NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Rafael Dibungkam

“Apa maksudnya tewas?”

Suara Arsen langsung berubah dingin.

Ruangan yang tadi dipenuhi ketegangan berbeda kini berubah mencekam.

Anak buah Arsen berdiri tegang di depan pintu.

“Polisi bilang dia bunuh diri.”

“Bohong.”

Jawaban Arsen terlalu cepat.

Terlalu yakin.

Nadira langsung menoleh.

“Kamu yakin?”

Tatapan Arsen gelap.

“Rafael bukan tipe yang bunuh diri setelah sejauh ini.”

Deg.

Bulu kuduk Nadira langsung berdiri.

“Terus… dia dibunuh?”

“Kemungkinan besar.”

Dunia terasa makin kacau.

Rafael baru saja mengancam mereka beberapa jam lalu.

Lalu sekarang tiba-tiba mati?

Tidak masuk akal.

Dan yang paling mengerikan—

Kalau Rafael benar dibunuh…

Artinya memang ada orang lain di balik semua ini.

Keesokan paginya berita kematian Rafael langsung menyebar.

Media heboh.

Judul berita ada di mana-mana.

PENIPU MILIARAN DITEMUKAN TEWAS DI TAHANAN.

DIDUGA BUNUH DIRI.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang percaya.

Termasuk Nayla.

“Aku mau lihat jasadnya.”

Kalimat itu keluar tiba-tiba saat semua sedang sarapan di penthouse.

Mamannya langsung shock.

“Kamu gila?!”

“Aku harus memastikan.”

Papanya langsung membantah.

“Nggak perlu.”

“Tapi aku mau.”

Nadira memperhatikan saudara kembarnya pelan.

Wajah Nayla terlihat kosong.

Tidak menangis.

Tidak marah.

Justru itu yang membuatnya lebih mengkhawatirkan.

Karena biasanya orang yang terlalu tenang adalah orang yang sudah terlalu lelah untuk bereaksi.

“Aku ikut,” ujar Nadira pelan.

Nayla langsung menoleh.

“Ngapain?”

“Aku nggak mau kamu sendirian.”

Tatapan Nayla sedikit berubah.

Lembut sesaat.

Dan itu cukup membuat dada Nadira menghangat.

Satu jam kemudian mereka sampai di rumah sakit forensik.

Tempat itu dingin.

Sunyi.

Dan membuat tidak nyaman sejak pertama masuk.

Arsen ikut bersama mereka, tentu saja.

Pria itu bahkan tidak melepaskan Nadira satu langkah pun sejak tadi.

“Kamu serius mau lihat?” tanya Arsen pada Nayla.

Nayla mengangguk pelan.

“Aku harus tahu ini nyata.”

Petugas akhirnya membawa mereka ke ruang identifikasi.

Langkah Nayla mulai melambat.

Tangannya gemetar.

Sedangkan Nadira diam-diam menggenggam tangan saudara kembarnya.

“Kalau nggak kuat, jangan dipaksa,” bisiknya pelan.

Nayla tersenyum kecil.

“Aku udah kuat dari dulu.”

Kalimat itu terdengar menyakitkan.

Karena Nadira tahu itu bohong.

Petugas membuka laci besi perlahan.

Dan di sanalah Rafael.

Tubuhnya pucat.

Diam.

Tak bergerak.

Bekas lebam samar terlihat di lehernya.

Nayla langsung membeku.

Tatapannya kosong menatap pria yang dulu membuatnya jatuh cinta sampai rela menghancurkan hidupnya sendiri.

“Rafael…”

Suaranya pecah.

Nadira langsung memegang pundaknya pelan.

Namun Nayla justru melangkah mendekat.

Matanya merah.

“Aku benci kamu…”

Air mata mulai jatuh lagi.

“Tapi kenapa rasanya tetap sakit…”

Ruangan mendadak terasa sesak.

Bahkan Arsen yang biasanya dingin ikut diam.

Karena tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan seseorang yang pernah jadi duniamu.

Meskipun orang itu menghancurkanmu.

Namun saat Nayla menangis pelan…

Tatapan Arsen justru tertuju pada sesuatu.

Leher Rafael.

“Aneh.”

Nadira menoleh.

“Apa?”

