Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HIDUP SEBAGAI SIOH BU
Tepuk tangan bergemuruh.
"CIAMIK!" Toian Hoan berteriak. "Ah Bu-A, lu hebat hari ini! Itu improvisasi mantap! Kita gak perlu repeat!"
Eng Sok tidak menjawab. Ia masih berdiri di singgasana, menatap tangannya sendiri. Cincin-cincin ukir naga itu berkilat di bawah lampu studio.
Leng Tiat, semoga setelah ini kita gak perlu ketemu lagi.
---
Sore harinya, Eng Sok dipanggil ke studio lain.
Toian Tio—sutradara berbeda, proyek berbeda—sedang syuting drama kolosal. Eng Sok kali ini akan berperan sebagai Ajudan Berbakti, figuran dengan tiga baris dialog.
"Rambut kamu kok jadi panjang?" Toian Tio mengernyit.
"Anu... itu pake hair... hair..." Eng Sok menggaris-garis rambutnya sendiri, bingung dengan istilah modern.
"Ekstension," bisik Sioh Bu.
"Ekstension, Toian."
Toian Tio manggut-manggut. "Iya ya, kamu kan enam bulan ini syuting drama kostum terus. Bagus lah, dari pada lehermu dilem mending rambut asli disanggul."
Di sudut ruangan, Ah Oan mengamati dari kejauhan.
Ia pindah dari studio sebelumnya ke sini—biasa, cari order sebanyak-banyaknya. Matanya mengikuti setiap garis rambut Eng Sok. Tidak ada sambungan ekstension yang terlihat. Tidak ada lem, tidak ada jepit, tidak ada teknik modern yang ia kenal. Bulu kuduknya merinding. Badannya gemetar sekali. Ia tau Sioh Bu rambutnya kemarin cuma sebahu. Sehat juga kulit kepalanya kayak gini tapi….
Tapi Ah Oan tidak mau mikir.
"Yang penting cuan," bisiknya dalam hati. "Mau dikasih ekstension kek, mau disihir pake jurus Batu Naga, yang penting gua sanggul. Make up. Cuan!"
Ah Oan heran. Rambut Sioh Bu jadi wangi minyak rempah. Kayak kakek-kakek tua yang rambutnya masih panjang. Sebagai MUA dan Hair stylist dia kaget tapi gak berani bilang apa-apa. Walaupun dengkulnya gemetaran.
---
Syuting dimulai.
Eng Sok membaca naskah dengan terbata-bata—masih penyesuaian dengan aksara modern. Tapi otaknya encer. Bekas didikan istana membuatnya cepat menghafal.
Adegan pertama: Ajudan berbakti bersujud di hadapan raja.
Eng sok melakukan sembah dengan sempurna. Tangan menangkup, dahi menyentuh lantai, sudut siku tepat sembilan puluh derajat—seperti yang diajarkan protokol istana sejak ia berusia lima tahun.
Seorang ahli sejarah yang diundang Toian Tio berdiri.
"Tolong, tunjukkan lagi!"
Eng Sok mengulangi.
"Lihat! Lihat!" Ahli sejarah itu menunjuk ke arah para artis muda. "Gerakan sembah yang benar itu begini! Jangan asal nunduk!"
Para artis muda mengerjap. Ada yang mencoba meniru. Hasilnya kaku.
Belum lagi saat adu pedang.
Pengarah jurus yang disewa produksi—lulusan akademi silat—hanya bisa melongo saat Eng Sok bergerak. Pedang di tangannya berputar seperti ekstensi dari lengan. Langkah kakinya presisi. Tidak membuang tenaga. Tidak ada gerakan berlebihan.
"Kamu belajar silat di mana?" tanya pengarah jurus.
Eng Sok tersenyum tipis. "Dulu... Di Akademi Pangeran Istana eh maksudnya Akademi Liong Hok…."
“Iya sih, akademi bagus. Banyak lulusan Akademi itu jadi Aktor besar: Richie The, Liem Keng Siat, dan lainnya. Tapi yang miskin…lebih banyak “, bisik pengarah jurus pasrah.
“Dalam hati: Lah iya. Gua dulu Pangeran asli. Pedang asli beratnya kayak karung beras. Ini cuma mainan.
