NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Perkembangan

Pertarungan di Arena Murid Luar berlangsung dengan sangat brutal. Ratusan murid bertarung habis-habisan demi mengubah nasib mereka. Suara hantaman daging, denting senjata, dan jeritan kesakitan menggema berulang kali.

​PLETAK! CRASH!

​Di satu sudut arena, seorang murid terlempar dengan lengan yang bengkok tidak wajar. Di sudut lain, gigi-gigi berterbangan bersama darah segar akibat hantaman pukulan mentah.

Bahkan ada beberapa murid yang harus ditandu keluar karena lumpuh sementara akibat serangan fatal.

Tidak ada belas kasihan di tempat ini. Para Tetua yang mengawasi dari atas hanya berwajah datar dan berkata, "Selama tidak ada yang mati, pertarungan dilanjutkan!"

​Kini giliran Bao Hu yang naik ke arena. Lawannya adalah seorang murid bertubuh tinggi besar yang langsung tertawa mengejek saat melihat bentuk tubuh Bao Hu. "Sekte ini benar-benar kekurangan orang sampai-sampai babi gemuk sepertimu diizinkan bertarung?"

​Bao Hu tidak membalas. Saat pertarungan dimulai, lawannya melesat dan menghujani Bao Hu dengan pukulan bertubi-tubi. Namun, semua orang terkejut.

Daya tahan tubuh Bao Hu setelah tiga bulan latihan keras benar-benar luar biasa; lemak di tubuhnya justru menjadi bantalan alami yang meredam serangan lawan.

​Melihat lawannya mulai kelelahan, Bao Hu mengambil napas dalam-dalam. Dengan raungan keras, ia memusatkan seluruh berat badannya dan menerjang maju seperti banteng mengamuk.

​BOOM!

​Hantaman tubuh Bao Hu membuat murid besar itu terlempar lurus keluar dari batas arena dan pingsan seketika.

Bao Hu menang dengan susah payah, tubuhnya penuh memar, namun wajahnya memancarkan kebahagiaan yang belum pernah ada sebelumnya. Dari pinggir arena, Xiao Chen tersenyum bangga. Sahabatnya akhirnya berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan lagi sebuah beban.

​Setelah itu, giliran Qian'er. Lawannya adalah seorang murid laki-laki yang meremehkannya karena Qian'er tampak gemetar ketakutan di tengah arena. "Menyerahlah sekarang, Gadis Kecil. Aku tidak suka memukul wanita."

​Qian'er tidak mundur. Saat lawan menerjang maju dengan pedang terhunus, gerakan Qian'er tiba-tiba berubah menjadi sangat lincah. Tangan kecilnya bergerak secepat kilat, menjentikkan beberapa batang jarum tipis yang hampir kasat mata.

​ZUP! ZUP!

​Jarum-jarum spiritual itu menancap tepat di titik-titik saraf vital lawan dengan presisi yang mengerikan. Hanya dalam hitungan detik, murid laki-laki itu mendadak kaku, kehilangan keseimbangan, dan ambruk dengan setengah tubuhnya lumpuh total.

Para Tetua di panggung kehormatan mulai menegakkan duduk mereka, memperhatikan bakat racun dan medis tersembunyi yang dimiliki Qian'er. Desas-desus tentang keganasan gadis pendiam itu pun mulai menyebar.

​"Murid Xiao Chen! Maju ke arena nomor tiga!" Suara instruktur menggema.

​Bisik-bisik langsung terdengar dari bangku penonton saat Xiao Chen berjalan tenang memasuki area batu.

​"Dia bocah yang selamat dari Hutan Kabut itu, kan?"

"Anak gila yang berani menantang tinju Senior Zhao Kun..."

​Lawan pertama dan kedua Xiao Chen hanya murid biasa dengan kultivasi rendah. Mengandalkan ketenangan dan teknik dasar yang matang, Xiao Chen berhasil memenangkan beberapa pertandingan awal tanpa kesulitan berarti.

​Namun, roda turnamen mempertemukannya dengan lawan yang sesungguhnya di babak perempat final: Liang Wei.

​Begitu nama Liang Wei dipanggil, area sekitar arena nomor tiga langsung sunyi senyap. Semua murid tahu betapa sadisnya senior yang satu ini. Di atas paviliun, Feng Lin menonton dengan senyum licik yang melebar.

​Liang Wei berjalan memasuki arena sambil memutar-mutar lehernya hingga berbunyi kasar. Tatapannya penuh nafsu membunuh saat menatap Xiao Chen. "Aku dengar dari Zhao Kun... kau adalah anjing baru yang suka menggigit senior?"

​Xiao Chen tidak menjawab. Ia menarik pedang kayu standar sekte dari pinggangnya, memasang kuda-kuda rendah dengan tingkat kewaspadaan tertinggi.

​"Mulai!" Teriak instruktur.

​SHOOSH!

​Liang Wei melesat seketika. Gerakannya menciptakan embusan angin kencang karena dorongan Qi tahap puncak Ranah Pemula. Pukulan pertamanya datang seperti badai, mengincar pelipis Xiao Chen.

​TAK! TAK! BUG!

​Xiao Chen berhasil menangkis dua pukulan awal dengan pedang kayunya, namun kecepatan Liang Wei berada di ranah yang berbeda. Sebuah tendangan bersarang telak di rusuk Xiao Chen, membuatnya tergeser beberapa meter di atas lantai batu.

