami dan juga anak, kamu juga harus seperti itu, kita adalah wanita dan sudah menjadi istri, harus sama-sama menyadari tugas istri yang sebenarnya," jawab Wina penuh penekanan.
"Tetapi ini bukan zaman dulu, wanita memiliki hak untuk dirinya sendiri dan meski sudah menikah, tetapi bukan berarti cita-citanya tidak bisa diraih," sahut Zivanna membantah pernyataan Wina.
"Tetapi kamu tidak akan mampu menjalani peran kamu sebagai seorang istri dan juga sebagai seorang Dokter. Kamu mengetahui bagaimana diri kamu dan kemampuan kamu dan mungkin saja posisi kamu saat ini bisa menjadi Dokter hanya karena bantuan orang tua kamu,"
"Ma cukup...." Dikta harus menghentikan pertengkaran itu.
"Kenapa Dikta? Kamu akan diam saja ketika memiliki seorang istri yang lebih mementingkan mengejar karirnya. Dikta kedua orang tuanya yang meminta kamu untuk menikah dengan putri mereka, bukan berarti kamu harus menjadi pengasuhnya, kamu seharusnya berhak memilih siapapun yang harus menjadi istri kamu...."
"Ma aku bilang hentikan..."
"Ya, hubungan kamu seharusnya berlanjut dengan Nayla, tetapi harus berantakan karena keegoisan dua orang tua yang menyerahkan putri mereka untuk diasuh dan ternyata kondisi kamu begitu sulit ketika menjadi suaminya,"
Zivanna mendengar perkataan itu menjatuhkan sendok di atas meja makan dan berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu ingin meninggalkan meja makan karena saya baru saja menegur dan memberi kamu nasehat," ucap Wina.
"Ma sudah...." Wahyu juga ikut menegur istrinya yang mungkin sedikit berlebihan berbicara.
"Duduklah kembali Zivanna...." ucap Wahyu.
Zivanna sudah terlanjur muak dan kesal. Akhirnya memilih untuk meninggalkan meja makan daripada harus melanjutkan acara makan malam tersebut.
"Zivanna.... Zivanna...." Wahyu memanggil keponakan dan juga menantunya itu yang diabaikan oleh Zivanna.
"Sungguh malang sekali nasib kamu Dikta harus menikah dengan anak-anak seperti itu," ucap Wina.
"Mama benar-benar keterlaluan. Apa pantas menciptakan keributan seperti tadi? kita mengundang mereka berdua untuk makan malam di rumah ini dan bukan untuk menegur, memberi nasehat yang tidak masuk akal," tegur Wahyu.
"Papa terus saja membela keluarga mereka, karena ipar Papa itu membantu perusahaan dan mengembalikan kondisinya, sehingga membuat Papa patuh pada mereka, sama saja dengan Dikta harus menyerahkan seluruh hidupnya kepada gadis itu. Pergi tidak punya sopan santun dan meninggalkan meja makan," ucap Wina semakin kesal.
"Ma, kita sebagai orang tua seharusnya tidak boleh egois, belum tentu Zivanna juga menginginkan pernikahan mereka," sahut Wahyu.
"Kamu jangan mengatakan aku yang egois. Sudah jelas-jelas kamu yang egois karena perusahaan dalam masalah, ekonomi berantakan membuat kamu meminta bantuan kepada keluarga mereka dan harus menjadikan putra kita sebagai tumbal untuk menikahi putri mereka," ucap Wina.
"Jika Mama mengundang makan malam hanya untuk membicarakan hal ini dan seharusnya tidak perlu melakukan hal seperti ini seperti kekanak-kanakan yang membicarakan orang lain di meja makan. Bagaimanapun Zivanna saat ini sudah menjadi istriku!" tegas Dikta.
"Kamu membelanya? Mengatakan sebagai istri?" tanya Wina dengan menaikkan satu alisnya memastikan dari ekspresi wajah putranya tampak tegas.
"Kalau begitu langsung saja hubungi Nayla dan katakan jika kamu sudah menikah? kamu katakan jika kamu menikah dengan Zivanna," ucap Wina membuat Dikta terdiam.
