NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^17

Bersandar pada pintu coklat yang baru saja Anna tutup dengan pelan, sebelum meniup udara karena pikiran merasa letih. "Bagaimana bisa aku diam saja?" Tersenyum masam. Sebentar melihat paperbag di tangannya yang berisi alat lukis.

Melangkah di mana kursi belajarnya untuk meletakkan paperbag itu. Sebelum merogoh tas kecil yang masih melekat pada tubuhnya. Mengambil benda pipih dari dalam sana, karena ada satu pesan masuk.

Maaf jika aku tidak mengantarmu sampai rumah..

Apa kau sudah sampai?

Bukannya tidak niat untuk memberi balasan. Hanya saja, Anna begitu lelah menanggapi orang di seberang sana. Apalagi, kejadian tadi benar-benar membuatnya merasa jahat kepada Yuna. Tapi, Tessa juga tidak bisa bohong, jika, menghabiskan waktu bersama Anrey itu sungguh menyenangkan.

Walau di lain pemikiran Anna tahu, jika hal itu hanya di manfaatkan oleh Anrey. Agar tidak menganggu waktu siapapun.

Spontan menoleh ke arah pintu yang baru saja dibuka oleh sosok wanita dewasa. Ampuh membuat Anna mendesah pelan. Karena tahu apa yang akan terjadi.

"Dari mana saja kau baru pulang jam segini?" Tanyanya sembari melangkah mendekat dengan gelas berisi susu hangat di atas nampan.

"Aku harus membeli peralatan untuk tugas kelompok." Balas Anna dengan sedikit malas. Mulai melepas tas selempangnya.

"Hanya kau yang membelinya?" Kening wanita itu mengerut samar, sembari meletakkan gelas itu di atas meja.

"Mereka sibuk belajar." Acuh tak acuh, Tessa kini mengambil beberapa buku sekolahnya.

"Bagaimana dengan mu?" Diam sejenak. Wanita itu melanjutkan kembali perkataannya. "Kau membuang waktu belajar mu hanya untuk menuruti apa yang mereka katakan?"

"Jika itu tugas kelompok, bukankah mereka juga harus membelinya bersama mu?" Imbuh sang wanita. Vanda.

Napas berat keluar begitu dari mulut Anna. Dengan malas membalas tatapan Vanda. "Bukankah sudah ku katakan tadi? Mereka tidak bisa melewatkan sesi berlajar mereka di ruang belajar."

"Terus bagaimana dengan mu? Kau melewatkan waktu belajar mu sendiri." Sedikit menyerukan suaranya, Vanda berusaha untuk tetap tenang dalam beradu argumen bersama Anna.

Diam sejenak, tidak langsung memberi tanggapan. Anna membuang napas lelah. "Bisakah ibu keluar? Aku harus melanjutkan tugas ku sebagai seorang pelajar."

Satu permintaan Anna yang tidak bisa Vanda tidak turuti. Wanita itu hanya bisa pasrah dengan keadaan maupun takdir. Vanda juga tidak bisa memaksa Anna untuk mengikuti semua perkataannya. Karena Vanda sangat sadar, jika dirinya hanyalah ibu sambung. Tapi, bukankah seorang ibu memiliki kewajiban untuk mengatur jalan kehidupan anak mereka. Entah itu anak sambung, atau anak kandung.

"Walaupun tujuan mu baik dan ingin berteman dengan mereka. Tapi ini salah Anna, kenapa harus dirimu yang mereka korbankan?" Menelan ludahnya dengab mengangguk kecil. "Bersikaplah realistis, karena itu akan memudahkan mu dalam hidup."

Sebentar melihat Anna, sebelum memutar tumit. Berjalan keluar meninggalkan Anna sendiri. Tidak lupa menutup kembali pintu kamar putrinya itu dengan hati-hati, agar tidak menimbulkan kebisingan yang akan mengganggu konsentrasi Tessa.

Sebentar menoleh ke belakang, sebelum kembali menuruni anak tangga satu-persatu hingga tiba di lantai bawah. Di mana seorang wanita muda yang beru selesai bersiap untuk pulang ke rumah.

"Kau ingin pulang?" Tanya Vanda secara basa-basi.

"Saya akan datang lagi besok nyonya." Tersenyum simpul. "Tidak mungkin saya tidur disini."

