Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.
Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.
Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.
Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.
Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELEPAS ZIRAH DI AMBANG LELAH
Kalimat itu meluncur dari bibir Damira layaknya sembilu, tajam dan tak tertahan lagi. Ia menatap Nayaka dengan sorot mata yang tak lagi menyisakan ruang untuk negosiasi atau nostalgia. Semua kenangan manis yang mungkin pernah ada selama satu dekade terakhir mendadak hangus, terbakar oleh kenyataan pahit yang baru saja disodorkan pria itu.
"Jadi tolong, Nayaka," ucap Damira dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan, "lupakan sepuluh tahun kebersamaan kita. Jangan pernah bawa-bawa masa lalu itu seolah itu adalah utang yang harus kubayar. Kamu minta aku ingat masa lalu? Oke, aku ingat. Aku ingat betul saat Azzura ada di rumahmu, saat orang tuamu merendahkan aku dengan kata-kata paling hina yang bisa kudengar, dan kamu? Kamu hanya diam dan duduk manis di sana, bukan mengejarku atau membelaku!"
Damira tertawa sinis, air mata kemarahan hampir jatuh namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia ingin pria di hadapannya ini melihat bahwa ia bukan lagi Damira yang bisa ditindas dengan janji-janji kosong.
"Sekarang urus istri dan anakmu. Berhenti berhalusinasi tentang kita atau melemparkan dosa perbuatanmu kepada Satya. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku," Damira maju selangkah, memberikan peringatan terakhir yang paling nyata. "Satu kali lagi kamu mengusikku, atau muncul di depan kantorku, bukan aku yang akan bicara. Kakak-kakakku yang akan turun tangan, dan mereka akan kasih kamu paham soal semua ini dengan cara mereka sendiri. Pergi, Nayaka. Sebelum aku benar-benar kehilangan sisa rasa hormatku pada diriku sendiri karena pernah mengenal pria sepertimu."
Nayaka terdiam, rahangnya teratup rapat, dan untuk pertama kalinya, ia melihat dinding pertahanan Damira bukan lagi terbuat dari kesabaran, melainkan dari baja yang tak tertembus. Tanpa menoleh lagi, Damira berbalik, meninggalkan Nayaka yang berdiri mematung di tengah bayang-bayang kegagalannya sendiri.
Nayaka tertegun di tempatnya berdiri, tangannya yang semula hendak meraih lengan Damira tertahan di udara, membeku oleh dinginnya ancaman yang baru saja ia terima. Nama kakak-kakak Damira disebut bukan sekadar untuk menakut-nakuti; Nayaka tahu persis bahwa keluarga Damira bukanlah orang-orang yang bisa ia beli dengan uang atau intimidasi jabatan.
Damira tidak menoleh sedikit pun. Ia terus melangkah masuk ke dalam gedung, membiarkan bunyi langkah sepatunya bergema di lobi yang mulai sepi. Sesampainya di meja kerjanya yang sudah kosong, ia terduduk lemas. Seluruh persendiannya terasa lolos. Amarah yang meledak tadi menyisakan ruang hampa yang amat perih di dadanya.
Ia meraih ponselnya, jemarinya bergetar saat mencari satu nama di kontak yang sudah lama tidak ia hubungi. Bukan Satya, bukan juga Azzura.
"Halo, Abang?" suara Damira pecah saat panggilan itu tersambung.
"Mira? Kamu kenapa? Suara kamu kok gitu?" tanya suara berat di seberang sana, penuh nada protektif yang seketika meruntuhkan tembok pertahanan Damira.
"Nayaka datang ke kantor Mira, Bang... Dia... dia makin gila. Mira capek. Mira mau pulang ke rumah aja, mau sama Abang-Abang aja," tangis Damira pecah di sana, di tengah ruangan kantor yang hanya diterangi lampu temaram.
Di seberang sana, kakaknya terdiam sejenak, namun Damira bisa mendengar deru napas yang tertahan—tanda bahwa amarah sang kakak sedang memuncak. "Besok Abang jemput. Kamu jangan keluar kantor sendirian malam ini. Tunggu di dalam sampai Abang datang. Soal Nayaka... biar itu jadi urusan kami. Dia sudah terlalu jauh menginjak harga diri kamu, Dek."
Damira mematikan teleponnya. Ia memeluk dirinya sendiri di tengah kegelapan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia berhenti mencoba menjadi "obat" bagi orang lain. Ia berhenti peduli pada kehancuran Azzura atau kebingungan Satya. Malam itu, Damira memutuskan untuk membiarkan kebenaran meledak dengan caranya sendiri, sementara ia memilih untuk kembali menjadi adik kecil yang dilindungi, meninggalkan semua kekacauan yang diciptakan oleh ambisi gila seorang Nayaka.
