Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kutukan Mantan
“Deg!”
Jantung Samuel seolah berhenti berdetak saat mendengar ucapan Diana. Ia tidak mungkin bertanggung jawab kepada wanita itu. Satu minggu lagi, ia akan menikah dengan pilihan orang tuanya.
Otaknya berputar cepat, mencari jalan keluar dari situasi buntu ini.
“Kenapa kamu diam, hah? Apa kamu mau membantah kalau janin yang ada di rahimku ini bukan anakmu? Kamu pasti tahu, kan? Siapa yang merenggut kesucianku dengan licik, penuh tipu muslihat, dan janji palsu kalau bukan kamu, Tuan Muda Samuel Dirgantara yang terhormat!”
Diana tahu Samuel tidak akan melawan orang tuanya demi menikahinya. Namun, pria itu telah mengambil kesuciannya dengan licik dan membuatnya hamil. Ia hanya ingin Samuel bertanggung jawab. Ia tidak ingin anaknya tumbuh tanpa seorang ayah.
“Kamu bisa menikahiku secara siri. Setelah anak ini lahir, ceraikan aku. Kamu bisa melanjutkan kehidupan barumu,” ucap Diana dengan nada memohon. Hanya itu satu-satunya ide yang terlintas di pikirannya.
Samuel masih terdiam di depan pintu, memikirkan jalan keluar dari masalah ini.
Diana terduduk di lantai dengan air mata yang terus mengalir. Bagaimana jika Samuel benar-benar tidak ingin bertanggung jawab? Ia sangat menyesal telah menjalin hubungan tanpa restu orang tua. Terlebih lagi, ia hanyalah seorang pegawai dari ibu Samuel. Mama Samuel pasti tidak akan pernah merestui anaknya menikah dengan pegawai seperti dirinya.
Samuel menatap Diana sekilas, lalu merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
“Halo, lo di mana?” tanya Samuel pada seseorang di balik telepon.
“...”
“Kirim alamat sepupu lo.”
“...”
“Jangan banyak tanya, brengsek! Kirim cepat.”
Tut!
Panggilan berakhir.
Samuel menghampiri Diana. Tanpa basa-basi, ia menarik tangan wanita itu agar ikut bersamanya.
Diana terkejut dengan perlakuan Samuel.
“Lepas! Kamu mau bawa aku ke mana, hah?”
Samuel memaksanya masuk ke dalam mobil.
“Tidak usah banyak tanya. Diam dan ikuti keputusanku!”
Dengan kasar Samuel mendorong Diana masuk ke mobilnya. Setelah Diana berada di dalam, Samuel menutup pintu dengan keras lalu masuk ke kursi kemudi.
“Kamu mau bawa aku ke mana, hah? Kontrakanku tidak dikunci,” ucap Diana panik. Ia khawatir jika ada yang mengambil barang-barangnya atau pemilik kontrakan marah padanya.
“Emang kamu punya barang berharga apa, hah? Di dalam kontrakan itu tidak ada apa-apa,” balas Samuel dingin. “Kalau pun ada yang mencuri, pencuri itu pasti apes.”
“Aku memang tidak punya barang berharga. Bahkan, hal paling berharga yang aku miliki dalam diriku sudah hilang... dan kamu pencurinya, sialan!” teriak Diana.
Samuel tidak menyahut. Ia fokus menyetir dengan kecepatan tinggi hingga Diana harus memegang sabuk pengaman erat-erat. Namun, Samuel tidak peduli. Ia hanya fokus mengemudi sambil sesekali melirik ponselnya.
Beberapa saat kemudian, Samuel menghentikan mobil di depan sebuah rumah besar bergaya Belanda kuno.
Samuel menatap bangunan itu, lalu kembali membuka ponselnya.
Sementara itu, perasaan Diana semakin gelisah. Ia berharap Samuel akhirnya memilih bertanggung jawab.
“Turun,” perintah Samuel.
Diana menggeleng.
“Aku nggak mau sampai kamu jelasin maksud semua ini.”
Samuel mengepalkan tangan. Ia menatap tajam Diana sebelum turun dari mobil.
Ia membuka pintu mobil dan menarik paksa Diana keluar.
“Keluar!” bentaknya.
Diana akhirnya menurut. Ia menatap rumah bergaya Belanda kuno itu dan beberapa pasangan yang berlalu-lalang di sekitarnya. Seketika muncul harapan di benaknya.
Apa ini tempat menikah siri? Apa Samuel akhirnya mau bertanggung jawab?
Samuel masuk ke sebuah ruangan dan menyuruh Diana menunggu di luar.
Di dalam ruangan itu, Samuel berbicara dengan seorang pria dan wanita. Setelah mendengar maksud kedatangannya, keduanya mengangguk paham.
Di luar ruangan, tubuh Diana gemetar ketika mendengar percakapan dari dekat ruangan itu.
Tempat ini adalah tempat aborsi ilegal.
Ia tidak percaya Samuel bisa sekejam itu pada darah dagingnya sendiri.
Tak lama kemudian, Samuel keluar dari ruangan dan menghampiri Diana.
“Ayo masuk.”
Diana menggeleng cepat.
“Nggak! Aku nggak mau menggugurkan anak ini!” bantahnya. “Aku nggak nyangka sama kamu. Tega kamu membunuh darah daging kamu sendiri.”
“Tidak usah banyak omong, Diana. Masuk!”
Samuel menarik paksa pergelangan tangan Diana dengan kasar dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Mereka masuk ke ruangan itu.
Diana diminta berbaring di brankar, sementara seorang wanita bersiap memasangkan infus padanya.