Arsen mendekat sedikit ke tubuh Rafael.

Tatapannya menyipit.

“Ini bukan bekas gantung diri.”

Petugas langsung gugup.

“Maksud Anda?”

“Lebamnya beda.”

Suasana langsung berubah tegang.

Arsen menatap petugas dingin.

“Siapa yang pertama nemuin dia?”

“P-polisi jaga malam…”

“CCTV?”

“Sedang diperiksa.”

Arsen tersenyum kecil tanpa humor.

“Jangan sampai hilang kayak CCTV lain.”

Deg.

Kalimat itu langsung membuat petugas pucat.

Nadira merinding.

Dan firasat buruknya makin kuat.

Rafael memang dibungkam.

Saat mereka keluar dari ruang forensik, Nayla tiba-tiba berhenti berjalan.

“Aku pernah cinta banget sama dia.”

Nadira menoleh pelan.

“Aku tahu.”

Nayla tertawa kecil pahit.

“Lucu ya? Bahkan setelah semua yang dia lakuin…” ia mengusap air matanya, “aku masih pengen dia hidup.”

Nadira langsung memeluk saudara kembarnya.

Dan kali ini…

Nayla membalas pelukan itu erat.

“Aku capek, Nad…”

Suara Nayla kecil sekali.

“Aku tahu.”

“Kenapa hidup kita jadi kayak gini?”

Nadira tidak bisa menjawab.

Karena ia juga tidak tahu.

Namun ketenangan kecil itu hancur beberapa menit kemudian.

Saat mereka berjalan menuju parkiran…

Seorang pria tua tiba-tiba menghampiri Arsen.

Wajahnya panik.

“Tuan muda!”

Arsen langsung menoleh tajam.

“Ada apa?”

Pria itu menyerahkan sebuah map cokelat tebal.

“Ini ditemukan di sel Rafael.”

Deg.

Arsen langsung mengambilnya cepat.

“Kenapa baru sekarang?”

“Polisi diam-diam menyerahkannya ke saya.”

Tatapan Arsen berubah serius.

Sedangkan Nadira mulai merasa tidak enak lagi.

“Apa isinya?”

Arsen membuka map perlahan.

Dan detik berikutnya…

Wajahnya langsung mengeras.

“Arsen?” panggil Nadira pelan.

Pria itu mengangkat satu lembar foto.

Lalu memperlihatkannya pada mereka.

Tubuh Nadira langsung dingin.

Karena itu foto dirinya.

Banyak.

Sangat banyak.

Foto saat ia kuliah.

Saat belanja.

Saat duduk sendirian di halte.

Bahkan saat tidur di apartemennya.

Napas Nadira langsung tercekat.

“Ya Tuhan…”

Rafael benar-benar menguntitnya sejak lama.

Namun belum selesai.

Ada satu dokumen lain di dalam map.

Arsen membacanya pelan.

Dan untuk pertama kalinya…

Pria itu terlihat syok.

“Apa?” tanya Nayla cepat.

Arsen perlahan mengangkat wajah.

Tatapannya jatuh ke Nadira.

“Nama Nadira ada di daftar warisan.”

Deg.

“Apa?”

Papanya langsung membeku.

“Mustahil.”

Arsen menyerahkan dokumen itu.

Dan suasana langsung berubah kacau.

Karena di sana tertulis jelas—

Sebagian besar saham perusahaan Maheswara ternyata diwariskan untuk Nadira.

Bukan Nayla.

Bukan siapa-siapa.

Tapi Nadira.

“Ini nggak mungkin…” bisik papanya pucat.

Nadira sendiri benar-benar tidak mengerti.

“Aku nggak ngerti…”

Mamannya langsung duduk lemas.

“Kenapa…”

Namun yang paling aneh—

Wajah papanya terlihat ketakutan.

Bukan kaget.

Tapi takut.

Dan Arsen langsung menyadarinya.

“Kamu tahu soal ini?”

Papanya langsung membentak.

“Jangan sembarangan!”

“Jawab.”

Suasana mendadak dingin.

Papanya menghindari tatapan semua orang.

Dan itu cukup jadi jawaban.

Deg.

Nadira mulai merasakan sesuatu retak dalam dirinya.

