"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 // MBKCM
Malam tiba menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam kamar kos kecil milik Kiana. Di bawah pendar lampu neon yang temaram, sebuah koper kain berwarna hitam berukuran sedang dan beberapa kardus bekas sudah tergelar di atas lantai. Kiana berlutut, melipat satu per satu pakaian miliknya dengan rapi untuk dimasukkan ke dalam koper. Gerakannya sengaja dibuat lambat, menahan rasa linu di pinggangnya yang mulai terasa akibat aktivitas jongkok-berdiri di butik siang tadi.
Pintu kamar yang tidak tertutup rapat mendadak diketuk pelan. Saskia melangkah masuk dengan raut wajah yang dipenuhi kesedihan mendalam. Dia menatap tumpukan baju dan kardus di sekeliling Kiana dengan pandangan tidak rela.
"Kia... kamu benar-benar sudah mulai berkemas malam ini?" tanya Saskia, suaranya terdengar serak. Dia berjalan mendekat lalu duduk lesehan di samping Kiana. "Memangnya kamu sudah menemukan tempat tinggal baru di Bandung secepat ini? Kenapa buru-buru sekali, sih? Apa kamu tidak mau menginap di rumah orang tuaku dulu saja sementara waktu? Aku sudah menelepon ibu dan ayahku sore tadi, Kia. Mereka sama sekali tidak keberatan dan malah sangat senang kalau mau tinggal sementara sampai kamu melahirkan."
Kiana menghentikan gerakan tangannya yang sedang melipat bajunya. Dia menoleh ke arah Saskia, menatap sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu. "Tidak usah repot-repot, Sas. Tolong sampaikan rasa terima kasihku yang sebesar-besarnya kepada ayah dan ibumu, ya."
Kiana menggenggam jemari Saskia dengan erat. "Aku benar-benar sangat berterima kasih karena kamu selalu perhatian dan baik padaku sampai sebegininya. Tapi, aku memang sudah menemukan tempatnya dari internet tadi sore. Harga sewanya sangat cocok dengan sisa tabunganku, dan lokasinya juga cukup strategis di pinggir jalan besar yang strategis, jadi sekalian bisa aku jadikan tempat tinggal sekaligus untuk merintis usaha toko bunga nanti. Kamu doakan saja ya, Sas, semoga usahaku lancar di sana."
Saskia mengembuskan napas panjang, akhirnya pasrah karena tahu watak Kiana yang tidak suka menyusahkan orang lain jika sudah mengambil keputusan. Dia menghapus sudut matanya yang sedikit basah lalu merebut kemeja dari tangan Kiana. "Iya, aku pasti selalu doakan yang terbaik untukmu dan keponakan kembarku. Ya sudah, sekarang sini aku bantu beresin bajumu. Kamu duduk saja di kasur, bumil tidak boleh capek-capek dan banyak membungkuk malam-malam begini."
Kiana tersenyum getir, menuruti perintah sahabatnya. Dia berpindah duduk di tepi ranjang, menatap punggung Saskia yang sibuk menata barang-barangnya. Di dalam hatinya, Kiana meraba perutnya, berbisik lirih meminta maaf kepada dua janinnya karena harus membawa mereka menempuh perjalanan jauh demi melarikan diri dari bayang-bayang sang ayah kandung.
***
Di malam yang sama, di belahan kota Jakarta yang lain, kemegahan mansion utama keluarga Arkatama sama sekali tidak mampu memberikan ketenangan bagi sang pemilik. Di dalam kamar utamanya yang luas, Ardan Arkatama sedang berdiri termenung di balkon lantai dua. Kedua tangannya mencengkeram pembatas besi balkon, sepasang mata elangnya menatap kosong ke arah kegelapan malam dan hamparan lampu kota yang berpendar dari kejauhan.
Pikiran Ardan benar-benar kacau. Kata-kata pilu yang diucapkan Kiana kemarin, serta tatapan mata kosong penuh luka dari gadis itu saat melayaninya di butik siang tadi, terus berputar-putar di dalam kepalanya bagai kaset rusak yang menyiksa batinnya.
“Anak-anak ini bukan anak Anda. Mereka tidak ada kaitannya dengan keluarga Arkatama yang terhormat...”