Tubuh Diana gemetar hebat. Otaknya terus berpikir mencari celah agar bisa lolos, sambil tak henti berdoa dalam hati.
Tiba-tiba Samuel teringat sesuatu.
“Aku harus ke mobil.”
Setelah mengatakan itu, Samuel keluar dari ruangan.
Begitu Samuel pergi, Diana langsung menatap dua orang di ruangan tersebut.
“Aku tahu kalian berprofesi sebagai dokter di RS kota Westoria. Kalau kalian mengabulkan perintah pria tadi, aku akan melaporkan kalian.”
Kedua dokter itu terkejut mendengar ucapan Diana. Mereka saling berpandangan. Profesi mereka dipertaruhkan. Di sisi lain, mereka juga sedang berhadapan dengan pewaris Dirgantara Group.
“Maaf, Nona. Kami tidak bisa membantumu. Tuan Samuel akan menghancurkan kami jika kami menolak perintahnya,” ujar dokter pria bernama Rangga.
“Aku mohon, Dok... bantu aku sekali ini. Aku tidak ingin membunuh anak yang tidak berdosa ini,” ucap Diana memohon dengan air mata bercucuran.
Dokter Rangga dan Dokter Rani saling berpandangan, merasa iba padanya.
“Baiklah, kami akan membantumu. Dengan syarat kamu harus mengikuti perintah kami.”
Diana langsung mengangguk.
“Aku akan melakukan apa pun, tapi tolong selamatkan janinku.”
“Bersikaplah seolah kamu kesakitan agar Tuan Samuel percaya,” bisik Dokter Rani.
Ia juga menjelaskan beberapa hal agar Diana mengerti.
Dokter Rangga mengambil kantong darah lalu berdiri di samping Diana. Ia membuka kantong darah itu lalu menumpahkannya ke pakaian Diana.
Dokter Rani juga memasangkan pembalut yang telah diberi darah agar terlihat seperti Diana baru saja menjalani kuret.
“Aktingmu menentukan nasibmu,” bisik Dokter Rani.
Diana mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, Samuel kembali masuk ke ruangan.
“Bagaimana?”
“Sudah beres, Tuan,” jawab Dokter Rangga.
“Prosedurnya sudah selesai, Tuan,” sambung Dokter Rani.
Samuel tersenyum puas.
“Bagus.”
Ia memberikan amplop cokelat yang cukup tebal kepada mereka.
“Ini untuk kalian berdua.”
“Terima kasih, Tuan.”
Dokter Rangga menerima amplop tersebut.
Di atas brankar, Diana berpura-pura lemas. Air matanya terus mengalir.
“Apa dia bisa jalan?” tanya Samuel.
“Berjalan mungkin belum bisa, Tuan. Kondisinya masih lemah setelah prosedur tadi.”
“Sebaiknya menggunakan kursi roda,” tambah Dokter Rani.
“Baiklah. Bawakan kursi roda.”
Tubuh Diana dipindahkan dari brankar ke kursi roda, lalu ia didorong keluar ruangan. Wajahnya hanya menunjukkan tatapan datar.
Samuel merasa sangat puas.
Semua masalahnya telah selesai.
Selama perjalanan pulang, hanya ada keheningan. Baik Diana maupun Samuel sama-sama tidak berbicara.
Beberapa saat kemudian, mobil Samuel berhenti di depan kontrakan Diana.
Diana langsung membuka pintu mobil sambil berpura-pura meringis kesakitan. Samuel yang melihat itu akhirnya membantu memapahnya masuk ke dalam kontrakan.
Diana membiarkan Samuel membantunya hingga ia duduk di sofa.
Samuel mengeluarkan sebuah cek dari sakunya.
“Ini ada cek satu miliar. Anggap saja sebagai tanggung jawabku.”
Diana menerima cek itu, tetapi tanpa membacanya, ia langsung merobeknya.
Srak! Srak!
Potongan cek itu dilemparkan ke wajah Samuel.
“Aku nggak perlu uang ini, brengsek! Terlalu murah kamu menghargai keperawananku!” teriak Diana. “Kamu sudah membunuh benih kamu sendiri! Kamu memang brengsek, Samuel!”
“Dan kamu perlu ingat, Tuan Muda Samuel... Tuhan tidak pernah tidur. Hari ini mungkin kamu bahagia karena berhasil melenyapkan darah dagingmu sendiri.”
Diana berhenti sejenak. Napasnya memburu saat menatap Samuel penuh kebencian.
“Aku bersumpah... kamu tidak akan pernah mendapatkan keturunan!”
Samuel hanya menatap Diana dengan datar, seolah ucapan itu tak akan pernah didengar Tuhan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan meninggalkan Diana.
Setelah kepergian Samuel, Diana menangis meraung-raung.
Ia menyesal telah terbuai rayuan dan cinta anak bosnya sendiri hingga hidupnya berakhir seperti ini.
“Kamu harus kuat, Diana. Jangan menangisi nasibmu terus. Kamu harus kuat demi anakmu.”
Ia berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Tangannya menyentuh perutnya yang masih rata.
“Sehat-sehat ya, Nak. Bunda akan melakukan yang terbaik untukmu. Meskipun papamu membuang kita, kita pasti bisa bahagia.”
Tatapannya beralih ke kontrakan itu. Kenangan bersama Samuel kembali berputar di kepalanya hingga ia menggeleng cepat.
“Tidak! Aku tidak perlu mengingat laki-laki pengecut itu.”
Diana bangkit dari duduknya.
“Aku tidak bisa terus berada di sini.”
Tatapannya mengeras penuh tekad.
“Aku harus meninggalkan Kota Westoria ini.”
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Mpusss...