"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sedan mewah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam milik Mahendra meluncur mulus, lalu berhenti tepat di depan lobi utama Pratama Group.
Kehadiran mobil antipeluru dengan pelat nomor khusus itu seketika mencuri perhatian beberapa karyawan dan satpam yang sedang berjaga di area depan.
Luna merapikan blazer kerjanya dengan jemari yang sedikit dingin.
Ada debaran halus di dadanya, bukan karena takut menghadapi pekerjaannya, melainkan karena status baru yang kini melekat pada dirinya.
"Aku turun dulu ya, Mas," pamit Luna lembut, jemarinya bersiap membuka tuas pintu mobil.
Namun, sebelum jemarinya sempat bergerak, genggaman tangan Mahendra di paha Luna sedikit mengencang, menahan gerakannya.
"Sayang, ada yang lupa," ucap Mahendra. Suara baritonnya terdengar rendah, sarat akan otoritas namun juga dipenuhi kehangatan yang pekat.
Luna menoleh, dahinya berkerut polos menatap wajah matang suaminya.
"Apa, Mas? Apa dokumenmu ada yang terbawa di tas kecilku?"
Mahendra tidak menjawab dengan kata-kata. Seulas senyum tipis yang sangat menawan terbit di sudut bibirnya yang tegas.
Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, pria paruh baya itu menyodorkan telapak tangan kanannya yang kekar ke hadapan Luna.
"Cium tangan dan kening dulu, Sayang. Itu hak suamimu sebelum kamu masuk ke wilayah kerja pria lain," pinta Mahendra dengan nada manja yang posesif.
Wajah Luna seketika merona merah demi mendengar tuntutan manis itu.
Meski kaca mobil ini sangat gelap dari luar, keintiman yang diciptakan Mahendra di dalam kabin selalu berhasil membuat jantungnya berdesir hebat. Luna tidak membantah.
Ia meraih tangan kekar Mahendra yang terasa hangat, lalu membawanya ke bibirnya, mencium punggung tangan sang suami dengan takzim dan penuh rasa hormat.
Begitu Luna menjauhkan wajahnya, Mahendra langsung bergerak maju.
Lengan kekarnya menahan tengkuk Luna dengan lembut, lalu mengecup kening istri kecilnya itu dengan sangat dalam dan lama.
Kecupan yang menyalurkan rasa aman, perlindungan mutlak, sekaligus kepemilikan yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.
"Kerja yang baik. Jam lima sore, mobil ini sudah harus melihatmu keluar dari pintu lobi," bisik Mahendra tepat di depan bibir Luna, membuat napas hangatnya menerpa wajah gadis itu.
"I-iya, Mas. Aku masuk dulu," cicit Luna salah tingkah, buru-buru membuka pintu mobil untuk menyembunyikan senyumnya yang tertahan.
Dari balik dinding kaca lantai satu yang berjarak hanya beberapa meter dari lobi, Dika berdiri mematung. CEO muda Pratama Group itu menyaksikan seluruh adegan tersebut dengan rahang yang mengeras rapat.
Sepasang matanya menajam, merekam dengan jelas bagaimana Luna sekretaris andalannya yang kini telah resmi menjadi Nyonya Besar Dirgantara—turun dari mobil mewah itu dengan gurat kebahagiaan dan rona merah di pipinya.
Ada denyut perih dan tidak rela yang mendadak menyergap dada Dika.
Selama ini, ia mengagumi efisiensi dan kecantikan tenang yang dimiliki Luna, namun ia selalu menjaga batas profesional karena menghormati status Luna yang kala itu merupakan tunangan Fauzan.
Dika tidak pernah menyangka bahwa badai di pernikahan Fauzan justru akan membawa Luna jatuh ke pelukan Mahendra Dirgantara—sang Titan Bisnis yang kekuasaannya bahkan bisa melindas perusahaannya dalam semalam jika pria matang itu menghendakinya.
Dika menarik napas dalam-dalam, merapikan jasnya, lalu melangkah keluar menuju pintu lobi tepat saat Luna berjalan masuk.
"Selamat pagi, Luna. Atau... haruskah saya memanggilmu Nyonya Mahendra sekarang?" sapa Dika.
Luna menghentikan langkahnya, sedikit terkejut melihat CEO-nya sudah berdiri di lobi.
Ia tersenyum ramah—sebuah senyuman profesional yang biasa ia berikan di kantor.
"Selamat pagi, Pak Dika. Di dalam lingkungan Pratama Group, saya tetaplah Luna, sekretaris pribadi Bapak yang berkomitmen menyelesaikan sisa kontrak dua bulan ini," jawab Luna dengan tegas namun tetap santun.
Dika menatap lekat-lekat netra bening Luna, mencari celah paksaan di sana, namun ia hanya menemukan ketenangan dan binar yang berbeda dari Luna yang biasanya.
"Kontrak dua bulan ya?" Dika tersenyum tipis, menyembunyikan rasa sesak di dadanya.
"Baiklah, Luna. Mari kita ke ruangan. Ada beberapa berkas audit kompetitor yang membutuhkan ketelitianmu pagi ini. Dan... selamat atas pernikahanmu."
