Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RASA HANGAT DI SELA SAKIT
Kelopak mata Angkasa mulai bergerak-gerak pelan. Rasa berat yang menyelimuti seluruh tubuhnya perlahan berkurang, digantikan oleh kesadaran yang mulai kembali utuh.
Di bawah kelopak matanya yang masih terpejam, cahaya samar mulai terasa masuk. Dengan sisa tenaga yang ada, Angkasa membuka matanya perlahan, sedikit demi sedikit, sampai pandangannya mulai terang dan jelas.
Hal pertama yang terlihat oleh matanya yang masih sayu adalah sosok Arum.
Gadis itu duduk tidak jauh dari pinggir tempat tidur, memunggungi Angkasa sedikit. Tangan lentiknya sedang sibuk merendam selembar kain kasa bersih ke dalam mangkuk kecil berisi air hangat yang ada di meja.
Arum memeras kain itu pelan-pelan, sampai airnya menetes jatuh kembali ke mangkuk, lalu ia meratakan kain itu di telapak tangannya dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh kelembutan. Rambutnya yang terurai sedikit jatuh menutupi sisi wajahnya, membuatnya terlihat begitu tulus dan cantik di mata Angkasa.
Angkasa menatapnya lekat-lekat, rasa sakit di kepala dan sekujur tubuhnya seolah hilang seketika hanya dengan melihat pemandangan itu. Ia sadar, sepanjang dia tidak sadar, gadis inilah yang menjaganya, mendampinginya, dan mendoakannya. Hati Angkasa terasa penuh sekali, sampai dadanya terasa sesak oleh rasa haru dan rasa sayang yang makin memuncak.
Beberapa detik berlalu, Arum yang sedang fokus merapikan kain itu tiba-tiba merasa ada yang memperhatikannya. Ia menoleh cepat, dan matanya langsung bertatapan dengan manik mata Angkasa yang sudah terbuka dan menatapnya lekat.
Wajah Arum seketika berubah cerah bercampur lega luar biasa. Ia langsung bangkit dari duduknya dan mendekat ke pinggir tempat tidur, matanya menatap wajah Angkasa dengan cermat dan cemas.
"Mas Angkasa? Kamu udah bangun?!" tanya Arum cepat, suaranya terdengar antusias dan lega. Tangannya langsung bergerak menyentuh pelan dahi Angkasa untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Alhamdulillah... panasnya udah turun, gak sepanas tadi pagi. Gimana apa yang mas rasain sekarang? Ada yang sakit gak? Pusing? Atau mual?"
Pertanyaan Arum meluncur bertubi-tubi, penuh kekhawatiran yang tak disembunyikan. Angkasa tersenyum tipis, meski bibirnya masih terasa sedikit perih dan kering. Ia menggeleng pelan.
"Enggak...Mbak. Cuma badan rasanya masih lemes banget, sama kepala agak pusing," jawab Angkasa pelan, suaranya masih terdengar serak dan lemah. Ia menatap Arum dengan pandangan yang dalam.
"Mbak Arum... dari tadi di sini terus jagain saya ya? Maaf ya... ngerepotin sampai harus dijagain begini."
Arum langsung mengerutkan keningnya sebal, lalu memukul pelan lengan sehat Angkasa yang ada di luar selimut.
"Apa sih Mas... gak ada yang merasa direpotin? Mas diam aja dulu ya, jangan banyak ngomong," tegur Arum lembut namun tegas. Ia lalu menunjuk ke arah meja samping tempat tidur yang ada nampan berisi mangkuk mengepul.
"Nah,Ibu udah bikinin bubur ayam hangat sama teh manis. Kamu harus makan ya, biar ada tenaga, biar cepet sembuh. Ayo aku bantu bangun pelan-pelan ya."
Arum dengan sigap mengganjal punggung Angkasa dengan bantal tambahan, membiarkan Angkasa duduk bersandar dengan posisi yang nyaman dan tidak menekan luka di lengannya.
Setelah posisinya enak, Arum langsung mengambil mangkuk berisi bubur yang masih panas itu, lalu menyendok sedikit, meniup-niupnya pelan agar tidak terlalu panas, dan bersiap mengulurkannya ke mulut Angkasa.