"Kenapa? kamu tidak berani? kamu baru saja mengatakan menegaskan bahwa Zivanna adalah istri kamu dan sementara wanita yang kamu harapkan menjadi istri kamu tidak tahu jika kamu sudah menikah dan kamu tidak memberitahumu sampai saat ini, kamu juga tidak gentlemen yang artinya, kamu sebenarnya juga tidak menginginkan pernikahan dan masih abu-abu!" tegas Wina.
Dikta seketika terdiam mendengar pernyataan dari ibunya itu.
Dikta meneguk air putih dan kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Assalamualaikum...." ucap Dikta lebih baik berpamitan daripada harus mendengarkan semua ocehan dari ibunya yang mungkin memang tidak menyukai Zivanna sebagai menantunya karena merupakan anak dari adik suaminya.
"Sudah puas Mama melakukan semua ini, apa ini tujuan Mama memanggil mereka untuk datang ke rumah ini makan malam pertama kali setelah menikah?" tanya Wahyu.
"Benar, aku ingin mengeluarkan semua isi hatiku kepada Zivanna, bagaimana aku tidak menyukai pernikahan mereka, bagaimana aku marah di saat putraku harus menikah dengan wanita yang ternyata lebih mementingkan karirnya dibandingkan harus diam menjadi seorang istri,"
"Kamu yang menentukan semuanya dan merencanakan pernikahan mereka, selama itu aku hanya diam saja karena tidak bisa berbuat apa-apa, dan aku tidak peduli jika pada akhirnya gadis manja itu mengadu kepada orang tuanya atas semua perkataanku," ucap Wina
"Bukan Zivanna yang seperti anak kecil, tetapi justru kamu seperti anak kecil yang tidak tahu aturan dalam kehidupan. Kamu selalu menjadikan diri kamu sebagai patokan untuk menantu di rumah ini. Zivanna tidak bersalah dalam hal ini dan kamu tidak harus menekannya dengan cara seperti itu!" ucap Wahyu.
Wina tidak berbicara lagi dan hanya diam saja yang pasti sangat kesal karena putranya juga meninggalkan meja makan.
*****
Makan malam berantakan dan padahal Zivanna sudah effort ingin ke rumah mertuanya sekedar menghargai dan ternyata mendapat perlakuan yang sangat buruk. Keduanya kembali berada di dalam mobil dengan kepala Zivanna melihat keluar jendela dan sementara Dikta menyetir sesekali menoleh ke arah sang istri yang terlihat murung.
"Memang sejak dulu tante Wina tidak pernah menyukaiku, entah apa kesalahanku padanya, menatapku selalu dengan sinis," batin Zivanna masih mengingat semua perkataan Wina.
"Tiba-tiba saja harus membawa nama Nayla! Aku tidak memintanya untuk menikah denganku, apakah mereka tidak tahu jika putra mereka menyetujui keinginan Papa dan Mama itu karena hanya untuk mengambil keuntungan, mereka menyalahkanku seolah-olah aku yang mengejar putra mereka, memangnya aku tidak bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada dia, aku juga tidak ingin menikah terlalu cepat dan masih ingin mengejar karir,"
"Memang tidak ada yang menyukai keinginanku, tidak ada yang menyukai apapun yang aku inginkan, aku terus berdiri di kaki sendiri dan semua orang terus menyalahkan ku," Zivanna hanya bisa bergerutu di dalam hatinya atas semua sikap orang-orang kepadanya yang terlalu berlebihan.
Tiba-tiba mobil itu berhenti dan ternyata ada kemacetan di depan. Hujan deras bahkan turun membuat Dikta menurunkan kaca mobil dan mencoba untuk melihat apa yang terjadi di depan dan belum lagi terlihat ada beberapa sopir mobil yang keluar dari mobil mereka untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa ini?" gumam Dikta.
Zivanna tidak merespon karena sejak tadi sibuk dengan pemikirannya dan kekesalannya dengan makan malam yang sangat berantakan.
Bersambung.