"Terima kasih banyak, Pak Dika," sahut Luna.
Saat mereka berdua berjalan beriringan menuju lift khusus eksekutif, Luna bisa merasakan tatapan mata dari beberapa staf kantor yang mulai berbisik-bisik di kejauhan. Namun, sentuhan hangat ciuman kening Mahendra yang seolah masih membekas di kulitnya, memberikan Luna keberanian penuh untuk melangkah tegak, mengabaikan semua riak gosip yang mulai merayap di hari pertamanya kembali bekerja.
Di atas meja kerja kubikel khusus yang terletak tepat di depan ruangan CEO, tumpukan map tebal berisi dokumen audit tahunan Pratama Group tampak menggunung.
Sejak jam sembilan pagi tadi, netra bening Luna nyaris tidak pernah beralih dari deretan angka, grafik pencapaian, dan laporan arus kas yang cukup menguras energi.
Jemari lentiknya bergerak lincah di atas papan ketik, sesekali memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut halus.
Meskipun statusnya kini telah berubah menjadi istri dari salah satu pria paling berpengaruh di negeri ini, Luna tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja.
Ia ingin menuntaskan sisa kontrak dua bulannya dengan profesionalisme mutlak, tanpa ingin meninggalkan celah cacat sedikit pun bagi reputasinya.
Tepat pukul dua belas siang, pintu ruangan CEO terbuka.
Dika melangkah keluar dengan gulungan lengan kemeja yang ditarik hingga sebatas siku.
Lelaki muda itu sempat berhenti beberapa detik, menatap lekat-lekat sosok Luna yang masih tenggelam dalam pekerjaannya hingga mengabaikan jam istirahat.
Dika berdeham pelan, mencoba memecah keheningan di area lantai eksekutif tersebut.
"Luna, istirahatlah dulu. Audit itu tidak akan lari kemana-mana dalam waktu satu jam."
Luna mendongak, sedikit tersentak dari fokusnya. Ia melempar senyum tipis yang tampak sedikit lelah.
"Sebentar lagi selesai, Pak Dika. Tinggal mencocokkan data dari divisi pemasaran."
Dika tidak membantah, namun ia juga tidak kembali ke ruangannya.
Tak lama kemudian, seorang petugas pantry kantor datang mendekat ke meja Luna sembari membawa sebuah kantong kertas kedap udara yang masih mengepulkan aroma harum yang sangat akrab di indra penciuman Luna.
"Permisi, Nyonya Luna. Ini ada titipan makan siang dari Pak Dika," ucap petugas itu dengan sopan, meletakkan kotak makan premium di sisi meja yang kosong.
Begitu kotak itu terbuka, bola mata Luna sedikit melebar.
Di dalamnya tersaji seporsi nasi goreng babat khas Semarang dengan telur mata sapi setengah matang di atasnya—lengkap dengan kerupuk udang dan potongan acar segar. Itu adalah makanan kenyamanan (comfort food) favorit Luna yang selalu ia pesan setiap kali merasa stres atau kelelahan karena pekerjaan kantor.
Dika yang masih berdiri tidak jauh dari sana tampak melipat kedua tangannya di dada, menatap Luna dengan gurat wajah yang sulit diartikan.
Ada usaha keras dari sisi CEO muda itu untuk menjaga jarak profesional, namun perhatian-perhatian kecil seperti ini tetap saja lolos dari pertahanannya.
Ia tahu persis kebiasaan makan Luna melebihi siapa pun di kantor ini.
Luna menatap makanan hangat itu bergantian dengan wajah pimpinannya yang kini tengah memperhatikannya.
Ada rasa hangat sekaligus canggung yang menyergap hatinya.
Luna tahu, perhatian Dika tulus, namun kini garis pembatas di antara mereka sudah ditarik dengan sangat tegas oleh takdir.
"Terima kasih, Pak Dika," ucap Luna tulus, suaranya terdengar lembut namun tetap menjaga jarak aman yang semestinya.
"Bapak tidak perlu repot-repot sampai memesankan ini untuk saya."
Dika tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyiratkan sedikit rasa sesak dan penyesalan yang terlambat.
"Sama sekali tidak repot, Luna. Anggap saja ini bahan bakar agar sekretaris terbaikku tidak tumbang di hari pertamanya bekerja kembali. Habiskan makananmu."
Dika berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangannya, menutup pintu kaca buram itu rapat-rapat.
Sementara itu, Luna menatap nasi goreng di hadapannya dengan embusan napas panjang.
Di tengah aroma makanan yang menggugah selera itu, ponsel di atas mejanya mendadak bergetar memunculkan satu pesan singkat dari kontak bernama 'Mas Mahendra'.
“Sudah makan siang, Sayang? Jangan lewatkan sedetik pun tanpa mengisi perutmu."
Seketika, rona merah kembali terbit di kedua pipi Luna.
Perhatian kecil dari Dika mungkin terasa hangat sebagai seorang teman kerja, namun pesan posesif bernada mutlak dari suaminya yang berusia lima puluh tahun itu selalu sukses membuat jantung Luna berdegup jauh lebih kencang.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi