NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Cahaya Biru dan Luka yang Tak Terlihat

"Aku tidak menuduh," jawab Jin Wu, senyumnya semakin melebar. "Aku hanya meyakini bahwa musuh kita adalah seseorang yang sangat memahami struktur kekuatan di Cheon-gi Won. Seseorang yang tahu kapan penjagaan kita paling lemah." 

Penyihir Jin memukul meja dengan pelan namun tegas. "Cukup perdebatannya. Roh anjing itu bukan sekadar hewan; itu adalah kunci untuk mendeteksi energi terlarang. Siapa pun yang memegangnya sekarang, dia sedang merencanakan sesuatu yang besar. Aku ingin kalian menyisir setiap sudut kota. Jika roh itu ditemukan di tangan orang yang salah, Niskala akan berada dalam bahaya besar." 

Ruangan itu kembali sunyi. Keempat penyihir tersebut saling bertukar pandang, menyadari bahwa di balik meja panjang ini, kepercayaan di antara mereka mulai retak seiring dengan bangkitnya kekuatan kegelapan yang tak terlihat. 

****

Halaman aula utama Cheon-gi Won tampak agung di bawah sinar matahari. Di sana, para petinggi penyihir tengah berkumpul. Han Seol melangkah masuk dengan kepala tegak, diapit oleh sahabat-sahabatnya, serta Seol-Ah dan Madam Oh yang setia di belakangnya.

"Paman!" seru Han Seol dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. Ia berhenti tepat di hadapan Penyihir Do yang berdiri kaku. "Aku datang untuk menagih janji. Aku ingin menunjukkan sesuatu."

Tanpa menunggu jawaban, Han Seol menarik napas dalam. Energi biru berpendar dari telapak tangannya, merambat ke gagang pedang ayahnya. Dengan satu gerakan mantap—SING!—bilah pedang itu terhunus sempurna. Cahaya birunya membelah udara, berkilau indah di depan mata semua orang.

Jin Wu terperangah, rahangnya mengeras melihat pemuda yang ia remehkan kini menggenggam kekuatan. Di sisi lain, Master Baek hampir saja melompat kegirangan, merasa bangga karena dugaannya tentang potensi Han Seol terbukti benar.

Namun, kebanggaan itu hanya bertahan sekejap.

Tiba-tiba, gelang pengikat sihir di pergelangan tangan Han Seol bergetar hebat hingga terlepas dan jatuh berdenting. Tangan kanan Han Seol tersentak. Pedang itu seolah memiliki nyawa sendiri, menyeret Han Seol maju dan menghujam lurus ke arah dada Penyihir Do.

Srett!

Ujung pedang merobek kain putih bersih milik Penyihir Do. Noda merah segar mulai merembes, kontras di atas jubah sucinya.

"Paman!" teriak Han Seol panik, matanya membelalak ngeri.

Seo Jun bergerak secepat kilat, mencengkeram tangan Han Seol yang masih gemetar. "Jin Chae Rin! Pasang kembali gelangnya! Cepat!"

Dengan sisa tenaga, Jin Chae Rin menggerakkan sihirnya, menarik kembali gelang yang tergeletak di lantai untuk mengunci pergelangan tangan Han Seol. Begitu gelang terpasang, pedang itu jatuh dari genggaman Han Seol, berdenting pilu di atas batu.

"Percuma kau bisa menghunusnya jika kau tak bisa mengendalikannya," ucap Penyihir Do dengan suara datar yang sarat akan kekecewaan.

"Tapi dia berhasil mengalahkan Putra Mahkota, Tuan!" Jin Chae Rin membela dengan suara gemetar. "Aku melihatnya sendiri!"

Mendengar itu, Penyihir Jin tersentak, sementara Jin Wu mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Rasa iri dan amarah membakar hati Jin Wu; bagaimana mungkin bocah ingusan ini bisa melampaui murid terbaiknya?

"Kurung dia di ruang hukuman," perintah Penyihir Do dingin. "Dia berbahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain."

****

Luka di Balik Kegelapan

Malam harinya, di dalam ruangan hukuman yang lembap, pintu kayu yang berat berderit terbuka. Penyihir Do masuk diam-diam. Di sana, di bawah cahaya lilin yang redup, wajah kerasnya luruh. Matanya berkaca-kaca menatap Han Seol yang terduduk lesu.

Sebenarnya, hatinya meledak oleh rasa bangga. Ia ingin memeluk keponakannya itu dan memuji keberhasilannya. Namun, ketakutan akan keselamatan Han Seol jauh lebih besar daripada rasa bangganya.

"Kau bodoh, Han Seol," bisik Penyihir Do, suaranya parau. Ia bahkan tidak peduli pada luka di dadanya yang masih terasa perih.

Han Seol mendongak, matanya berkaca-kaca melihat noda darah di baju pamannya. "Paman, maafkan aku... aku tidak bermaksud..."

"Dengarkan aku!" bentak Penyihir Do, memaksa dirinya untuk bersikap kejam. "Berhentilah bermimpi menjadi seperti ayahmu. Berhentilah bermimpi menjadi orang terhebat di Niskala! Kau tidak akan pernah bisa!"

Suara itu menggelegar, memantul di dinding batu yang dingin.

"Kebenaran tentang kelahiranmu... itu hanya akan menyeretmu ke dalam kehancuran jika kau terus mengejar bayang-bayang Han Gyeol. Ingat itu!"

