NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Fitnah Kejam di Tengah Duka

Mobil SUV mewah milik Bang Soni membelah kemacetan Jakarta menuju sebuah kawasan elit di Jakarta Selatan yang hanya dihuni oleh para pejabat dan pengusaha kelas kakap.

​Guntur Hidayat hanya bisa melongo di dalam mobil sambil terus memeluk kardus mie instannya, ia menatap deretan rumah megah yang pagarnya saja lebih tinggi dari atap rumahnya di Sidoarjo.

​"Tur, turunlah. Mulai malam ini, ini adalah rumahmu juga, jangan sungkan dan jangan merasa asing karena kamu sudah aku anggap seperti keluarga sendiri."

​Ucap Bang Soni sambil memimpin jalan masuk ke dalam mansion megah yang memiliki pilar-pilar raksasa mirip istana di dalam dongeng yang sering dibaca Guntur saat kecil.

​Guntur melangkah masuk dengan perasaan canggung, kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit terasa sangat tidak pantas menginjak lantai marmer mengkilap yang harganya mungkin setara dengan motor matic-nya.

​Sekar yang berjalan di belakang ayahnya hanya mendengus kesal melihat gaya Guntur yang kampungan, namun di dalam hatinya ia masih terbayang aksi hebat Guntur saat menghajar preman di gudang tadi.

​"Pelayan! Siapkan kamar tamu terbaik di lantai dua untuk Guntur, dan pastikan dia mendapatkan pakaian paling mahal yang ada di butik langganan kita!"

​Perintah Bang Soni dengan suara yang menggelegar, membuat beberapa pelayan berseragam rapi langsung sigap melayani Guntur seperti seorang pangeran dari desa.

​Setelah mandi dan berganti pakaian dengan kemeja hitam mahal yang sangat pas di tubuh atletisnya, Guntur turun ke ruang tamu utama karena Bang Soni memanggilnya untuk makan malam bersama tamu penting.

​Namun, suasana hati Guntur yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi dingin saat matanya menangkap sosok wanita yang sangat ia kenal sedang duduk di sofa ruang tamu sambil tertawa manja.

​Wanita itu adalah Amanda Felicia, mantan kekasih Guntur yang baru beberapa hari lalu membuangnya karena dianggap gembel, dan di sampingnya duduk seorang pria muda perlente bernama Rian.

​Rian adalah anak dari rekan bisnis Bang Soni yang sengaja datang malam itu untuk membicarakan kerja sama proyek apartemen mewah di pusat kota Jakarta.

​Amanda yang sedang asyik meminum jus jeruk mahal mendadak tersedak dan matanya hampir keluar saat melihat Guntur berjalan turun dari tangga dengan penampilan yang sangat gagah dan bersih.

​"Guntur?! Kenapa sampah sepertimu bisa ada di rumah Om Soni? Apa kamu menyelinap masuk untuk mencuri atau melamar jadi tukang sapu di sini?"

​Teriak Amanda dengan nada menghina yang sangat kencang, ia tidak sudi melihat pria yang baru ia campakkan berada di lingkungan orang kaya seperti ini.

​Rian ikut berdiri dan menatap Guntur dengan senyum meremehkan, ia sengaja memamerkan jam tangan emasnya yang berkilau di bawah lampu kristal ruang tamu.

​"Oh, jadi ini mantan pacarmu yang tukang ojek itu, Amel? Pantas saja seleramu dulu sangat rendahan, lihat saja wajahnya, tetap saja terlihat seperti orang susah meski sudah pakai baju mahal."

​Guntur yang tadinya sempat tegang perlahan justru tersenyum tipis, ia berjalan santai melewati mereka dan langsung duduk di sofa tunggal sambil mengangkat kakinya dengan gaya sengklek andalannya.

​"Waduh Mbak Amel, kok kita ketemu lagi? Padahal saya sudah niat mau amnesia soal masa lalu, tapi kok malah ketemu 'sampah kota' yang baru saja saya buang di Sidoarjo ya?"

​Jawab Guntur sambil mengambil sebuah buah pir di atas meja dan menggigitnya dengan suara yang sangat keras, seolah tidak menganggap keberadaan Rian dan Amanda di depannya.

​"Kurang ajar kamu! Berani sekali bicara begitu padaku! Om Soni, tolong usir orang gila ini, dia pasti punya niat jahat pada keluarga Om!"