“Papa…”

Pria itu diam.

“Nggak mungkin…”

Nadira mundur selangkah pelan.

“Papa tahu?”

Tak ada jawaban.

Air mata Nadira langsung jatuh.

“Sejak kapan…”

Papanya memejamkan mata frustrasi.

“Harusnya kamu nggak pernah tahu.”

Kalimat itu menghantam keras.

Satu jam kemudian suasana di penthouse berubah seperti ruang interogasi.

Tak ada yang bicara cukup lama.

Akhirnya Arsen memecah keheningan.

“Jelasin semuanya.”

Papanya duduk diam dengan wajah kusut.

Mamannya menangis pelan di sampingnya.

Sedangkan Nadira duduk membeku.

“Kakek kalian,” akhirnya papanya bicara pelan, “awalnya memang mau kasih perusahaan ke Nadira.”

Deg.

Nayla langsung menoleh cepat.

“Apa?!”

“Kenapa?!”

Papanya tertawa kecil pahit.

“Karena Nadira lebih mirip dia.”

Nadira langsung merasa sesak.

“Kakek selalu bilang Nadira lebih tenang. Lebih sabar. Lebih cocok pegang perusahaan.”

Nayla membeku.

Dan perlahan wajahnya berubah.

Bukan marah.

Tapi terluka.

Sangat terluka.

“Terus kenapa selama ini…” suara Nayla melemah, “Papa selalu paksa aku jadi pewaris?”

Papanya menunduk.

“Karena Nadira nggak mau.”

Semua langsung diam.

Nadira mengernyit.

“Apa?”

“Kamu lupa.”

Deg.

“Aku lupa apa?”

Tatapan papanya perlahan berubah rumit.

Sedih.

Dan penuh rasa bersalah.

“Waktu umur lima belas tahun…”

Nadira mulai merasa kepalanya sakit.

Ada sesuatu samar muncul di ingatannya.

Hujan.

Rumah sakit.

Darah.

Dan suara teriakan.

“Kamu pernah kecelakaan.”

Napas Nadira langsung tercekat.

“Kecelakaan itu bikin kamu trauma berat.”

Potongan-potongan ingatan mulai muncul.

Samar.

Kabur.

Namun cukup membuat dadanya mulai sesak.

“Kamu bilang nggak mau jadi pewaris.”

Air mata mamanya jatuh lagi.

“Kamu takut hidupmu diatur.”

Nadira memegang kepalanya.

“Kenapa aku nggak ingat…”

“Karena setelah itu kamu berubah.”

Suara papanya pelan.

“Dan kami pikir melupakan semuanya lebih baik buat kamu.”

Ruangan mendadak terlalu sunyi.

Terlalu berat.

Dan Nadira merasa dunianya mulai runtuh sedikit demi sedikit.

Karena ternyata…

Banyak hal dalam hidupnya bukan sekadar kebetulan.

Malam harinya Nadira berdiri sendirian di balkon penthouse.

Pikirannya kacau.

Tentang warisan.

Tentang masa lalu yang hilang.

Tentang semua kebohongan keluarganya.

“Aku benci rahasia.”

Suara Arsen muncul dari belakangnya.

Nadira tidak menoleh.

“Aku juga.”

Pria itu berdiri di sampingnya.

“Kamu nggak salah.”

Nadira tertawa kecil hambar.

“Semua orang selalu bilang gitu.”

“Karena memang benar.”

“Aku capek jadi orang yang nggak tahu apa-apa.”

Tatapan Nadira kosong memandang kota.

“Rasanya kayak hidupku dikendalikan orang lain terus.”

Arsen diam beberapa detik.

Lalu perlahan menggenggam tangan Nadira.

“Kamu bisa mulai pilih hidupmu sendiri sekarang.”

Deg.

Nadira menoleh pelan.

Dan lagi-lagi…

Tatapan pria itu terlalu dalam.

Terlalu hangat.

Terlalu berbahaya.

“Aku takut pilihannya salah,” bisiknya pelan.

Arsen mendekat sedikit.

“Kalau salah…”

Jantung Nadira mulai tidak normal lagi.

“Kita perbaiki sama-sama.”

Dan sialnya…

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai…

Nadira benar-benar ingin percaya pada seseorang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!