NovelToon NovelToon
Dibeli Seharga 1 Miliar

Dibeli Seharga 1 Miliar

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jeratan Utang

Seminggu telah berlalu sejak malam kelam itu di The Phoenix. Sejak saat itu, Ratna semakin sering memaksa Aulia bekerja di klub malam, dengan alasan harus membantu perekonomian keluarga. Setiap malam, Aulia dipaksa memakai gaun terbuka, berdiri di balik bar, menahan tatapan mata kotor para pria hidung belang, dan menelan rasa jijik yang mencekik tenggorokannya. Namun untungnya, semenjak malam pertama itu, sosok Alexandra Surya tak pernah lagi muncul. Entah kenapa, Aulia merasa lega sekaligus kecewa. Lega karena tak perlu berhadapan dengan aura mencekam pria itu lagi, namun kecewa karena… entah mengapa bayangan wajah dingin itu tak mau hilang dari kepalanya.

Di kampus, Aulia berusaha menjadi gadis biasa kembali. Dengan tumpukan kertas gambar, pensil, dan sketsa desain busana atau grafis yang selalu ia bawa, Aulia mencoba melupakan semua kengerian di malam hari. Dunia seni dan warna adalah satu-satunya tempat perlindungannya. Di sana, ia bukan gadis miskin, bukan budak ibu tiri, bukan pelayan klub malam. Di sana, ia adalah Aulia Permata, desainer muda berbakat yang punya mimpi besar.

Namun, kedamaian semu itu segera hancur total.

Siang itu, saat Aulia baru saja pulang dari kampus dan sedang menyeduh teh di dapur, terdengar suara gedoran pintu yang sangat keras hingga membuat seluruh jendela rumah kecil itu bergetar. Bunyi BRAK! BRAK! BRAK! terdengar marah, kasar, dan menakutkan.

Aulia menegang. Di ruang tengah, ia melihat ayahnya, Ratna, Lala, dan Johan yang sedang duduk santai, kini wajahnya seketika berubah pucat pasi bagai mayat hidup. Keringat dingin membasahi dahi Pak Herman. Tangan pria tua itu gemetar hebat.

“Buka pintunya, cepat!! Atau kami robohkan seluruh rumah sampah ini!!” teriak suara berat dari luar, disusul suara dentuman benda keras menghantam kayu pintu.

“Ya Tuhan… mereka datang…” bisik Pak Herman lirih, suaranya pecah ketakutan.

Ratna, yang biasanya galak dan sombong, kini wajahnya putih lesi, matanya melotot panik. “Her… Herman! Itu mereka! Para rentenir dari Grup Harimau! Bagaimana ini?! Katamu kamu sudah atur semuanya?! Katamu utangnya bisa ditunda!” Ratna mencengkeram lengan suaminya, suaranya bergetar histeris.

“Aku… aku pikir masih ada waktu, Ratna! Aku pikir mereka memberi tenggat lebih lama!” Pak Herman terlihat kacau balau.

Aulia yang penasaran sekaligus takut, perlahan melangkah mendekati ruang tengah. “Ayah… Ibu… ada apa ini? Siapa orang-orang itu?” tanyanya ragu.

Johan menatap Aulia dengan mata merah, penuh amarah. “Ini semua gara-gara Ayahmu yang bodoh! Dia berhutang ratusan juta ke rentenir demi membiayai gaya hidup kita, dan sekarang hari pelunasannya tiba! Kalau tidak dibayar, mereka akan membunuh kita semua!”

Jantung Aulia serasa jatuh ke perut. Ratusan juta? Dari mana ayahnya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Dan untuk apa? Padahal mereka saja sudah hidup pas-pasan semenjak bangkrut.

Belum sempat Aulia memproses keterkejutannya, pintu depan akhirnya didobrak paksa hingga terbuka lebar. Tiga pria bertubuh raksasa, bertato penuh, dan memegang tongkat besi melangkah masuk dengan aura mengerikan. Di belakang mereka, masuk seorang pria berjas murah namun berwajah licik, tersenyum sinis melihat ketakutan seluruh penghuni rumah.

