Novelette
Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.
Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.
Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.
Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.
Kim membawa pesan yang sulit dipercaya
Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.
Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 | Pertarungan di Dunia Maya
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...
Di dalam ruang kerja apartemennya, Kim tampak sangat serius di hadapan deretan layar monitor yang menampilkan data-data rekaman CCTV, diagram teknis, serta foto-foto bukti di lokasi kejadian kecelakaan bus beberapa hari yang lalu. Tangannya bergerak lincah menganalisis setiap detail kecil yang tertangkap dalam data tersebut.
Iris duduk di hadapan Kim dengan wajah cemas. "Ada apa, Paman Kim? Apa ada yang salah dengan data kecelakaan itu?" tanyanya penasaran.
Kim mengangguk pelan, lalu menunjuk ke arah sebuah gambar komponen sistem pengereman bus yang diambil dari sudut pandang tertentu. "Benar, Nona Iris. Awalnya, polisi dan pihak ahli berpendapat bahwa kecelakaan itu murni disebabkan kerusakan mesin atau keausan komponen. Namun, berdasarkan data yang berhasil saya kumpulkan dan analisis mendalam, saya menemukan kejanggalan yang mencurigakan."
Jari telunjuk Kim menunjuk ke sebuah titik kecil pada gambar itu. "Lihat di sini. Tanda bekas pemotongan pada kabel pengereman ini terlihat sangat rapi dan presisi, bukan putus karena tekanan atau aus akibat pemakaian. Ini tanda yang jelas bahwa sistem itu telah dirusak dengan sengaja. Kecelakaan itu bukan nasib buruk, Iris. Itu adalah rekayasa."
Mendengar penjelasan itu, wajah Iris seketika berubah pucat. "Jadi... ada orang yang sengaja ingin mencelakai kami? Tapi siapa? Dan mengapa?"
"Itulah yang sedang saya selidiki. Tapi yang pasti, pelakunya memiliki pengetahuan teknis yang tinggi dan berani mengambil risiko besar. Untuk saat ini, saya tidak bisa memastikan siapa dalang di baliknya. Oleh karena itu, saya mohon agar Nona Iris lebih berhati-hati ke mana pun pergi. Jangan mudah percaya pada orang di sekitar, dan segera hubungi saya jika merasakan sesuatu yang aneh atau mengancam," ujar Kim dengan nada tegas namun penuh kekhawatiran.
"Iya, Paman. Aku janji akan lebih waspada," jawab Iris mantap meski hatinya masih berdebar kencang.
................
Sejak kejadian itu, kedekatan antara Iris dan Siska semakin terlihat nyata di sekolah. Namun, kali ini sikap Siska berubah menjadi jauh lebih intens, seolah-olah seorang siswa yang sedang berusaha mendekati orang yang ia sukai atau "gebetan".
Siska selalu ada di mana Iris berada. Saat jam istirahat, ia akan membawakan makanan kesukaan Iris. Saat jam olahraga, ia akan menyiapkan handuk dan air minum. Bahkan saat Iris sedang mengerjakan tugas kelompok, Siska akan selalu menawarkan bantuan dengan wajah yang tampak sangat tulus dan memikat.
Hal ini tentu saja membuat Iris merasa sedikit tidak nyaman. Sikap Siska yang berubah drastis menjadi sangat perhatian dan "menggemaskan" itu terkadang terasa berlebihan dan membuat Iris serba salah. Namun, mengingat peristiwa kecelakaan bus dan rasa iba karena mengira Siska juga mengalami trauma yang sama, Iris akhirnya menerimanya perlahan-lahan. Hubungan mereka yang tadinya dingin dan penuh kecurigaan kini perlahan menjadi semakin dekat dan akrab di mata orang lain.
Tentu saja, hal ini tidak luput dari perhatian sahabatnya, Bayu. Suatu kali saat jam istirahat di kantin, Bayu sengaja duduk di sebelah Iris sambil menahan tawa.
"Wah, wah, wah... Hebat sekali kamu ini, Ris. Baru saja jadi pahlawan, eh sekarang malah berhasil 'menaklukkan' hati ratu es Siska juga. Apa jangan-jangan Siska itu diam-diam naksir kamu ya? Sampai-sampai dia nggak lepas dari kamu," ledek Bayu sambil menyenggol bahu Iris.
"Mulutmu itu ya, Yu. Jangan asal bicara saja. Siska itu cuma merasa berterima kasih dan senasib sepenanggungan saja kok. Lagian dia kan sekarang jadi teman dekatku," bantah Iris dengan pipi yang sedikit memerah karena malu, meski dalam lubuk hatinya juga merasa sedikit ragu.