​Liang Wei tidak memberikan jeda. Ia menyerang secara membabi buta dengan kombinasi pukulan besi dan cakar.

Xiao Chen kewalahan, tubuhnya dipaksa murni bertahan. Tekanan dari perbedaan satu ranah kultivasi dan pengalaman bertarung yang timpang membuat Xiao Chen terus menerima hantaman di bahu dan lengannya.

​KRAK.

​Xiao Chen meringis, ia bisa merasakan tulang lengan kanannya kembali retak akibat hantaman konstan Qi lawan. Darah segar mulai mengalir dari pelipisnya, menetes melewati pipi dan membasahi kerah jubah abunya.

​Namun, Xiao Chen menolak untuk jatuh. Di tengah rasa sakit yang membakar, fokusnya justru menajam ke titik tertinggi. Indra perasanya seolah melambat; ia mulai bisa membaca ritme aliran Qi di tubuh Liang Wei.

Di dalam ruang jiwanya, Roh Pedang memperhatikan dengan takjub—bocah ini sedang menyerap pengalaman tempur sejati dan berkembang dengan kecepatan yang tidak masuk akal di ambang kematian.

​Setelah menerima puluhan pukulan, Xiao Chen melihat satu celah kecil saat Liang Wei menarik tangannya terlalu jauh ke belakang.

​"Sekarang!"

​Xiao Chen memutar tubuhnya perlahan, mengabaikan rasa sakit di lengannya. Ia mengayunkan pedang kayunya dengan lintasan yang aneh, tanpa bentuk, tanpa arah yang pasti, namun sangat mematikan.

​TEKNIK PEDANG TANPA BENTUK: TAHAP PERTAMA!

​SRAKK!

​Ujung pedang kayu Xiao Chen membelah udara, menciptakan tekanan angin tipis yang berhasil melewati pertahanan Liang Wei dan meninggalkan sayatan luka dalam di pipi sang senior. Darah segar menyembur dari wajah Liang Wei.

​Seluruh penonton di arena gempar. Seorang murid baru yang babak belur berhasil melukai wajah murid luar senior tahap puncak!

​"Bocah sialan!!! Kau berani merusak wajahku?!" Liang Wei raung murka. Rasa malu karena dipermalukan di depan umum membuatnya kehilangan akal sehat. Ia melupakan janjinya pada Feng Lin untuk hanya melumpuhkan; sekarang ia ingin membunuh.

​Liang Wei menarik napas dalam, seluruh Qi hitam di tubuhnya bergolak liar ke arah cakar tangannya, mengeluarkan aura pembusukan yang pekat. Ini adalah teknik terlarang faksi murid luar: "Cakar Penghancur Tulang!"

​"Mati kau, kecoak!!!" Liang Wei melompat tinggi, cakarnya yang diselimuti energi hitam pekat melesat lurus, mengincar tempurung kepala Xiao Chen dengan kecepatan penuh.

​Dalam momen kritis hidup dan mati itu, detak jantung Xiao Chen seolah berhenti. Insting bertahan hidup yang ekstrem memicu sesuatu yang terkunci di dalam lubuk jiwanya.

​DEG!

​Simbol jalan pedang di pergelangan tangan Xiao Chen tiba-tiba menyala dengan cahaya merah darah yang sangat terang di balik perbannya. Seketika itu juga, kabut hitam tipis mulai merembes keluar dari bawah lantai batu arena, berputar mengelilingi kaki Xiao Chen.

​DENTING! DENTING! DENTING!

​Fenomena aneh terjadi di seluruh lapangan terbuka. Pedang-pedang besi milik ratusan murid yang sedang menonton di sekitar arena tiba-tiba bergetar hebat dengan sendirinya di dalam sarungnya, mengeluarkan suara rintihan logam seolah-olah ketakutan.

​Han Gu yang sedang mengawasi dari kursi kehormatan langsung berdiri tegak, matanya membelalak penuh horor saat merasakan kembalinya aura terkutuk itu.

​Jauh di wilayah faksi Murid Inti, Lu Xue'er mendadak menoleh tajam ke arah lapangan turnamen. Pedang Es Sucinya di pinggang meraung sangat keras untuk kedua kalinya, memancarkan energi dingin yang membekukan lantai paviliunnya.

​Di tengah arena, kedua mata Xiao Chen perlahan-lahan kehilangan warna putihnya, berubah total menjadi merah gelap yang pekat dan haus darah. Kesadarannya mulai tenggelam, digantikan oleh dorongan membantai yang murni.

​Tepat sebelum cakar Liang Wei menghantam kepala Xiao Chen, dan tepat sebelum Xiao Chen kehilangan kendali penuh atas tubuhnya untuk melepaskan murka Pedang Iblis—

​BRAKKKK!!!!!

​Sebuah hantaman meteor raksasa seolah jatuh dari langit, mendarat tepat di tengah-tengah antara Xiao Chen dan Liang Wei.

Benturan itu begitu dahsyat hingga menghancurkan seluruh lantai batu arena menjadi berkeping-keping dan melemparkan tubuh Liang Wei serta Xiao Chen ke arah yang berlawanan.

​Debu, tanah, dan puing-puing batu pekat langsung membubung tinggi ke udara, menutupi seluruh arena nomor tiga dalam kegelapan total.

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!