Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelisah
Berbagai pose Cakka coba, dan hasilnya memuaskan sampai fotographer pun terkagum-kagum dengan wajah tampan bersenyum tipis, beberapa kali kru pun mengacungkan jempol. Tanda mereka menyukai kinerjanya.
Lensa kamera diturunkan, pun senyum bangga ikut serta menutup pekerjaannya hari ini. "Bagus! Cara kamu melirik dan bergaya tidak kaku, saya suka!" Puji Kak seto, si fotographer andalan Kleo.
Cakka membungkukkan punggungnya sembari mengucapkan kata "Terimakasih!" Ia melangkah menuju stylish Widi yang sedari tadi setia menemaninya photoshoot. Pun pria tampan yang baru saja mendapatkan pujian dari yang lain, kedatangannya langsung disambar oleh Widi. Dirapikan rambutnya, riasannya bahkan bajunya.
"Hanya ini sajakan? Tidak ada kerjaan yang lain?" Tanya Cakka pada Widi.
"Aku tidak tahu, coba kamu tanya manajer" Ucap Widi, fokus pada pakaian Cakka.
"Tiap aku bekerja, pasti kamu ikut. Jadi kamu tahu dong kegiatan aku?" Tanya Cakka.
"Kadang tiap set beda orang, jadi kamu nggak harus berpaku sama aku" tutur Widi.
"Sayang sekali, padahal aku mulai nyaman kerja sama kamu" Cakka, mengerucutkan bibirnya, memberikan tanda penyesalan bahwa ini ternyata hanya sementara.
"Santai saja setiap photoshoot, kamu sama aku kok" Widi menepuk bahu Cakka berkali-kali.
Rupanya obrolan mereka sedari tadi diperhatikan oleh salah satu anggota rumah BV, Debo. Matanya jeli sekali, telinganya begitu bekerja dengan baik. Sempat beberapa kali tercuri pandang oleh Cakka, ia tersenyum sinis. Namun hal itu Cakka abaikan, ia merasa tatapan itu bukanlah apa-apa. Hanya tanda iri saja, nanti juga perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.
Semua orang bekerja hari ini, photoshoot selesai. Sesuai arahan dari para staf semua anggota rumah BV berkumpul di kantor utama milik Kleo. Berjajar duduk di kursinya masing-masing, Kleo menatap layar monitornya dengan seksama. Ia tersenyum, kepalanya dimiringkan kekanan dan kiri.
"Yah.. kerja bagus anak-anak. Hasilnya memuaskan, malam ini foto kalian akan dipublish, kita lihat, siapa yang mendapatkan like dan komen terbanyak" ucap Kleo dengan senyum bangga sembari menatap anak-anaknya bergantian.
Cakka menenggelamkan kedua bibirnya kedalam mulut, berharap like dan komen terbanyak itu adalah dirinya. Harapannya tentu sangat besar sekali, ia ingin hidup sukses tenang dan damai. Jauh dari orang-orang yang ada di sekitarnya hari ini.
Cakka melihat satu persatu wajah mereka, ada yang terlihat lelah, ambisius, bodo amat dan tertekan.
Mereka pasti punya tujuan masing-masing, pada intinya mereka sama seperti aku!.
Setelah menatap anggota rumah BV, Cakka menunduk. Matanya fokus pada lutut yang menekuk, sesekali dia menggaruk, menghilangkan rasa bosan dan jenuh yang menyeruak ke pikirannya. Merasa ada yang melihat gerak geriknya, pandangan Cakka kembali melihat semua orang yang ada di ruangan itu, ternyata ada satu tatapan yang terkunci pada Cakka, Obit.
Bukan tatapan kagum, namun ia menatap Cakka begitu tajam mematikan. Entah apa yang ada di pikirannya, Cakka merasa dia biasa saja tidak memiliki masalah, malah justru yang memulai amarah tadi pagi adalah dirinya.
Harusnya dia minta maaf sih sama aku, tapi ya sudahlah. Namanya manusia yang punya ego tinggi mana mau minta maaf duluan.
Cakka tidak peduli dengan tatapan Obit, ia membuang muka dan hanya fokus mendengarkan Kleo.
"Ok! Kegiatan hari ini cukup, persiapkan tubuh kalian untuk besok, karena akan ada sesi latihan menari dan bernyanyi" Kleo.
Mendengar itu tiba-tiba semua orang terkejut termasuk Cakka.
"Hah?!" Ucap semua serempak.
