Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Bab 1: Mahar di Balik Notulensi

​Lantai empat puluh gedung Wiratmadja Tech selalu memiliki cara unik untuk mengingatkanku betapa sepinya puncak dunia. Sore ini, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langitnya berwarna abu-abu pekat, menyerupai noda tinta yang tumpah di atas kanvas kusam. Rintik hujan mulai menghantam kaca jendela kantorku yang membentang luas, menciptakan simfoni monoton yang seolah mengejek kekosongan di hatiku.

​Aku menyesap espresso dingin yang sudah kehilangan aromanya sejak satu jam lalu. Pahit. Persis seperti rasa di pangkal tenggorokanku setiap kali aku melihat pigura foto di sudut meja. Di sana, Adrian tersenyum lebar. Foto itu diambil tiga tahun lalu, tepat sebelum kecelakaan merenggut nyawanya dan memaksaku menanggalkan gaun desainer hanya untuk mengenakan zirah kaku seorang CEO.

​"Bu Aruna?"

​Suara lembut Sarah, sekretaris setiaku, memecah lamunanku. Aku tidak berbalik. Aku masih menatap pantulan diriku di kaca jendela. Seorang wanita berusia tiga puluh dua tahun, dengan riasan bold yang sempurna, rambut yang tertata tanpa cela, namun memiliki mata yang kelelahan.

​"Masuk, Sarah. Apa mereka sudah mengirimkannya?" tanyaku datar.

​Sarah melangkah ragu. Bunyi sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuranku. Ia meletakkan sebuah map kulit berwarna biru tua di atas meja jati besarku.

​"Dewan Direksi baru saja mengesahkannya dalam rapat pleno satu jam lalu, Bu. Pak Lukman sendiri yang memastikan dokumen ini sampai ke tangan Anda hari ini juga."

​Aku memutar kursiku perlahan. Map itu tampak seperti bom waktu. Dengan jemari yang sedikit gemetar—yang segera kusembunyikan di bawah meja—aku membukanya.

​KLAUSUL MORAL DAN STABILITAS KEPEMIMPINAN.

​Mataku menyapu barisan kalimat hukum yang dingin dan tak berperasaan itu. Intinya hanya satu: Dewan Direksi memberikan mosi tidak percaya padaku karena statusku yang masih menjanda tanpa ahli waris. Mereka menggunakan pasal kuno dalam anggaran dasar perusahaan yang menyatakan bahwa CEO Wiratmadja Tech haruslah sosok yang memiliki "stabilitas domestik" untuk menjamin kepercayaan investor jangka panjang.

​"Tiga puluh hari," bisikku, suaraku nyaris hilang ditelan gemuruh petir di luar. "Mereka memberiku waktu tiga puluh hari untuk menikah, atau jabatan ini akan diserahkan kepada Lukman."

​"Ini tidak adil, Bu," suara Sarah bergetar karena marah. "Anda yang menyelamatkan perusahaan ini saat Pak Adrian tiada. Anda yang begadang di laboratorium saat sistem keamanan kita nyaris jebol tahun lalu. Kenapa status pernikahan menjadi ukuran profesionalisme?"

​Aku menutup map itu dengan dentum pelan. "Karena di dunia ini, Sarah, seorang janda kaya dianggap sebagai mangsa atau masalah. Lukman tidak butuh alasan logis, dia hanya butuh celah. Dan statusku adalah celah terbesarnya."

​Aku berdiri, berjalan menuju jendela. Lukman Wiratmadja. Paman suamiku itu adalah serigala yang telah lama menunggu di balik bayang-bayang. Baginya, perusahaan ini adalah harta karun yang salah alamat. Bagiku, ini adalah satu-satunya napas terakhir Adrian yang masih tersisa di dunia ini. Aku tidak akan membiarkan tangan kotornya menyentuh apa yang sudah kami bangun dengan keringat dan air mata.