“Selamat siang, Keluarga Pak Herman,” ucap pria berjas itu santai, seolah sedang berkunjung ke rumah teman, padahal matanya memancarkan bahaya. “Sudah tiga bulan tenggat waktu kita, Pak. Dan hari ini… saatnya bayar. Tunai. 750 Juta Rupiah. Tidak boleh kurang, tidak boleh telat sedetik pun.”

Ratna menjerit pelan, bersembunyi di belakang tubuh suaminya. “Ka… kalian gila?! Kami tidak punya uang sebanyak itu! Herman, katakan sesuatu!!”

“A… aku… aku belum punya uangnya, Pak Toni. Tolong beri waktu lagi… dua minggu saja, saya janji akan cari pinjaman…” mohon Pak Herman dengan lutut gemetar, nyaris mau bersujud di lantai.

Pria bernama Toni itu tertawa dingin. Ia memberi kode pada anak buahnya. Seketika, BUGIL! Satu pukulan keras dari gagang tongkat besi mendarat tepat di perut Pak Herman. Ayah Aulia langsung terbatuk hebat, jatuh berlutut, wajahnya menahan sakit luar biasa.

“AYAH!!” jerit Aulia tak kuat menahan diri, ia berlari mendekati ayahnya, namun salah satu anak buah Toni langsung menendang perut gadis itu hingga terpental menabrak meja kayu.

“Diam kamu, gadis kecil! Ini urusan orang dewasa!” bentak pria bertato itu kasar.

Lala dan Johan hanya menangis ketakutan di pojokan, tak berani membantu sedikitpun. Sementara Ratna, wanita yang selalu menyiksa Aulia itu, kini hanya gemetar ketakutan tanpa daya.

“Dengar, Herman,” Toni berjongkok di depan pria tua itu, berbisik dingin namun tajam. “Kau tahu kami tidak main-main. Kalau besok sore uangnya belum ada… kami bakar rumah ini bersama kalian di dalamnya. Atau… mungkin lebih parah. Kami bisa jual istri dan anak-anakmu ke pasar gelap. Di sana wanita cantik seperti Lala atau Aulia harganya lumayan mahal, lho.”

Ancaman itu membuat darah seluruh penghuni rumah membeku. Jelas sekali, Toni bukan sekadar rentenir biasa. Dia adalah bagian dari jaringan kejahatan terorganisir yang tak segan membunuh demi uang.

“Ti… tidak!! Jangan sentuh anak-anak saya!!” Pak Herman berteriak panik, air mata ketakutan menetes. “Saya akan cari uangnya! Saya janji! Saya tahu ke mana harus meminjam uang sebanyak itu! Tolong beri saya waktu tiga hari lagi! Hanya tiga hari!”

Toni menatapnya lama, lalu bangkit berdiri sambil merapikan jasnya. Ia menatap Pak Herman dengan tatapan meremehkan. “Oke. Demi persahabatan lama, aku beri kau waktu 3 x 24 jam. Kalau jam menunjukkan pukul enam sore lusa dan uangnya belum ada… bersiaplah merasakan neraka yang sesungguhnya. Ingat, kami dari Grup Macan Hitam. Tidak ada yang bisa berhutang pada kami dan lolos begitu saja.”

Setelah melontarkan ultimatum maut itu, Toni dan anak buahnya keluar dari rumah sambil menghancurkan beberapa vas bunga dan perabot sebagai peringatan. Pintu ditutup dengan keras, meninggalkan suasana rumah yang penuh debu, pecahan kaca, dan tangis histeris.

Aulia merangkak mendekati ayahnya, memeluk tubuh pria itu yang masih gemetar hebat karena sakit dan ketakutan. Meski ayahnya lemah, meski ayahnya sering diam saja saat ia disiksa, ia tetaplah ayah kandungnya. Aulia tidak sanggup membayangkan jika hal buruk benar-benar terjadi pada pria itu.

“Ayah… Ayah tidak apa-apa?” tanya Aulia lirih, mengusap dada ayahnya.

Pak Herman menatap Aulia dengan tatapan kacau, campuran rasa bersalah, ketakutan, dan keputusasaan. Tiba-tiba, mata tua itu berbinar sejenak, seolah menemukan secercah harapan di tengah jurang neraka.

