Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.
Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.
mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendaftaran Sekolah
Risma merapikan tunik berwarna merah jambu, memakai kerudung dengan warna senada, dan rok berwarna hitam.
"Jalal, hayu berangkat." Sebuah panggilan yang tidak terlalu kencang, tapi terasa oleh Jalal yang sudah rapi memakai kemeja. Anak 7 tahun itu melangkah keluar kamar.
"Bu... ini gini aja, nggak pakai seragam?"
Risma menatap kagum, cahaya berpendar menyelimuti tubuhnya. "Nggak, Jalal. Hari ini daftar saja, sekolahnya dua minggu lagi."
Jalal melangkah tanpa menyela lagi, ia menggandeng tangan ibunya yang terasa kasar, untuk menghidupinya, ia tahu ibunya menjadi buruh tani.
Pagi itu, udara tidak terlalu panas, tapi bagi Risma, hawa seperti itu membuatnya tidak nyaman, namun Jalal tersenyum lebar, membuat Risma sedikit lega.
Di ruang Kepala Sekolah SD Negeri 02 Pabean, bau kertas tua dan minyak kayu putih menyeruak. Pak Jamal, sang kepala sekolah yang rambutnya sudah memutih di bagian pelipis, berkali-kali membetulkan letak kacamata tebalnya. Ia menatap formulir pendaftaran di atas meja, lalu beralih menatap bocah laki-laki di depannya yang kelopak matanya tertutup rapat.
"Ibu Risma," Pak Jamal memulai dengan nada sangsi, "saya bukannya mau membedakan. Tapi sekolah kita ini sekolah umum, sekolah desa. Kita tidak punya guru pendamping, tidak ada buku huruf braille, fasilitasnya seadanya. Apa tidak sebaiknya Jalal masuk SLB saja di kota? Takutnya nanti dia malah ketinggalan jauh."
Risma menelan ludah, ia meremas ujung kerudungnya. "Saya mohon Pak, suami saya sudah meninggal, untuk makan sehari-hari saja, saya harus bekerja dari pagi pulang sore. Jalal walaupun tidak melihat, ia beda. Pendengarannya sangat tajam. Dia sudah bisa menulis, daya ingatnya kuat sekali. Dia hanya butuh seorang guru yang mau membacakan soalnya, maka Jalal akan menuliskan jawabannya."
Pak Jamal menghela napas. Baginya, pendidikan adalah hak, namun realita lapangan seringkali menjadi tembok besar. Ia beranjak dari kursinya memanggil Ibu Nina, seorang guru muda yang baru saja ditunjuk menjadi wali kelas satu.
Seorang guru perempuan masuk, wajahnya putih bersih dengan alis hitam yang menghiasi wajahnya.
"Bu Nina, ini ada calon murid baru. Namanya Jalaludin," kata Pak Jamal. Ibu Nina duduk di samping, mengamati. "Ibunya ingin Jalal masuk kelas umum. Tapi... Jalal ini tidak bisa melihat. dari lahir. Ibu sanggup tidak mengajari dan mendidiknya"
Ibu Nina tidak langsung menjawab. Ia justru mendekati Jalal, berjongkok agar tingginya setara dengan bocah tujuh tahun itu. Ia memperhatikan wajah Jalal yang bersih, namun ada aura kedewasaan yang ganjil terpancar dari sana.
"Jalal," sapa Ibu Nina lembut. "Kamu, sungguh mau sekolah di sini?"
Jalal mengangguk pelan. "Mau, Bu." Tangannya dengan santai memindahkan tongkat bambu yang menghalangi ibu Nina.
"Kamu sudah bisa baca tulis, Nak?"
Jalal tertawa kecil, "Ibu gimana sih, Jalal kan buta... Tapi Jalal bisa menulis, dan pandai menghapal... ibu yang ajari." tangannya menunjuk Risma.
Ibu Nina berdeham pelan. "Ibu test ya? kalau kamu lulus, kamu boleh sekolah di sini." Menyodorkan selembar kertas ke hadapan Jalal. "Coba tulis, ibu saya cantik sekali," seru Ibu Nina sambil menoleh ke arah Risma.
Jalal tidak tampak berpikir lama. Ia mengambil sebuah pensil kayu di saku kemejanya. Tanpa ragu, tangan kecil Jalal mulai menari di atas kertas. Gerakannya mantap, tidak ragu-ragu seperti anak yang baru belajar memegang alat tulis.
Setelah beberapa saat, Jalal menggeser kertas itu ke arah Ibu Nina. Mata Ibu Nina membelalak, begitu juga Pak Jamal yang ikut melongokkan kepalanya.
Tulisan itu sangat rapi, bahkan lebih bagus dari tulisan anak normal seumuran kelas dua atau tiga. Dan yang paling mustahil: tulisan itu lurus sempurna mengikuti garis imajiner di atas kertas, seolah-olah Jalal bisa melihat garis-garis yang tidak ada di sana, walau tulisannya tidak sama persis dengan ucapan Ibu Nina.