"Teman dekat katamu? Dasar tidak peka. Kalau dilihat-lihat caranya menatap dan memperlakukanmu itu lho, Ris... Persis kayak orang yang lagi naksir berat. Hahaha," canda Bayu lagi yang membuat Iris semakin salah tingkah.
................
Namun, di balik kedok persahabatan manis itu, ada pihak lain yang merasa tidak terima. Suatu sore sepulang sekolah, Siska ditarik paksa oleh Sandra ke tempat yang sepi di belakang gedung sekolah, di antara tumpukan kursi rusak dan tanaman liar. Wajah Sandra terlihat marah, cemburu, namun juga sedih bercampur aduk.
"Kau pikir kau sedang melakukan apa, hah? Kenapa kau selalu menempel pada Iris? Bukankah dulu kau sangat membencinya?" tanya Sandra dengan nada tinggi menahan amarah.
Siska berdiri tegak menatap Sandra dengan wajah datar dan dingin tanpa ada sedikit pun rasa bersalah. "Itu bukan urusanmu, Sandra. Aku melakukan ini demi tujuan tertentu. Lagipula, hubungan kita kan sudah selesai sejak lama. Kau tidak berhak mengatur hidupku lagi," jawab Siska ketus.
Mendengar jawaban dingin itu, hati Sandra semakin sakit. Ia menatap wajah Siska yang semakin cantik dan memesona itu dengan tatapan penuh kerinduan dan kepemilikan. Selama ini, diam-diam Sandra telah jatuh cinta pada Siska, bahkan setelah perubahan drastis pada diri gadis itu. Ia tidak ingin melepaskan Siska begitu saja.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja! Aku mencintaimu, Siska! Aku rela melakukan apa saja demi kamu! Jangan tinggalkan aku demi gadis itu!" teriak Sandra histeris sambil memegang bahu Siska.
Melihat ekspresi Sandra yang putus asa itu, secepat kilat sebuah ide licik terlintas di benak Siska. Wajahnya yang tadinya dingin perlahan berubah menjadi lembut dan menawan. Ia tersenyum tipis, lalu menyentuh tangan Sandra yang memegang bahunya.
"Siapa bilang aku tidak mencintaimu, Sandra? Justru sebaliknya... Aku sangat menyayangimu. Hanya saja caraku menunjukkannya berbeda sekarang," ujar Siska dengan nada suara yang sangat lembut dan memikat, seolah sedang merayu.
Mendengar pengakuan itu, wajah Sandra seketika berubah menjadi terharu dan bahagia. Rasa cemburu dan marahnya seketika menguap entah ke mana. "Benarkah itu, Siska? Kamu tidak bohong kan?" tanyanya ragu namun berharap.
"Tentu saja tidak. Aku selalu serius," jawab Siska pelan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Sandra.
Tanpa menunggu lama, Siska langsung mencium bibir Sandra dengan lembut namun mendominasi. Sandra yang awalnya terkejut segera larut dalam momen itu dan membalas ciuman tersebut dengan penuh gairah, mengira bahwa cintanya akhirnya terbalas.
Namun, di tengah keintiman itu, tangan Siska diam-diam mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna hitam pekat yang sama persis dengan yang digunakan pada Faisal dan Bram. Bola hitam itu melayang perlahan dan menyentuh kulit leher Sandra yang terbuka.
Belum sempat Sandra menyadari apa yang terjadi, bola hitam itu seketika pecah menjadi partikel-partikel halus dan menyusup masuk ke dalam pori-pori kulit Sandra dengan kecepatan yang tak kasat mata.
"Arghhh... Sakit... Apa ini..." rintih Sandra pelan sebelum tubuhnya seketika menjadi kaku. Matanya melotot lebar, napasnya terhenti, dan detak jantungnya berhenti berdetak seketika. Tubuh Sandra terkulai lemas di lantai berdebu itu, nyawanya melayang dalam sekejap mata.
Namun, sesaat kemudian, tubuh Sandra bergerak lagi. Perlahan namun pasti, Sandra bangkit berdiri tegak. Matanya yang tadinya penuh gairah dan cinta kini berubah menjadi dingin, tajam, dan kosong tanpa nyawa.
[Integrasi Selesai.]
[Mengunduh Memori dan Data Inang...]
[Identitas Inang: Sandra Oktaviani. Usia 17 Tahun. Status: Siswa.]
