NovelToon NovelToon
Malam Jum'At Keliwon

Malam Jum'At Keliwon

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.

Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Raga menekan telapak tangannya sedikit lebih kuat. Sekarang, justru Si Kepala Tanah yang merasakan kekuatan balik yang mendesak masuk ke dalam tubuhnya, merambat dari gagang senjatanya ke seluruh persendian batunya. Ia merasakan bagian-bagian tubuhnya yang tadinya kokoh, kini mulai merasakan getaran halus, merasakan bagian-bagian yang tidak rapat, merasakan retakan-retakan kecil yang selama ini ia sembunyikan dengan kekuatan.

"Apa... apa yang kau lakukan?!" seru Si Kepala Tanah panik, untuk pertama kalinya wajah kerasnya terlihat ketakutan. "Jangan... jangan masuk ke dalam diriku!"

"Aku hanya menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya," jawab Raga tenang. "Kau bilang Sang Adipati Kala memberimu keabadian? Lihat dirimu... Kau makhluk tanah yang hebat, penjaga tulang punggung dunia... tapi kau menjual kewibawaanmu demi janji kosong. Kau merasa kuat karena ada energi ungu yang mengisimu, tapi kau tidak sadar... energi itu perlahan memakanmu dari dalam. Ia membuatmu keras, kaku, dan akhirnya... rapuh."

Raga melepaskan tangannya, lalu melangkah maju tepat ke hadapan wajah Si Kepala Tanah yang masih terpaku kaget.

"Lihat ke sana... lihat teman-temanmu," tunjuk Raga ke arah pasukan batu yang masih bertempur.

Ternyata, saat Raga menyeimbangkan energi tanah tadi, aliran energi ungu yang mengendalikan mereka sempat terganggu sejenak. Para prajurit batu itu berhenti bergerak. Mata kristal mereka yang tadinya kosong dan merah, kini perlahan berubah menjadi abu-abu polos. Ada kilatan kesadaran yang perlahan kembali muncul di sana.

Mereka melihat sekeliling. Melihat tanah tempat mereka berdiri. Melihat gunung-gunung suci yang mereka jaga dulu. Dan melihat diri mereka sendiri yang kini berubah jadi alat pembunuh.

"Kita... kita apa ini..." suara berat salah satu prajurit batu terdengar pelan dan bingung. "Kenapa... kenapa kita menyerang penjaga keseimbangan? Kita... kita kan penjaga tempat ini..."

Si Kepala Tanah gemetar hebat. Ia merasakan kendali atas pasukannya mulai hilang. Ia merasakan energi ungu di dalam dadanya bergetar marah, seolah mengancam akan menghancurkan dirinya sendiri jika ia berhenti menaati.

"DIAM! KALIAN DIAM SAJA!" teriak Si Kepala Tanah bingung, setengah marah setengah takut. "Tuanku berjanji... dia berjanji kita akan hidup selamanya, berkuasa selamanya... kita tidak akan jadi debu yang terlupakan!"

"Apakah dengan cara merusak tempat yang menjadikanmu ada?" potong Kanjeng Raden sambil melangkah mendekat, kini pasukan batu tidak lagi menyerangnya, malah menyingkir memberi jalan. "Dengar, Kawan... Keabadian sejati itu bukan dengan menguasai, tapi dengan menjaga. Kalian abadi selama tempat ini ada. Dan tempat ini ada selama keseimbangan terjaga. Kalian merusak keseimbangan... sama saja kalian menghancurkan akar kehidupan kalian sendiri."

Nyi Blorong maju, matanya lembut namun tegas. Ia mengangkat tangannya, dan perlahan, dari tanah itu sendiri, muncul aliran-aliran energi cokelat bersih, murni, dan hangat, mengalir keluar dari inti Segel Tanah, menembus sumbatan energi ungu jahat itu, dan masuk ke dalam tubuh para makhluk batu itu.

Raga mengangguk. Ia tahu inilah saatnya. Ia tidak perlu bertempur sampai hancur. Ia hanya perlu mengembalikan mereka ke jati diri mereka yang asli.

