.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patahnya Kaki Sang Jenius di Pagi Hari
Matahari baru saja meninggi di langit Kota Amerta, namun alun-alun utama di dalam kediaman Cabang Keluarga Huang sudah dipadati oleh ratusan manusia. Riuh rendah suara bisikan dan sorak-sorai menggema di sekitar panggung batu besar yang terletak di tengah arena. Hari ini adalah Turnamen Pemilihan Murid Dalam, hari penentuan nasib bagi generasi muda keluarga.
Di atas panggung batu, berdiri sesosok pemuda dengan jubah sutra biru yang berkilau mewah. Kipas di tangannya dikibas-kibaskan dengan anggun, sementara aura energi spiritual berwarna biru tipis perlahan berputar di sekeliling tubuhnya.
"Kultivasi Pengumpulan Qi Lapis ke-3! Luar biasa, Kakak Senior Huang Jian benar-benar seorang jenius!" seru salah satu murid di bawah panggung, memicu gelombang pujian lainnya.
Huang Jian mendengarkan pujian itu dengan kepala terangkat tinggi. Matanya yang penuh keangkuhan menyapu seluruh area penonton, lalu berhenti di area tempat duduk keluarga Ji. Di sana, hanya ada Ji Tian yang sedang duduk dengan gelisah, dan Ji Lan yang terus-menerus menatap ke arah pintu masuk dengan cemas.
"Ji Huang belum datang?!" suara wasit paruh baya bergema dari tepi panggung. "Panggilan kedua untuk Ji Huang! Jika dalam tiga menit dia tidak naik ke atas panggung, dia akan dianggap gugur dan kehilangan statusnya sebagai murid keluarga!"
Mendengar itu, Ji Tian tiba-tiba melompat dari kursinya, memegangi dadanya secara dramatis, lalu ambruk ke tanah. "Aduh! Jantungku! Jantungku copot! Tolong, wasit! Anakku sedang mencari tabib karena penyakit jantungku kambuh! Tolong ulur waktu sedikit lagi!" teriak Ji Tian sambil berguling-guling di tanah, mengulur waktu dengan kebodohannya yang luar biasa.
Ji Lan hanya bisa menepuk dahinya sendiri karena malu melihat tingkah pamannya. Namun di dalam hati, dia merasa lega. “Bagus kalau si bodoh itu beneran mengunci diri di kamar. Setidaknya dia tidak akan cacat hari ini,” batin Ji Lan.
"Panggilan terakhir untuk Ji Hu—"
"Iya, iya, tidak usah berteriak-teriak. Aku tidak tuli," sebuah suara malas dan serak memotong ucapan wasit dari arah gerbang masuk arena.
Seluruh perhatian ratusan pasang mata langsung tertuju ke sumber suara. Sesosok pemuda melangkah masuk dengan gaya berjalan yang sangat gontai, seolah setiap langkahnya adalah beban yang berat.
Penampilannya membuat semua orang melongo. Baju linen yang dia kenakan masih robek-robek bekas kemarin, dipenuhi noda darah hitam yang mengering. Rambutnya agak acak-acakan, dan tangan kanannya memegang sebuah tusuk sate bambu berisi sisa daging bakar dari sarapannya yang belum habis.
Ji Huang menguap sangat lebar hingga air mata keluar di sudut matanya, mengabaikan tatapan jijik dan bingung dari semua orang.
"Ji Huang! Kenapa penampilanmu seperti pengemis?! Cepat naik ke panggung!" bentak wasit dengan wajah masam.
Ji Huang menghela napas panjang, mengunyah potongan daging terakhir di tusuk satenya, lalu melangkah naik ke panggung batu. Dia berjalan ke tengah arena dengan santai, berdiri berhadapan dengan Huang Jian yang kini menatapnya dengan seringai kejam.
"Sampah, aku kira kamu sudah melarikan diri sambil mengompol di celana," Huang Jian berbisik dengan nada mengejek, mengibas kipasnya dengan sombong. "Baguslah kamu datang. Di atas panggung turnamen ini, membenturkan atau melumpuhkan lawan adalah hal yang legal. Hari ini, aku akan memastikan kedua kakimu tidak akan bisa berjalan lagi untuk selamanya!"
Ji Huang menatap Huang Jian dengan pandangan polos tanpa dosa. Tusuk sate bambu yang sudah kosong di tangannya dia putar-putar dengan malas.
"Bicaramu banyak sekali, telingaku sampai sakit," ucap Ji Huang jujur tanpa filter, suaranya terdengar sangat tenang namun bergema di seluruh panggung yang mendadak sunyi. "Cepat serang aku. Aku sengaja bangun pagi-pagi dari kasurku yang keras cuma buat mematahkan kakimu. Setelah ini selesai, aku mau cepat pulang dan lanjut tidur siang."
Keheningan total melanda seluruh alun-alun.
Para murid di bawah panggung saling berpandangan, lalu tawa menggelegar pecah. Mereka mengira Ji Huang sudah benar-benar gila karena ketakutan. Menantang seorang praktisi Pengumpulan Qi Lapis ke-3 dengan tangan kosong dan pakaian compang-camping? Itu adalah lelucon terbesar tahun ini.
Wajah Huang Jian berubah menjadi merah padam karena murka. Kata-kata polos Ji Huang terasa seperti tamparan yang sangat merendahkan harga dirinya di depan umum.
"Kurang ajar! Mati kamu, sampah!"
Huang Jian berteriak marah. Dia melompat maju, membuang kipasnya, dan mengumpulkan seluruh energi Qi birunya ke tangan kanan. Udara di sekitarnya berdesir tajam saat dia mengeluarkan jurus andalannya: Pukulan Harimau Pembelah Batu!