[Status: Siap Bertugas.]
Siska menatap Sandra yang baru dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Mulai sekarang, kau akan tetap menjadi dirimu yang dulu. Tapi ingat, setiap gerak-gerikmu harus mengikuti perintahku. Paham?"
"Siap. Dipahami dan akan dilaksanakan," jawab Sandra dengan nada suara yang sama persis seperti aslinya namun terdengar jauh lebih monoton dan mengerikan.
Dengan begitu, mata-mata baru yang sangat dekat dengan lingkaran pergaulan Iris pun telah berhasil ditempatkan.
................
Di dunia maya yang tak kasat mata, di tengah lautan data dan aliran informasi yang tak bertepi, sedang terjadi pertarungan kecerdasan yang dahsyat.
Kim yang sedang berusaha menyusup masuk ke dalam sistem jaringan forum gelap untuk mencari jejak sosok 'Falcon', tiba-tiba mendapati dirinya diserang balik. Sistem keamanan canggih yang ia bangun dengan susah payah tiba-tiba dibanjiri oleh ribuan program jahat dan kode perusak yang dikirimkan dari alamat IP yang tidak diketahui.
Peringatan! Serangan Ditemukan! Firewall Tembus 20%... 50%... suara sistem peringatan terdengar terus-menerus dari layar monitor Kim.
"Hoh? Ternyata dia sadar sedang diburu. Dan dia tidak sembarangan orang. Dia menyerang balik dengan sangat agresif," gumam Kim dengan tatapan tajam namun tetap tenang.
Jari-jarinya yang lincah dan terlatih mulai bergerak secepat kilat di atas papan ketik. Kode demi kode ia tulis, program pertahanan dan penyerangan ia luncurkan untuk menangkis serangan balasan dari pihak lawan.
Di sisi lain, di lokasi yang tidak diketahui, sosok misterius yang bernama 'Falcon' juga sedang duduk di depan deretan komputernya dengan wajah serius. Tangannya bergerak lincah di atas papan ketik, menuliskan kode-kode rumit.
"Siapa pun kau, kau cukup hebat bisa menembus pertahananku. Tapi jangan kira kau bisa menangkapku dengan mudah," gumam Falcon dalam hati.
Pertarungan di dunia maya itu berlangsung sengit selama berjam-jam. Kedua belah pihak saling mengalahkan strategi satu sama lain, saling memblokir jalur akses, dan saling mengirimkan perangkap digital. Namun, karena keduanya memiliki tingkat keahlian yang seimbang, tidak ada satu pun pihak yang berhasil mengalahkan lawannya secara mutlak.
Akhirnya, setelah menyadari bahwa pertarungan ini hanya akan membuang waktu dan sumber daya saja, Kim memutuskan untuk mengubah strateginya. Ia mengirimkan sebuah pesan terenkripsi melalui jalur komunikasi yang berhasil ia buka di tengah pertarungan itu.
"Berhenti. Kita berdua tahu bahwa kita memiliki tujuan yang sama atau setidaknya tidak saling bermusuhan. Pertemukanlah aku denganmu. Mari kita bicara baik-baik."
Di sisi lain, Falcon yang membaca pesan itu seketika menghentikan serangannya. Ia terdiam sejenak berpikir, lalu akhirnya membalas pesan itu.
"Baiklah. Aku setuju. Tapi kau harus datang sendiri ke tempat yang akan aku tentukan. Jangan harap aku akan mempercayaimu sepenuhnya."
Pertarungan itu pun berakhir dengan sebuah kesepakatan untuk bertemu secara langsung.
................
Di tempat yang berbeda, di ruang kerja pribadi Stella di gedung Aegis Corporation, ia sedang duduk di depan komputernya yang canggih. Matanya menyipit tajam menatap grafik aliran data yang sedang bergejolak di layar monitornya.
"Hoh? Ada aktivitas yang cukup menarik di dunia maya ini... Pola serangan dan pertahanan ini... Tidak salah lagi, ini gaya khas Kim. Dan pihak yang dia lawan itu... sepertinya jenius muda yang selama ini menghilang itu," gumam Stella pelan.
Sudut bibirnya terukir senyum licik. "Pertarungan antara kucing dan tikus rupanya sudah dimulai. Dan sepertinya aku bisa memanfaatkan situasi ini untuk keuntunganku sendiri. Mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya."
Stella segera memanggil bawahannya dan mulai menyusun rencana untuk mengawasi atau bahkan mengganggu pertemuan yang akan terjadi nanti.
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...