​Rengek Amanda kepada Bang Soni yang baru saja keluar dari ruang kerjanya bersama Sekar yang sudah berganti gaun rumah yang cantik.

​Bang Soni menghentikan langkahnya, ia menatap Amanda dan Rian dengan tatapan dingin yang membuat nyali kedua anak muda itu menciut seketika.

​"Jaga mulutmu, Amanda! Guntur bukan orang gila dan dia bukan pencuri, dia adalah orang yang sudah menyelamatkan nyawa putriku dari maut saat kalian hanya sibuk bersenang-senang!"

​Bentak Bang Soni dengan nada suara yang sangat berat dan berwibawa, membuat Amanda langsung terdiam seribu bahasa dengan wajah yang pucat pasi.

​Sekar ikut melangkah maju dan berdiri di samping Guntur, ia menatap Amanda dengan pandangan meremehkan yang jauh lebih tajam.

​"Mulai hari ini, Guntur adalah pengawal pribadiku yang paling berharga. Jadi, jika kamu menghinanya, itu artinya kamu sedang menantang keluarga Naga!"

​Rian yang tadinya sombong kini hanya bisa menunduk ketakutan, ia tahu betul siapa Bang Soni dan betapa berbahayanya jika berurusan dengan penguasa dunia malam itu.

​Guntur hanya nyengir lebar, ia menatap mata Amanda yang kini berkaca-kaca karena malu luar biasa, sebuah kemenangan kecil yang terasa sangat manis bagi pria asal Sidoarjo tersebut.

​"Nah Mbak Amel, mending Mbak pulang saja sana sebelum saya berubah pikiran dan menceritakan pada Om Soni tentang semua kebohongan Mbak di masa lalu."

​Ucap Guntur sambil mengedipkan satu matanya, membuat Amanda segera menarik tangan Rian untuk pergi dari rumah itu secepat mungkin karena tidak kuat menanggung rasa malu yang sangat dalam

Malam itu suasana mansion terasa sangat sunyi, Guntur sedang duduk sendirian di dapur mewah sambil menikmati semangkok mie instan dengan potongan sebelas cabai rawit yang sangat pedas.

​Guntur sedang asyik menyeruput kuah mienya yang merah membara sampai keringat bercucuran, ia tidak menyadari ada langkah kaki berat dan terseret-seret mendekat ke arah dapur.

​Tiba-tiba, Bang Soni muncul dengan kondisi yang sangat mengenaskan, tangannya memegangi perut yang bersimbah darah dan napasnya sudah tersengal-sengal seperti orang yang di ambang maut.

​Guntur langsung tersedak kuah mie pedasnya sampai terbatuk-batuk hebat, ia segera melompat dari kursi dan menangkap tubuh Bang Soni yang hampir ambruk ke lantai marmer yang dingin.

​"Bang Soni! Astaga, ini kenapa Bang?! Siapa yang berani berbuat begini pada Abang?!" teriak Guntur dengan suara bergetar, rasa pedas di mulutnya mendadak hilang berganti rasa takut yang luar biasa.

​Bang Soni mencengkeram kerah baju Guntur dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, darah segar terus mengalir keluar dari mulutnya namun matanya menatap Guntur dengan sangat dalam.

​"Guntur... dengarkan aku baik-baik, waktuku sudah tidak banyak lagi, musuh dalam selimut ternyata lebih tajam daripada parang si Borgol."

​Ucap Bang Soni dengan suara yang nyaris hilang, ia berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa demi menyampaikan pesan terakhirnya pada pemuda Sidoarjo itu.

​Guntur mulai meneteskan air mata, ia mencoba menekan luka di perut Bang Soni dengan serbet dapur, namun darahnya terlalu banyak dan tidak mau berhenti mengalir.

​"Jangan banyak bicara dulu Bang! Saya panggil dokter, saya bawa Abang ke rumah sakit sekarang juga, Abang harus kuat!"

​Bang Soni menggelengkan kepala dengan lemah, ia menarik sebuah kunci kecil berbentuk naga dari sakunya dan memaksanya masuk ke dalam genggaman tangan Guntur.

​"Titip... titip Sekar, Guntur. Hanya kamu yang bisa aku percayai di kota terkutuk ini, jaga dia dengan nyawamu dan jangan biarkan siapapun mengambil alih tahta Naga."

