Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Matahari sore menggantung rendah di langit musim panas Zurich. Cahayanya jingga dan indah, tapi bagiku, ia tak benar-benar menyengat. Aku hanya bisa melihat kehangatan itu melalui kacamata jiwa yang kesepian. Bertahun-tahun aku terbiasa sendiri, tanpa ada yang menanti kepulanganku. Hanya saat mengenal Ghea—sosok yang kusebut rumah—aku merasakan kehangatan itu, meski hanya sekejap. Kini, sepi itu kembali, meninggalkan ruang kosong yang menganga lebar di sudut terdalam hatiku.
"Arthur."
Suara kursi berdecit memecah lamunanku. Markov sudah duduk di seberang mejaku. Aku berbalik dengan wajah yang sengaja dibuat layu, memoles topeng seorang asisten arsitek sistem yang kelelahan karena baris kode dan algoritma.
Markov meletakkan map putih di samping monitorku.
"Selamat, Arthur. Mulai hari ini, kau adalah Senior System Architect. Kau bukan lagi asisten," suaranya berat, penuh otoritas. "Kau telah membuktikan loyalitasmu di perbatasan. Sekarang, kau punya akses penuh ke mainframe inti Vanguard."
"Terima kasih, Tuan," jawabku datar. "Aku hanya ingin memastikan sistem ini tak tertembus. Vanguard memberikan apa yang kubutuhkan, maka aku memberikan yang terbaik untuk Vanguard."
Markov tersenyum tipis—tipe senyum yang berhenti di bibir tanpa pernah mencapai matanya.
"Itu yang membuatmu berharga. Kau adalah aset. Tapi ingat, kau sekarang adalah bagian dari ritme jantung kami. Jika kau tidak sejalan dengan ritme itu, kau harus dibuang."
Aku tahu itu ancaman, bukan ucapan selamat. Aku hanya mengangguk pelan. Di ruangan ini, hanya aku yang tahu siapa sosok di balik fasad ini sebenarnya.
Malam harinya, saat kantor telah sunyi, aku melakukan pekerjaan paling personal yang pernah kulakukan di gedung ini. Layar monitor sekunderku menampilkan sistem sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Sebuah laporan rekam medik muncul: Pasien didiagnosa Demam Berdarah Dengue dengan komplikasi trombosit drop drastis.
Dunia seolah berhenti berputar. Otakku membeku selama beberapa detik sebelum rasa panik yang dingin mulai merayap. Aku harus melakukan sesuatu.
Logikaku memerintahkanku untuk tetap di Zurich. Jika aku pulang sekarang, seluruh penyamaran setahun ini akan runtuh, dan Ghea akan kehilangan perlindungan permanen yang sedang kusiapkan. Aku meremas rambutku dengan frustrasi. Aku tidak bisa mendekapnya, tidak bisa menguatkannya. Aku di sini, dan dia di sana, bertaruh nyawa.
Aku tidak bisa memegang tangannya, tapi aku bisa memastikan jalannya menuju kesembuhan tanpa hambatan. Jemariku mulai menari di atas keyboard.
Pertama, aku meretas database farmasi rumah sakit. Aku mengunci stok obat-obatan terbaik hanya untuknya, memastikan tak ada kelangkaan di tengah musim penghujan. Aku memanipulasi jadwal dinas perawat, menggeser staf paling berpengalaman ke shift yang menjaga ruangannya dengan alasan "penyesuaian beban kerja".
Kedua, aku masuk ke sistem keuangan. Aku tidak menghapus tagihannya—itu akan memicu audit internal yang berbahaya. Sebaliknya, aku menggunakan salah satu akun cangkang Vanguard untuk melakukan "pembayaran anonim dari yayasan kesehatan internasional". Aku menanam enkripsi berlapis; jika ada yang mencoba melacaknya, mereka hanya akan menemukan labirin data palsu.
Melalui CCTV rumah sakit, aku melihatnya. Ghea tampak pucat, terbaring rapuh di atas brankar dengan selang infus tertancap di tangannya. Ayah dan ibunya berjalan di sampingnya dengan wajah cemas. Melihatnya begitu lemah membuatku ingin menghancurkan seluruh kota ini. Dia adalah nyawaku, dan saat ini, nyawaku sedang sekarat.
Keesokan harinya muncul pesan bahwa Ghea kesulitan mencari donor plasma darah untuk golongan darah AB rhesus negatif. Seketika hatiku mencelos. Aku ingat Ghea bukan murni berdarah Jawa. Ayahnya adalah campuran Prancis dan Jawa, sedangkan ibunya adalah campuran Maroko dan Jawa. Seluruh gen resesifnya tampaknya diturunkan pada Ghea.
Aku segera berselancar di database internasional untuk mencari orang di seluruh dunia yang memiliki golongan darah AB dengan rhesus negatif. Dan setelah 30 menit akhirnya aku menemukannya. Mohammed Abdullah, seorang warga Jeddah dengan ekonomi pas-pasan.
Melalui informanku, aku mengatur segalanya. Aku memastikan Mohammed terbang dan Ghea segera mendapatkan apa yang dia butuhkan.
Empat hari kemudian, sebuah pesan masuk: Kondisi pasien membaik setelah dua kantong transfusi plasma.
Aku menyandarkan kepala ke meja. Kelelahan yang luar biasa menghantamku. "Akan kuingat jasamu, Mohammed," gumamku sambil mentransfer $3.000 ke rekeningnya melalui akun anonim.
Markov mungkin mengira aku lembur demi kemajuan Vanguard. Dia tidak tahu bahwa malam ini, aku mempertaruhkan akses mainframe berharga ini hanya untuk memastikan wanita yang telah memutuskanku tetap hidup. Aku adalah pria paling berkuasa di gedung ini, sekaligus pria yang paling tidak berdaya di dunia.
Aku mematikan monitor, kembali menjadi Arthur yang dingin. Namun di balik saku jaketku, jemariku meremas erat gelang batu pemberian Ghea.
Hanya sebentar lagi. Aku akan memastikan dunia ini aman bagimu, meskipun aku harus membakarnya hingga menjadi abu.