NovelToon NovelToon
SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rey.writerid

Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.

Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."

Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.

Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERMAINAN DI BELAKANG LAYAR

Detik waktu terus berputar di dalam kamar hotel yang hening itu. Usai menumpahkan seluruh kegilaan dan rasa sakit hati mereka di atas ranjang, jarum jam akhirnya menunjukkan waktu telah melewati tengah malam. Sadar akan status mereka yang terikat pernikahan, Winda dan Aryo bergegas merapikan pakaian masing-masing. Tanpa banyak bicara, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing demi menjaga rahasia besar malam itu.

Sesampainya di rumah, Winda melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang sunyi. Ia mengedarkan pandangan, ternyata Baskara belum kunjung pulang dari acara kantornya. Rasa sedih yang tadi membakar dadanya kini menguap, berganti menjadi mati rasa yang dingin. Winda melangkah ke kamar mandi, membersihkan sisa-sisa peluh dan dosa dari tubuhnya. Setelah itu, ia sengaja memilih dan memakai baju tidurnya yang paling seksi. Sisi polos Winda sudah mati malam ini; ia telah bertransformasi menjadi sosok wanita yang liar dan tak peduli lagi.

Tak berselang lama, terdengar suara pintu depan terbuka. Baskara melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya terhenti di ambang pintu kamar saat melihat penampilan Winda. Dengan senyum bersalah yang menghiasai wajahnya, Baskara tiba-tiba menyodorkan seikat bunga indah yang sengaja ia beli di jalan.

"Buat kamu, Sayang. Maaf ya soal yang tadi..." ucap Baskara, mencoba mengejutkan istrinya.

Namun, respons Winda sungguh di luar dugaan. Winda hanya melempar senyum tipis yang terasa sangat hambar, lalu menerima buket itu tanpa minat. "Makasih, Mas," jawabnya singkat.

Winda berjalan santai, meletakkan bunga mahal itu begitu saja di ujung meja sudut ruangan, seolah benda itu tidak memiliki arti apa-apa lagi. Setelah itu, ia langsung berbalik dan berjalan kembali menuju kamar tidur tanpa menoleh lagi.

Baskara mematung di tempatnya berdiri, terdiam kaku melihat perubahan tabiat istrinya yang mendadak berubah menjadi sangat cuek dan dingin. Namun, pria itu mencoba menepis pikiran buruknya, berpikir bahwa mungkin Winda hanya sedang kelelahan karena langsung pulang dari pesta tadi.

Baskara menyusul masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang, Winda tampak masih asyik bermain ponsel di balik tilam. Baskara ikut merebahkan tubuhnya, perlahan masuk ke dalam selimut yang sama. Merasa suaminya sudah berada di sampingnya, Winda meletakkan ponselnya. Didorong oleh rasa egois untuk menuntut haknya sebagai istri yang sah sekaligus pembuktian batin, Winda bergerak memeluk tubuh Baskara dengan intim. Ia mencoba menuntut sentuhan pria itu malam ini.

Namun, tepat saat kulit mereka bersentuhan, bayangan Baskara yang sedang memeluk erat Alena di ruang istirahat gedung tadi mendadak terngiang kembali di kepala Winda, membuat hatinya kembali terasa sangat sakit dan perih.

Belum sempat Winda menguasai rasa sakitnya, Baskara perlahan melepaskan pelukan itu. Pria itu membalikkan badan memunggunginya. "Malam ini jangan dulu ya, Win... Mas capek banget, pengin langsung tidur," tolak Baskara dengan suara serak menahan kantuk.

Mendengar penolakan itu, Winda tersenyum sinis di kegelapan kamar. Rasa bersalahnya kini benar-benar terkikis habis. Winda pun menyerah, ikut berbalik arah memunggungi Baskara. Malam itu, mereka tidur dalam satu ranjang yang sama, namun dengan hati yang terpisah ribuan mil jauhnya.

Keesokan paginya, saat Winda terbangun dari tidurnya, sisi ranjang di sampingnya sudah terasa dingin. Baskara sudah tidak ada lagi di rumah. Winda meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas, mendapati ada beberapa notifikasi pesan masuk dari dua pria yang berbeda.

Pesan pertama datang dari Baskara:

"Aku ke kantor duluan, dah ya sayang. Hari ini sarapan dulu sendiri ya."

Winda hanya membaca pesan itu datar tanpa niat membalas. Ia kemudian beralih membuka pesan kedua yang dikirim oleh Aryo:

"Terima kasih atas malam ini."

Membaca pesan singkat dari suami sahabatnya itu, seulas senyum kemenangan dan kepuasan mendadak mengembang di bibir Winda. Rasa candu akan pelarian itu mulai meracuni otaknya. Tanpa berpikir panjang, Winda langsung membalas pesan Aryo, mengajaknya untuk pergi keluar. Hari itu juga, mereka berdua nekat pergi ke sebuah mall mewah yang terletak di kota lain demi menjauhkan diri dari jangkauan kenalan mereka. Di kota lain itulah, Winda dan Aryo resmi memulai hubungan SELINGKUH yang berani, menghabiskan waktu berdua dengan penuh kemesraan tanpa memikirkan perasaan Serena sama sekali.

POV SERENA

Sementara itu, di kantor pusat perusahaan keluarganya, Serena sedang duduk di meja kerjanya dengan dahi berkerut dalam. Di hadapannya, layar laptop menampilkan tabel laporan keuangan pribadi dan suaminya. Hari ini, Serena sengaja mengecek mutasi rekening dan laporan keuangan bulanan mereka.