Ibu saya cantik sekali, selain cantik ibu saya juga baik hati.
"Luar biasa..." bisik Ibu Nina takjub. "Tulisannya rapi, dan anak ibu gombal sekali." Membuat seisi ruangan tertawa kecil.
Ibu Nina menoleh ke arah Risma dengan binar mata yang penuh rasa penasaran bercampur simpati. "Ibu Risma, jika Jalal masuk kelas saya, apakah saya harus memberinya perlakuan istimewa di antara murid-murid yang lain? Mengingat... kekurangannya?"
Risma baru saja hendak membuka mulut, namun suara kecil Jalal sudah memotong lebih dulu.
"Tolong samakan saja saya dengan yang lain, Bu Guru," ucap Jalal dengan nada polos khas anak-anak, namun ada ketegasan di setiap suku katanya. "Jalal tidak ingin jadi istimewa. Jalal hanya ingin sekolah."
Pak Jamal dan Ibu Nina saling berpandangan. Akhirnya, sang kepala sekolah mengetukkan pulpennya ke meja. "Baiklah. Jalal kami terima di sekolah ini."
Risma mengusap matanya yang basah, memeluk dan mencium Jalal. "Kamu jadi sekolah, Nak. Alhamdulillah, Ya Allah."
Pak Jamal dan Ibu Nina tersenyum, sambil mengusap mata dengan jari.
----
Dua minggu kemudian...
Hari pertama sekolah dimulai dengan hiruk pikuk yang khas. Namun, saat Risma menuntun Jalal berjalan menyusuri lorong sekolah, suasana mendadak berubah. Langkah kaki mereka diiringi oleh bisik-bisik yang tidak keruan dari para orang tua murid yang sedang menunggu di teras kelas.
"Lho, anak itu buta?!"
"Kok masuk sekolah sini? Emang bisa belajarnya?"
"Aduh, kasihan ya. Pasti nanti cuma jadi beban gurunya saja."
Risma merasa telinganya panas, hatinya seperti diiris sembilu. Ia refleks menutup telinganya sendiri, seolah-olah dengan begitu ia bisa melindungi Jalal dari racun kata-kata itu. Namun, ia melihat Jalal tetap berjalan dengan tenang. Wajah bocah itu datar, kakinya melangkah mantap mengikuti tarikan tangan ibunya, seolah semua cibiran itu hanyalah desau angin laut yang lewat begitu saja.
Di depan pintu kelas satu, Risma melepaskan tangan Jalal. "Ibu tunggu di luar ya."
"Iya, Mak. Jalal masuk dulu."
Di dalam kelas, Ibu Nina memulai sesi perkenalan. Satu per satu anak maju ke depan, menyebutkan nama dan cita-cita dengan suara malu-malu. Tibalah giliran Jalal. Dengan bantuan tongkat bambu kecilnya yang sengaja dicat putih agar terlihat seperti tongkat tuna netra biasa, Jalal berdiri di depan kelas.
Seluruh mata tertuju padanya. Beberapa anak laki-laki di bangku belakang mulai saling sikut dan menertawakan cara Jalal berjalan.
"Halo teman-teman. Nama saya Jalaludin," suara Jalal terdengar jernih, bergema di ruang kelas yang sunyi. "Seperti yang teman-teman lihat, saya tidak bisa melihat. Tapi saya bisa mendengar dengan sangat baik."
Jalal berhenti sejenak, lalu kepalanya sedikit miring, seolah-olah ia sedang menatap setiap kawan sekelasnya dari balik kegelapan matanya.
"Jalal minta tolong ya sama teman-teman... pensil Jalal jangan disembunyikan. Kaki Jalal juga jangan dijegal ya kalau lagi jalan. Kata Abah saya mah pamali."
Ruangan itu hening seketika. Ibu Nina tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. Di luar jendela, Risma yang mengintip dari balik tirai tidak kuasa menahan air matanya. Ia menyandarkan kepalanya di tembok sekolah yang kusam, hatinya membuncah oleh rasa bangga yang luar biasa.
"Kang Ahmad... lihat anakmu," bisik Risma dalam hati, suaranya parau oleh tangis yang tertahan. "Dia begitu tampan dengan seragam itu. Dia begitu berani menghadapi dunia yang ingin menginjaknya. Maafkan Akang, maafkan aku... aku akan menjaga titipanmu ini sekuat nyawaku."
Namun, di tengah suasana haru itu, Jalal merasakan sesuatu. Telinganya menangkap getaran kecil dari arah bangku belakang. Dua anak laki-laki sedang berbisik-bisik licik, merencanakan sesuatu untuk jam istirahat nanti.
"Nanti kita taruh lem di kursinya," bisik salah satu dari mereka.
Jalal hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tenang. Di dalam dadanya, tenaga dalam yang diajarkan sang Guru dalam mimpi mulai berputar perlahan, menghangatkan tubuhnya. Ia tahu, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar membaca dan menulis. Ini adalah medan latihan pertamanya untuk menghadapi dunia.