"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
"Paksu... pelan-pelan dong, beneran deh. Ini badan Ismut rasanya kayak mau remuk, nggak usah pakai mode latihan taktis tempur pangkalan bisa kan?"
Suara cicitan Calla mengalun lirih di dalam keheningan kamar utama rumah dinas. Jam dinding di atas lemari kayu jati sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Resepsi pernikahan yang megah dan menguras tenaga itu akhirnya selesai, menyisakan sunyi yang merayap sangat lambat.
Calla duduk tegang di tepi ranjang pengantin yang dipenuhi taburan kelopak mawar merah. Gaun pengantin mewahnya sudah berganti dengan daster satin tipis bertali satu warna merah marun—pilihan Michelle yang kemarin sempat membuat Calla cengengesan. Namun sekarang, setelah berada di bawah tatapan elang suaminya, nyali cegil Calla mendadak menguap tanpa sisa.
Alaric baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan celana kain hitam tanpa atasan. Dada bidangnya yang kokoh penuh otot tegap, serta perut sixpack-nya yang keras tampak berkilau sisa air mandi. Pria berusia 38 tahun itu melangkah dengan tempo yang teramat lambat, mendekati ranjang lalu duduk tepat di sebelah Calla.
"Tarik napasmu perlahan, Calla. Kenapa sekarang kamu yang gemetaran, hm?" bisik Alaric rendah, suaranya terdengar sangat bariton, dalam, dan parau.
Tangan besar Alaric yang hangat menyentuh pundak mungil Calla yang terbuka, mengusapnya lambat untuk mengusir ketegangan istrinya. Sentuhan kulit telanjang Alaric seketika membuat Calla merinding hebat.
"Ih, Paksu... biasanya kan Ismut cuma berani lewat kata-kata doang," adu Calla kaku, matanya bergerak gelisah menatap otot dada Alaric yang naik turun teratur. "Tapi pas udah di depan singa pangkalan yang beneran lapar begini, Ismut berasa kayak kelinci pasrah yang mau ditelan bulat-bulat."
Alaric mendengus pelan, sebuah senyuman tipis yang teramat seksi terukir di bibirnya. Ia memajukan tubuh tegapnya, mencondongkan wajahnya hingga hidung tegas mereka saling bersentuhan. Aroma wangi maskulin bercampur sabun dari tubuh Alaric langsung mengunci kesadaran Calla.
"Saya tidak akan menelanmu, Callanta. Kamu istri saya," bisik Alaric di depan bibir ranum Calla. "Saya akan melakukannya dengan sangat lambat. Percaya pada saya."
"P-Paksu..." Calla mencicit pasrah saat tangan besar Alaric mulai merayap naik ke tengkuknya, mengunci kepalanya dengan kelembutan yang teramat protektif.
Tanpa memberikan jeda lagi, Alaric menundukkan kepalanya, langsung memagut bibir Calla dengan ciuman yang teramat dalam dan intens.
"Emhh..." Calla melenguh pelan, matanya terpejam rapat saat kehangatan bibir Alaric menyesap bibir atas dan bawahnya secara bergantian.
Ritme ciuman Alaric malam ini terasa sangat berbeda dari biasanya—ini jauh lebih menuntut, sarat akan gairah pria dewasa yang telah ia tahan selama berbulan-bulan demi menjaga kesucian malam ini. Tangan Calla yang gemetar perlahan naik, meremas otot bahu Alaric yang keras, menyalurkan rasa panas yang mendadak membakar seluruh aliran darahnya.
Alaric mengerang rendah di tengah pagutan panas mereka. Sentuhan jemari lentik Calla di bahunya bagai menyulut sumbu ledak di dalam diri sang Komandan. Dengan gerakan lambat namun pasti, Alaric merebahkan tubuh mungil Calla ke tengah ranjang, mengurung tubuh istrinya di bawah kungkungan tubuh raksasanya yang teramat tegap.
Ciuman Alaric turun ke rahang, lalu menghisap ceruk leher Calla dengan dalam, meninggalkan tanda kemerahan di sana yang membuat Calla mendesah pelan. "Paksuh... ahh... panas..."
"Calla... buka matamu, tatap saya," perintah Alaric dengan suara yang teramat berat, serak, dan penuh kabut gairah.
Calla membuka matanya yang sayu berair, menatap lurus pada mata elang Alaric yang kini telah menggelap sepenuhnya. Kejantanan Alaric di balik celana kainnya sudah menegang maksimal, menekan paha dalam Calla hingga memicu debaran anarki di dada gadis itu.
"Ini... ini pertama kalinya untukmu, kan?" tanya Alaric memastikan, jemari besarnya mengusap pipi Calla yang memerah merona dengan sangat lembut.
