POV:
Kamu jatuh cinta pada dosen dingin dan tampan… lalu berusaha keras mengejarnya.
Mulai dari cari perhatian, pura-pura kebetulan ketemu, sampai diam-diam cemburu pada perempuan lain di dekatnya.
Tapi plot twist-nya...
Dosen itu ternyata tunanganmu sendiri. 😭
Tunangan hasil perjodohan yang dulu kamu tolak sebelum sempat bertemu!
Sekarang siapa yang sebenarnya sedang mengejar siapa?
✨ Romance kampus
✨ Professor x mahasiswa
✨ Lucu, manis, bikin gemas
✨ Banyak momen salting & cemburu
Baca gratis di NovelToon:
Mr. Profesor�
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
Mobil hitam yang dikendarai Arlo melaju tenang membelah arus lalu lintas. Dari luar, tampilannya terlihat sederhana... tanpa modifikasi mencolok ataupun logo mencuri perhatian. Desainnya justru tampak terlalu bersih dan elegan untuk disebut mewah secara terang-terangan.
Namun bagi orang yang benar-benar memahami otomotif, detail kecil pada bodinya langsung menunjukkan bahwa mobil itu bukan kendaraan biasa. Garis desainnya eksklusif, velg khususnya jarang terlihat di pasaran, dan emblem kecil di bagian belakang menjadi tanda bahwa mobil itu adalah edisi terbatas yang bahkan sulit didapat meski memiliki uang sekalipun.
Mobil itu akhirnya berhenti di area parkir kampus dan langsung menarik cukup banyak perhatian. Beberapa mahasiswa sempat melirik kagum, bahkan ada yang diam-diam berbisik menebak harga kendaraan tersebut saat Arlo turun dengan ekspresi tenang seperti biasa.
Di tempat parkir mobilnya di kagumi, ketika melihat itu adalah profesor Arlo, mereka semakin kagum... Apalagi di kelas.
Benar saja, begitu ia masuk ke ruang kelas, suasana yang tadinya riuh seketika menjadi hening. Banyak mahasiswi yang mengagumi ketampanan Arlo langsung mengeluarkan ponsel untuk memotretnya.
Arlo menundukkan pandangannya, mengabaikan semua itu. Matanya hanya terpaku pada Zoya yang duduk di baris kedua. Bukankah dia bilang akan di lokasi syuting selama dua bulan? Mengapa sekarang sudah di sini? Teringat masalah yang ia timbulkan kemarin lalu melihat zoya, wajah Arlo memucat lagi. Tanpa memedulikan pelajaran akan dimulai, ia langsung menghampiri Zoya: "Mengapa kamu di sini? Bukankah katanya kamu akan menghabiskan waktu lama di lokasi syuting."
Zoya yang sudah beristirahat semalam dan merasa tenang, ia datang ke kampus untuk menghabiskan waktu dengan Arlo karena Sutradara Engga memberinya libur. Namun ia terkejut dengan reaksi Arlo. Ia mengerjapkan matanya yang cantik dan berkata: "Aku punya pertanyaan..."
Mendengar Zoya punya pertanyaan, kepala Arlo semakin pening. Ia tahu Zoya mencarinya untuk bertanya soal pelajaran, tapi semakin mereka sering berhubungan sekarang, malah akan menimbulkan kecurigaan. Saat Tuan Muda Saksomo menggila, dia tidak berbeda dengan anjing gila! dia akan menyerang siapa pun tanpa peduli alasannya. Membayangkan Zoya akan dicelakai, muncul rasa tidak rela di hati Arlo.
Tanpa sempat memikirkan dari mana rasa tidak rela itu berasal, Arlo berkata: "pulanglah dulu, aku akan mencarimu setelah kelas selesai."
Zoya mengerjapkan mata, bingung dengan sikap Arlo. "Lalu, apakah aku masih harus memasak untukmu? Kamu ingin makan apa?"
"Pulanglah dulu, aku harus mengajar."
Arlo sangat terburu-buru menyuruh Zoya pergi, suaranya terdengar agak gusar karena cemas. Zoya tampak bingung, dan tepat saat itu semua orang sudah duduk di bangku masing-masing, menandakan pelajaran akan di mulai.
Di saat yang sama, suara langkah sepatu kulit yang beradu dengan lantai terdengar mendekat sesosok pria muncul di depan pintu kelas. Melihat Tuan Muda Saksomo berdiri di sana, Arlo merasa jantungnya seolah melompat ke tenggorokan.
Tuan Muda Saksomo mengangkat kelopak matanya, melirik Arlo dengan acuh tak acuh, lalu menoleh ke arah Rektor yang mengikutinya di belakang: "Terima kasih, Pak Rektor."