​Tiba-tiba, keheningan ruangan itu terganggu oleh bunyi beep yang tajam dari komputer pribadiku. Aku mengerutkan kening. Komputer ini memiliki protokol keamanan militer. Hanya segelintir orang di dunia ini yang bisa mengirim pesan langsung tanpa melalui filter sekretaris.

​Aku melangkah ke meja dan melihat layar monitorku berkedip. Sebuah jendela pop-up hitam muncul, menutupi laporan saham yang sedang terbuka.

​Anonymous_User:

Uang lembur Divisi Back-end bulan Maret belum cair. Apakah sistem penggajian Anda sedang 'berkabung' atau Anda memang lebih suka melihat kami kelaparan, Bu CEO?

​Darahku mendesir. Bukan karena tersinggung, tapi karena keberaniannya. Siapa pun ini, dia baru saja menembus firewall yang harganya jutaan dolar hanya untuk memprotes uang lembur??

​"Sarah," panggilku, mataku tidak lepas dari layar. "Siapa yang bertanggung jawab atas sistem payroll di divisi pengembangan bawah?"

​Sarah tampak bingung. "Sesuai struktur, harusnya Manajer Operasional IT, Bu. Kenapa?"

​"Panggilkan aku data karyawan dari Divisi Back-end. Cari siapa yang memiliki kemampuan enkripsi tingkat tinggi tapi posisi jabatannya paling rendah."

​Hanya butuh sepuluh menit bagi Sarah untuk kembali dengan tablet di tangan. "Hanya ada satu nama yang mencolok, Bu. Namanya Bumi Arkan. Dia baru bergabung enam bulan lalu sebagai Junior Programmer. Rekam jejaknya aneh... dia lulusan pesantren, tapi punya sertifikasi keamanan siber tingkat dunia. Dia jarang bersosialisasi dan selalu pulang tepat waktu setelah salat Magrib."

​"Bumi Arkan," aku mengeja nama itu. Ada sesuatu yang menarik dari deskripsi itu. "Kenapa dia menembus sistemku?"

​"Dari data HRD yang saya akses diam-diam, adiknya baru saja masuk rumah sakit karena gagal ginjal kronis. Sepertinya dia sedang sangat terdesak secara finansial, dan uang lembur itu adalah satu-satunya harapannya."

​Aku terdiam. Sebuah rencana gila, nekat, dan mungkin tidak masuk akal mulai berputar di kepalaku. Jika aku mencari suami dari kalangan pengusaha, Lukman akan dengan mudah menyuapnya. Jika aku mencari dari kalangan selebritas, reputasiku akan hancur.

​Aku butuh seseorang yang tidak memiliki kepentingan politik. Seseorang yang cerdas, memiliki prinsip, dan yang paling penting... seseorang yang bisa kukendalikan dengan kebutuhan yang sama besarnya dengan kebutuhanku.

​"Sarah, suruh Bumi Arkan ke sini sekarang juga. Katakan padanya, jika dia tidak datang dalam lima menit, aku akan melaporkannya ke polisi atas tuduhan peretasan data perusahaan."

​Lima menit kemudian, pintu jati ruanganku terbuka.

​Pria yang masuk itu tidak tampak seperti seorang peretas ulung yang baru saja membuat jantungku berdegup kencang karena marah. Dia mengenakan hoodie abu-abu yang warnanya sudah memudar dan celana bahan yang tampak sedikit kebesaran. Rambutnya hitam pendek, tersisir rapi meski sedikit basah karena hujan.

​Namun, yang paling menangkap perhatianku adalah matanya. Dia tidak menatapku dengan tatapan memuja seperti kebanyakan pria di gedung ini, tidak juga dengan ketakutan. Dia menunduk pelan, seolah-olah lantai marmerku jauh lebih menarik daripada wanita di depannya.

​"Duduk, Bumi," perintahku.

