"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Besi Tua di Tangan Sang Anak Haram
Putra Mahkota Go Si Woo tiba-tiba angkat bicara, suaranya dingin dan memotong perdebatan. "Darah keturunan Han? Maksudmu pemuda cacat sihir yang semalam baru saja menghancurkan artefak suci Jinyowon? Jika itu harapanmu, Do-Kwang, maka masa depan Niskala benar-benar dalam bahaya."
Jin Wu tersenyum penuh kemenangan mendengar dukungan tersirat dari Sang Pangeran. Ia segera mengubah taktik.
"Baiklah, jika Penyihir Do begitu keberatan soal jabatan," ucap Jin Wu sembari membungkuk pada Raja.
"Namun, demi keamanan nasional, hamba mohon izin untuk menyimpan pedang Nara secara pribadi di kediaman hamba. Dan untuk membersihkan sisa-sisa energi hitam yang terkutuk, hamba meminta izin untuk membakar jasad Nara di depan seluruh rakyat Niskala. Biarlah api itu menjadi bukti bahwa era kegelapan telah berakhir."
Raja Go Haneul terdiam sejenak, lalu mengibaskan tangannya. "Sangat masuk akal. Jin Wu, aku memberimu wewenang penuh atas pedang itu. Dan persiapkan upacara pembakaran jasad itu segera. Aku ingin rakyat melihat bahwa tidak ada tempat bagi pengkhianat, hidup maupun mati."
Jin Wu melirik ke arah Do-Kwang dengan tatapan penuh ejekan. Ia telah mendapatkan kuncinya: kendali atas simbol kekuatan Nara dan kepercayaan penuh dari Sang Raja. Di sudut aula, Master Baek hanya bisa menghela napas panjang, menyadari bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.
****
Kabar mengenai keputusan Raja menyebar secepat api di musim kering. Di kediaman keluarga Han, Do-Hyun datang dengan wajah yang dipenuhi kegelisahan, langsung menemui Han-Seol yang masih terbaring mencoba memulihkan tenaganya.
"Pedang itu... pedang milik Nara yang kau coba lindungi semalam, kini berada di tangan Jin Wu," lapor Do-Hyun dengan suara rendah.
"Raja memberikan wewenang penuh padanya. Dan kau tahu apa yang lebih buruk? Jin Wu diperintahkan untuk membawa pedang itu saat upacara pembakaran jasad Nara nanti."
"Pedang itu ada pada Jin Wu?" gumam Han-Seol. Matanya yang semula redup mendadak berkilat tajam. Ia tahu jika pedang itu tetap di sana, Nara tidak akan pernah bisa mendapatkan kembali kekuatannya.
"Benar, Seol. Aku baru saja menerima kabar ini dari Paman Do-Kwang sendiri. Atmosfer di istana benar-benar buruk," lanjut Do-Hyun cemas.
"Terima kasih atas informasinya, Hyun. Kau memang sahabatku yang paling berguna," Han-Seol menyeringai tipis.
Do-Hyun mengerutkan dahi, merasa ngeri melihat ekspresi sahabatnya. "Seol, kau kenapa tersenyum seperti itu? Apa punggungmu masih sakit hingga sarafmu terganggu?"
"Sekarang tidak lagi. Rasa sakit ini baru saja menjadi bahan bakar yang bagus," jawab Han-Seol sembari bangkit berdiri dengan perlahan.
"Tapi kenapa firasatku tidak enak begini? Ah sudahlah, aku harus kembali ke Cheon-gi Won. Ini obatmu, ramuan dari Master Baek Si-On. Jangan lupa diminum! Aku pergi, Seol!"
Konfrontasi di Myeong Gyeong Gak
Setelah Do-Hyun pergi, dengan keberanian yang nekat dan tubuh yang masih terbebat kain kasa, Han-Seol melangkah menuju kediaman Jin Wu, Myeong Gyeong Gak. Ia berdiri di depan Jin Wu yang sedang menyesap teh dengan wajah penuh kemenangan.
"Tuan Muda Han-Seol," Jin Wu menyapa tanpa beranjak dari kursinya. Suaranya sarat dengan nada meremehkan.
"Apa yang membawa putra pimpinan Cheon-gi Won yang 'cacat' ini ke kediamanku? Apakah hukuman cambuk semalam belum cukup membuatmu jera?"
Han-Seol menarik napas panjang, menahan rasa panas yang menjalar di punggungnya. "Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi urusan keluarga Han. Pedang penyihir hitam itu ditemukan di wilayah kami. Menurut tradisi Niskala, artefak berbahaya harus dijaga oleh keluarga pimpinan penyihir agar energinya tetap tertekan."
Jin Wu tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat menghina hingga menggema di langit-langit ruangan. Ia mengambil pedang perak milik Nara yang tergeletak di atas meja dan melemparkannya begitu saja ke lantai, tepat di depan kaki Han-Seol.
