NovelToon NovelToon
MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DOSIS GANDA DAN DENYUT YANG TAK BERATURAN

Lorong rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Kania. Setelah menghabiskan waktu tiga jam di perpustakaan kampus untuk merevisi bab dua skripsinya yang penuh coretan tinta merah dari dosen pembimbing, Kania memutuskan untuk benar-benar menjalankan rencananya: mendatangi wilayah kekuasaan Devan.

Dengan membawa satu kantong plastik berisi martabak manis keju yang menurutnya adalah obat paling ampuh untuk manusia kaku Kania melangkah percaya diri menuju pusat informasi.

"Permisi, Sus. Dokter Devan yang paling ganteng dan paling galak itu ada di mana ya?" tanya Kania dengan cengiran lebar.

Suster di balik meja administrasi itu mengerutkan kening. "Maksud Anda dr. Devan spesialis bedah saraf? Beliau baru saja keluar dari ruang operasi, tapi biasanya dr. Devan tidak menerima tamu tanpa janji di jam kerja."

"Saya bukan tamu, Sus. Saya... masa depannya," celetuk Kania asal yang membuat suster itu melongo. "Bilang aja Kania datang bawa 'obat mujarab'."

Tanpa menunggu izin, Kania berjalan menuju ruang kerja Devan yang letaknya di ujung lorong lantai empat, area yang jauh lebih tenang dan berbau obat-obatan tajam. Ia menemukan pintu kayu berat dengan papan nama logam bertuliskan: dr. Devan, Sp.BS.

Kania mengetuk pintu itu dua kali, lalu tanpa menunggu jawaban, ia langsung menyembul masuk. "Surprise! Paket martabak datang menyelamatkan Dokter dari kelaparan!"

Di dalam ruangan, Devan sedang duduk di balik meja kerjanya. Jas putih dokternya tersampir di kursi, menyisakan kemeja biru muda yang kancing atasnya terbuka, memberikan kesan lelah namun tetap sangat berwibawa. Devan sedang menatap beberapa lembar foto hasil MRI di layar komputer besarnya. Ia tidak menoleh sedikit pun.

"Saya bilang jangan ada yang masuk sampai laporan ini selesai," suara Devan terdengar lebih rendah dan berbahaya dari biasanya.

"Galak banget sih. Ini aku, Kania," ucap Kania sambil mendekat dan menaruh martabaknya tepat di atas tumpukan dokumen medis.

Devan akhirnya mendongak. Matanya terlihat sedikit merah karena kelelahan, dan ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Ia menatap Kania, lalu menatap martabak yang berminyak itu dengan pandangan ngeri, seolah benda itu adalah limbah medis berbahaya.

"Singkirkan itu dari dokumen saya," perintah Devan.

"Makan dulu, Dok. Dokter kelihatan kayak mau pingsan. Efisiensi energi, ingat? Dokter butuh karbohidrat buat otak Dokter yang isinya cuma saraf-saraf itu," Kania menarik kursi di depan Devan dan duduk dengan santai, mengabaikan tatapan tajam sang dokter.

"Kania, ini rumah sakit. Bukan tempat bermain."

"Siapa yang main? Aku serius tahu. Aku nungguin Dokter selesai operasi dua jam lho di bawah. Nih, cobain satu," Kania mengambil sepotong martabak dengan tangannya dan menyodorkannya ke arah mulut Devan.

Devan memundurkan kepalanya, wajahnya menunjukkan penolakan total. "Saya tidak makan makanan manis berminyak seperti itu di jam kerja. Dan pakai alat makan, itu tidak higienis."

Kania mendengus. "Dok, ini keju pilihan. Ayo, sekali aja. Aaaaa..."

Entah karena terlalu lelah untuk berdebat atau karena aroma margarin yang menggoda, Devan akhirnya menyerah. Ia memegang pergelangan tangan Kania membuat jantung gadis itu mendadak melompat dan mengambil potongan martabak itu sendiri, lalu memasukkannya ke mulut.

Kania menahan napas saat jemari Devan yang panjang dan dingin itu bersentuhan dengan kulitnya. Detik itu juga, suasana ruangan yang kaku mendadak terasa... berbeda.

"Gimana? Enak kan?" tanya Kania, mencoba menutupi kegugupannya dengan suara berisik.

Devan mengunyah perlahan, lalu menelan. "Terlalu manis. Kadar glukosanya bisa memicu lonjakan insulin yang tidak perlu."

"Idih, bilang aja enak pake bahasa manusia biasa," cibir Kania. Ia kemudian memperhatikan layar komputer Devan. "Itu apa? Otak orang ya?"