Mata Serena menyipit tajam saat menyadari ada yang tidak beres. Pengeluaran kas belakangan ini mendadak membengkak drastis tanpa alasan yang jelas; mulai dari biaya hotel, restoran mewah, hingga penarikan tunai yang tidak biasa. Perasaan tidak enak mulai menyergap ulu hatinya. Merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya, Serena memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantor guna menyelidiki hal ini di rumah.

Sembari merapikan tasnya dan berjalan menuju mobil, Serena mencoba menghubungi ponsel Aryo.

Di waktu yang sama, di sebuah kamar hotel mewah di luar kota, Aryo dan Winda sedang kembali larut dalam pergulatan panas di atas ranjang. Tubuh Winda berada di atas tubuh Aryo, mendominasi permainan dengan liar. Tiba-tiba, ponsel Aryo yang tergeletak di nakas berdering nyaring menampilkan nama "Serena".

Panik setengah mati, Aryo dengan gemetar menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga, mencoba menahan napasnya yang memburu.

"Halo, Mas... kamu di mana?" suara Serena terdengar menyelidik di seberang telepon.

Aryo mencoba menjawab, namun gerak tubuh Winda yang sengaja terus menggoda di atas badannya membuat Aryo tidak sengaja mendesah parah di speaker telepon. "Aku... aku... aahhh... ahh..."

Mendengar suara aneh itu, Serena di dalam mobil langsung menghentikan gerakannya. Dahinya berkerut tajam, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Lagi ngapain sih kamu, Mas? Kok suaranya begitu?"

Aryo buru-buru membekap mulutnya sendiri, keringat dingin mengucur deras di dahinya. "Aku... aku lagi berlari-lari ini, Sayang! Lagi olahraga kardio," bohong Aryo dengan suara yang bergetar menahan gairah.

"Olahraga? Di mana?" cecar Serena lagi, suaranya makin meninggi dan dingin.

"Di... di luar kota, Sayang. Ada urusan sebentar," jawab Aryo terbata-bata.

Serena menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya yang mulai tersulut karena kecurigaan yang kian menguat. "Oh... yaudah, nanti kalau udah pulang langsung kabarin ya. Ada hal penting banget tentang keuangan yang harus aku omongin sama kamu, Mas."

Mendengar kata "keuangan" disebut, Aryo tersentak kaget. Rasa panik yang luar biasa membuat Aryo secara refleks mendorong tubuh Winda dari atas badannya dengan cukup kuat hingga hubungan intim mereka terputus sepihak.

"Awwhh!" pekik Winda spontan karena terkejut dan kesakitan akibat dorongan kasar Aryo.

Pikiran Aryo mendadak kosong. Ia yakin Serena pasti sudah menaruh curiga yang teramat besar padanya. Benar saja, di seberang telepon, Serena langsung menyambar suara pekikan wanita tadi. "Suara apa itu, Mas?! Suara perempuan?!"

Aryo menelan ludah yang terasa sangat kesat, matanya membelalak panik menatap Winda yang sedang merengut kesal di sampingnya. "Oh... n-nggak kok, Sayang! Itu... itu suara orang di sebelah kamar, eh maksudnya suara orang yang lagi lewat di sebelah tempat mas lari. Di sini agak ramai."

Di dalam mobilnya, Serena mengepalkan setir dengan sangat kencang. Ia tahu suaminya sedang berbohong, namun ia memilih menahan diri demi mengumpulkan bukti yang lebih valid. "Yaudah deh, Mas. Aku mau langsung pulang ke rumah sekarang," ucap Serena dingin, dan langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Tut.

Begitu telepon mati, Aryo langsung melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan wajah pucat pasi. Ia segera bergeser mendekati Winda yang masih tampak cemberut memegangi lengannya.

"Maaf ya, Sayang... Maaf banget, aku gak sengaja tadi mendorong kamu," ucap Aryo dengan nada suara yang sangat panik dan penuh penyesalan.

Winda mendengus kesal, memalingkan wajahnya. "Hati-hati dong, Aryo! Sakit tahu!" ketusnya kasar.

"Iya, maaf... gimana lagi, aku kaget setengah mati tadi. Kayaknya Serena udah curiga deh sama gerak-gerik aku, Win. Dia nanya pengeluaran dan suaramu tadi," ujar Aryo sembari mengacak rambutnya frustrasi.

Winda menatap Aryo datar, lalu mengulas senyum meremehkan seolah tidak takut dengan risiko apa pun lagi. "Ah, nggak... itu mungkin cuma perasaan ketakutan kamu saja, Ar. Serena gak bakal tahu semudah itu."

Winda kemudian bangkit dari ranjang, memunguti pakaian dalamnya yang berserakan di lantai. "Yaudah deh, gak usah panik begitu. Ayo beres-beres, kita pulang sekarang sebelum posisimu makin bahaya."

Aryo hanya bisa mengangguk pasrah dengan jantung yang masih bertalu-talu hebat, menyadari bahwa benang merah perselingkuhan mereka kini perlahan tapi pasti mulai terendus oleh ujung gunting kehancuran milik Serena.

1
Tamirah
Ikhlaskan Aryo untuk sahabat mu.serena sdh banyak membantu mu.masih banyak laki laki diluar sana yg lebihh baik dari Aryo .Jangan jangan Aryo hanya mengincar kedudukan di perusahaan ituu
Tamirah
cerita ini belummm jelas alur nya, sekilas Kalau winda cinta mati sama Aryo,cinta bertepuk sebelah tangan.Aryo memanfaatkan winda krn dekat dgn Serina.mungkin Karena Serina orang kaya, kalau sekedar cantik itu relatif.lanjut Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!