Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Ombak yang Memisahkan
Nana tidak pernah membayangkan bahwa berenang sekencang mungkin sambil membawa manusia setengah mati dalam gelembung udara bisa terasa seperti neraka.
Setiap otot di tubuhnya — tubuh Siren yang masih asing baginya — terasa terbakar. Ekornya yang panjang terus bergerak naik turun, mendorong air ke belakang, membawanya maju dengan kecepatan yang tidak pernah ia bayangkan bisa ia capai. Tapi tetap saja, terasa lambat. Terlalu lambat.
Di dalam gelembung udara di sampingnya, Mira terbaring lemas. Matanya terpejam. Dadanya naik turun tipis — masih hidup, tapi hampir tidak.
"Ibu," bisik Nana di sela-sela napasnya yang tersengal. "Ibu, jangan tidur. Sebentar lagi sampai. Sebentar lagi—"
Sebuah suara letupan keras terdengar dari belakang mereka.
Nana menoleh.
Jaraknya sudah cukup jauh — mungkin setengah jam berenang dari Aequoria. Tapi ia masih bisa melihat cahaya merah menyala di kejauhan, menerangi dasar laut seperti matahari yang mati.
Jeno.
Nana hampir berbalik. Hampir.
Tapi kemudian Mira terbatuk di dalam gelembung, dan Nana teringat pada satu hal yang Jeno katakan sebelum ia pergi:
"Bawa Mira keluar. Aku akan menyusul."
Bukan "aku akan mati di sini". Bukan "selamat tinggal". Tapi "aku akan menyusul".
Jeno berjanji.
Dan Nana memilih untuk percaya.
Garis pantai desa nelayan itu muncul di kejauhan seperti mimpi yang hampir terlupakan.
Nana belum pernah sebahagia ini melihat dermaga kayu reyot dan rumah-rumah panggung yang berdiri tidak rata di atas pasir. Dunia daratan yang dulu terasa sempit dan menyesakkan, kini terasa seperti surga — karena di sanalah Mira bisa selamat.
Nana mendorong gelembung udara ke perairan dangkal, lalu dengan susah payah menyeret tubuh Mira ke atas pasir basah. Begitu tubuh Mira menyentuh daratan, gelembung udara itu pecah.
"Bu," Nana memanggil, tangannya gemetar membelai pipi Mira yang dingin dan pucat. "Bu, buka mata. Kami sudah sampai. Kau aman sekarang."
Mira tidak bergerak.
Nana menggigit bibirnya sampai hampir berdarah. Ia menempelkan telinganya ke dada Mira.
Thump.
Thump.
Thump.
Masih ada. Lemah, tapi ada.
Nana menghela napas panjang — dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Aequoria, ia menangis. Bukan menangis histeris. Tapi air mata yang jatuh pelan, satu per satu, jatuh ke pasir basah dan langsung diserap oleh bumi.
"Selamat datang di rumah, Bu," bisiknya.
Nana tidak punya banyak waktu.
Ia meninggalkan Mira di rumah dermaga — rumah yang sama yang dulu mereka tinggali, sekarang berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba. Nana membersihkan tempat tidur seadanya, membaringkan Mira dengan selimut tipis, lalu meninggalkan persediaan air tawar dan ikan mentah yang ia tangkap sendiri di dekat pantai.
Sebelum pergi, ia menulis pesan di dinding kayu dengan arang:
"Bu, aku pergi menjemput seseorang. Aku akan kembali. Jangan pergi ke mana-mana. — Nana"
Lalu ia berbalik dan berjalan ke laut.
Begitu air mencapai pinggangnya, transformasi terjadi lagi — lebih cepat kali ini, hampir alami. Kakinya menyatu, sisik biru kehitaman tumbuh, dan Nana menyelam ke dalam air dengan satu tujuan di kepalanya:
Kembali ke Aequoria. Menemukan Jeno. Membawanya pulang.
Perjalanan kembali ke Aequoria terasa lebih gelap dari sebelumnya.
Bukan karena matahari di atas laut sudah terbenam — jam biologis Nana sebagai Siren masih kacau. Tapi karena airnya sendiri terasa berbeda. Lebih berat. Lebih dingin. Dan di beberapa tempat, Nana melihat bekas pertempuran: serpihan sisik hitam mengambang di air, darah biru keperakan yang belum sempat larut, dan di sela-sela karang, sesekali Nana melihat sesosok tubuh Siren Hitam yang tak bergerak.
Mati atau pingsan, Nana tidak tahu. Ia tidak berhenti untuk memeriksa.
Yang penting Jeno.
Aequoria, ketika Nana tiba, sudah tidak lagi seperti yang ia tinggalkan.
Kota mati itu kini benar-benar hancur.
