NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Puncak Paranoia

Ekantika menelan ludah, hatinya mencelos. Riton masih percaya padanya, melindungi Nana. Tapi kebohongan ini... kebohongan ini semakin dalam, semakin mematikan. Ia mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Pak Doni yang baru saja lewat di depan ruangannya, menatapnya dengan penuh kecurigaan. Lalu, tatapannya beralih ke Vina, yang kini menyeringai tipis, seolah tahu sesuatu yang tidak Ekantika ketahui. Perang ini belum berakhir. Justru baru dimulai.

"Vina," Ekantika memanggil, suaranya datar, namun ada nada berbahaya yang terselip. Vina, yang masih berdiri di ambang pintu, sedikit tersentak, senyum tipis di bibirnya langsung memudar.

"Iya, Bu?" Vina menjawab, berusaha terlihat tenang.

"Tidak ada apa-apa. Anda boleh kembali bekerja," kata Ekantika, tatapannya mengunci mata Vina. Ia mencoba mencari tahu, apakah seringai tadi hanya perasaannya atau memang ada makna di baliknya. Vina mengangguk kaku, lalu berbalik dan keluar, namun Ekantika bisa merasakan gelombang kecurigaan yang tersisa.

Jantung Ekantika berdebar kencang. Riton mengira itu editan. Seberapa lama dia akan bertahan dengan kebohongan ini? Seberapa besar kepercayaannya padaku akan hancur ketika kebenaran terungkap? Pikirannya kalut. Ia tidak bisa lagi terus-menerus bereaksi. Ia harus mengambil alih kendali. Anonim ini, siapa pun dia, harus dihentikan. Dan Vina, asistennya sendiri, kini menjadi kandidat utama.

Ekantika segera menghubungi Dimas. "Dimas, ke ruanganku sekarang. Kita punya masalah serius yang harus diselesaikan."

Dimas tiba dalam hitungan menit, wajahnya cemas. "Bu, Pak Doni barusan bertanya-tanya soal telepon Ibu dengan Riton. Dia bilang Ibu terlihat... panik."

"Biarkan saja Pak Doni dengan spekulasinya," Ekantika mengibaskan tangan, matanya menyala. "Yang lebih penting sekarang: si Anonim. Aku yakin itu Vina."

Dimas mengerutkan kening. "Vina? Tapi... dia asisten Ibu. Kenapa dia melakukan ini?"

"Iri, mungkin," Ekantika mendengus. "Atau mungkin ada yang menyuruhnya. Aku butuh bukti, Dimas. Bukti tak terbantahkan bahwa dia adalah orang di balik email-email itu. Aku tidak bisa lagi hidup dalam paranoia ini."

"Apa rencana Ibu?" tanya Dimas, kini kembali ke mode berpikir taktis.

Ekantika menyandarkan punggung ke kursi, tatapannya menerawang ke luar jendela. Langit Jakarta mulai menguning, pertanda senja akan tiba. "Kita akan memasang jebakan. Sebuah jebakan digital."

Dimas menyipitkan mata. "Jebakan digital bagaimana, Bu?"

"Aku akan 'sengaja' membocorkan informasi palsu tentang Nana di tempat yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu di kantor. Jika informasi itu bocor atau ada yang bereaksi, kita tahu pelakunya," Ekantika menjelaskan, nada suaranya penuh perhitungan. "Aku akan menciptakan sebuah folder 'pribadi' di serverku. Folder yang berisi 'bukti-bukti' tambahan tentang Nana. Foto-foto, screenshot percakapan, dan... sebuah jurnal fiktif tentang perasaanku pada Riton."

Dimas menganga. "Jurnal fiktif? Bu, itu risiko yang sangat besar! Kalau jatuh ke tangan yang salah, Ibu bisa tamat!"

"Justru itu. Kita akan membuatnya sangat menggiurkan untuk diintip. Folder itu akan dienkripsi, tapi dengan celah kecil yang hanya kau yang tahu," Ekantika menatap Dimas. "Hanya orang yang benar-benar punya motif kuat yang akan berusaha meretasnya. Dan hanya orang yang punya akses fisik ke ruanganku yang bisa melakukannya dengan mudah."

"Vina," gumam Dimas.

"Tepat," Ekantika mengangguk. "Kau akan memasang log tracker di folder itu. Siapa pun yang mencoba membukanya, meretasnya, atau menyalin isinya, akan tercatat IP address-nya, waktu, dan jenis aktivitasnya. Bahkan jika dia hanya melihat-lihat."

"Ini akan rumit, Bu," Dimas memperingatkan. "Kalau Pak Doni atau anggota dewan lain yang melakukannya..."

"Risiko itu ada," Ekantika mengakui, "tapi aku tidak bisa terus hidup seperti ini, Dimas. Aku tidak bisa membiarkan Riton, perusahaanku, atau bahkan diriku sendiri hancur karena seseorang yang bersembunyi di balik layar." Sebuah determinasi baru membakar di matanya. Ia tidak lagi pasif. Ia akan melawan.