"Benar, kau harus pulang." Rendah Vanda dengan kepala mengangguk pelan.

"Kalau begitu saya permisi. Selamat malam nyonya." Akhir sang karyawan yang tidak melupakan senyumannya.

Melangkah keluar yang mengijinkan seorang tamu tak di undang masuk ke dalam, ampuh membuat sang tuan rumah terdiam melihat kehadiran sosok itu.

"Toko ini sudah tutup, jadi tidak menerima pelanggan malam ini." Ketus Vanda.

"Aku tidak ingin membeli bunga mu, aku hanya ingin memberitahu mu. Jika orang yang kau lindungi ternyata belum berubah sama sekali." Rendah sang tamu, sembari melangkah mendekat.

"Apa yang kau bicarakan?" Bingung Vanda.

"Kuharap kau segera memberitahu gadis itu. Agar, rasa kecewa itu tidak besar seperti dirimu tahu, jika_"

"Tutup mulutmu!!" Sarkas Vanda yang berusaha menahan diri untuk tidak meninggikan volume suaranya.

Satu amplop coklat yang berada di tangan sang tamu kini terangkat ke udara, sebelum di berikan pada Vanda begitu saja. "Kau akan tahu, jika sudah melihatnya. Dan itu yang semakin membuat ku paham, jika aku tidak salah sama sekali dalam kasus ini. Karena, takdir buruk itu bukan berasal dariku."

Tanpa menunggu tanggapan dari Alam, sang tamu memutar tumit dan berjalan keluar. Tidak peduli akan raut wajahnya Vanda yang menyimpan seribu bahasa.

Meniup udara dengan langkah yang tertentu tepat di depan rumah Vanda. Menoleh ke belakang untuk sebentar melihat bangunan di hadapannya saat ini. Hingga suara familiar menyapa pendengaran orang itu.

"Bibi?"

Spontan menoleh ke arah seorang pemuda yang baru tiba.

"Apa yang bibi lakukan disini malam-malam?" Tanya pemuda itu dengan sangat hati-hati.

"Oh, Aldi. Kau rupanya." Diam sejenak. "Kau habis dari ruang belajar?"

Aldi mengangguk sebagai jawaban.

"Bagimana dengan kabarmu? Kau baik-baik saja?" Tanya wanita itu yang hanya sekedar basa-basi.

"Bagaimana dengan bibi sendiri? Apa bibi sehat?" Bukannya memberi jawaban, Aldi malah melontarkan pertanyaan pada sang wanita. Diandra.

Tidak langsung memberi tanggapan, Diandra tersenyum simpul. "Bibi akan selalu sehat, karena bibi harus mengawasi gadis nakal itu."

Tahu, Aldi sangat tahu siapa yang Diandra maksud. Gadis nakal. Hanya ada satu nama gang terlintas begitu saja di kepala Aldi, siapa lagi jika bukan Yuna.

Tersenyum kecil. Aldi kembali membuka suara. "Dia bukan gadis nakal bibi, dia gadis yang sangat manis."

"Kau ingin menggodanya?" Sangat terus-terang, Diandra melontarkannya.

Ampuh membuat Aldi terkekeh geli. "Jika itu bisa saya lakukan, Yuna akan menjadi milik saya sejak dulu. Sayangnya, gadis manis itu terlalu membentengi dirinya."

Kepala Diandra mengangguk paham. "Kau bisa mendapatkannya, dengan kau bersikap baik padanya."

"Saya akan melakukannya." Final Aldi, yang entah kenapa merasa mendapat lampu hijau dari sosok wanita di depan matanya saat ini. Tapi, bukan berarti, Aldi menyerah memperjuangkan Anna. Hanya saja, Aldi ingin pensiun dari hal yang mungkin tidak akan pernah pemuda itu dapatkan.

Diandra hanya bisa tersenyum meliha Aldi, sebelum melangkah pergi untuk pulang ke rumah. Meninggalkan Aldi sendiri. Masih berdiam diri melihat punggung Diandra.

"Jika ibumu bukan seorang pelacur, aku akan mengijinkan mu Aldi. Karena ayahmu sangat berpengaruh." Gumam Diandra yang terus berjalan kearah di mana mobilnya terpakir.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!