"Iya. Tumor di area lobus frontal. Operasinya besok pagi," jawab Devan, entah mengapa ia jadi mau menjawab pertanyaan non-medis Kania.

"Susah ya? Dokter takut nggak?"

Devan terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Kania dengan tatapan yang sedikit lebih lembut dari biasanya. "Takut bukan kata yang tepat. Tapi tanggung jawabnya besar. Satu kesalahan kecil, dan pasien ini tidak akan pernah bangun lagi."

Kania tertegun. Ia melihat sisi lain dari Devan. Di balik keangkuhan dan sikap dinginnya, ada beban berat yang ia pikul setiap hari. Kania mendadak merasa piyama beruang dan masalah skripsinya jadi terlihat sangat kecil dibanding apa yang dihadapi Devan.

"Dokter pasti bisa. Dokter kan kaku, biasanya orang kaku itu tangannya stabil kalau pegang pisau," ucap Kania tulus.

Devan sedikit tersenyum hanya sebuah tarikan tipis di sudut bibirnya, tapi bagi Kania, itu lebih indah daripada pemandangan senja manapun. "Analogi yang aneh. Tapi terima kasih."

Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka selama beberapa saat, sampai tiba-tiba pintu ruangan terbuka tanpa ketukan.

Seorang wanita cantik dengan pakaian dokter yang sangat rapi masuk dengan terburu-buru. "Devan, soal pasien di kamar 402, aku rasa kita perlu—" Wanita itu berhenti bicara saat melihat Kania duduk di sana dengan sekotak martabak.

"Maaf, Devan. Aku nggak tahu kamu lagi ada tamu," ucap dokter wanita itu, matanya menatap Kania dengan pandangan menyelidik.

"Ini Kania," Devan menjawab pendek tanpa penjelasan lebih lanjut. "Kania, ini dr. Sarah, rekan sejawat saya."

Kania merasa ada hawa dingin yang berbeda di ruangan itu. Dr. Sarah tampak sangat serasi dengan Devan sama-sama pintar, sama-sama dokter, dan sama-sama terlihat "berkelas". Kania tiba-tiba merasa sangat asing dengan tas kanvasnya dan bau matahari yang menempel di bajunya.

"Hai, Dokter Sarah. Aku Kania... tunangan Dokter Devan," ucap Kania dengan penekanan pada kata 'tunangan', sengaja ingin melihat reaksi wanita itu.

Mata dr. Sarah membulat sesaat, lalu ia kembali tersenyum sopan. "Oh, jadi ini gadis yang dibicarakan orang tua kamu, Devan? Lebih... muda dari yang aku bayangkan."

"Aku memang muda, Dok. Masih segar, nggak kayak yang udah keseringan kena AC rumah sakit," balas Kania dengan senyum manis yang mengandung racun.

Devan berdehem, merasakan tensi yang meningkat. "Sarah, kita bahas soal pasien nanti di ruang rapat. Kania akan segera pulang."

"Iya, Devan. Aku tunggu ya," ucap Sarah sambil melirik martabak di meja dengan senyum sinis sebelum keluar.

Setelah Sarah pergi, Kania melipat tangannya di dada. "Oh, jadi itu saingan aku? Dokter juga? Pantesan Dokter dingin, temennya aja modelan begitu."

Devan berdiri, meraih jas dokternya kembali. "Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Kania. Sarah adalah dokter bedah yang kompeten. Dan kamu... sebaiknya pulang sekarang. Saya harus kembali bertugas."

"Dokter belain dia?" Kania berdiri dengan perasaan kesal yang tiba-tiba meluap.

"Saya membela profesionalitas," jawab Devan datar.

Kania mengambil tasnya dengan kasar. "Ya udah! Balik aja ke profesionalitas Dokter itu! Makan tuh martabak sendirian!"

Kania melangkah keluar dengan hentakan kaki keras, meninggalkan Devan yang terpaku menatap pintu yang tertutup. Devan melihat ke meja, di mana masih tersisa martabak yang tadi ia sebut "terlalu manis".

Ia mengambil sepotong lagi, memakannya, dan bergumam pelan, "Sangat manis. Dan sangat berisik."

Sementara itu di lorong, Kania mengusap matanya yang mendadak panas. Ia tidak tahu kenapa ia merasa sekesal itu. Apakah ini karena dr. Sarah, atau karena Devan yang tidak menahannya pergi?

Satu hal yang pasti: Diagnosa pertama Kania hari ini adalah, hatinya mulai berdenyut dengan irama yang salah setiap kali berada di dekat pria es itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!