Hari itu, di berbagai set syuting, Eng Sok seolah-olah menjadi dirinya sendiri. Pangeran Koh Eng Sok tidak perlu berakting. Satu per satu adegan selesai tanpa repeat, dia mendapatkan bonus gaji karena akting sangat akurat. Tidak terasa, matahari mulai tenggelam di ujung gedung-gedung pencakar langit. Syuting diakhiri.
Ada bus lewat tepat depan studio. Bus jalur baru. Eng Sok melihat jalur dan mencoba naik. Awalnya Sioh Bu takut nyasar. Tapi setelah baca jalur ia tersenyum. Sioh Bu mau minta maaf ke Pangeran tapi gengsi. Pangeran sendiri udah gak perduli. Ia cuma mau pulang, mampir warung beli makanan, terus makan dan mandi. Ia menatap ke pintu bus. Ada pengumuman jalur bus baru ini. Jadi dia tidak usah lagi lewat perlintasan laknat itu. Dari depan gang langsung depan studio walaupun agak mahal tapi lebih murah dari pada oper dua kali.
Ia mencari kuas dan tinta untuk mencatat.
“Foto aja pake HP pangeran… cerewet amat nyari kuas gitu loh ah!”, bisik Sioh Bu. Di depannya, penumpang memfoto pengumuman. Dia mengikuti. “Kok tersalin?”, kata Pangeran. “Alah jadul!”, teriak Sioh Bu kesal sambil garuk-garuk.
---
Malam harinya ia sampai di depan gang Ang Hoe. Ia sedikit berjalan lalu tiba di rumah kontrakan sempit Gang Ang Hoe No. 12, Eng Sok duduk di samping ranjang.
Ah Me—ibu Sioh Bu—terbaring lemah. Wajahnya pucat, tulang pipinya menonjol. Napasnya pendek-pendek. Meskipun matanya terpejam, sesekali ia mengerang pelan, menahan sakit.
Eng Sok mengambil pergelangan tangan Ah Me. Dua jarinya menempel di nadi.
Chhun Koan Chi.
Denyut nadi yang lemah, bergelombang tidak beraturan. Tanda penyakit dalam. Kanker—istilah modern yang ia serap dari memori Sioh Bu.
Ia membuka dompet. Menghitung lembaran uang. Lalu ponselnya—ponsel Sioh Bu—berbunyi.
Chat masuk dari Toian Kim.
[Toian Kim: Oeeey Sioh Bu. Besok kamu dipanggil ke studio aku. Klip kamu meledak di Sosmed!]
Eng Sok membuka aplikasi bernama "Instagram". Jarinya menggulir.
Video pendek—potongan adegan dirinya sebagai Leng Tiat. Tatapan dingin. Senyum miring. Dialog improvisasi yang mengerikan.
Viewers: 2,3 juta.
Komentar:
"Ini figuran? Kok aktingnya kayak beneran jahat?"
"Wajahnya familiar. Siapa ya?"
"RAMBUTNYA KEREN BANGET COK"
"Kenapa aku takut padahal cuma liat video?"
Eng Sok menyipit.
Sioh Bu melayang di sampingnya, membaca komentar-komentar itu. "Pangeran balas dendam apa gimana?"
"Yah..." Eng Sok menunduk, wajahnya merah. "...masih dendam."
---
Ia mandi. Air dingin mengalir di rambut panjangnya. Ia memakai shampo dan conditioner murah. Agak bingung keramas sendiri tapi diarahkan sama Sioh Bu.
Di luar kamar mandi, seorang anak laki-laki duduk di meja belajar. Ah Ti—adik Sioh Bu, kelas 5 SD. Matanya mengerjap menatap pintu kamar mandi.
Koko-nya lain.
Biasanya, Sioh Bu pulang selalu mengganggunya. Ngacak rambut. Nyubit pipi. Ngegasin gara-gara PR belum selesai.
Tapi hari ini, sejak kakaknya pulang, semua terasa aneh.
Kalem. Tenang. Beres. Gak ketawa.
"Udah mandi, Ti. Ayo belajar," kata Eng Sok sambil mengeringkan rambut.
Ah Ti menurut. Mereka duduk di meja.
Pangeran itu mengajari matematika. Cara mengajarnya berbeda—tidak terburu-buru. Ia bertanya dulu: "Kamu sudah sampai mana? Paham yang mana? Yang tidak paham yang mana?"