Tinju Huang Jian yang dilapisi energi spiritual melesat secepat kilat, mengarah langsung ke dada Ji Huang dengan kekuatan penuh yang berniat menghancurkan tulang rusuk pemuda itu.
Di bawah panggung, Ji Lan menutup matanya, tidak sanggup melihat sepupunya hancur.
Namun, di atas panggung, di mata Ji Huang, gerakan secepat kilat itu terlihat seolah-olah berjalan dalam gerak lambat yang sangat membosankan. Bagai melihat seekor anak kucing yang mencoba mencakar, Ji Huang bahkan tidak mengubah ekspresi wajah datarnya. Jurus Huang Jian dipenuhi oleh ratusan celah mati yang sangat fatal.
Tepat ketika tinju berenergi itu tinggal tiga sentimeter dari dadanya, Ji Huang menggeser kaki kirinya ke belakang sejauh beberapa milimeter. Gerakan minimalis yang sangat elegan, membuat tinju besar Huang Jian melesat melewati udara kosong di samping tubuhnya.
"Eh?!" Huang Jian syok saat menyadari pukulannya meleset. Sebelum dia sempat menarik kembali tangannya, Ji Huang sudah bergerak.
Dengan wajah polos dan gerakan malas yang nyaris tak terlihat oleh mata biasa, Ji Huang mengayunkan tangan kanannya yang memegang tusuk sate bambu kosong. Tanpa energi Qi, murni menggunakan kecepatan, presisi, dan pemahaman titik mati tingkat Dewa Pedang, dia mengetukkan ujung tajam tusuk sate bambu itu tepat ke titik saraf di samping lutut kanan Huang Jian.
KRAK!
Suara retakan tulang yang sangat keras dan mengerikan menggema jelas melalui papan panggung batu.
"AAAKKKHHHHHGGGGGG!"
Jeritan melengking yang penuh dengan rasa sakit yang luar biasa langsung memecah kesunyian alun-alun. Energi Qi biru di tubuh Huang Jian langsung hancur berantakan. Tubuh besarnya kehilangan keseimbangan, ambruk menghantam lantai panggung dengan keras. Dia berguling-guling di atas batu, kedua tangannya memegangi lutut kanannya yang kini menekuk ke arah samping dengan sudut sembilan puluh derajat yang sangat tidak alami. Tempurung lututnya telah hancur total menjadi serpihan.
Ji Huang melangkah mundur satu langkah agar darah yang merembes dari celana Huang Jian tidak mengenai sepatunya yang sudah kotor. Dia melihat tusuk sate bambunya yang kini patah menjadi dua bagian, lalu membuangnya ke lantai dengan wajah tanpa penyesalan. Sedikit sentuhan sadis berkilat di matanya yang datar.
"Sudah kubilang, jangan mengganggu waktu tidur siangku," gumam Ji Huang pelan.
Seluruh alun-alun kedaleman Keluarga Huang seolah membatu. Ratusan murid yang tadinya tertawa, kini membeku dengan mulut terbuka lebar. Para tetua keluarga yang duduk di kursi kehormatan langsung bangkit berdiri, mata mereka melotot hampir keluar dari kelopaknya. Rahang mereka seolah-olah jatuh menghantam lantai.
Bagaimana mungkin seorang sampah tanpa kultivasi bisa menghindari jurus Lapis ke-3 dan menghancurkan lutut lawannya hanya dengan sebilah tusuk sate bambu?!
Di bawah panggung, Ji Tian yang tadinya pura-pura pingsan di tanah, langsung melompat berdiri dengan bugar. Dia bertepuk tangan dengan sangat heboh sambil berteriak kegirangan, "Luar biasa! Ramalan anakku sangat akurat! Kaki Huang Jian beneran patah sendiri saat melompat! Oh, surga! Anakku pasti punya bakat menjadi dukun peramal!"
Ji Lan yang berada di sampingnya hanya bisa menatap Ji Huang di atas panggung dengan pandangan kosong, tubuhnya gemetar karena syok yang teramat sangat. Dia tahu betul itu bukan karena kaki Huang Jian patah sendiri. Gerakan menghindar dan serangan balik Ji Huang tadi terlalu sempurna, terlalu mengerikan untuk ukuran seorang remaja.
Di atas panggung, Ji Huang menoleh ke arah wasit paruh baya yang masih berdiri mematung dengan bendera yang gemetar di tangannya.
"Dia sudah kalah dan tidak bisa berdiri lagi, kan?" tanya Ji Huang polos, memecah keheningan yang mencekam.
"A-ah... Y-ya... Pemenangnya, Ji Huang!" wasit mengumumkan dengan suara terbata-bata, ketakutan setengah mati melihat ketenangan bocah di depannya.
"Baguslah," Ji Huang mengangguk puas. Dia berbalik memunggungi Huang Jian yang masih menjerit histeris dan mulai dibawa tandu oleh para pelayan medis yang panik.
Sembari berjalan turun dari panggung dengan tangan dimasukkan ke dalam saku, Ji Huang bergumam malas pada dirinya sendiri, "Kamarku agak jauh, jalannya bikin capek. Sialan, setelah ini aku harus tidur sampai besok pagi untuk mengganti tenaga yang terbuang ini."
Dengan langkah santai dan acuh tak acuh, sang mantan Dewa Pedang berjalan melewati kerumunan orang yang kini membuka jalan untuknya dengan rasa takut yang mendalam, siap memulai kehidupan malasnya yang baru saja digempar oleh aksinya sendiri.