Reruntuhan istana bagian timur — tempat latihan mereka — rata dengan tanah. Jalan-jalan pasir putih tertutup oleh puing-puing karang dan mayat-mayat Siren Hitam. Kubah mutiara besar yang dulu menjadi pusat kota kini roboh, menyisakan kerangka cangkang raksasa yang retak dan gelap.
Dan di tengah-tengah semua kehancuran itu, Nana tidak melihat siapa pun.
Tidak Aramis.
Tidak pasukan Siren Hitam.
Tidak Jeno.
"Jeno!" teriak Nana. Suaranya menggema di antara puing-puing, tidak ada yang menjawab. "JENO!"
Dia berenang dari satu reruntuhan ke reruntuhan lain, membalikkan batu karang, memeriksa di balik setiap tirai rumput laut. Tidak ada. Tidak ada. TIDAK ADA.
Jantung Aequoria di dadanya berdenyut sakit — bukan memberi tahu, tapi meratap.
Dan kemudian Nana melihatnya.
Di balik reruntuhan istana utama — tempat dulu singgasana ibunya berada — ada sebuah lorong yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Lorong itu gelap, sempit, dan dari dalamnya keluar bau darah. Bau yang menyengat, memenuhi air, membuat Nana hampir muntah.
Bukan darah manusia. Tapi darah Siren.
Darah biru keperakan.
Nana menarik napas dalam-dalam — lalu berenang masuk ke dalam lorong itu.
Lorong itu semakin dalam dan semakin lebar, sampai akhirnya Nana sampai di sebuah ruangan bawah tanah yang tersembunyi di bawah istana. Ruangan itu cukup besar untuk menampung seratus Siren. Dindingnya terbuat dari batu karang hitam yang mengkilap, dan di langit-langitnya, ribuan kristal kecil berpendar dengan cahaya merah — sihir Aramis.
Dan di tengah ruangan itu...
Jeno.
Ia tergantung di dinding — bukan tergantung seperti digantung, tapi terpaku. Tangan dan kakinya diikat oleh semacam tali dari energi hitam yang melingkar erat di pergelangan tangannya dan ekornya. Tubuhnya penuh luka. Sisik biru gelapnya terkelupas di sana-sini, memperlihatkan daging di bawahnya yang berwarna biru pucat. Darah — darah biru keperakan — menetes dari ujung ekornya, membentuk genangan kecil di lantai.
Matanya terpejam.
"Jeno!" Nana berenang sekencang mungkin ke arahnya. "JENO!"
Ia meraih wajah Jeno dengan kedua tangannya — dingin, terlalu dingin, bahkan untuk Siren. Tapi dada Jeno masih bergerak naik turun.
Masih hidup.
"Jeno, buka mata," bisik Nana, suaranya gemetar. "Aku kembali. Seperti yang kau janjikan. Aku kembali. Sekarang giliran kau yang harus—"
"Jangan sentuh dia."
Suara itu datang dari belakang Nana. Dingin. Manis. Mematikan.
Nana berbalik.
Di ambang pintu ruangan, Ratu Aramis berdiri dengan anggun — tidak terluka sedikit pun. Rambut merah darahnya masih tergerai sempurna. Mahkota mutiaranya masih bersinar di kepalanya. Satu-satunya perubahan adalah matanya: kini merah menyala, terang, lapar.
"Kau kembali lebih cepat dari dugaan, keponakanku," kata Aramis sambil melangkah masuk. Di belakangnya, tidak ada pasukan. Hanya dia sendiri. "Aku pikir kau akan bersembunyi di daratan setidaknya seminggu. Tapi kau langsung kembali. Untuk dia."
Aramis menunjuk ke arah Jeno dengan jarinya yang runcing.
"Jeno," ulangnya, hampir seperti sedang mencicipi nama itu di lidahnya. "Penjaga kerajaan. Putra jenderal pembunuh ibumu. Dan kekasihmu, rupanya."
Nana berdiri di depan Jeno, menghadang Aramis. Tangannya mengepal. "Lepaskan dia."
"Lepaskan? Tentu." Aramis tersenyum. "Ada syaratnya."
"Syarat apa?"
Aramis berjalan perlahan mengelilingi ruangan, jari-jarinya menyentuh dinding karang hitam yang berdenyut dengan sihir merah. "Jantung Aequoria yang ada di dadamu. Itu sebenarnya milikku. Ibumu mencurinya dari ayahku — ya, aku bukan saudara kandung Ruenna. Aku saudara tiri. Tapi Jantung Aequoria memilih pewaris berdasarkan darah murni, bukan darah campuran seperti aku."
Ia berhenti tepat di depan Nana.
"Maka aku tidak bisa mengambilnya paksa. Batu itu akan hancur jika aku sentuh." Aramis menyipitkan matanya. "Tapi kau bisa memberikannya padaku. Sukarela. Jika kau melakukannya..."
