NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JURUS MERAK MENEMBUS PETIR

Paket melayang di udara. Eng Sok tidak berpikir. Tubuhnya bergerak sendiri — seperti yang diajarkan di istana dulu, saat latihan menghindari anak panah dari segala arah.

Ia berputar.

Cepat. Tidak membuang gerakan.

Satu kaki berporos di lantai. Kaki lain terangkat sedikit — menjaga keseimbangan. Tangan kirinya — yang sehat — meraih paket itu tepat di ujung jari dan mendorong ke telapak tangannya. Ia mendekap paket itu sementara tangan kanannya berputar seperti sayap merak.

Rambut panjangnya terbang — membentuk kipas sesaat, lalu jatuh perlahan ke bahu.

Jurus Merak Menembus Petir.

Gerakannya secepat petir. Tapi indah. Karena rambutnya — hitam, panjang, berkilat — menari di udara seperti bulu merak yang sedang membuka kipasnya.

Ah Me bertepuk tangan.

Ah Ti bersiul.

Ah Chio matanya membulat. Mulutnya terbuka sedikit — tapi tidak bersuara hanya kedua tangannya membentuk hati

Tauke Hok ikut tepuk tangan. Sioh Bu dari atas — meskipun tidak bisa bersuara — bahunya naik turun, seperti orang yang sedang ngakak ia mengulurkan tangannya dan mengacungkan dua jempol.

Eng Sok mengibaskan rambut. Tersenyum tipis.

Lalu ia menutup pintu. Duduk di kursi sofa pendek dengan meletakkan paket di sebelah kanannya— dengan anggun.

Ia membuka kipas.

Sreet— bunyi halus.

Tenang. Tidak berlebihan. Tidak arogan.

Tauke Hok latah. Tangannya bergerak ke pinggang — mencari kipas. Tapi tidak ada. Ia hanya mengipas-ngipaskan tangan kosong ke wajah.

Ah Me menahan tawa. Ah Ti cengar-cengir.

Eng Sok tidak melihat mereka. Matanya beralih ke Ah Chio.

Ia mengedip. Pelan.

Lalu menatap lurus sambil mengipas-ngipas anggun— dengan senyum tipis, mata yang bertanya tanpa kalimat.

"Kamu baik-baik saja?"

"Kamu sudah benar-benar sembuh?"

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Ah Chio menunduk sesaat. Lalu menatap balik.

Dan ia mulai bicara.

---

"Makasih ya, Sioh Bu."

Suaranya pelan. Tidak serak seperti di RS. Tapi masih ada getar — seperti orang yang belum sepenuhnya pulih. Lututnya masih gemetar.

"Tadi, karena kamu... minyak kita laku lagi."

Eng Sok tidak menjawab. Hanya menatap lalu mengangguk.

Ah Chio menarik napas.

"Awalnya... kita udah nyaris tutup. Kalah saing sama produk baru. Kemasan bagus. Harga lebih murah. Iklan di mana-mana. Apalagi masuk produk Benua Bintang dan Region Barat Jauh"

Ia menunjuk kotak besar di tengah ruangan.

"Tapi karena kamu pakai di live siang tadi... semuanya berubah."

Tauke Hok mengangguk-angguk di sampingnya.

"Kita kasi 100 botol, Siau Heng. Tapi beda-beda." Ia menghitung dengan jari. "40 botol kecil. 30 botol besar. 15 spray besar. 15 spray kecil.", kata Tauke Hok.

Eng Sok berdiri. Mendekati kotak.

Ia membuka satu per satu.

Botol kecil — kaca hijau, tutup hitam.

Botol besar — sama, tapi ukuran dua kali lipat.

Spray — kemasan praktis, bisa disemprotkan langsung ke rambut.

Ia membuka tutup spray kecil. Semprotkan sedikit ke telapak tangan. Wangi jahe, serai, kayu manis — sama.

Ia cek bahan. Sama.

Ia teteskan ke kulit — dingin, meresap cepat. Sama.

Ia mengangguk.

"Sama," katanya. "Tidak berbeda."

Ah Chio tersenyum. "Iya. Karena resepnya sama. Cuma kemasannya beda."

Ia mengambil amplop coklat dari tas kecilnya.

"Kami juga menawarkan kontrak eksklusif. Tapi..." Ia menyerahkan amplop ke Eng Sok. "Akan kami ambil Senin, pas hari kerja. Kami ga mau ganggu liburmu. Pikir-pikir dulu aja."

Eng Sok menerima amplop itu. Tidak dibuka. Cuma dipegang.

Lalu ia pai pai — tangan menangkup, membungkuk sedikit.

Tauke Hok dan Ah Chio latah. Mereka pai pai balik — membungkuk lebih dalam.

"Eh, jangan," kata Eng Sok.

"Latah, Siau Heng. Latah," kata Tauke Hok tertawa. Mereka lalu salaman. Salaman seperti orang modern.

Tauke Hok berdiri. Ah Chio ikut berdiri.

"Kami pulang dulu. Nanti malam Ah Chio harus ke RS lagi."