Tidak menyangka Tuan Muda Saksomo akan berterima kasih padanya, Pak Rektor merasa sangat tersanjung. Ia menggosok tangannya dan berkata: "Sama-sama, sudah seharusnya begitu."
Tuan Muda Saksomo mengangguk kecil, dan Pak Rektor pun segera pergi dengan penuh pengertian.
Kehadiran Tuan Muda Saksomo langsung menarik perhatian banyak orang. Wajahnya adalah tipe pria cantik yang sedang populer saat ini, dan karena latar belakang keluarganya yang terhormat, ia memancarkan aura bangsawan yang tidak dimiliki oleh artis biasa. Saat ia melangkah masuk ke dalam kelas, terdengar desas-desus kekaguman dari para mahasiswi yang tadinya hanya memperhatikan Arlo.
Tuan Muda Saksomo memiliki wajah yang memikat, ditambah lagi dengan aura bangsawan yang menawan. Tahi lalat merah di sudut matanya menambah kesan penuh pesona. Gerakan tubuhnya yang kasual tampak jauh lebih indah daripada foto-foto hasil pose para idol tampan masa kini.
Saat para mahasiswi baru saja mengeluarkan ponsel untuk memotretnya, Arlo tiba-tiba angkat bicara: "Sekarang, kita mulai pelajarannya."
Mendengar kata "pelajaran", meski merasa tidak rela, gadis-gadis itu terpaksa menurunkan ponsel mereka dan membuka buku teks untuk mendengarkan kuliah dengan serius.
Tuan Muda Saksomo berjalan menghampiri Zoya duduk di sampingnya dan bertanya dengan suara rendah: "Bagaimana tidurmu semalam? nyenyak?"
Zoya menatap Tuan Muda Saksomo dengan sedikit bingung. Sejak kakaknya itu muncul tempo hari, ia heran mengapa ia terus mengikutinya. Dan semakin lengket jika terus begini orang lain akan salah paham.
Zoya baru saja hendak menegurnya, Jaiden yang sadar akan perubahan ekspresi zoya dengan segera berbicara, “Aku tahu perjanjian mu dengan ayah mu, biarkan kakak kedua membantu mu, tentu saja aku tidak akan terlalu menonjol bagaimana kalau memperkenalkan koneksi? Tenang saja kakak kedua terukur. Bagaimana jika membantu mu sembunyi sembunyi melalui koneksi dari sutradara Rahengga? Adik, ingat perjanjian itu tinggal satu tahun ini kan…”
Zoya yang hendak menegurnya jadi terdiam mencerna usulan kakak keduanya. Benar, awalnya ia hampir saja menyerah... ternyata masuk ke dunia hiburan itu sangat gampang tapi sulit. Sulitnya pada bagian melawan kekuatan senior yang mudah tersinggung itu. Zoya tidak memiliki temperamen lembut yang menerima segala ancaman, ia masuk ke dunia hiburan hanya karena ia murni menyukai seni peran ini.
Namun realitanya, dunia hiburan tidak sesederhana yang ia bayangkan. Di balik sorotan kamera dan senyum di depan publik, ada persaingan yang ketat, gosip yang cepat menyebar, serta posisi yang sering ditentukan bukan hanya oleh bakat, tetapi juga koneksi dan kekuatan nama besar. Sering kali, satu kesalahan kecil saja bisa membuat seseorang tersingkir tanpa kesempatan kedua.
Zoya menoleh, mengerucutkan bibir, zoya berfikir kakaknya memang benar, mengingat perjanjiannya dengan ayahnya. Zoya mengangguk menyetujui.dan menjawab singkat “Baiklah, tapi jangan sampai ayah mengetahui nya!” Kemudian dia menundukkan kepalanya menulis.
Mendengar jawaban itu, mata Tuan Muda Saksomo seketika berbinar. Ia berkata sambil tersenyum: "Kalau begitu, apakah hari ini kamu punya waktu untuk makan bersamaku? Sudah berapa tahun kita tidak makan bersama..”
Zoya menatap wajah Tuan Muda Saksomo yang penuh harapan. Melihat Zoya memperhatikannya, Tuan Muda Saksomo menyeringai ramah. Mengingat Tuan Muda Saksomo telah membantunya memberi pelajaran pada Meilan kemarin dan sikapnya yang sangat baik, Zoya mengangguk setuju.
Meskipun Arlo berdiri di podium sedang mengajar, matanya terus-menerus mengawasi interaksi mereka. Melihat Zoya mengangguk dan Tuan Muda Saksomo tampak kegirangan, kecurigaannya semakin kuat. Arlo sangat mengenal pria ini; biasanya Tuan Muda Saksomo hanya memberikan senyum basa-basi yang dingin. Namun sekarang, matanya menyipit bahagia dan seluruh bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa ia benar-benar senang berada di dekat Zoya. Hal ini terasa sangat janggal.