NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si Mesum ( Part 2)

Keesokan paginya — Gudang Peralatan Olahraga

"Halah, masa sih suruh bersihin gudang? Ini tuh tugas regu piket, bukan tugas anak pilihan!"

Suara Ravian menggerutu sepanjang koridor. Tangannya membawa ember pel, sapu, dan kain lap—lengkap dengan ekspresi wajah yang seperti baru kehilangan dompet berisi sejuta.

"Gue heran," gumam Ravian pelan, "Kenapa sih tiap ada tugas kayak gini, nama kita berdua yang dipanggil?"

"Karena muka kamu sensian, jadi guru males lihatnya. Ini sih pertanda kalau sebenarnya kamu diusir dari lapangan," jawab Aelira sambil berjalan di sampingnya, memegang botol minum dengan keringat masih membasahi pelipis setelah pemanasan barusan.

Ravian melotot kecil. "Loh! Gue yang sensian? Gue tuh lembut, sabar, penyayang—"

"Dan nyebelin," potong Aelira cepat.

"Dan ganteng." Ravian menyambung dengan nada sombong.

Aelira meliriknya sinis. "Ganteng? Hmm..."

"Hmm-nya kenapa?" tanya Ravian sewot. "Jangan bikin gue bete, ya!" Dia langsung memiting leher Aelira—tidak keras, tapi cukup membuat gadis itu tercekik kaget.

"Lepasin!"

"Bilang gue ganteng dulu!"

"Jelek!"

"Ganteng!"

"Jelek banget!" Aelira tertawa geli sambil meronta.

"Atau gue cium di koridor?"

Aelira mendelik. "Iya-iya, ganteng."

Ravian tersenyum puas. Dia melepaskan mitingan, lalu berjalan santai sambil mengayun-ayunkan kunci gudang di jari telunjuknya.

"Capek, lo?" tanyanya tiba-tiba.

"Nggak."

"Capek, nafas lo ngos-ngosan."

Aelira menoleh pelan. "Ya iyalah. Barusan abis lari keliling lapangan, bukan lari dari kenyataan kayak kamu."

"Nih anak, nyolotnya nggak kenal jam istirahat, ya? Lo berani sama gue sekarang? Gue cium, nangis lo," ancam Ravian setengah bercanda.

"Mesum!" decak Aelira malas.

"Lo tadi sempet ngelirik gue, kan, waktu baris? Ciyeee!"

"Pede."

"Iya. Gue lihat, kok." Ravian pura-pura sewot. "Mata lo nyempil ke arah gue."

"Aku lihatin Libra, bukan kamu."

Mata Ravian membulat kesal. "Bilang apa lo barusan? Jangan bikin gue nendang lo, ya!"

Aelira hanya tertawa kecil. Mereka tiba di depan pintu gudang. Ravian mendorongnya perlahan—engselnya berderit kecil.

Aelira melangkah masuk setengah, mendahului. "Bola biasanya disimpan di rak belakang, deh."

Tapi langkahnya mendadak berhenti.

Mata Aelira membelalak saat samar-samar ia melihat dua sosok di balik celah pintu belakang gudang—pintu kecil yang biasanya jarang dibuka, tersembunyi di balik tumpukan kardus dan matras bekas.

Dua tubuh telanjang saling menempel. Suara desahan samar terdengar di antara napas terburu-buru.

Refleks, Aelira memegang lengan Ravian.

"Ravian... i-itu Bu Nadia."

Ravian menyipitkan mata dan ikut melongok.

Deg.

Perlahan ia mengenali sosok di samping Bu Nadia. Bukan suaminya. Bukan Andrew.

Adit. Wakil Ketua OSIS.

Ravian terdiam sesaat. Matanya melebar—bukan karena kaget, tapi karena sadar betapa berbahayanya situasi ini. Bu Nadia, guru sekaligus istri Andrew. Adit, anak didiknya sendiri. Di gudang sekolah. Telanjang.

