Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 ...
Di malam hari, Mikayla tak sengaja mendengarkan percakapan Elang dengan seorang perempuan dan ia tahu, perempuan itu kakaknya Naura.
"Sabar sayang pokoknya kamu harus bersabar, persiapan pertunangan kita ada didepan mata, kamu tidak perlu khawatir." Ucap elang yang sedang duduk di sofa diruang kerjanya, sofa itu dekat dengan pintu yang membuat suaranya terdengar sangat jelas.
"Lalu bagaimana dengan mika? "
"Itu mudah sayang, lagi pula mamah setiap hari memberinya obat dan dia tidak akan bisa hamil." Ucap elang.
Mikayla tak lagi bisa menangis tatapannya kosong. "Mas bersenang-senanglah dan tunggu kehancuranmu" Ia langsung meninggalkan ruang kerja dan kembali ke dapur.
Malam itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Mikayla melangkah pelan menuju dapur, menahan napas yang terasa berat di dadanya. Ia berhenti di depan meja marmer, menumpukan kedua tangannya sejenak, mencoba menyeimbangkan dirinya yang seolah baru saja kehilangan sesuatu yang tak terlihat.
Anehnya, ia tidak menangis.
Padahal beberapa menit lalu, ia baru saja mendengar semuanya, tentang pertunangan itu, tentang perempuan yang ternyata kakak Naura, dan tentang dirinya yang selama ini dijadikan alat tanpa pernah ia sadari. Bahkan kalimat Elang masih terngiang jelas di kepalanya, tentang obat yang membuatnya tak akan pernah bisa hamil.
Mikayla menarik napas panjang, membuka kulkas, lalu mengambil segelas air dan meneguknya perlahan. Dingin air itu tidak banyak membantu, tapi cukup membuat pikirannya kembali jernih. Satu per satu potongan kejadian yang dulu terasa janggal kini mulai tersusun rapi.
Obat dari ibu mertua yang mengatakan itu vitamin, belum lagi obat yang dimasukkan kedalam makanannya setiap harinya, hasil pemeriksaan yang selalu di manipulasi, hingga sikap Elang yang terlalu mudah menerima semuanya. Bukan karena ia tulus, tapi karena sejak awal mereka memang sudah merencanakannya.
Senyum tipis muncul di bibir Mikayla, dingin dan nyaris tanpa emosi. Ia meletakkan gelas itu kembali, lalu berbalik meninggalkan dapur. Saat melewati ruang kerja, pintunya sudah tertutup, namun suara tawa dari dalam masih terdengar samar. Dulu, suara seperti itu mampu membuat hatinya hancur, tapi sekarang ia hanya merasa muak.
Langkahnya tidak berhenti hingga ia sampai di kamar. Pintu dikunci, dunia luar seolah langsung terputus. Ia duduk di tepi ranjang, membuka laci kecil di sampingnya, lalu mengambil beberapa strip obat yang selama ini rutin ia konsumsi. Tatapannya menelusuri setiap detail, sebelum akhirnya ia mengambil ponsel dan memotret semuanya label, kandungan, hingga nomor produksi. Tidak ada lagi keraguan dalam gerakannya, semuanya terasa terarah, seolah ini memang bagian dari rencana yang baru saja terbentuk.
Setelah itu, ia membuka laptop dan menatap flashdisk kecil yang diberikan Reno. Untuk sesaat ia terdiam, bukan karena takut, tapi karena ia tahu begitu ini dibuka, tidak akan ada jalan kembali. Perlahan ia memasukkannya, dan layar pun menampilkan berbagai data yang membuat nafasnya sempat tertahan transaksi obat, distribusi ke rumah sakit, hingga daftar pasien yang disertai kode khusus.
Namanya ada di sana Mikayla.
Ia terdiam beberapa detik, lalu menutup laptop itu perlahan. Tidak ada kepanikan, tidak ada tangis, hanya satu kepastian yang akhirnya menguat di dalam dirinya, ia tidak lemah, ia tidak gagal, ia sengaja dibuat seperti itu.
Ia bersandar sejenak, menatap langit-langit kamar, sebelum akhirnya meraih ponselnya dan membuka kontak yang baru ia simpan. Jarinya sempat berhenti, namun hanya sesaat, sebelum akhirnya ia mengetik singkat. “Aku masuk.”
Balasan datang tidak lama kemudian.
“Bagus. Kita percepat.”