BRAKK!
"Kau ingin menjaga benda ini?" tanya Jin Wu sembari mencondongkan tubuh, matanya menatap Han-Seol dengan tatapan predator.
"Han-Seol, kau bahkan tidak bisa merasakan aliran energi paling dasar sekalipun. Bagimu, pedang legendaris ini hanyalah sepotong besi tua yang berat. Kau tidak memiliki sihir untuk mencabutnya, apalagi mengendalikannya."
Han-Seol terdiam, menatap pedang perak yang tampak kusam itu di atas lantai.
"Baiklah, ambillah," ucap Jin Wu sembari melambaikan tangan dengan malas, seolah sedang membuang sampah yang bau.
"Bawalah mainan itu bersamamu. Aku tidak keberatan menyerahkannya pada orang tidak berguna sepertimu. Setidaknya, jika pedang itu hilang lagi, aku punya alasan bagus untuk menghancurkan nama keluargamu selamanya di depan Raja."
Han-Seol membungkuk singkat, menyembunyikan senyum dingin yang muncul di sudut bibirnya. Ia memungut pedang itu. Tangannya gemetar—bukan karena takut, melainkan karena beratnya sejarah dan kekuatan yang tertidur di dalam pedang tersebut.
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Tuan Jin Wu," ucap Han-Seol tegas. "Hamba akan memastikan pedang ini berada di tempat yang semestinya."
Jin Wu kembali menyesap tehnya, tertawa kecil melihat Han-Seol berjalan pergi dengan langkah yang sedikit tertatih. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan kunci kekuatan terbesar Nara kepada satu-satunya orang yang tahu cara menggunakannya.
****
Sore itu, Rumah Mawar yang biasanya dipenuhi tawa dan petikan kecapi berubah menjadi senyap yang mencekam. Di halaman depan, debu beterbangan saat beberapa pengawal berseragam gelap—pasukan elit Myeong Gyeong Gak milik Jin Wu—menyeret seorang wanita keluar dengan kasar.
Seol-Ah, yang baru saja hendak menyelinap keluar, segera bersembunyi di balik tirai bambu yang tebal. Jantungnya berdegup kencang saat ia mengintip melalui celah sempit.
"Ampun, Tuan! Aku hanya menemukannya tergeletak di lantai dapur!" teriak wanita itu sembari terisak, tubuhnya gemetar di bawah cengkeraman tangan besi para pengawal.
"Bohong!" bentak salah satu pengawal sembari mengacungkan Lencana Perak Cheon-gi Won.
"Lencana ini milik bangsawan tinggi. Katakan, dari mana kau mendapatkannya? Apakah kau kaki tangan penyihir hitam yang menyusup semalam?!"
PLAK!
Tamparan keras melayang hingga wanita itu tersungkur ke tanah.
Seol-Ah mengepalkan tangannya di balik kain jubah. Ia mengenali lencana itu—itu adalah lencana yang ia "pinjam" dari Han-Seol dan sempat ia jatuhkan saat membersihkan salah satu ruangan di rumah mawar semalam. Ternyata, pelayan malang itu menemukannya.
"Cepat jawab! Atau kau ingin aku mencabut lidahmu di sini?" ancam pengawal itu lagi sembari menghunus pedangnya sedikit, membiarkan logam tajam itu menyentuh leher sang wanita.
Seol-Ah tertegun. Ia sempat terpikir untuk keluar, mengaku bahwa lencana itu miliknya, dan meminta perlindungan pada Jin Wu—pria yang dalam ingatan raga Nara dianggap sebagai sosok pelindung. Namun, bisikan para pengawal itu membekukan darahnya.
"Tuan Jin Wu sudah memberi perintah tegas," bisik salah satu pengawal pada rekannya, namun suaranya tertangkap oleh indra tajam Nara.
"Siapa pun yang membawa jejak dari Cheon-gi Won atau berkaitan dengan jasad Nara harus segera dilenyapkan. Tuan Jin Wu tidak ingin ada saksi hidup yang bisa mengaitkan beliau dengan kekacauan semalam sebelum upacara pembakaran besok."
BUGGH!
Pengawal yang bernama Kwon Mu-Bin itu memukul tengkuk pelayan wanita tersebut hingga pingsan. Dengan sigap, ia mengangkat tubuh wanita itu seperti karung beras, lalu memberi isyarat kepada pasukan Myeong Gyeong Gak lainnya untuk pergi.
Seol-Ah menarik napas tertahan, mundur semakin dalam ke bayang-bayang koridor yang gelap.
‘Jadi begitu...’ batin Nara dengan getir.
‘Jin Wu bukan hanya mengincar jasadku. Dia ingin menghapus setiap jejak, setiap nyawa yang pernah bersentuhan denganku. Dia adalah iblis yang mengenakan topeng pahlawan.’