Ah Ti sampai kaget.
Biasanya, Koko Sioh Bu maksa menghafal. Sedikit materi lalu disuruh mengulang. Kalau salah, digelitik. Tapi kalau benar, digelitik juga. Sialan.
Sekarang, auranya berbeda. Taktis. Efisien. Seperti guru yang mengajarkan strategi perang, bukan sekadar rumus. Tidak memukul walaupun auranya seperti naga yang siap menghajar.
Jam delapan malam, semua PR selesai.
"Koko, kamu kenapa?" tanya Ah Ti tiba-tiba.
Eng Sok berhenti. "Apa maksudmu?"
"Biasanya... ya udah. Ah Ti tidur."
Anak itu berlalu. Tapi di ambang pintu, Ah Ti menoleh. "Koko, aku suka yang sekarang."
Pintu kamar tertutup.
Eng Sok terdiam. Hatinya berdesir aneh. Apakah ini rasanya ngajarin adik seperti ajudan miskinnya dulu itu?
---
Ah Me terbangun saat Ah Ti belajar.
Luar biasanya, rasa sakitnya sedikit mereda. Wanita ini baru tadi sempat diberi akupresur oleh Eng Sok yang pandai pengobatan. Ia mencondongkan badan, menatap ke luar pintu kamar ke ruang tengah.
Di sana, di sebelah Putra bungsunya, seorang pria duduk tenang dengan rambut panjang sepinggang.
“Rambut kamu?”, tanya Ah Me kaget
“Ekstension”, jawab Eng Sok. Sudah lancar. Ini jawaban ke-143638920 hari ini untuk pertanyaan serupa.
Rambut panjang. Bahu tegap. Gerakannya tenang, seperti sedang meditasi—tapi matanya terbuka, menatap bintang-bintang yang tidak ia kenal.
Ah Me menarik napas.
Pria ini bukan anakku.
Tapi wajahnya. Tubuhnya. Parutnya di pelipis bekas jatuh dari sepeda waktu umur 12 tahun.
Itu anakku.
Tapi bukan.
Ia menarik selimut lebih erat. Hatinya berdebar. Sebagai seorang ibu, ia tahu. Firasat perempuan yang melahirkan dan membesarkan seorang anak sendirian selama 28 tahun—tidak mungkin salah.
"Siapa kamu?" bisik Ah Me di dalam hati.
Seolah mendengar, pria itu menoleh.
Dari kejauhan, Eng Sok berdiri lalu membungkuk hormat. Padahal pake kaos saos tomat dan kolor MU dengan kuncir ekor kuda. Tangan menangkup. Sikap yang tidak pernah diajarkannya pada Sioh Bu.
Sikap seorang pangeran kepada yang lebih tua.
Ah Ti sampai berhenti menghafal. Di menatap kokonya. Koko yang biasanya gak tau sopan santun tiba-tiba jadi … jadi apa coba?
Kepada ibu.
Kepada Ah Me.
---
Ah Ti Sioh Bu menghela napas. Ia merasa Koko dia kayak keracunan kecubung. Dia senang tapi ada rasa sedih dan berat di matanya. Ia menatap Koko dia lekat-lekat. Setiap ada kesempatan pun mengintip.
Air mata Ah Me jatuh di atas bantal.
"Koko..." bisik Ah Me sambil berbalik dari arah pintu.
Ah Me tidak tahu siapa yang baru saja ia panggil. Tapi hatinya yang sudah melalui banyak rasa sakit—ditinggal suami, membesarkan dua anak sendirian, melawan kanker dengan sisa-sisa tenaga—hanya bisa berbisik satu kata doa sebelum tertidur:
"Lindungi dia... Siapa pun namanya."
Ah Me sempat diberi tahu Lao Ma Im, penjaga gaibnya, karena dia seorang Tatung. Sioh Bu meninggal tanpa jasad terkena kereta kilat. Dan hari ini dia akan mendapat anak laki-laki yang baru. Yang harus ia akui sebagai Sioh Bu.
---
BERSAMBUNG
---
Hari pertama Eng Sok di dunia modern.
Ah Me mulai curiga.
Ah Oan juga.
Dan besok, Eng Sok dipanggil Toian Kim.
Bagaimana kelanjutannya?
🪷👩❤️👨💐