NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CERITA DIBALIK KETEGARAN

Berapa hari belakangan ini, rumah Pak Bimo terasa sangat sibuk dan riuh. Kerja sama antara Angkasa dan ayahnya sudah masuk ke tahap pengiriman perdana. Segala persiapan mulai dari pemilihan hasil panen terbaik, pengepakan, hingga pengaturan jadwal pengangkutan harus ditangani sendiri dengan teliti oleh keduanya. Angkasa dan Pak Bimo hampir tidak ada hentinya berdiskusi, menerima tamu, atau memantau langsung ke kebun.

Kesibukan itu membuat Angkasa benar-benar belum sempat mencuri waktu sedikit pun untuk sekadar mengobrol atau bertemu Arum seperti biasa.

Arum pun jadi sering sendirian di rumah. Tanpa kehadiran Angkasa yang biasanya selalu ada di dekatnya, hari-hari Arum terasa agak sepi dan membosankan.

Gadis itu sudah berkeliling ke sana ke mari, tapi tetap saja rasanya ada yang kurang. Akhirnya, siang itu saat matahari sedang terik-teriknya, Arum memutuskan untuk keluar pagar rumah dan berjalan santai menuju rumah sebelah.rumah Intan, sahabat karibnya sejak kecil.

Sesampainya di sana, Arum langsung melihat halaman rumah Intan penuh dengan toples-toples plastik dan kardus. Ternyata usaha jajanan online milik Intan sedang laris-manis, pesanan masuk terus-menerus sampai Intan kewalahan sendiri mengerjakannya. Tanpa pikir panjang, Arum langsung masuk dan ikut membantu mengemas pesanan, menimbang, dan menempel label.

"Wah, makasih banyak, Rum! Kalau nggak ada kamu, bisa patah tanganku ngejar pesenan sebanyak ini," ucap Intan sambil tertawa lega, tangannya tetap bergerak cepat mencampur adonan di baskom besar.

Arum tersenyum sambil memasukkan keripik ke dalam kantong plastik. "Sama-sama, Tan. Kebetulan aku di rumah lagi bosen banget. Ayah Ibu,sama mas angkasa sibuk terus dari pagi, nggak ada yang diajak ngobrol. Jadi sekalian aja aku ke sini, sekalian bantu kamu."

Mendengar nama Angkasa disebut, gerakan tangan Intan sejenak berhenti. Matanya berbinar penasaran, langsung menatap sahabatnya itu tajam-tajam.

"Eh, ngomong-ngomong soal itu... Rum, aku mau tanya nih," ucap Intan mendekat, nadanya jadi penasaran banget.

"Beberapa hari yang lalu kan aku sempat lihat sekilas dari jendela kamarku, ada dua orang laki-laki keluar dari rumahmu. tinggi, kulitnya putih, ganteng lagi. Itu siapa hayo? Kok rasanya wajahnya nggak asing ya?"

Pipi Arum seketika memerah sedikit mendengar pertanyaan itu. Ia menunduk sejenak menyembunyikan senyum kecilnya, lalu menjawab pelan.

"Nah loh, peka banget sih kamu, Tan. Itu... yang agak tinggi namanya Angkasa. Ingat nggak? Waktu itu kita pernah ketemu di kedai kopi, yang bukunya sempet ketuker sama aku, terus dia itu pake kemeja yang lengannya digulung sampe siku,kelihatan ada tato di lengannya? Mas-mas bertato yang dulu aku ceritain itu loh."

Intan langsung kaget, matanya melotot teringat kejadian dulu.

"Oalah! Itu dia ternyata orangnya?! Wah, ganteng banget aslinya, Rum! Pas dilihat dari sini kok dia kelihatan berwibawa banget. Terus... dia ngapain ke rumahmu? Ada urusan apa?"

Arum mengangguk pelan, kembali fokus pada bungkusannya, meski suaranya mulai berubah jadi lebih serius.

"Iya, dia itu datangnya bukan sekadar main doang. Ternyata dia pengusaha, Tan. Dia denger kabar dari banyak orang kalau hasil buah-buahan dan panen dari kebun Ayah kualitasnya paling bagus di daerah ini. Makanya dia datang ke sini, nawarin kerja sama. Dia mau ambil pasokan rutin buat usahanya di kota. Ayah sih seneng banget, apalagi ternyata..."

Arum berhenti sejenak, pandangannya menerawang jauh, ada rasa haru yang mulai menyelinap di hatinya.