Namun, sebelum sendok itu sampai, Angkasa menggeleng pelan dan berusaha mengangkat tangannya yang sehat untuk mengambil mangkuk itu dari tangan Arum.
"Udah, nggak usah Mbak Arum... saya bisa makan sendiri kok. Masih ada tangan kanan ini yang gak luka," tolak Angkasa pelan sambil memaksakan diri tersenyum. Ia merasa sungkan sekali. Sudah merepotkan keluarga Pak Bimo untuk menginap, sudah bikin orang tua Arum cemas, sekarang sampai harus disuapi seperti anak kecil pula. Rasa tidak enak hatinya makin menjadi-jadi.
"Mbak udah repot banget jagain saya dari tadi, masa harus nyuapin juga. gak apa-apa, saya kuat kok."
Arum langsung menarik kembali tangannya, menatap Angkasa dengan tatapan tak setuju dan sedikit kecewa. Ia menaruh kembali mangkuk itu ke nampan, lalu menatap Angkasa lekat-lekat.
"Mas Angkasa... jangan keras kepala deh," ucap Arum pelan namun nada bicaranya tegas.
"Aku tau kamu bisa makan sendiri, tapi lihat kondisi kamu sekarang. Badan kamu masih panas, kamu masih lemes banget, bibir kamu juga luka. Kalau kamu makan sendiri, nanti malah belepotan atau sakit kalau gerakannya salah. Aku gak tega lihat kamu kesusahan cuma gara-gara nggak enak hati sama aku."
Arum menghela napas pelan, lalu melanjutkan lagi dengan suara yang lebih lembut dan penuh ketulusan, matanya menatap lurus ke manik mata Angkasa.
"Mas, aku jagain kamu,suapin kamu... itu sama sekali bukan beban atau hal yang bikin repot. Justru aku malah seneng bisa jagain kamu. Dulu kamu selalu ada buat aku, selalu jagain aku? Sekarang giliran aku, Mas. Biarin aku ngelakuin ini buat kamu, biarin aku balas sedikit dari semua kebaikan kamu ke aku. Anggap aja... aku pengen lihat kamu cepet sembuh."
Jantung Angkasa berdegup kencang mendengar ucapan itu. Tatapan Arum yang tulus, ucapannya yang lembut tapi tegas, dan rasa sayang yang terpancar jelas dari sorot matanya... membuat semua rasa sungkan dan gengsi di dada Angkasa runtuh seketika. Ia sadar, menolak perhatian Arum sama saja menyakiti hati gadis itu.
Angkasa akhirnya mengalah, ia mengangguk pelan sambil tersenyum lembut, senyum yang paling tulus yang ia punya.
"Iya... iya deh, Mbak.saya nurut aja deh. Maaf ya... bikin kamu capek," jawab Angkasa lirih, pasrah dan diam membiarkan Arum mengambil kembali mangkuk bubur itu.
Arum langsung tersenyum lebar, matanya berbinar senang karena menang. Kembali ia menyendok bubur halus itu, meniupnya perlahan sampai suhunya pas, lalu mengulurkan sendok itu ke bibir Angkasa.
"Nah gitu dong. Buka mulutnya dikit ya, pelan aja gak usah buru-buru," perintah Arum lembut.
Angkasa membuka mulutnya perlahan, menerima suapan itu. Bubur itu terasa begitu hangat,dan enak. Tapi yang paling bikin hangat bukan buburnya, melainkan tangan yang menyuapinya, tatapan mata yang menatapnya penuh perhatian, dan kehadiran Arum yang begitu dekat, begitu tulus, dan begitu berarti baginya.
Setiap kali Arum menyuapi, mata Angkasa tak pernah lepas menatap wajah gadis itu. Ia mengamati setiap gerak-gerik kecil Arum: cara Arum mengerutkan kening sedikit saat memastikan buburnya nggak panas, cara Arum mengusap pelan sudut bibirnya yang terluka kalau ada sisa makanan, cara Arum bernapas tenang... semuanya terlihat indah dan menenangkan hati Angkasa.