Calla mengangguk pelan dengan bibir yang sedikit bergetar. "I-iya, Paksu... Ismut belum pernah sama sekali. Jadi... tolong jangan galak-galak ya."
Alaric tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengecup dahi Calla dengan penuh rasa sayang yang mendalam, seolah berjanji untuk menjaganya. Tangan besarnya perlahan menyusup ke balik daster satin Calla, membelai paha mulusnya, lalu dengan sangat hati-hati memposisikan dirinya di antara kedua kaki Calla yang terbuka.
Atmosfer kamar tidur itu kian memanas, menyisakan deru napas mereka yang saling memburu di keheningan malam. Alaric menunduk, kembali mencium bibir Calla dengan dalam untuk mengalihkan perhatian istrinya saat ia mulai menyatukan tubuh mereka secara perlahan.
"Akhh! Paksu... s-sakit!"
Jeritan kecil yang tertahan lolos dari sela pagutan bibir Calla. Mata kucingnya seketika melebar, air mata refleks menetes di sudut matanya saat merasakan robekan tajam dan rasa perih yang teramat sangat di bagian intinya. Tubuh mungil Calla seketika menegang kaku, jemarinya mencengkeram kuat kulit punggung tegap Alaric hingga menyisakan bekas kemerahan.
"S-Sakit banget... Paksu, hiks... stop dulu..." tangis Calla pecah, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alaric yang hangat.
Alaric langsung menghentikan gerakannya seketika. Tubuhnya membeku di atas kungkungan Calla, napasnya memburu hancur menahan gejolak gairah yang sudah berada di ujung tanduk demi mendengar rintihan kesakitan istri kecilnya. Rasa perih Calla bagai rem darurat yang menyayat hatinya.
"Ssyhh... iya, Ismut. Saya berhenti. Tarik napasmu, Sayang... maafkan saya," bisik Alaric teramat lembut, suaranya bergetar hebat. Ia menunduk, mengecupi air mata di pipi Calla dengan penuh rasa bersalah.
"Hiks... perih banget, Paksu kaku... rasanya kayak robek," cicit Calla dengan suara parau, dadanya naik turun meresapi rasa perih yang asing namun nyata di bawah sana.
"Iya, saya tahu. Ini karena ini pertama kalinya untukmu, Calla. Tubuhmu belum terbiasa," ujar Alaric dengan suara baritonnya yang lambat, sabar, dan meneduhkan. Tangan besarnya tidak tinggal diam, ia terus mengusap pinggang dan perut Calla, mencoba membuat otot-otot istrinya kembali rileks. "Rileks, Calla... ikuti napas saya. Saya tidak akan bergerak sampai kamu merasa nyaman."
Calla mendengarkan suara detak jantung Alaric yang berdegup kencang di dadanya. Perlahan, pelukan hangat dan kesabaran raksasa pangkalan itu membuat ketakutan Calla surut. Rasa perih itu perlahan tergantikan oleh rasa hangat yang menjalar kembali.
"Paksu..." panggil Calla lirih setelah beberapa menit keheningan yang menyiksa batin Alaric.
"Iya, Calla? Masih sangat sakit?" tanya Alaric cemas, menatap wajah istrinya.
Calla menggeleng pelan, sebuah senyuman tipis yang teramat manis terukir di bibirnya yang basah. "Udah mendingan... udah nggak begitu perih lagi. Maaf ya, Ismut cengeng banget, padahal kemarin gayanya paling oke."
Alaric menghela napas panjang, sebuah helaan napas lega yang teramat dalam. Ia mengecup bibir Calla sekilas dengan penuh rasa gemas. "Kamu tidak salah, Calla. Sekarang... boleh saya lanjutkan? Dengan sangat lambat."
"I-iya... boleh, Paksu," bisik Calla malu-malu, menyembunyikan wajah merah padamnya di ceruk leher Alaric.
Malam itu, di dalam kamar rumah dinas yang sakral, Alaric melanjutkan penyatuan mereka dengan ritme yang teramat lambat, lembut, namun penuh dengan luapan gairah yang mendalam. Setiap pergerakan Alaric dilakukan dengan penuh kehati-hatian, memastikan istri kecil sebatang karanya itu tidak lagi merasakan sakit, melainkan kehangatan dan kenikmatan sejati sebagai seorang wanita seutuhnya.
Rintihan kesakitan Calla perlahan berubah menjadi desahan manja yang memenuhi keheningan malam, menjadi saksi bisu bahwa kini... Callanta telah sepenuhnya menjadi milik mutlak dari Mayor Alaric Vance, lahir dan batin.
moment haru aja masih sempat sempatnya ngelirik siomay ampun... gusti...