​Dia duduk di kursi di depanku dengan kaku. Aroma sabun mandi murah dan hujan menguar dari tubuhnya, bertabrakan dengan aroma parfum sandalwood mahalku. Suasananya sangat kontras.

​"Anda memanggil saya untuk menyerahkan saya ke polisi?" suaranya rendah, bariton yang tenang namun tegas. Dia akhirnya mengangkat wajahnya, tapi matanya tetap terjaga, tidak menatap langsung ke mataku. Sangat sopan, khas seseorang yang menjaga pandangan.

​"Tergantung," jawabku sambil menyandarkan punggung. "Tergantung seberapa masuk akal penjelasanmu tentang peretasan sistem CEO."

​Bumi menghela napas panjang. Jemarinya yang panjang meremas ujung hoodie-nya. "Saya tidak bermaksud merusak apa pun. Saya hanya ingin Anda tahu bahwa di bawah sana, orang-orang bekerja hingga pagi bukan untuk memperkaya diri, tapi untuk bertahan hidup. Menahan hak orang lain adalah dosa besar dalam agama saya, Bu."

​Aku tersenyum tipis. "Agama? Jadi kau peretas yang religius?"

​"Saya hanya manusia yang sedang berusaha jujur, meski caranya mungkin salah," balasnya telak.

​Aku memajukan tubuhku, menumpukan kedua sikut di atas meja. "Berapa biaya pengobatan adikmu?"

​Pertanyaan itu membuatnya tertegun. Ketahanannya sedikit retak. "Dua ratus juta untuk operasi pertama. Sisanya... saya belum tahu."

​"Aku akan memberikanmu dua miliar," kataku tenang.

​Bumi mematung. Matanya kini benar-benar menatapku, penuh keraguan dan kecurigaan. "Dua miliar?! Sebagai apa?! Uang tutup mulut?!"

​"Bukan itu.Tapi sebagai mahar."

​Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Suara hujan di luar seolah-olah berhenti berbunyi. Aku bisa melihat jakun Bumi naik turun saat dia menelan ludah. Wajahnya yang semula tenang kini tampak pucat.

​"Mahar?!" ulangnya dengan nada tidak percaya.

​"Aku butuh suami dalam tiga puluh hari untuk mempertahankan perusahaan ini. Kau butuh uang untuk menyelamatkan nyawa adikmu. Kita punya masalah yang solusinya saling bersilangan," jelasku seprofesional mungkin, meski jantungku sendiri berpacu seperti pelari maraton.

​Bumi terdiam lama. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, ada luka, tapi ada juga pertimbangan yang mendalam.

​"Anda ingin saya menjadi suami kontrak?" tanyanya, suaranya kini terdengar lebih dingin.

​"Anggap saja ini sebagai proyek satu tahun. Kau akan mendapatkan kompensasi bulanan, asuransi kesehatan terbaik untuk keluargamu, dan setelah satu tahun, kita bisa berpisah secara baik-baik dengan pesangon yang sangat cukup untuk masa depanmu."

​Bumi tiba-tiba berdiri. Kursinya berderit tajam di atas lantai. "Maaf, Bu Aruna. Saya memang miskin, tapi saya tidak menjual pernikahan."

​Aku terkejut. "Bumi, pikirkan adikmu—"

​"Saya memikirkannya setiap detik!" potongnya, suaranya naik satu oktav. "Tapi dalam Islam, tidak ada nikah kontrak. Menikah adalah ibadah, sebuah janji suci di depan Allah. Jika saya menikahi Anda hanya demi uang, saya tidak hanya membohongi dunia, tapi saya sedang menantang Tuhan saya. Saya tidak bisa."

​Dia berbalik, hendak melangkah pergi. Keangkuhanku sebagai CEO seketika runtuh. Aku menyadari bahwa aku baru saja melakukan kesalahan fatal dengan meremehkan prinsip seorang pria yang hidupnya didasari oleh iman, bukan sekadar angka di rekening.