"Kembalilah... kembali menjadi Penjaga Tulang Bumi yang sejati," seru Raga lantang, suaranya bergema memenuhi seluruh dataran tinggi. "Lepaskan ikatan palsu itu. Ingatlah siapa dirimu, dan untuk apa kau diciptakan!"

Cahaya cokelat keemasan semakin terang, menutupi seluruh wilayah. Tubuh para prajurit batu yang tadinya kasar dan keras, kini menjadi lebih halus, lebih hidup, lebih berwibawa. Mata mereka kembali bersinar terang, penuh kesadaran dan kehormatan yang hilang.

Dan di depan sana, Si Kepala Tanah berlutut perlahan ke tanah. Gadanya terlepas dari tangannya, jatuh gedebuk tanpa suara. Wajahnya yang keras kini penuh air mata batu yang mengalir pelan. Ia merasakan kekuatan jahat yang menguasainya selama ini perlahan ditarik keluar, melarikan diri ketakutan karena kekuatan asli tanah sudah bangkit kembali.

"Aku... aku salah..." suaranya parau dan penuh penyesalan. "Aku takut... aku takut dilupakan... aku takut jadi tidak berguna... makanya aku tergiur janji tuanku..."

Raga menepuk bahu raksasa batu itu dengan lembut.

"Kau tidak akan pernah tidak berguna, Kawan. Selama kau menjaga keseimbangan, kau adalah bagian paling penting dari dunia ini. Kau tulang punggung kami. Kau penyangga kami. Tanpamu, kami semua akan runtuh."

Di belakang mereka, Gerbang Segel Tanah kini bersinar terang. Cahaya ungu pengisap energi itu lenyap sama sekali, digantikan oleh cahaya cokelat keemasan yang mengalir tenang dan indah, menyebar ke seluruh penjuru bumi, mengembalikan fungsi aslinya sebagai penyeimbang dan penopang dunia.

Ancaman di Segel Kedua hampir selesai. Tapi Raga tahu... Sang Adipati Kala tidak akan diam saja. Dia pasti sudah menyiapkan perangkap yang jauh lebih berbahaya di Segel ketiga, yang konon berada di kedalaman samudra luas: Segel Air.

Si Kepala Tanah mengangkat wajahnya, menatap Raga dengan penuh hormat dan kesetiaan baru. Ia berdiri tegak kembali, kokoh dan gagah, namun kali ini bukan untuk menyerang, melainkan untuk melindungi.

"Terima kasih... Penjaga Sejati. Kau tidak hanya menyelamatkan tempat ini... kau juga menyelamatkan jiwa kami dari kegelapan abadi. Apa pun yang kau butuhkan, pasukan Tulang Bumi akan berdiri di sisimu mulai sekarang."

Raga tersenyum lega. Salah satu musuh terberatnya kini berubah menjadi sekutu terkuatnya.

"Terima kasih, Kawan. Sekarang, beritahu kami... apa yang kau tahu tentang rencana Sang Adipati Kala selanjutnya? Ke mana dia pergi, dan apa yang dia persiapkan di tempat lain?"

Si Kepala Tanah menunjuk ke arah garis cakrawala yang jauh ke utara, ke arah lautan luas yang tak bertepi.

"Dia pergi ke sana... ke dasar samudra, ke tempat pertemuan arus raksasa. Dia membawa serta kekuatan gelap yang paling berbahaya... dan dia sudah menempatkan panglima perang terkuatnya, Si Raja Arus, untuk menjaga Segel Air. Katanya... di sanalah dia akan melakukan serangan besar pertamanya yang akan mengguncang seluruh dunia."

Raga, Kanjeng Raden, dan Nyi Blorong saling bertatapan. Tugas belum selesai. Bahaya makin nyata.

"Ayo teman-teman... Istirahat sebentar saja. Kita butuh kekuatan penuh untuk menaklukkan lautan yang dalam dan dingin itu," kata Raga tegas.

Matahari mulai condong ke barat, menyinari Dataran Tinggi Tulang Bumi yang kini kembali damai dan bersinar indah. Segel Kedua selamat. Persahabatan baru terjalin. Dan langkah selanjutnya menunggu di kedalaman biru yang misterius dan mengerikan.

Perjalanan menuju keseimbangan dunia terus berlanjut, semakin mendalam, semakin luas, dan semakin mendebarkan!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!