Kleo, mengangkat kedua tangan sejajar dengan wajahnya. Bola mata memutar seolah hal itu tidak perlu dibuat terkejut.
"Katanya kita mau jadi artis? Kok latihan menyanyi dan menari, memangnya kita mau tampil Opera ya?" Tanya Alvin.
"Akting okelah, tapi menari? Bernyanyi? Aku gak bisa Kleo!!" Ujar Debo.
"Ini di luar perjanjian kita!" Kata Ozy.
Perjanjian? Perjanjian apa? Mereka sudah berjanji bagaimana? Aku hanya disuruh tanda tangan, poin yang kubaca salah satunya jangan pulang kampung! Memang di sana tidak ada kata hanya menjadi seorang artis saja, ada banyak talent yang harus dikerjakan. Jadi penasaran, apakah isi surat itu masing-masing poinnya berbeda ya?
"Tidak usah panik! Kita semua di sini berproses, yang paling banyak like dan komennya dia akan debut menjadi artis. Yang paling sedikit atau rata-rata, dia akan menyanyi dan menari. Menjadi boy group!"
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Obit.
"Dari segi bayaran saja berbeda, kalau artis kan satu kali main 50% uangnya milik satu orang. Kalau boy group 50% uangnya dibagi untuk beberapa orang itu pun kalau kalian laku, kalau nggak? Kalian harus cari cara lain. Gimana caranya supaya orang lain terpikat dengan kehadiran kalian di dunia entertainment?" Tutur Kleo, tegas.
Seketika semua orang menghela nafas, menyandarkan punggung mereka lemas ke pundak kursi. Cakka tak masalah jika dirinya harus belajar akting, bernyanyi dan menari tapi, yang ia pikirkan sekarang, takut jika orang-orang tidak menyukainya.
Trauma itu muncul, rasa tidak percaya dirinya seketika mencuat lagi. Tubuh gemetar dan keringat dingin timbul dari permukaan kulit, meluncur hingga ke pantat yang semula duduk tenang perlahan gelisah, tak terbayang jika dirinya tampil di tv disaksikan banyak orang, lalu mereka menghina Cakka seperti dulu lagi. Tak sanggup! Seketika Cakka berdiri membuat semua orang beralih perhatiannya kepada dia.
"Izin ke toilet sebentar pak" ucapnya gugup dan salah tingkah.
Kleo mengangguk, mempersilahkannya untuk segera pergi. Sempat sedikit bingung saat dia akan berjalan, kakinya ke kanan ke kiri, hingga ia tersadar sendiri bahwa dirinya akan keluar. Berjalan melewati pintu kantor yang terasa sangat sempit baginya.
Tak! Tak! Tak!
Tergesa dan gelisah.
Brak!!!
Menutup pintu toilet begitu keras, tanpa melihat apakah ada orang lain di sana atau tidak. Cakka masuk ke dalam bilik yang lain, dia tidak membuang air kecil atau besar. Cakka hanya duduk melamun, diatas closet duduk. Menyisir rambutnya menggunakan jari-jari, mengernyitkan kening. Sesekali mengusap punggungnya sendiri, untuk menenangkan kalau ini bukanlah apa-apa.
Tiba-tiba sakit perut melilit ususnya, tangan yang tadi untuk menenangkan kini berubah posisi, mengusap, menekan rasa sakit yang tak karuan itu.
Di tengah rasa gelisah yang melanda dirinya, tiba-tiba dari luar bilik, seseorang mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Cakka, keluar!"
Ada yang memanggilnya dan Cakka mengenali suara itu. Perlahan ia berdiri tangannya meraih gagang pintu untuk membukanya.
Trak!!!!
Pintu terbuka lebar. Debo. Ia berdiri tegap didepan Cakka yang sedang kewalahan menghadapi rasa gelisahnya. Postur tubuh Cakka bungkuk. Ia tak bisa memperlihatkan bahwa dirinya masih kuat menghadapi hari. Debo yang iba, membantunya untuk berdiri dengan baik. Disanggahnya ketiak Cakka oleh Debo.
"Lu gakpapakan?" Tanya Debo, menatap mata Cakka.
Keringat semakin bercucuran, tubuhnya pun gemetar hebat. Cakka tak dapat menatap mata Debo dengan benar, berkunang, kuning dan pusing. Cakka kehilangan keseimbangannya hingga ia pingsan ditempat.
"Eh! Cakka!"