​"Tunggu!" aku berdiri, suaraku sedikit memohon. "Bumi, aku tidak memintamu melakukan sesuatu yang haram. Kita akan menikah secara sah. Di depan negara, di depan agama. Aku akan belajar menjadi istri yang baik—setidaknya di depan publik. Aku... aku hanya tidak punya pilihan lain."

​Bumi berhenti di depan pintu. Punggungnya yang tegap tampak tegang. Dia berbalik perlahan, menatapku dengan mata yang kini dipenuhi rasa iba—sebuah tatapan yang paling tidak kusukai, tapi saat ini adalah yang paling jujur.

​"Anda wanita yang sangat berkuasa, Bu Aruna. Kenapa Anda memilih saya? Seseorang yang bukan siapa-siapa??"

​"Karena kau satu-satunya orang yang berani menegurku secara langsung tanpa takut kehilangan pekerjaan. Karena kau jujur. Dan karena... aku merasa kau tidak akan menusukku dari belakang saat aku sedang tidur," jawabku tulus. Untuk pertama kalinya, aku melepaskan topeng CEO-ku.

​Bumi terdiam cukup lama. Dia seolah sedang berdebat dengan jiwanya sendiri. Keheningan itu terasa menyiksa hingga akhirnya dia melangkah kembali menuju mejaku.

​"Jika saya setuju," ucapnya dengan suara parau, "pernikahan ini tidak boleh hanya di atas kertas. Saya tidak mau melakukan kemaksiatan yang dibungkus dengan status legal. Kita akan tinggal satu atap. Saya akan tetap bekerja, dan saya tidak akan menyentuh harta Anda selain untuk pengobatan adik saya."

​Aku mengangguk cepat. "Tentu. Segala kebutuhan pribadimu akan kutanggung, tapi aku menghargai prinsipmu."

​"Dan satu hal lagi," Bumi menatapku dengan intensitas yang membuat napas ku sesak. "Jangan pernah merendahkan agama saya. Saya akan menjadi suami Anda, dan itu berarti saya punya tanggung jawab untuk membimbing Anda, meski hanya selama kita bersama. Bisakah Anda menerimanya?"

​Aku tertegun. Seorang junior programmer berusia dua puluh enam tahun baru saja memberiku syarat yang lebih berat daripada Dewan Direksi. Tapi, ada rasa aman yang aneh menjalar di hatiku saat menatap keteguhan matanya.

​"Setuju," jawabku pendek.

​Bumi menghela napas, seolah beban seluruh dunia baru saja jatuh ke pundaknya. "Kapan kita akan melakukannya?"

​"Besok," kataku mantap. "Besok pagi kita ke rumah sakit untuk melunasi biaya adikmu, dan sorenya, antarkan aku menemui ibumu. Aku ingin meminta izinnya secara langsung."

​Bumi hanya mengangguk pelan, lalu berbalik dan keluar dari ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

​Aku kembali terduduk di kursiku. Tanganku dingin. Di luar, hujan mulai mereda, menyisakan aroma tanah yang basah. Aku baru saja membeli seorang suami. Atau mungkin, aku baru saja menyerahkan hidupku pada seorang pria yang belum kukenal sama sekali.

​Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Lukman.

​“Aruna, jangan lupa kirimkan undangan pernikahanmu minggu depan. Aku ingin tahu siapa pria malang yang berani masuk ke sarang singa sepertimu.”

​Aku meremas ponsel itu. Lukman pikir dia sudah menang. Dia tidak tahu bahwa aku baru saja menemukan pelindung yang bahkan tidak memerlukan pedang untuk menjatuhkannya.

​Namun, di sudut hatiku yang paling dalam, sebuah tanya muncul: Apakah Bumi Arkan adalah penyelamatku, atau justru dia adalah ujian terbesar yang dikirim Tuhan untuk meruntuhkan kesombonganku?

