''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Lampu ruangan diredupkan. Cahaya dari proyektor menjadi satu-satunya sumber terang yang menyinari wajahku. Aku berdiri di depan, memegang kendali pointer, siap membedah strategi pemasaran yang sudah kususun berbulan-bulan.
Aku menarik napas panjang. Begitu aku mulai bicara, suara Rana yang ragu di parkiran tadi malam menghilang. Yang ada hanyalah Rana Anindita Putri, seorang profesional yang tak terkalahkan oleh perasaan pribadinya.
"Berdasarkan analisis pasar lima tahun terakhir, Abiwangsa Group membutuhkan pendekatan yang lebih organik untuk menjangkau pasar urban," ucapku tegas. Suaraku stabil, meskipun aku bisa merasakan sepasang mata di ujung meja itu tidak lepas sedetik pun dariku.
Farez.
Dia tidak melihat ke arah layar proyektor. Dia tidak melihat ke arah dokumen di depannya. Dia hanya menopang dagu dengan tangan yang saling bertautan, menatapku dengan tatapan intens yang sulit diartikan. Tatapan itu bukan lagi tatapan rindu yang menyedihkan, tapi tatapan seorang pria yang sedang mencoba mengenali sosok asing di hadapannya.
Mungkin dia sedang mencari Rana-nya yang dulu. Rana yang berisik, yang tertawa lepas di halaman belakang rumah eyang, yang selalu manja jika sedang lelah. Tapi yang dia temukan hanyalah wanita dingin yang bicara soal angka dan proyeksi keuntungan.
"Ada pertanyaan dari pihak Abiwangsa?" tanyaku saat mencapai slide terakhir. Aku sengaja menatap lurus ke arahnya, menantangnya untuk tetap profesional.
Seisi ruangan hening. Pak Hanan melirik Farez, menunggu respons sang direktur.
Farez berdeham pelan. "Penjelasan yang sangat komprehensif, Ibu Rana," ucapnya, suaranya yang soft-spoken itu kini terdengar seperti beludru yang tajam. "Tapi saya ingin tahu, apakah strategi Anda ini sudah memperhitungkan kemungkinan... pengkhianatan dari mitra kerja di tengah jalan? Karena terkadang, sesuatu yang terlihat sempurna di awal bisa hancur begitu saja tanpa peringatan."
Jantungku berdegup kencang. Itu bukan pertanyaan bisnis. Itu serangan personal.
Aku tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya mencapai bibir, tidak ke mata. "Dalam bisnis, Pak Farez, kami selalu menyiapkan contingency plan. Kami tidak bergantung pada janji atau kesetiaan yang abstrak. Kami bergerak berdasarkan data dan kontrak hukum yang mengikat. Jadi, jika ada yang berkhianat, kami sudah siap untuk meninggalkannya tanpa kerugian sedikit pun."
Aku melihat rahang Farez mengeras. Dia seolah tertampar oleh jawabanku.
"Rapat selesai," Pak Hanan menutup sesi itu dengan puas, tidak menyadari ketegangan listrik yang hampir meledakkan ruangan.
Satu per satu orang mulai keluar. Aku segera membereskan laptopku dengan gerakan cepat, ingin segera lari dari udara pengap ini. Namun, saat aku baru saja hendak melangkah keluar, suara berat itu menghentikan gerakanku.
"Kamu berubah banyak, Rana."
Aku berhenti, tapi tidak berbalik. Punggungku menegang.
"Waktu lima tahun cukup untuk mengubah segalanya, Pak Farez. Termasuk cara seseorang memandang dunia," jawabku tanpa nada.
"Tapi caramu melarikan diri masih tetap sama," sahutnya, kini langkah kakinya terdengar mendekat. "Kenapa, Na? Kenapa harus mengganti semua nomor? Kenapa harus membuang nama panggilanmu? Apa salahku sampai aku harus menanggung hukuman atas kesalahan yang dilakukan ayahmu?"
Suaranya mulai bergetar. Tidak ada lagi wibawa Direktur Abiwangsa di sana. Hanya ada laki-laki yang terluka selama setengah dekade.
Aku berbalik, menatapnya dengan mata yang mulai panas namun kupaksakan untuk tetap kering. "Karena bagiku, kamu adalah bagian dari masa lalu yang ingin kubakar habis, Farez. Dan jangan pernah sebut namaku seperti itu lagi. Di gedung ini, aku adalah rekan bisnismu. Tidak lebih."
Aku melangkah pergi, meninggalkan dia yang berdiri mematung di tengah ruang rapat yang dingin. Aku tidak boleh goyah. Meskipun di dalam sana, hatiku menjerit karena melihat matanya yang memerah menahan sakit.