Ia menggeser pandangannya ke Jeno.
"...aku lepaskan dia. Hidup-hidup. Bahkan aku akan beri kau waktu lima menit untuk kabur sebelum aku mengirim pasukanku mengejar."
Nana terdiam.
Jantung Aequoria di dadanya berdenyut — keras, seolah memperingatkan: JANGAN.
"Jangan... dengar... dia..."
Suara itu lemah, parau, hampir tidak terdengar. Tapi Nana mengenalnya.
Jeno.
Pemuda itu membuka matanya. Biru pucat — pudar, hampir abu-abu — tapi masih ada. Masih hidup.
"Jangan... berikan... apapun... padanya," bisik Jeno, setiap kata terasa seperti menyiksa dirinya sendiri. "Aku... rela mati..."
"Kau tidak akan mati," potong Nana. Suaranya tegas. "Karena aku tidak akan mengizinkannya."
Ia menatap Aramis lurus-lurus.
"Apa jaminannya? Bahwa kau benar-benar akan melepaskannya?"
Aramis mengangkat bahu. "Tidak ada. Tapi apakah kau punya pilihan lain?"
Nana menggigit bibirnya. Ia melihat ke Jeno — ke tubuhnya yang berlumuran darah, ke matanya yang mulai terpejam lagi karena kelelahan. Ia melihat ke Aramis — ke senyumnya yang yakin, ke matanya yang tahu bahwa ia sudah menang.
Dan di dalam dadanya, Jantung Aequoria berdenyut dengan sebuah ide.
Bukan ide untuk menyerah.
Tapi ide untuk menipu.
"Baik," kata Nana. "Aku akan memberikannya."
"TIDAK—" teriak Jeno sekuat tenaga, tapi suaranya hanya keluar sebagai bisikan parau.
Aramis tersenyum lebar. "Keputusan yang bijak, keponakanku."
Dia mengulurkan tangannya.
Nana mendekat. Perlahan. Setiap gerakan terasa seperti berjalan di atas pisau.
Begitu jarak mereka hanya satu lengan, Nana berhenti.
"Tapi," katanya. "Ada satu hal yang harus kau tahu."
Aramis mengernyit. "Apa?"
Nana tersenyum.
Senyum yang tidak pernah Aramis lihat sebelumnya. Bukan senyum takut. Bukan senyum pasrah. Tapi senyum seseorang yang baru saja menemukan kekuatannya.
"Ibuku tidak pernah mencuri Jantung Aequoria dari ayahmu," kata Nana. "Karena Jantung Aequoria memilih ibuku. Bukan karena darah. Tapi karena hati."
Dan tanpa peringatan, Nana bernyanyi.
Bukan lagu patah.
Bukan lagu perang.
Tapi lagu yang belum pernah ada sebelumnya.
Lagu yang lahir dari campuran amarah, cinta, ketakutan, dan tekad. Lagu yang tidak diajarkan oleh siapa pun. Lagu yang Nana ciptakan sendiri di detik itu juga.
Dan efeknya? Tidak seperti yang lain.
Aramis berteriak.
Tangannya — yang tadinya terulang untuk mengambil Jantung Aequoria — kini memegangi kepalanya sendiri, seolah-olah ada sesuatu di dalam otaknya yang berusaha keluar. Rambut merah darahnya berubah kusut. Mahkotanya jatuh. Dan matanya — matanya yang merah menyala — berkedip-kedip seperti lampu yang kehabisan daya.
"APA—APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Aramis.
Nana terus bernyanyi. Lebih keras. Lebih jernih. Lebih murni.
Dan di dalam nyanyiannya, Nana merasakan sesuatu: koneksi.
Ia bisa merasakan semua Siren Hitam di Aequoria — ratusan dari mereka — yang tiba-tiba berhenti bergerak, berhenti bernapas, berhenti mematuhi Aramis. Lagu Nana tidak membunuh mereka. Tapi lagu Nana membangunkan sesuatu di dalam diri mereka yang sudah lama tidur.
Ingatan. Tentang siapa mereka dulu. Sebelum Aramis merebus otak mereka dengan sihir hitam.
"S—sialan..." Aramis tersungkur di lantai. Tubuhnya bergetar. "Apa—apa kau ini...?"
Nana berhenti bernyanyi.
Udara di ruangan itu terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih bersih.
"Aku," kata Nana pelan, "adalah Nanara Ciel Aequoria. Putri Ratu Ruenna. Pewaris takhta kerajaan Siren. Dan mulai hari ini..."
Ia menatap Aramis lurus ke mata.
"...aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milik ibuku."
Aramis tertawa — tapi tawanya patah, putus-putus, seperti orang yang kehilangan kendali.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku hanya dengan satu lagu? Aku sudah berkuasa sepuluh tahun! Aku punya pasukan—"
"Pasukanmu," potong Nana, "sedang bangun."