____________________________________________

​Saat Aruna sedang membereskan tasnya untuk pulang, Sarah masuk dengan wajah pucat pasi. "Bu... ada masalah. Lukman baru saja mengirim orang ke divisi IT. Dia sedang mencari tahu siapa 'Bumi Arkan' dan mengapa dia berada di ruangan Anda selama satu jam."

Terpopuler

Comments

𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥

𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥

𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘

2026-04-21

1

ciwizay

ciwizay

awal ceriitanya menarik sekali semoga bagus terus tiap bab nya

2026-05-08

0

Erna Lisa

Erna Lisa

👍👍👍

2026-04-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Mahar di Balik Notulensi
2 Bab 2: Antara Harga Diri dan Nyawa
3 Bab 3: Di Bawah Atap Hajah Fatimah
4 Bab 4: Akad di Ambang Kematian
5 Bab 5: Garis Lurus dan Titik Balik
6 Bab 6: Zirah yang Tertinggal di Depan Pintu
7 Bab 7: Mata Ketiga di Balik Kanvas
8 Bab 8: Air Mata di Ujung Kabel
9 Bab 9: Serpihan Kaca dan Dekap Pertama
10 Bab 10: Sirine dan Detak Terakhir
11 Bab 11: Zirah yang Tertinggal di Ambang Pintu
12 Bab 12: Debar di Ruang Tengah
13 Bab 13: Luka Lama dan Jangkar Baru
14 Bab 14: Sandiwara di Atas Luka
15 Bab 15: Ratu dan Benteng Rahasianya
16 Bab 16: Sandiwara Ganda dan Panggung Kenangan
17 Bab 17: Panggung Kemenangan dan Resleting Gaun
18 Bab 18: Ruang Kedap Suara dan Luka di Lengan
19 Bab 19: Garis Batas Bantal Guling
20 Bab 20: Rahasia di Sepertiga Malam
21 Bab 21: Bubur Hangat dan Debu Tayamum
22 Bab 22: Raja Tanpa Mahkota
23 Bab 23: Perangkap Cahaya dan Suara Sirene
24 Bab 24: Zirah Hitam dan Ratu yang Bangkit
25 Bab 25: Skakmat Sang Ratu dan Reuni di Balik Jeruji
26 Bab 26: Kertas Tak Bernyawa dan Ultimatum Resor
27 Bab 27: Sangkar Emas di Uluwatu
28 Bab 28: Tiga Puluh Menit di Atas Mawar
29 Bab 29: Mahkota di Balik Jas Hitam
30 Bab 30: Darah di Atas Mawar dan Suara dari Masa Lalu
31 Bab 31: Fajar Kehancuran dan Singa yang Tumbang
32 Bab 32: Aroma Antiseptik dan Akhir Sebuah Tugas
33 Bab 33: Pembatalan Kontrak Sepihak
34 Bab 34: Kebohongan Terbesar Sang Ksatria
35 Bab 35: Air Mata Terakhir dan Gaun Berdarah
36 Bab 36: Sujud Sang Ratu dan Air Mata Ibu
37 Bab 37: Seragam Oranye dan Air Mata Tembaga
38 Bab 38: Lelang Keadilan dan Iblis Berjas Merah
39 Bab 39: Hujan Darah di Balik Jeruji
40 Bab 40: Air Mata Tobat di Ujung Sajadah
41 Bab 41: Konferensi Pers dan Cincin yang Tertinggal
42 Bab 42: Bangun dalam Kehampaan dan Cincin di Atas Nakas
43 Bab 43: Lima Ratus Hari dan Siluet Sang Penakluk
44 Bab 44: Antara Algoritma dan Sujud