Mikayla menatap layar itu, lalu tersenyum pelan senyum yang tidak lagi menyimpan luka, melainkan sesuatu yang jauh lebih tajam. Ia mematikan lampu kamar, membiarkan gelap menyelimuti ruangan, sebelum berbisik lirih seolah berbicara langsung pada seseorang di balik dinding.
“Mas, bersenang-senanglah selagi bisa, karena kali ini, aku yang akan menentukan akhir cerita kita.” gumamnya, Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mikayla tidak merasa hancur.
Keesokan harinya, Mikayla tidak lagi bergerak dengan perasaan, semua yang ia lakukan terasa lebih terukur, lebih dingin, seolah emosi sudah sepenuhnya dipisahkan dari logika.
Ia duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop dengan fokus penuh saat sebuah file baru masuk ke email rahasianya. Pengirimnya tidak perlu ditebak.
Reno.
Tanpa membuang waktu, Mikayla langsung membukanya, sebuah dokumen berisi rangkaian transaksi dan kepemilikan aset muncul di layar. Ia membaca dengan teliti, dari baris pertama hingga terakhir, tanpa melewatkan satu detail pun, sampai akhirnya matanya berhenti pada satu bagian.
Sebuah villa mewah di Bali.
Dibeli atas nama perusahaan cangkang, dengan aliran dana yang jelas-jelas berasal dari penggelapan kas internal. Nilainya fantastis, dan lebih menarik lagi, aset itu tidak tercatat dalam laporan resmi perusahaan.
“Artinya ilegal. Sangat berani, meskipun perusahaan itu milik ayahnya sendiri, tapi ada berapa banyak investor yang dirugikan? “ Gumamnya. Mikayla menyandarkan tubuhnya perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. Informasi ini bukan sekadar celah, tapi pintu masuk yang bisa meruntuhkan segalanya jika digunakan dengan tepat.
Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.
Pesan dari Reno masuk.
*Itu salah satu “mainan” favorit Elang. Dia sering ke sana kalau mau hilang tanpa jejak. Termasuk… dengan perempuan itu.*
Tatapan Mikayla berubah semakin dingin, tapi kali ini bukan karena cemburu, melainkan karena peluang. “Villa tersembunyi, dana ilegal, dan hubungan gelap…” gumamnya pelan. “Lengkap sekali.”
Ia kembali menatap layar, mempelajari detail lokasi, sertifikat, hingga aliran transaksi yang digunakan untuk menutupi jejak. Semuanya rapi, tapi tidak cukup rapi untuk seseorang seperti Mikayla.
Justru di situlah letak kelemahannya, jika ia bisa membuktikan bahwa villa itu dibeli dari uang hasil penggelapan, maka bukan hanya reputasi Elang yang hancur, perusahaannya juga bisa ikut terseret.
“Dan pertunangan itu?... Biarkan saja terjadi, aku sudah cukup muak dengan keluarga ini” Gumamnya.
Mikayla menutup file tersebut, lalu membuka catatan baru. Jarinya mulai bergerak, menyusun langkah demi langkah dengan rapi, mulai dari pengumpulan bukti tambahan, jalur pelaporan, hingga kemungkinan tekanan hukum yang bisa ia manfaatkan.
Ponselnya kembali ia ambil.
“Kita mulai dari Bali.” tulisnya singkat pada Reno.
Balasan datang cepat.
“Aku sudah siapkan aksesnya. Kapan kamu berangkat?”
Mikayla menatap pesan itu sejenak, lalu tersenyum samar. “Kali ini…” bisiknya pelan. “…aku tidak akan menyerang tapi cukup awasi dulu.”
Ia berdiri, menutup laptop, dan berjalan menuju lemari, tangannya memilih pakaian dengan lebih tegas dari biasanya, tidak ada lagi warna lembut, tidak ada lagi kesan rapuh, yang ada hanya satu hal kesiapan.
“Besok,” balasnya akhirnya. Ia meletakkan ponsel, lalu menatap pantulan dirinya di cermin, tidak ada lagi wanita yang dulu mudah disakiti, yang tersisa sekarang adalah seseorang yang tahu persis apa yang ia inginkan dan bagaimana cara mendapatkannya.
“Selamat menikmati villamu, Mas…” ucapnya pelan, senyumnya tipis, namun penuh arti. “…karena itu akan jadi awal kehancuranmu.”