Penyihir Do berbalik dan pergi dengan langkah cepat, menyembunyikan air matanya yang akhirnya jatuh. Ia meninggalkan Han Seol dalam keheningan yang menyesakkan.

Han Seol terpaku. Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tusukan pedang mana pun. Dadanya terasa sesak; panas, dingin, dan sakit bercampur menjadi satu. Ia merasa seolah dunia yang baru saja ia bangun dengan susah payah, runtuh seketika dan melemparkannya ke jurang tak berdasar.

Saat Seol-Ah datang menghampirinya beberapa saat kemudian, ia tidak menemukan Han Seol yang penuh semangat. Di sana, di sudut gelap itu, hanya ada seorang pemuda yang diam seribu bahasa, dengan tatapan mata yang seolah telah kehilangan cahayanya.

"Seol...?" bisik Seol-Ah penuh kekhawatiran.

Han Seol tidak menjawab. Ia hanya menatap tangannya yang terikat, menyadari bahwa luka terdalam ternyata bukan berasal dari musuh, melainkan dari orang yang paling ia harapkan restunya.

****

Mangsa di Balik Jendela Kereta

Di Rumah Mawar, suasana masih tampak tenang, namun pikiran pengawal kepercayaan Jin Wu tidak demikian. Dia adalah Kwon Mu Bin. Setelah mengantarkan tuannya kembali ke Myeong-gyeong Gak, ia merenungkan laporan rahasia dari bawahannya. Sebuah lencana Cheon-gi Won telah dijual oleh pelayan rumah ini, dan lencana itu milik Han Seol.

"Pelayan bernama Seol-Ah itu..." gumam Kwon Mu Bin sambil menatap kegelapan. "Mungkinkah dia adalah Nara yang hilang?"

Namun, ia punya tugas yang lebih mendesak malam ini.

Malam semakin larut saat sebuah kereta kuda hitam berhenti di pinggiran kota yang sepi. Di dalamnya, Kasim Kim terengah-engah, tubuhnya mulai membusuk karena penuaan dini akibat sihir pemindahan jiwa yang tidak stabil. Pria berjubah yang sering menyerap energi gelandangan itu kini benar-benar sekarat.

"Cari... aku butuh... energi," rintih Kasim Kim dari dalam kegelapan kereta.

Kwon Mu Bin memberi isyarat kepada anak buahnya untuk berhenti saat melihat seorang warga yang berjalan sendirian di tengah malam.

"Turunkan keretanya. Sembunyi!" perintahnya pelan.

Saat anak buahnya menghilang ke dalam bayang-bayang, Kwon Mu Bin mengubah raut wajahnya menjadi penuh kecemasan. Ia berlari kecil menghampiri warga malang itu.

"Tuan! Tolong saya!" teriaknya dengan nada memohon. "Ada orang sakit di dalam kereta ini, dia sangat lemah. Bisakah Anda membantu saya memindahkannya?"

Warga yang malang itu, tergerak oleh rasa iba, mengangguk. "Tentu, mari saya bantu."

Mereka berdua mendekati jendela kereta yang tertutup tirai tipis.

"Dia ada di sana, Tuan. Dekatkan wajah Anda, dia ingin membisikkan sesuatu," bisik Kwon Mu Bin dengan seringai yang tak terlihat.

Saat warga itu mencondongkan tubuhnya ke jendela, sebuah tangan pucat dengan kuku-kuku hitam keluar dengan kilat. Kasim Kim mencengkeram kepala pria itu.

"T-tolong! Apa ini—AAARRGGHH!"

Suara teriakan itu teredam seketika. Asap biru kemerahan mengalir deras dari mata dan mulut warga tersebut, berpindah masuk ke telapak tangan Kasim Kim. Dalam hitungan detik, tubuh warga itu mengeras, kulitnya berubah menjadi abu-abu kusam, dan matanya memutih. Saat tangan Kasim Kim melepaskannya, tubuh yang telah menjadi batu itu jatuh ke tanah dengan bunyi prak yang mengerikan.

"Sempurna," bisik sang pengawal sambil merapikan jubahnya.

Namun, mereka tidak sadar bahwa di atas bukit yang menghadap ke jalan itu, sesosok bayangan berdiri tegak. Seorang pria misterius menatap pemandangan itu dengan dingin. Di sampingnya, anjing roh keluarga Jin menggeram rendah. Bulunya berdiri, dan matanya berkilat biru tajam.

"Kau merasakannya, bukan?" bisik pria itu pada anjingnya. "Bau busuk jiwa yang berpindah. Ternyata mereka berpesta di sini."

Anjing itu mengendus udara, mengeluarkan suara geraman yang bergetar karena haus akan perburuan.

Pria itu mengelus kepala sang roh artefak. "Sabar. Biarkan mereka merasa aman sebentar lagi. Saat waktunya tiba, kau akan mencabik-cabik jiwa mereka."

1
Protocetus
Mukbang 👍
Soobin Chan: Ayamnya ada yang punya🤣
total 1 replies
Schauven
Jadi keinget aos. Seru ini
Soobin Chan: 👍 jangan lupa subscribe biar gak ketinggalan cerita barunya
total 1 replies
Schauven
demen nih gua sama genre begini
Soobin Chan: makasih😄
total 1 replies
Protocetus
udah kontrak belum min?
Soobin Chan: sudah
total 1 replies
Soobin Chan
Terima Kasih kak, karena udah mau baca novel saya 👍
Protocetus
Cie cie 💪
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Blueria
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: iya, saking sepinya/Scowl/
total 3 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!