“Aulia… Ayah ingat… di klub malam itu… kamu pernah bilang melihat Alexandra Surya, kan?” tanya Pak Herman tiba-tiba, suaranya mendesak.

Dahi Aulia berkerut bingung, hatinya berdebar tak wajar mendengar nama itu disebut di saat seperti ini. “I… iya. Tapi kenapa, Yah? Dia orang paling berkuasa dan kejam di kota ini. Kita tidak mungkin berhubungan dengan orang selevel dia.”

“Justru itu!” potong Pak Herman cepat, cengkeramannya di tangan putrinya semakin kuat. “Alexandra Surya punya segunung uang! Dia penguasa bisnis, raja pasar gelap, dia punya segalanya! Kalau aku meminjam uang padanya, 750 Juta itu baginya hanya uang receh! Hanya dia satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan kita dari Toni dan Grup Macan Hitam!”

Ratna yang sedari tadi menangis, seketika berhenti, matanya membelalak penuh harapan serakah. “Benar!! Itu ide bagus, Herman! Alexandra Surya itu orang terkaya nomor satu di kota ini! Kalau kau bisa pinjam uang padanya, kita selamat!”

“Ta… tapi Ayah… dia orang berbahaya. Orang bilang dia membunuh orang hanya karena salah menatap. Meminjam uang pada Alexandra Surya sama saja dengan menandatangani surat kematian sendiri!” tolak Aulia panik. Ia tahu betul, dunia Alex adalah dunia kontrak darah. Sekali masuk, mustahil keluar selamat.

Namun keputusasaan telah menutup akal sehat seluruh keluarga itu. Pak Herman bangkit berdiri dengan susah payah, menatap Aulia tajam.

“Kita tidak punya pilihan, Aulia! Ini masalah hidup dan mati! Ayah akan pergi menemuinya hari ini juga! Ayah akan pinjam uang 750 Juta… tidak, 1 Miliar Rupiah! Cukup untuk melunasi utang, memperbaiki hidup kita, dan mulai dari awal lagi!” Tekad Pak Herman kini keras. Ia tak peduli bahaya apa yang akan dihadapinya. Yang penting saat ini, ia selamat.

Aulia merasa kakinya lemas. Ia tahu sifat manusia seperti ayahnya dan ibu tirinya. Sekali mereka mendapatkan uang besar, mereka akan kembali hidup mewah, berfoya-foya, dan melupakan kewajiban. Dan ketika itu terjadi… mereka akan jatuh ke tangan yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar rentenir jalanan.

Alexandra Surya tidak seperti orang lain. Dia tidak hanya menagih uang. Dia menagih jiwa.

“Ayah, tolong pikirkan lagi… Jangan lakukan ini…” pinta Aulia lirih, air mata mulai menetes lagi.

Namun permohonan gadis itu bagaikan angin lalu. Pak Herman langsung berlari masuk ke kamar untuk berganti pakaian terbaiknya, sementara Ratna, Lala, dan Johan mulai tersenyum lega, seolah uang miliaran itu sudah ada di tangan mereka.

Aulia duduk sendirian di tengah ruang tengah yang berantakan. Perasaannya gelisah luar biasa. Seperti ada petir menyambar hatinya. Ia tidak tahu kenapa, tapi firasatnya mengatakan, keputusan ayahnya untuk meminjam uang pada Alexandra Surya adalah awal dari bencana terbesar dalam hidupnya. Dan bencana itu… akan berpusat padanya.

Sore itu, Pak Herman pergi dengan penuh harapan. Ia menuju ke menara tertinggi di kota, markas kekuasaan Alexandra Surya: Gedung Surya Corp. Tempat di mana bisnis legal dan bisnis darah berjalan berdampingan, tak terpisahkan.

Di sana, di balik meja besar dari kayu mahoni hitam, Alexandra Surya duduk dengan tenang, mendengarkan permohonan pria tua yang kacau itu. Di balik kacamata hitamnya, mata elang itu menatap Pak Herman dengan tatapan tak terbaca, dingin, dan penuh perhitungan. Saat nama “Aulia Permata” disebut oleh Pak Herman sebagai jaminan kesetiaan, sudut bibir Alexandra terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sangat, sangat berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!