"Baik, Bu," Dimas mengangguk. "Saya akan menyiapkan semuanya. Tapi Ibu harus hati-hati. Ini bisa menjadi bumerang."

"Aku tahu," jawab Ekantika. "Tapi kejujuran, sekalipun menyakitkan, akan selalu lebih baik daripada kebohongan yang berlarut-larut."

Selama beberapa jam berikutnya, kantor Ekantika berubah menjadi pusat operasi rahasia. Dimas sibuk menginstal software pelacak dan menyiapkan folder umpan di server pribadi Ekantika. Ia menciptakan file-file fiktif dengan judul-judul provokatif: "Bukti Nyata Identitas Ganda," "Jurnal Rahasia Nana & Riton," dan "Rencana Masa Depan." Setiap file dienkripsi dengan tingkat keamanan rendah, cukup untuk menarik perhatian namun mudah ditembus oleh peretas amatir.

Sementara itu, Ekantika berusaha bersikap senormal mungkin. Ia mengadakan rapat, menjawab telepon, menandatangani dokumen. Namun, di dalam hatinya, ia merasa gelisah. Setiap kali Vina masuk atau melewati ruangannya, Ekantika merasakan tatapan Vina yang aneh. Asistennya itu terlihat lebih sering tersenyum sendiri, seolah menikmati rahasia gelapnya.

"Bu, saya akan keluar sebentar. Ada janji dengan vendor di luar," Vina berkata, sekitar pukul lima sore.

"Baik," Ekantika mengangguk, melirik jam. Ini adalah waktu yang sempurna. Kantor mulai sepi, banyak karyawan sudah pulang. Kesempatan bagi Vina untuk bergerak tanpa terlihat.

Setelah Vina pergi, Ekantika segera menghubungi Dimas. "Dia sudah pergi. Sekarang tinggal menunggu."

"Siap, Bu. Monitor aktif," Dimas membalas.

Ekantika duduk di mejanya, mencoba membaca laporan keuangan, namun matanya terus melirik ke layar komputer Dimas yang terhubung ke sistem log tracker. Setiap menit terasa seperti satu jam. Keheningan kantor yang mulai sepi terasa mencekam, hanya dipecahkan oleh suara pendingin ruangan dan ketukan keyboard samar dari Dimas di ruang servernya.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi merah muncul di layar Dimas. Aktivitas tidak sah terdeteksi.

Jantung Ekantika melompat. "Dimas! Ada apa?"

"Terdeteksi akses ke folder 'Bukti Nyata Identitas Ganda', Bu," Dimas berkata, suaranya tegang. "IP address-nya dari komputer di ruang kerja Ibu sendiri."

Ekantika membeku. Di ruanganku sendiri? Jadi Vina tidak pergi menemui vendor. Dia hanya berpura-pura. Darah Ekantika mendidih. Rasa dikhianati itu terasa begitu nyata, begitu perih. Selama ini ia memercayai Vina, memberinya kesempatan, menganggapnya seperti adik.

"Dimas, lacak posisinya sekarang," perintah Ekantika, suaranya rendah dan penuh kemarahan yang terkumpul.

"Posisi terakhir tercatat di ruang arsip, Bu," Dimas melaporkan. "Dia mencoba menyalin beberapa file dari folder Ibu ke flashdisk pribadinya."

Menyalin?Jadi dia tidak hanya mengintip. Dia berniat menggunakan informasi itu. Kemarahan Ekantika semakin memuncak.

"Aku akan ke sana," Ekantika berkata, bangkit dari kursinya.

"Hati-hati, Bu," Dimas memperingatkan. "Saya akan siapkan kamera pengawas di lorong menuju ruang arsip. Kalau ada apa-apa, saya akan rekam."

Ekantika mengangguk, lalu berjalan keluar ruangannya. Koridor kantor mulai gelap, beberapa lampu sudah dimatikan. Hanya ada penerangan remang-remang dari lampu darurat. Suasana hening, mencekam. Setiap langkah sepatu hak tingginya menggema di lantai marmer. Ia merasakan adrenalin memompa di seluruh tubuhnya. Ini bukan lagi permainan. Ini adalah konfrontasi.

Ia berjalan melewati deretan kubikel yang kosong, menuju ke sudut terjauh kantor, tempat ruang arsip berada. Pintu ruang arsip sedikit terbuka, memancarkan cahaya redup dari dalam.

Ekantika berhenti di depan pintu, menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh. Lalu, dengan gerakan cepat dan tegas, ia mendorong pintu hingga terbuka penuh.

Di dalam ruangan yang remang-remang, di antara tumpukan arsip dan rak-rak besi, Vina sedang membungkuk di depan sebuah komputer lama, jemarinya sibuk mencolokkan flashdisk ke port USB. Wajahnya tegang, matanya terpaku pada layar, seolah sedang melakukan misi rahasia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!