"Ayah sama Bapaknya Angkasa itu dulu ternyata sahabat masa kecil, Tan. Dekat banget katanya. Cuma sayang, pas mereka udah besar, Bapaknya Angkasa harus pindah keluarga ke luar negeri. Komunikasi mereka jadi putus, hilang kabar bertahun-tahun sampai sekarang baru ketemu lagi lewat Angkasa."

Suara Arum perlahan melembut, dan tiba-tiba raut wajahnya berubah sendu. Senyumnya hilang, diganti tatapan mata yang berkaca-kaca. Intan yang sedari tadi memperhatikan perubahan wajah sahabatnya langsung berhenti bergerak. Ia tahu betul ekspresi Arum, pasti ada cerita sedih yang belum diketahuinya.

"Kok mukanya jadi sedih gitu? Ada apa lagi, Rum? Ada yang salah ya?" tanya Intan lembut, tangannya menyentuh lengan Arum pelan.

Arum menggeleng pelan, napasnya terasa berat ditarik.

"Nggak ada yang salah... cuma aku jadi sedih aja pas denger ceritanya dari Ayah," jawab Arum lirih.

"Ternyata... Bapaknya Ibunya Angkasa itu udah meninggal dunia, Tan. pas Angkasa masih kelas 3 SMA. Masih remaja banget kan? Belum apa-apa udah ditinggal pergi selamanya."

Intan terdiam, mulutnya sedikit terbuka kaget. "Ya ampun... kasihan banget ya dia..."

"Iya... terus Ayah juga cerita, kalau setelah orangtua angkasa meninggal, Angkasa berjuang sendiri. Nggak ada yang bantu, nggak ada tempat bersandar. Semua yang dia punya sekarang, semua usahanya yang besar dan sukses itu, dia bangun sendiri dari nol. Kerja keras, belajar banyak hal, banting tulang sendiri tanpa bantuan siapa pun," lanjut Arum, suaranya bergetar sedikit menahan haru. Bayangan wajah Angkasa yang selalu tenang, dingin, dan tegar itu terbayang jelas di kepalanya.

"Bayangin deh, Tan... orang setenang, sekuat, dan seberhasil itu ternyata punya cerita berat banget di belakangnya. Dia nggak pernah ngeluh, nggak pernah kelihatan sedih. Dia selalu datang ke sini dengan senyum, sopan, dan berwibawa. Padahal perjuangannya seberat itu..."

Arum mengusap sudut matanya yang tiba-tiba jadi basah, campuran rasa sedih, iba, tapi juga rasa kagum yang luar biasa besar.

"Aku jadi sedih banget dengernya... tapi sekaligus kagum banget sama dia. Nggak nyangka ada orang setegar Angkasa. Dia nggak pernah biarin kesedihan atau masa lalunya menghambat dia. Dia buktiin kalau dia bisa bangkit dan sukses sendiri. Rasanya... aku jadi makin menghargai segala hal kecil yang dia lakuin, Tan. Karena aku tau sekarang, betapa kerasnya dunia yang udah dia lewati sendirian sampai ketemu sama kami sekarang."

Intan mengangguk pelan, ikut merasakan apa yang dirasakan sahabatnya. Ia mengelus punggung tangan Arum pelan.

"Pantesan ya, Rum... Pantesan dia kelihatan beda, dewasa banget buat ukuran anak muda. Ternyata memang hidupnya udah mengajarkan dia banyak hal. Kamu bener deh, Rum... dia orang hebat. Dan kayaknya... kamu bukan cuma kagum doang sama dia, ya?" goda Intan pelan, berusaha mencairkan suasana yang jadi haru itu.

Arum tersentak, wajahnya langsung memerah padam, rasa sedihnya perlahan hilang berganti rasa malu yang menyelinap. Ia memukul pelan lengan sahabatnya itu.

"Ih, apaan sih! Aku kan cuma... kasihan sekaligus kagum aja. Dia orang baik, Tan. Dan ternyata... di balik tatapan dingin dan sikap tenangnya itu, ada hati yang udah banyak banget terluka tapi tetap bertahan. Rasanya aku pengen banget... bikin dia senyum terus, biar dia nggak sedih lagi kayak masa lalunya."

Arum menunduk kembali ke arah kemasan jajanan di tangannya, tapi hatinya kini penuh dengan satu nama. Angkasa. Sosok tegar yang diam-diam makin mengisi ruang hatinya, dan sekarang, rasa itu tumbuh makin besar, makin dalam, dan makin ingin ia jaga sepenuhnya.

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!