Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kaelen melepaskan gagang pintu dan membiarkannya tertutup. Ia berjalan masuk, mengalihkan pandangannya dari Elara seolah-olah istrinya itu hanyalah perabot tambahan—sebuah lampu hias yang baru dipasang dan sedikit mengganggu pemandangan, tapi tidak cukup penting untuk dipindahkan.
Pria itu berjalan menuju meja kerja besarnya di seberang ruangan. Ia menarik kursi kayunya yang berat dengan suara gesekan kasar, duduk, lalu menarik tumpukan perkamen.
Elara terpaku. Ia diabaikan. Lagi.
Namun kali ini, rasanya berbeda. Kaelen tidak mengusirnya. Pria itu membiarkannya tetap di sana. Apakah itu bentuk izin tak terucap? Atau bentuk penghinaan tertinggi—bahwa kehadiran Elara begitu tidak signifikan sehingga tidak pantas untuk diusir?
Elara tidak berani bergerak. Ia bahkan takut suara membalik halaman buku akan mengganggu konsentrasi pria itu. Ia duduk mematung, matanya berpura-pura membaca barisan kalimat tentang lumut artik, padahal telinganya terpasang tajam menangkap setiap suara dari meja kerja di seberang sana.
Suara pena bulu yang dicelupkan ke dalam tinta. Celup. Suara ujung pena menggores kertas kasar. Srek. Srek. Srek. Suara hembusan napas panjang dan berat.
Mereka berdua terjebak dalam satu ruangan, terpisah jarak sepuluh meter dan jurang emosi yang tak terukur. Suara api yang meletup sesekali menjadi satu-satunya jembatan di antara mereka.
Menit berlalu menjadi jam. Kaelen tenggelam dalam pekerjaannya. Ia membaca laporan, menandatanganinya dengan coretan kasar, lalu melemparnya ke tumpukan lain. Sesekali ia memijat pelipisnya, gestur lelah yang membuat Elara menyadari lingkaran hitam samar di bawah mata suaminya. Pria ini juga tidak tidur nyenyak.
Keberanian Elara perlahan tumbuh. Rasa takut awalnya mulai surut, digantikan oleh rasa penasaran. Ia mulai berani membalik halaman bukunya. Srek.
Kaelen tidak bereaksi. Pena bulunya terus menari.
Elara membalik lagi. Lebih keras. Srek.
Tetap tidak ada reaksi.
Elara menghela napas pelan, bahunya rileks. Ia kembali menaikkan kakinya ke atas kursi, mencari posisi nyaman, meski matanya tetap waspada. Ia mulai benar-benar membaca sekarang, mencoba melarikan diri dari ketegangan aneh ini ke dalam dunia botani.
Tiba-tiba, pintu perpustakaan diketuk pelan, lalu terbuka sebelum ada jawaban.
Silas masuk dengan nampan berisi teko kopi perak. "Tuan Duke, saya membawakan..."
Langkah Silas terhenti saat ia melihat pemandangan di depannya. Matanya melebar, melirik dari Kaelen yang duduk di meja kerja, lalu ke Elara yang meringkuk di kursi dekat perapian. Pria tua itu tampak terkejut, seolah melihat hantu. Jelas sekali, melihat Tuan dan Nyonya rumah berada di satu ruangan tanpa ada darah yang tumpah adalah anomali di kastil ini.
Kaelen mengangkat kepalanya, pena bulunya berhenti di udara. "Letakkan di meja, Silas."
Silas berdeham, berusaha mengembalikan ketenangan profesionalnya. Ia berjalan mendekat, meletakkan nampan itu di meja Kaelen. "Baik, Tuan. Dan... saya lihat Nyonya ada di sini."
"Observasi yang tajam," gumam Kaelen sarkastis, kembali menunduk ke kertasnya. "Ada lagi?"
Silas tampak ragu. Ia melirik Elara dengan pandangan meminta maaf. "Tentang... Menara Barat, Tuan. Saya sudah memerintahkan tukang kayu dan ahli batu untuk memeriksa cerobong asapnya. Tampaknya ada sarang burung gagak yang menyumbat saluran udara, dan beberapa batu di dinding luar retak sehingga angin masuk."
Tangan Kaelen berhenti bergerak. Ia tidak menatap Silas, tatapannya tetap pada kertas di depannya.
"Perbaiki," kata Kaelen singkat.
"Tentu, Tuan. Tapi... perbaikannya akan memakan waktu setidaknya tiga hari untuk membersihkan cerobong dan menambal dinding," Silas berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian. "Suhu malam ini diperkirakan akan turun lebih ekstrem. Tidak mungkin bagi siapa pun untuk tidur di sana tanpa pemanas."