​Bisik Bang Soni yang semakin mengecil, ia juga menyebutkan sebuah nama pengkhianat namun suaranya terputus oleh batuk darah yang sangat hebat.

​Guntur hanya bisa mengangguk dengan tangis yang pecah, ia memeluk tubuh pria yang sudah memberinya kesempatan hidup itu sementara Bang Soni perlahan menutup matanya untuk selamanya.

​Guntur berteriak histeris memanggil nama Bang Soni di tengah keheningan malam, sementara di atas meja, semangkok mie cabai yang belum habis itu perlahan mendingin menjadi saksi bisu tragedi berdarah malam itu.

​Sekar yang baru saja turun karena mendengar kegaduhan langsung menjerit histeris dan jatuh pingsan di depan pintu dapur saat melihat ayahnya sudah terbujur kaku di pelukan Guntur.

​Guntur mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kunci naga itu menusuk telapak tangannya, matanya yang tadi jenaka kini berubah menjadi sangat gelap dan penuh dengan aura haus darah.

​"Aku bersumpah demi nyawaku, Bang Soni. Siapapun yang menyentuhmu malam ini, akan aku kirim mereka ke neraka dengan tanganku sendiri!"

Suasana duka di mansion Naga mendadak berubah menjadi mencekam saat Rian dan beberapa anak buah senior Bang Soni yang berkhianat menunjuk wajah Guntur dengan penuh tuduhan.

​"Lihat! Dia pelakunya! Guntur adalah orang terakhir yang bersama Om Soni di dapur, dia pasti membunuh Om Soni karena ingin menguasai harta keluarga ini!"

​Teriak Rian dengan suara lantang di depan semua orang, memprovokasi suasana agar semua orang berbalik membenci pemuda asal Sidoarjo tersebut.

​Sekar yang baru sadar dari pingsannya hanya bisa menangis sesenggukan, ia menatap Guntur dengan pandangan penuh keraguan dan luka yang mendalam karena terhasut oleh ucapan licik Rian.

​Guntur hanya berdiri diam dengan baju yang masih bersimbah darah Bang Soni, ia tidak membela diri karena hatinya terlalu hancur melihat pria yang dianggapnya ayah sendiri telah tiada.

​"Pergi kamu dari sini, Guntur! Dasar manusia tidak tahu untung, sudah ditolong malah menusuk dari belakang, jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini lagi!"

​Usir Rian sambil mendorong bahu Guntur dengan kasar ke arah pintu keluar, sementara para penjaga lain sudah bersiap menghajar Guntur jika ia melawan.

​Di tengah kericuhan itu, Ibu Ratna (Istri Bang Soni) yang sejak tadi diam, berjalan mendekati Guntur dengan mata yang sembab namun memiliki gurat kepercayaan bahwa Guntur tidak bersalah.

​Secara diam-diam, Ibu Ratna menyelipkan sebuah amplop tebal ke dalam saku jaket Guntur sambil membisikkan kata-kata yang sangat lirih agar tidak terdengar oleh pengkhianat di sana.

​"Ibu tahu bukan kamu pelakunya, Guntur. Ambil uang lima belas juta ini untuk kamu bertahan hidup dan cari tempat kos yang aman, pergilah sebelum mereka benar-benar mencelakaimu."

​Ucap Ibu Ratna dengan tulus, ia tahu hanya Guntur harapan terakhir untuk melindungi Sekar dari jauh tanpa diketahui oleh musuh-musuh Bang Soni.

​Guntur menatap mata Ibu Ratna dengan penuh rasa terima kasih, ia kemudian menoleh ke arah Sekar untuk terakhir kalinya sebelum melangkah pergi meninggalkan mansion mewah itu di bawah guyuran hujan deras.

​Dengan membawa ransel butut dan uang pemberian Ibu Ratna, Guntur berjalan menyusuri jalanan Jakarta yang dingin, bersumpah dalam hati bahwa ia akan kembali untuk membersihkan namanya.

​"Tunggu saja pembalasanku, kalian para pengkhianat. Guntur Hidayat tidak akan mati semudah ini, dan saat aku kembali, tahta Naga akan benar-benar kembali ke tangan yang tepat!"

​Gumam Guntur sambil menembus kegelapan malam, memulai babak baru hidupnya sebagai jagoan yang terbuang namun penuh dengan rencana balas dendam yang mematikan.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!