Ardan memejamkan matanya rapat-rapat, namun penolakan Kiana justru terasa semakin mencabik egonya. Jika Kiana bersikeras bahwa janin kembar itu bukan darah dagingnya, lalu siapa pria itu? Siapa pria bajingan yang telah menyentuh wanita itu hingga membuatnya hamil? Rasa penasaran yang bercampur dengan cemburu dan amarah yang tak beralasan membuat dada Ardan terasa sangat sesak.
Tidak tahan dengan teka-teki yang menyiksa ini, Ardan membalikkan tubuhnya, melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya, lalu meraih ponsel di atas meja. Dia menekan satu tombol panggilan cepat.
"Bimo, ke ruang kerjaku sekarang juga," perintah Ardan dingin, lalu langsung mematikan sambungan.
Tidak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan tiga menit, pintu ruang kerja Ardan diketuk. Bimo melangkah masuk dengan setelan formalnya yang rapi, membawa sebuah map dokumen tebal di tangan kirinya.
"Ada apa, Pak Ardan?" tanya Bimo sopan, berdiri tegap di depan meja kerja bosnya.
Ardan bersedekah dada, menatap asisten pribadinya dengan sorot mata menuntut. "Bimo, selidiki kembali latar belakang Kiana Mahira secara mendalam. Aku ingin tahu siapa saja pria yang pernah dekat atau berhubungan dengannya selama ini."
Mendengar perintah itu, Bimo tidak tampak terkejut. Sebaliknya, dia justru mengulas senyum tipis yang sarat akan kesiapan kerja yang luar biasa. Tanpa diminta dua kali, Bimo langsung membuka file di dalam ponselnya. Sebenarnya, belakangan ini sejak pertama kali tahu Kiana hamil, Bimo diam-diam sudah menyelidiki segala hal tentang sosok gadis malang tersebut.
"Sebenarnya, tanpa Anda minta malam ini, saya sudah mengumpulkan seluruh data riwayat hidup Nona Kiana Mahira secara lengkap, Pak," ujar Bimo dengan raut wajah yang meyakinkan.
Ardan mengernyitkan dahi, menatap Bimo dengan rasa penasarannya yang besar. "Jelaskan padaku."
"Ekhmm.." Bimo berdehem kecil sebelum memulai penjelasannya dengan nada profesional. "Nona Kiana Mahira adalah putri tunggal dari pasangan suami istri bernama Baskara dan Sari. Berdasarkan data catatan sipil, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia lima tahun yang lalu dalam sebuah peristiwa kebakaran hebat yang melanda rumah tinggal mereka di kota Bandung. Kejadian itu meninggalkan trauma mendalam dan membuat Nona Kiana sebatang kara."
Ardan tertegun sejenak. Ada rasa perih yang aneh menyengat hatinya saat mengetahui fakta bahwa gadis yang dihina-hina nya semalam ternyata adalah seorang yatim piatu yang kehilangan segalanya akibat peristiwa naas.
"Lalu, bagaimana dia bisa ada di Jakarta?" tanya Ardan, suaranya agak melembut namun tetap terdengar mendesak.
"Dua tahun setelah peristiwa kebakaran itu, tepatnya tiga tahun yang lalu, Nona Kiana memutuskan untuk merantau sendirian ke Jakarta demi menyambung hidup, Pak," lanjut Bimo sembari membalik halaman catatannya. "Awalnya, dia bekerja sebagai cleaning service di salah satu hotel bintang tiga di kawasan Jakarta Barat. Dia bekerja keras di sana selama beberapa bulan, sampai akhirnya dia menemukan lowongan pekerjaan sebagai pelayan di Butik Elegance dan diterima bekerja di sana hingga hari ini."
Ardan mengetukkan jari-jarinya di atas meja dengan tidak sabar. "Itu riwayat kerjanya, Bimo. Yang aku tanyakan adalah kehidupan asmaranya. Siapa pria yang dekat dengannya?!"