Keheningan turun di ruangan itu, berat dan mencekik. Elara meletakkan bukunya, jantungnya berpacu lagi. Silas sedang berusaha membantunya. Silas sedang mencoba memindahkan Elara dari menara terkutuk itu.
Kaelen akhirnya mendongak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar pena bulu di jari-jarinya. Matanya melirik sekilas ke arah Elara, tatapan yang dingin dan penuh perhitungan, sebelum kembali ke Silas.
"Kamar tamu di sayap timur penuh dengan perabotan yang sedang diperbaiki," kata Kaelen, sebuah alasan yang terdengar dibuat-buat bahkan bagi telinga Elara yang awam. "Dan sayap selatan terlalu dekat dengan barak prajurit. Tidak pantas."
"Ada kamar tidur lama mendiang Nyonya Besar di lantai dua sayap ini, Tuan," saran Silas cepat. "Kondisinya baik dan perapiannya berfungsi."
Rahang Kaelen mengeras. Suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat meski api menyala terang. "Kamar ibuku terkunci. Dan akan tetap terkunci."
Silas menunduk, bahunya layu. "Kalau begitu... saya tidak tahu harus menempatkan Nyonya di mana sementara perbaikan dilakukan."
Kaelen terdiam. Ia menatap Elara lagi. Kali ini, tatapannya bertahan lebih lama. Ia melihat gaun tidur wol Elara yang terlihat konyol di siang hari, melihat pipinya yang mulai merona karena hangatnya api, dan melihat buku yang dipegangnya.
"Biarkan dia di sini," kata Kaelen akhirnya.
Elara dan Silas sama-sama ternganga. "Di sini, Tuan?" ulang Silas bingung. "Di perpustakaan?"
"Ada sofa panjang di sudut sana," Kaelen menunjuk dengan dagunya ke arah sofa beludru di sudut ruangan yang gelap. "Ruangan ini hangat. Pintunya bisa dikunci dari dalam. Itu lebih baik daripada menara atau barak prajurit."
Itu bukan tawaran keramahan. Itu adalah solusi logistik yang paling efisien dan paling tidak merepotkan bagi Kaelen. Dia tidak ingin Elara di kamarnya, tidak ingin Elara di kamar ibunya, dan tidak ingin repot mencari kamar lain.
"Tapi Tuan, Nyonya adalah seorang Duchess..." Silas mencoba memprotes. Tidur di sofa perpustakaan bukanlah perlakuan layak bagi istri seorang Duke.
"Saya setuju," suara Elara memotong, lembut namun tegas.
Kedua pria itu menoleh padanya. Elara berdiri, meletakkan bukunya di meja kecil. Ia menatap Kaelen, menolak untuk terlihat menyedihkan.
"Ruangan ini hangat," kata Elara, matanya menantang mata abu-abu Kaelen. "Dan saya suka bukunya. Saya akan tidur di sini sampai menara saya diperbaiki."
Elara tidak akan memohon kamar yang lebih bagus. Ia tidak akan membiarkan Kaelen melihatnya meminta-minta kenyamanan. Jika suaminya ingin dia tidur di perpustakaan seperti kucing peliharaan, maka ia akan menjadi kucing yang paling bermartabat di dunia.
Kaelen menatapnya lekat-lekat selama beberapa detik, mencari tanda-tanda sarkasme atau air mata. Saat ia tidak menemukannya, ia mendengus pelan—suara yang mungkin, hanya mungkin, mengandung setitik rasa hormat yang enggan.
"Bagus," kata Kaelen. Ia kembali mengambil penanya. "Bawakan dia selimut dan bantal, Silas. Dan pastikan apinya tidak mati."
Silas tampak tidak bahagia, tapi ia membungkuk patuh. "Baik, Tuan."
Saat Silas keluar dan menutup pintu, Elara kembali duduk. Ia mengambil bukunya lagi. Di seberang ruangan, Kaelen kembali bekerja. Suara goresan pena kembali terdengar.
Mereka kembali dalam keheningan. Namun kali ini, ada kesepakatan tak tertulis di antara mereka. Elara telah mendapatkan wilayah kekuasaan kecilnya. Sebuah sofa dan perapian di ruang kerja suaminya. Itu bukan kamar tidur utama, dan itu bukan pelukan hangat suami yang mencintai istrinya. Tapi di tengah dinginnya Blackiron yang mematikan, kehangatan perapian ini adalah satu-satunya hal yang nyata.
Dan bagi Elara, untuk saat ini, itu sudah cukup. Ia akan tidur di sini, di bawah pengawasan naga yang menjaganya, berpura-pura bahwa ia tidak sedang diawasi.