45 Bab 45: Hujan di Rumah Kaca dan Luka yang Terbuka
46 Bab 46: Runtuhnya Zirah Sang Ratu
47 Bab 47: Gerbang Baja dan Sujud Sang Ratu
48 Bab 48: Usapan Tangan Ibu dan Kabut Pegunungan
49 Bab 49: Kedinginan di Balkon dan Runtuhnya Tembok Es
50 Bab 50: Lima Ratus Surat Tak Terkirim
51 Bab 51: Menghitung Hari dan Ketukan di Pintu
52 Bab 52: Cincin yang Pulang dan Rencana Akhir Pekan
53 Bab 53: Tiga Hari yang Sibuk dan Gaun Tanpa Harga
54 Bab 54: Kata Sah dan Ciuman di Kening
55 Bab 55: Labuhan Terakhir sang Ratu
56 Bab 56: Pagi Pertama dan Kemeja Kebesaran
57 Bab 57: Sindrom Istri CEO & Suami Posesif
58 Bab 58: Kepulangan Sifa dan Manisnya Gula
59 Bab 59: Makan Malam Keluarga dan Rencana Bulan Madu
60 ​Bab 60: Stiletto di Jalan Tanah
61 Bab 61: Daster Batik dan Asap Tungku
62 Bab 62: Tatapan yang Meremehkan
63 Bab 63: Doa di Sepertiga Malam
64 Bab 64: Senyum di Balik Luka
65 Bab 65: Kembali ke Medan Perang
66 Bab 66: Klinik VVIP dan Pil Pahit
67 Bab 67: Lebam Biru dan Dinding Kaca
68 Bab 68: Perang Dingin yang Gagal
69 Bab 69: Gencatan Senjata di Ujung Jarum
70 Bab 70: Runtuh di Atas Luka
71 Bab 71: Keajaiban yang Sesungguhnya
72 Bab 72: Cuti Paksa Sang Ratu
73 Bab 73: Sang Ratu yang Terlahir Kembali
74 Bab 74: Garis Merah Muda
75 Bab 75: Protokol Keamanan Level Satu
76 Bab 76: Dasbor Kehamilan dan Nasi Goreng Gerobak
77 Bab 77: Mahkota Zamrud dan Protokol Amira
78 Bab 78: Abu Kontrak dan Sorotan Kamera
79 Bab 79: Tuan Putri dan Benteng Biometrik
80 Bab 80: Runtuhnya Logika Sang Penjaga
81 Bab 81: Epilog - Dunia Dalam Genggaman
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1: Mahar di Balik Notulensi
2
Bab 2: Antara Harga Diri dan Nyawa
3
Bab 3: Di Bawah Atap Hajah Fatimah
4
Bab 4: Akad di Ambang Kematian
5
Bab 5: Garis Lurus dan Titik Balik
6
Bab 6: Zirah yang Tertinggal di Depan Pintu
7
Bab 7: Mata Ketiga di Balik Kanvas
8
Bab 8: Air Mata di Ujung Kabel
9
Bab 9: Serpihan Kaca dan Dekap Pertama
10
Bab 10: Sirine dan Detak Terakhir
11
Bab 11: Zirah yang Tertinggal di Ambang Pintu
12
Bab 12: Debar di Ruang Tengah
13
Bab 13: Luka Lama dan Jangkar Baru
14
Bab 14: Sandiwara di Atas Luka
15
Bab 15: Ratu dan Benteng Rahasianya
16
Bab 16: Sandiwara Ganda dan Panggung Kenangan
17
Bab 17: Panggung Kemenangan dan Resleting Gaun
18
Bab 18: Ruang Kedap Suara dan Luka di Lengan
19
Bab 19: Garis Batas Bantal Guling
20
Bab 20: Rahasia di Sepertiga Malam
21
Bab 21: Bubur Hangat dan Debu Tayamum
22
Bab 22: Raja Tanpa Mahkota
23
Bab 23: Perangkap Cahaya dan Suara Sirene
24
Bab 24: Zirah Hitam dan Ratu yang Bangkit