Dengan refleks gila, Ravian membekap mulut Aelira dari belakang. Lalu tanpa berpikir dua kali, ia mengeluarkan ponselnya.

Klik.

Mulai merekam.

Bibirnya terkatup rapat. Tatapannya serius. Dia tahu ini senjata—bisa untuk melindungi, atau untuk menghancurkan.

Aelira yang dibekap matanya melebar panik. Ia mendorong dada Ravian pelan, mencoba bicara, tapi Ravian menggeleng cepat. Jangan bersuara.

Dan entah bagaimana—mungkin karena refleks, mungkin karena insting—Adit menoleh.

Mereka bertemu mata sepersekian detik.

Mampus!

Ravian langsung menarik tangan Aelira. "Lari!"

Mereka berdua nyaris tidak mengeluarkan suara langkah saat kabur ke sisi lain gudang, berbelok ke bagian tumpukan kursi besi bekas, lalu berjongkok di baliknya. Tubuh Aelira sudah menyentuh dada Ravian, lutut mereka nyaris bertumpuk.

"Dia beneran lihat kita?" bisik Aelira, napasnya tercekat.

"Nggak tahu. Tapi gue yakin mereka nyadar," balas Ravian, suaranya nyaris tidak terdengar.

Detik-detik itu jadi sunyi. Hanya suara jantung masing-masing yang berdetak kencang.

Deg... deg... deg...

Suara langkah kaki Bu Nadia dan Adit mendekat.

"Kamu beneran lihat ada orang tadi?" suara Nadia terdengar pelan, tertahan.

"Kayaknya iya. Mungkin ke belakang. Sial, jangan sampai kita ketahuan."

Mereka berdua terdiam beberapa saat. Lalu langkah kaki menjauh—ke arah yang berlawanan.

Aelira menghela napas lega. Baru sadar bahwa tangannya masih dicengkeram Ravian. Napas cowok itu berat—tapi bukan cuma karena panik.

Wajahnya terlalu dekat. Tubuh mereka saling bersentuhan dari dada hingga pinggang. Udara di antara mereka terasa panas.

Aelira menelan ludah.

"Kamu bisa nggak... jangan terlalu deket?"

"Gue lagi nyelametin nyawa lo," balas Ravian pelan, "Harusnya lo bilang makasih, bukan protes."

Aelira mendengus kecil.

Tapi aroma tubuh Aelira menyeruak begitu dekat. Segar, manis, dan mengacaukan pikirannya.

Ravian menelan ludah.

Glek!

"Li, boleh jujur nggak?"

"Jujur apa?"

"Gue pengen banget."

Aelira langsung membelalak. "Apa?"

Dia sempat panik—tapi sebelum sempat mencerna sepenuhnya, dia merasakan gigitan kecil di daun telinganya. Bibir Ravian yang panas menempel singkat sambil menahan napas.

"Gue serius," kata cowok itu makin dalam, kecupannya nyaris menyentuh bahu. "Li, gue pengen lo banget."

Rengeknya.

Aelira langsung panas seisi tubuh. "Ravian! Kamu mesum banget, sih? Gara-gara lihat Bu Nadia sama Adit? Jauh-jauh, nggak!?"

Dia mendorong tubuh cowok itu sekuat tenaga—kepala Ravian terhantuk pelan ke tiang besi di belakang mereka.

"Aduh! Sakit, sumpah!" kata Ravian meringis, memegang belakang kepalanya.

"Makanya jangan mesum!" Aelira melotot galak. Wajahnya merah padam—bukan hanya karena marah, tapi juga karena malu.

"Gue mesum cuma sama lo, ya." Ravian sewot tidak terima. "Lagian selama ini emang gue pernah apa-apain lo? Kan enggak. Gue jagain lo terus. Kita pacaran sehat. Lagian udah 17 tahun, Li, nggak papa."

"Tetep aja kayak gitu nggak boleh. Dosa," Aelira bergidik ngeri menatapnya.