Dari luar ruangan, terdengar suara-suara. Bukan suara pertempuran. Tapi suara kebingungan. Suara Siren Hitam yang saling bertanya: "Di mana aku?" "Apa yang terjadi?" "Mengapa aku di sini?"
Aramis memucat — semampunya sebagai Siren.
"Tidak mungkin..."
"Mungkin," kata Nana.
Ia berjalan melewati Aramis yang terhuyung, menuju ke Jeno yang masih terpaku di dinding. Dengan tangan yang gemetar — bukan karena takut, tapi karena lelah — Nana menyentuh tali energi hitam yang mengikat pergelangan tangan Jeno.
Dan tali itu putus.
Bukan karena kekuatan fisik Nana. Tapi karena Jantung Aequoria — yang kini bersinar terang di dadanya — memancarkan cahaya biru yang menolak sihir hitam Aramis.
Satu per satu, tali-tali itu putus. Pergelangan tangan Jeno bebas. Lalu pergelangan kaki. Lalu ekornya.
Jeno jatuh ke depan — dan Nana menangkapnya.
Pemuda itu tergeletak di pangkuan Nana, tubuhnya gemetar, darah biru masih menetes dari luka-lukanya. Tapi matanya — matanya yang biru pucat — terbuka lebar.
"Kau... menyelamatkanku," bisik Jeno. Suaranya penuh dengan rasa tidak percaya.
"Aku bilang aku akan kembali," jawab Nana. "Dan aku tidak pernah berbohong."
Di belakang mereka, Aramis mencoba bangun. Tapi kakinya tidak bisa menopang. Sihir hitamnya — yang selama sepuluh tahun menjadi sumber kekuatannya — mulai membalik menyerangnya sendiri.
"Ini... belum selesai," bisik Aramis. Matanya merah menyala untuk terakhir kalinya. "Suatu hari... aku akan kembali... dan kau... kau akan menyesal... tidak membunuhku ketika kau bisa..."
Tapi Nana tidak mendengarkan.
Ia sibuk membalut luka Jeno dengan potongan kain dari bajunya sendiri. Sibuk membisikkan kata-kata manis di telinga Jeno. Sibuk hidup.
Dan ketika Aramis akhirnya menghilang — teleportasi dengan sisa-sisa terakhir sihir hitamnya — Nana tidak mengejar.
"Kenapa kau biarkan dia pergi?" tanya Jeno lemah.
Nana menatap ke arah pintu ruangan yang kosong.
"Karena," katanya, "aku bukan dia. Aku tidak membunuh musuh yang sudah kalah. Aku akan merebut takhtaku dengan cara yang benar. Bukan dengan pembunuhan dan kutukan."
Ia menunduk, mengecup dahi Jeno dengan lembut.
"Sekarang istirahatlah. Kita masih punya kerajaan untuk dibangun kembali."
Jeno tersenyum — senyum kecil yang membuat mata biru pucatnya berbinar meski seluruh tubuhnya terasa hancur.
"Ya, Putriku."
Tiga hari kemudian, Nana berdiri di atas reruntuhan istana Aequoria — tempat yang sama di mana ia dan Jeno duduk berpelukan sebelum serangan Aramis.
Tapi kini, reruntuhan itu tidak lagi sunyi.
Di bawah, di jalan-jalan pasir putih yang mulai dibersihkan, puluhan Siren — mantan Siren Hitam yang ingatannya telah Nana pulihkan — bekerja bersama. Ada yang membangun kembali rumah-rumah karang. Ada yang mengumpulkan puing-puing. Ada yang menangis pelukan satu sama lain, setelah sepuluh tahun tidak sadar bahwa mereka dikendalikan.
Mereka semua sesekali menengadah ke arah Nana.
Bukan dengan rasa takut.
Tapi dengan harapan.
Di samping Nana, Jeno berdiri — masih dengan perban di lengan dan dadanya, masih dengan pincang samar di ekornya, tapi hidup.
"Kau tahu," kata Jeno, "sepuluh tahun lalu, aku berdiri di tempat ini bersama ibumu. Ratu Ruenna. Dia berkata, 'Suatu hari, anakku akan kembali, dan dia akan membawa fajar baru bagi Aequoria.'"
Nana menoleh. "Apa kau percaya dia waktu itu?"
Jeno tersenyum. "Aku percaya padamu. Bahkan sebelum aku mengenalmu."
Nana tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya meraih tangan Jeno — tangan yang dingin, tapi terasa seperti rumah — dan menggenggamnya erat.
Di bawah mereka, Aequoria mulai bernyanyi.
Bukan lagu perang. Bukan lagu patah.
Tapi lagu kebangkitan.
Dan di dalam nyanyian itu, Nana merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Rumah.