25
Bab 25: Skakmat Sang Ratu dan Reuni di Balik Jeruji
26
Bab 26: Kertas Tak Bernyawa dan Ultimatum Resor
27
Bab 27: Sangkar Emas di Uluwatu
28
Bab 28: Tiga Puluh Menit di Atas Mawar
29
Bab 29: Mahkota di Balik Jas Hitam
30
Bab 30: Darah di Atas Mawar dan Suara dari Masa Lalu
31
Bab 31: Fajar Kehancuran dan Singa yang Tumbang
32
Bab 32: Aroma Antiseptik dan Akhir Sebuah Tugas
33
Bab 33: Pembatalan Kontrak Sepihak
34
Bab 34: Kebohongan Terbesar Sang Ksatria
35
Bab 35: Air Mata Terakhir dan Gaun Berdarah
36
Bab 36: Sujud Sang Ratu dan Air Mata Ibu
37
Bab 37: Seragam Oranye dan Air Mata Tembaga
38
Bab 38: Lelang Keadilan dan Iblis Berjas Merah
39
Bab 39: Hujan Darah di Balik Jeruji
40
Bab 40: Air Mata Tobat di Ujung Sajadah
41
Bab 41: Konferensi Pers dan Cincin yang Tertinggal
42
Bab 42: Bangun dalam Kehampaan dan Cincin di Atas Nakas
43
Bab 43: Lima Ratus Hari dan Siluet Sang Penakluk
44
Bab 44: Antara Algoritma dan Sujud
45
Bab 45: Hujan di Rumah Kaca dan Luka yang Terbuka
46
Bab 46: Runtuhnya Zirah Sang Ratu
47
Bab 47: Gerbang Baja dan Sujud Sang Ratu
48
Bab 48: Usapan Tangan Ibu dan Kabut Pegunungan
49
Bab 49: Kedinginan di Balkon dan Runtuhnya Tembok Es
50
Bab 50: Lima Ratus Surat Tak Terkirim
51
Bab 51: Menghitung Hari dan Ketukan di Pintu
52
Bab 52: Cincin yang Pulang dan Rencana Akhir Pekan
53
Bab 53: Tiga Hari yang Sibuk dan Gaun Tanpa Harga
54
Bab 54: Kata Sah dan Ciuman di Kening
55
Bab 55: Labuhan Terakhir sang Ratu
56
Bab 56: Pagi Pertama dan Kemeja Kebesaran
57
Bab 57: Sindrom Istri CEO & Suami Posesif
58
Bab 58: Kepulangan Sifa dan Manisnya Gula
59
Bab 59: Makan Malam Keluarga dan Rencana Bulan Madu
60
​Bab 60: Stiletto di Jalan Tanah
61
Bab 61: Daster Batik dan Asap Tungku
62
Bab 62: Tatapan yang Meremehkan
63
Bab 63: Doa di Sepertiga Malam
64
Bab 64: Senyum di Balik Luka
65
Bab 65: Kembali ke Medan Perang
66
Bab 66: Klinik VVIP dan Pil Pahit
67
Bab 67: Lebam Biru dan Dinding Kaca
68
Bab 68: Perang Dingin yang Gagal
69
Bab 69: Gencatan Senjata di Ujung Jarum
70
Bab 70: Runtuh di Atas Luka
71
Bab 71: Keajaiban yang Sesungguhnya
72
Bab 72: Cuti Paksa Sang Ratu
73
Bab 73: Sang Ratu yang Terlahir Kembali
74
Bab 74: Garis Merah Muda
75
Bab 75: Protokol Keamanan Level Satu
76
Bab 76: Dasbor Kehamilan dan Nasi Goreng Gerobak
77
Bab 77: Mahkota Zamrud dan Protokol Amira
78
Bab 78: Abu Kontrak dan Sorotan Kamera
79
Bab 79: Tuan Putri dan Benteng Biometrik
80
Bab 80: Runtuhnya Logika Sang Penjaga
81
Bab 81: Epilog - Dunia Dalam Genggaman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!