"Cium aja deh. Cium." Ravian memajukan wajahnya—tapi bibirnya langsung ditepak cepat oleh Aelira.

"Aku lempar sepatu ini ke muka kamu, ya, sumpah. Dasar mesum!"

Aelira buru-buru bangkit dan kabur meninggalkan gudang—meninggalkan Ravian yang masih jongkok di balik kursi besi, mencibir kesal... tapi tersenyum geli.

"Lari aja lo," gumam Ravian pelan, mengusap belakang kepalanya yang masih terasa perih. "Ntar malem ketemu lagi di rumah."

Dia berdiri, merapikan pakaiannya, lalu melirik ponselnya—video rekaman tadi masih tersimpan rapi.

"Bu Nadia..." bisiknya, matanya menyipit. "Lo nyari masalah, ya?"

---

Malam harinya — Rumah Ravian

Aelira baru saja selesai mandi ketika pintu kamarnya diketuk.

"Masuk," katanya sambil mengeringkan rambut.

Ravian masuk dengan membawa dua gelas susu hangat. Wajahnya sudah tidak terlihat kesal—justru anehnya, lebih tenang dari biasanya.

"Ini," katanya sambil menyodorkan satu gelas.

"Makasih." Aelira menerimanya. Mereka duduk di tepi ranjang berdua.

"Van."

"Hm?"

"Kamu nggak jadi tidur di depan pintu, kan? Kasian."

Ravian mengangkat bahu. "Terserah lo. Tapi kalau ada apa-apa, lo teriak."

"Iya."

Hening beberapa saat.

"Li."

"Ya?"

Ravian meletakkan gelasnya di nakas, lalu memutar tubuh Aelira hingga mereka berhadapan. Matanya menatap lembut.

"Gue janji nggak akan bikin lo takut. Tapi lo juga harus janji... jangan pernah sembunyiin apa pun dari gue."

Aelira mengerjap, jantungnya berdebar aneh. "Janji."

Ravian tersenyum kecil. Tangannya meraih tangan Aelira—jari-jari mereka bertaut.

"Mau cium?" godanya pelan.

"Mesum!"

Ravian tertawa—dan di tengah tawanya, ia mengecup kening Aelira pelan. Bukan di bibir. Bukan juga di pipi.

Tapi di kening.

Penuh arti.

"Selamat malam, milik gue," bisiknya.

---

Di rumah Nadia...

Nadia duduk di ruang kerjanya. Layar laptop menyala—menampilkan foto Aelira yang ia dapat dari database sekolah.

Matanya menatap tajam.

"Kamu pikir kamu bisa mengambil semuanya dariku, Aelira?" bisiknya dingin. "Keluarga Andrew? Perhatian suamiku? Masa depanku?"

Jari-jarinya mengetik cepat.

Surveillance target: Aelira Valenzia.

Report every 24 hours.

Priority: Find weakness.

Method: Any.

Tombol send ditekan.

Nadia bersandar di kursinya. Senyum tipis mengembang—tapi matanya tetap dingin.

"Seperti ibumu, kau juga harus tersingkir."

Di luar, hujan mulai turun.

Dan seseorang di kegelapan menerima perintah baru.

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
secawan ☕️ biar seger dan semangat up nya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
aku mampir ya
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Alia Chans: Thanks kk for support nya 👈😉
total 1 replies
SANG
Sampai tamat💪👍
Alia Chans: Bismillah
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
Alia Chans: Thanks, dilanjut kok kk👈😉
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans: Thanks👈😉
total 1 replies
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduhhhh parahhhh nih kasian Aelira padahal dia pakai jaket kaka kelasnya buat nutupin bajunya yang basah jadinya salah paham ini
Alia Chans: wk" namanya juga cowok mana mau dengerin penjelasan cewek kk🙄
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Vergan ini terlalu posesif ihhhh ngerinya😱🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!