Bimo menatap Ardan dengan pandangan serius. "Berdasarkan hasil pelacakan rekam jejak digital dan keterangan dari lingkungan sekitarnya, diketahui hanya ada satu pria yang pernah dekat dan menjalin hubungan asmara dengan Nona Kiana Mahira. Namanya Dafa. Hubungan mereka sudah terjalin selama tiga tahun terakhir, dan selain pria bernama Dafa itu... tidak ada lagi riwayat pria lain yang pernah dekat atau berinteraksi secara personal dengan Nona Kiana Mahira... selain Anda sendiri, Pak Ardan."
Mendengar nama Dafa disebut, rahang Ardan kembali mengeras. Logikanya yang dikuasai rasa tidak aman langsung mengambil kesimpulan sepihak. "Dafa? Jadi pria itu kekasihnya? Kalau begitu, mungkinkah dia sekarang sedang mengandung anak dari kekasihnya itu? Dia menolak mengakuinya di depanku karena mungkin dia berencana menjebakku suatu hari nanti."
"Mohon maaf, Pak Ardan, tapi saya rasa Anda keliru," Bimo langsung menyambar kalimat bosnya dengan tegas, mencoba menyadarkan pria di depannya. "Bukankah Anda sendiri yang mengatakan kepada saya setelah malam itu terjadi, bahwa Nona Kiana saat itu masih suci? Anda sendiri yang menegaskan bahwa dia masih perawan malam itu, Pak."
Ardan seketika membeku. Kata-kata Bimo seperti menyiramkan air es tepat ke wajahnya, mengingatkan kembali pada bercak darah dan tangisan ketakutan Kiana di malam terkutuk itu.
"Dan setahu saya dari hasil penyelidikan lebih lanjut," sambung Bimo lagi, nadanya semakin meyakinkan. "Hubungan Nona Kiana dan Dafa setelah malam kejadian itu berubah menjadi sangat tidak baik. Dafa justru melarikan diri setelah memanfaatkan Nona Kiana, jadi sangat tidak mungkin bagi mereka untuk melakukan hubungan intim setelah itu. Terlebih lagi, dari data pengawasan harian yang saya kumpulkan, keseharian Nona Kiana Mahira selama ini hanya dihabiskan untuk bekerja di butik dan langsung pulang ke kosan bersama temannya, Saskia Anindya. Dia tidak pernah pergi ke kelab malam, tidak pernah bergaul dengan lingkungan bebas, jadi tuduhan Anda semalam yang mengatakan dia menjual diri itu sama sekali tidak berdasar, Pak. Saya berani menjamin seratus persen bahwa Nona Kiana Mahira adalah wanita baik-baik."
Mendengar pembelaan mutlak dari asisten kepercayaannya, benteng keangkuhan di dalam diri Ardan perlahan mulai retak dan runtuh. Penyesalan yang sempat dia rasakan siang tadi kini menjelma menjadi rasa bersalah yang teramat sangat besar, menghimpit dadanya hingga dia kesulitan bernapas. Jika Kiana wanita baik-baik, dan jika dia tidak pernah tidur dengan Dafa ataupun pria lain setelah malam itu... maka kemungkinan besar, janin kembar yang ada di dalam rahim gadis itu memang adalah darah dagingnya sendiri.
"Tapi bagaimana dengan hasil tes kesuburan ku di berbagai negara itu? Semuanya menunjukkan hasil aku ini mandul." batin Ardan frustrasi, dilanda kebingungan yang luar biasa antara fakta medis dan realitas di depan matanya.
Bimo yang melihat keraguan besar di mata bosnya, langsung memberikan saran terbaiknya. "Saran saya, Pak... Anda harus melakukan tes ulang medis lagi untuk memastikan kondisi kesuburan Anda. Siapa tahu ada kesalahan laboratorium pada hasil pemeriksaan Anda yang sebelumnya."
Ardan terdiam sejenak, mencerna kata-kata Bimo. Benar, dia tidak bisa terus hidup dalam teka-teki dan kesalahpahaman yang menghancurkan ini. Dia harus mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya secara akurat.
Ardan mendongak, menatap Bimo dengan sorot mata yang kembali tajam dan penuh ketegasan yang mutlak. "Kalau begitu, siapkan janji temu dengan rumah sakit terbaik dan dokter spesialis andrologi paling kompeten besok pagi. Kita lakukan tes ulang kesuburan ku dari awal lagi."