Tangis Damira yang tadinya tertahan kini benar-benar pecah saat melihat sosok tegap yang berdiri di lobi. Danang, kakak keduanya, sudah berdiri di sana dengan jaket kulit kesayangannya dan kunci mobil yang ia putar-putar di jari—sebuah gestur santai yang selalu berhasil membuat Damira merasa aman, seolah-olah dunia tidak akan berani menyentuhnya jika pria itu ada di sana.
Danang segera melangkah maju, merengkuh bahu adiknya yang bergetar. Ia tidak perlu bertanya banyak; satu telepon tadi sudah cukup menjelaskan betapa hancurnya pertahanan Damira.
"Kamu menelepon orang yang tepat, Dek," ucap Danang dengan suara berat yang menenangkan, namun matanya menatap tajam ke arah pintu keluar, seolah berharap Nayaka masih ada di sana untuk ia beri "pelajaran".
Ia menunduk menatap Damira, lalu sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya untuk mencairkan suasana. "Kamu tahu kan, Mas akan terus di sini. Tadi kakak iparmu bahkan sampai menelepon Mas, dia bilang: 'Mas, kalau ketemu si Nayaka itu, tonjok saja! Biar dia paham cara menghargai perempuan.'"
Damira tersenyum getir di balik isak tangisnya. Ia tahu kakak iparnya—istri Danang—adalah sosok yang paling vokal jika menyangkut ketidakadilan yang menimpa dirinya.
"Mas serius, Mir," lanjut Danang, kini suaranya melembut namun tegas. "Cukup sudah kamu jadi pahlawan buat orang-orang yang cuma tahu cara menyakiti kamu. Sekarang waktunya kamu pulang. Biar Mas dan abang-abangmu yang lain yang jadi pagar buat kamu. Kalau Nayaka masih berani menginjakkan kaki di radius sepuluh meter dari kamu, Mas nggak akan cuma kasih peringatan lewat kata-kata lagi."
Danang mengambil alih tas kantor Damira, seolah ingin mengangkat semua beban fisik dan mental yang selama ini ditanggung adiknya sendirian. "Ayo pulang. Ibu sudah masak di rumah. Lupakan soal kantor, lupakan soal Azzura, dan buang nama Nayaka ke tempat sampah. Malam ini, kamu cuma perlu jadi adik kecil kami lagi."
Damira mengangguk lemah, mengikuti langkah lebar kakaknya menuju parkiran. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak perlu lagi menyembunyikan lukanya sendiri demi mengobati luka orang lain. Karena sekarang, ia punya orang lain yang akan menyembuhkan lukanya.
Sesampainya di rumah, suasana hangat khas keluarga langsung menyambut Damira. Bau masakan rumah merayap masuk ke indra penciumannya, kontras dengan dinginnya AC kantor yang menyesakkan tadi. Mas Danang masih merangkul bahu Damira saat mereka melangkah masuk melewati pintu jati besar rumah mereka.
Ayah yang sedang duduk di kursi goyang ruang tengah sambil membaca koran digitalnya, langsung mendongak. Kacamata bacanya ia turunkan sedikit ke ujung hidung, menatap heran ke arah kedua anaknya.
"Tumben dijemput Mas Danang, kenapa?" tanya Ayahnya dengan suara serak yang penuh wibawa namun menyimpan rasa ingin tahu. "Mobil kamu ditinggal di kantor? Atau si Danang lagi mau pamer mobil barunya ke kamu?"
Mas Danang tertawa kecil sambil melirik Damira, memberikan kode lewat remasan lembut di bahu adiknya agar Damira tetap tenang.
"Bukan pamer mobil, Yah," sahut Mas Danang santai sembari menuntun Damira untuk duduk di sofa. "Tadi Danang lagi lewat daerah kantor Mira, ya sudah sekalian saja diculik adiknya biar nggak pulang sendirian. Sesekali pengen jadi kakak yang berbakti, Yah, biar nggak dibilang sombong sama istri di rumah."
Ayahnya menutup tabletnya, tatapannya beralih ke wajah Damira yang tampak sedikit pucat. Sebagai orang tua, beliau tentu menangkap ada sesuatu yang tidak beres, namun beliau cukup bijak untuk tidak langsung mencecar putrinya saat itu juga.
"Ya sudah, kalau memang mau jadi kakak yang baik, pimpin doa nanti pas makan malam," ucap Ayahnya sambil tersenyum tipis, lalu beralih menatap Damira. "Mira, ganti baju sana. Ibu sudah masak rendang kesukaanmu. Makan yang banyak, wajahmu pucat sekali seperti kurang vitamin. Urusan kantor jangan dibawa sampai ke meja makan."
Damira mengangguk lemah, merasa lega karena Mas Danang mampu menutupi kekacauan tadi dengan sangat rapi. Di rumah ini, di bawah atap yang sudah melindunginya sejak kecil, Damira merasa ia bisa melepas seluruh beban itu. Ia tidak perlu lagi menjadi pelindung bagi Azzura atau tameng bagi Satya. Di sini, ia hanyalah putri kesayangan ayahnya yang sedang pulang untuk mencari ketenangan.