Eng Sok mengangguk. Ia antar ke pintu.

"Jaga diri," katanya ke Ah Chio sambil melambaikan kipas 

Ah Chio menunduk sambil tersenyum. "Iya, Koko."

Pintu tertutup.

---

Eng Sok berdiri di depan kotak besar itu.

100 botol minyak Sam Hok Liong.

Dan satu amplop coklat berisi kontrak.

Ia membawa semuanya ke kamar. Soalnya udah ada kotaknya. Udah rapi. 

Ia meletakan kontrak lalu ditindih kotak isi 100 minyak. Ah Ti bingung “Ko, itu berat Lo. Kok kuat angkat tangan kiri?” tanyanya polos.

“Punya biasa ooo… fosil harus tangguh atau punah”, jawab Eng Sok sesuka hati.

Ah Ti mengintip dari pintu. "Ko, gak mau buka amplopnya?"

"Nanti."

"Kapan?"

"Nanti."

Ah Ti mengangkat bahu. "Ya udah. Terserah Koko Fosil."

Eng Sok tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya naik.

---

Ia mandi. Air hangat. Sampo natural — dari lerak, tanpa deterjen. Sabun dari buah klerak — wangi khas, tidak menyengat.

Setelah mandi, ia makan. Ah Me masak tumis kangkung dan telur dadar. Ah Ti sudah menghabiskan satu piring. Eng Sok makan dua. Ngajarin Ah Ti? Ah gausah!

Besok tanggal merah dua hari.

Hari Jadi Cia Agung — wajib dua hari lalu Sabtu dan Minggu. Sekarang, Kamis, libur nasional.

Eng Sok membebaskan Ah Ti.

"Besok mau ngapain?" tanyanya.

"Tidur," jawab Ah Ti.

"Lainnya?"

"Tidur lagi."

Eng Sok menggeleng. Tapi tidak melarang.

Libur, pikirnya. Rakyat boleh istirahat. Itu sudah kebiasaan sejak zaman Kaisar Ong Ai Hong. Tidak boleh ada toko, teater buka. Bahkan di zaman ini, taman hiburan, mall, dan Bioskop. Hukumannya sama. Paksa buka, ditangkap. Barang dan uang diberikan ke orang miskin. Sudah banyak yang coba-coba berakhir Amsyong. Bahkan Ah Ti ketawa terpingkal-pingkal cerita kalo tahun lalu ada orang asing maksa jualan malah barangnya dan uangnya jadi sedekah ke panti asuhan. 

Yang boleh buka cuma Rumah Sakit dan tempat ibadah. Artis yang kerja cuma yang isi di alun-alun kota dan TV pemerintah untuk siaran upacara dan pesta rakyat.

Ia masuk kamar. Membuka laptop Sioh Bu —MILITARY Laptop produksi Cia Agung yang terkenal kuat di seluruh dunia. Bekasnya mahal tapi lebih bagus dari laptop baru murah. Tua, agak berat, kipasnya berisik.

Ia membongkar paket yang diterimanya sore — buku pelatihan membuat sabun dan kosmetik natural ada bab bonus shampoo bar natural. Bonus sampel bahan: minyak kelapa, lilin lebah, botol kecil, cetakan sabun. Dia juga beli paket plus. Jadi sekalian ada alat-alat praktikumnya.

Ia buka laptop. Mencari Wi-Fi.

Tidak konek.

Coba lagi.

Tidak konek.

Coba tekan ini, tekan itu — tombol di samping, tombol di atas, tombol fungsi.

Tidak konek.

Ia menatap layar laptop dengan mata sayu.

Lalu menoleh ke pintu.

"Ah Ti."

Ah Ti masuk. "Apa, Ko?"

"Internet... macet."

Ah Ti menyipit.

"Walaueeee!"

Ia memegang kepalanya.

"Fosil... FOSIL... Ganteng punya... FOSIL!"

Ia mendekati laptop. Menekan satu tombol di samping — tombol yang tidak pernah Eng Sok lihat.

Klik.

Wi-Fi menyala.

"Udah, Ko," kata Ah Ti pasrah. "Sekarang coba."

Eng Sok mencoba membuka browser.

Bisa.

Ia menatap Ah Ti.

"Terima kasih."

Ah Ti menghela napas panjang. Lalu keluar kamar — sambil geleng-geleng kepala.

Di sudut ruangan, Sioh Bu melayang. Ia ngakak sampai bahunya naik turun.

"Dasar Pangeran... Ganteng. Tapi kuno.”

“Ngapain juga bikin ginian, mbok ya beli?”

Tapi mata Pangeran itu mengerut. Hanya mengerut. Rahangnya merapat. 

---

BERSAMBUNG

---

Jurus Merak Menembus Petir.

100 botol minyak.

Kontrak eksklusif.

Dan laptop yang tidak bisa konek Wi-Fi.

Eng Sok belajar sabun natural.

Ah Ti belajar sabar menghadapi kakak kunonya.

Malam yang panjang.

Tapi... menyenangkan.

🪷👩‍❤️‍👨💐

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!