Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
Lana berjalan cepat menuju lapangan tenis.
Raut wajahnya tegang dan marah. Tujuannya satu, Hana. Hana yang tengah tertawa dengan Zidane dan Nana selepas latihan tenis malam itu.
Nana menyadari kehadiran Lana. Wajah marah sepupunya itu membuat perasaan Nana tiba-tiba tak enak.
"Lan, ngapain lu kema ..."
TAP! Lana menarik lengan kiri Hana dan ...
PLAK! Sebuah tamparan keras menghantam pipi Hana hingga merah. Hening. Hana dan Lana bertatapan. Lana yang makin marah. Hana yang kehilangan kata-kata akibat tamparan mengejutkan itu.
"ALANA SOEDIRO! UDAH GILA LO YAK!" pekik Nana.
"Si Anjir!" umpat Hana lalu balas menampar Lana cepat... PLAK!
Lana terkejut bukan main. "Anjing lu, Han!" balas umpatnya berusaha menghajar Hana lagi. Namun Hana menahan tangannya. Alhasil Lana mencoba meraih apapun dari Hana yang bisa ditariknya.
"Dari dulu, lo emang nggak pernah senang liat gue senang kan, Han!!!" seru Lana emosional sambil mencoba mencakar Hana.
"Apa nggak kebalik!? Look at the mirror, bitch!!"
balas Hana balik menarik rambut Lana.
Mereka berdua lantas balas saling menyerang. Mendorong dan menendang.
"NGGAK PUAS LU REBUT REIGA DARI GUE!!" teriak Lana seraya menjambak rambut Hana.
"DARI AWAL, REIGA EMANG BUKAN PUNYA LO!!" balas Hana menarik tangan Lana yang menjambaknya.
"JAUHIN ARNOLD, ANJING!" pekik Lana dengan tangan melayang di udara, siap untuk menampar Hana.
Hana menangkap tangan Lana lalu memelintirnya. "AARGH! LEPASIN TANGAN GUE, BITCH!" pekik Lana kesakitan.
"GUE NGGAK PERNAH DEKETIN COWOK KAMPRET LO ITU YA, LAN!" balas Hana emosional.
"BULLSHIT!!" pekik Lana berhasil lepas dari cengkraman tangan Hana.
Mereka kembali bergumul.
"UDAH, WOY!" teriak Nana yang sudah memegangi kepala.
Apa Lana dan Hana mendengar?
Oh, tentu tidak!
Kedua mata Nana membelalak.
"INI MONYET DUA YA! BERHENTIIIIII!"
Zidane syok melihat Adrianne Hana yang biasanya tampil bak goddess itu kini tak ayalnya bagai petarung MMA.
"Dane! Pisahin! Lana bisa abis sama Hana!" teriak Nana pada Zidane.
Lantaran dia tahu, Hana bisa taekwondo dan ban hitam pula. Refleks Zidane merangsek masuk dan langsung terkena hajar pukulan mentah Hana.
BUKKKK!
"Buset! Lu kuat banget sih, Han!" kaget Zidane merasakan nyeri di pipi kirinya.
"Minggir lu, Dane!" garang Hana berusaha meraih Lana yang sudah terjerembab sendiri.
"Allahu akbar! Kuat banget sih lu, Han!!!" ujar Zidane menahan Hana.
"Na, bawa Lana pergi," ucap Zidane. Nana menurutinya dan menarik Lana pergi.
*
TUNG!
Zidane sends a picture to this group.
Tristan
Buset! Muka lu kenapa, Dane?
Zidane memang memasang wajah bekas menerima tamparan dan pukulan Hana, serta cakaran Lana di gru yang dimiliki genks mereka.
Zidane
Abis jadi samsak Hana.
Gegara lu, Njing!
Rama
Ih, cowok mana tuh?
Ganteng banget
Syein
Tanam benang di mana lu, Dane?
Ganteng amat (^3^)
Brandon
Abis nyalon di mana, Dane?
Cakep benerrr
Zidane
Sialan lu pada!!!
(益)ノシ
Niyo
gue? Ini nih yang buat Sam nyembur air ke muka
Niyo
Ada apaan sih ini?
Hana ngamuk kenapa?
Zidane
Si Tristan kampret banget
Pake acara ngaduin Arnold sama Lana
Alhasil Lana melabrak Hana
Zidane
Abis deh gue jadi samsak si Hana
Kuat banget tuh anak satu!
Tobat gue! Tobat!
()
Reiga memperhatikan percakapan ini. Lalu, ia ikut mengetik balasan.
Reiga
Maksudnya gimana, Dane?
Kok cewek gue bisa dilabrak?
Zidane terhenyak membaca sahutan Reiga. Ah, saking hectic-nya kejadian barusan. Dia lupa kalau di grup ini ada malaikat kematian yang akan mencabut nyawa siapapun yang mengganggu Hana.
"Mampus!" jawab mereka berlima bersamaan kecuali Rama yang malah menyunggingkan senyum.
Ini yang ditunggu Rama. Aksi teatrikal Reiga yang heroik. Persis seperti saat mereka berkenalan di SMA.
Rama
Arnold gangguin Hana di premiere.
Dia bahkan pegang-pegang cewek lu, Nyet.
"Yaelahhhh, si Ramaaaaaaa!" pekik mereka berlima kompak, meski terpisah tempat. Padahal mereka sengaja tidak laporan sama Reiga. Takut Arnold kenapa-napa. Karena Reiga, sesungguhnya lebih menyeramkan dari Rama. Bukan cuma ditonjokin. Tapi bakal abis dimiskinin, sampai bisa menyesal tujuh turunan.
Rahang Reiga menegang membacanya.
"Sialan!" umpatnya.
Bukankah Dimas bilang semua baik-baik saja?
Bagaimana ia baru tahu sekarang? Kenapa tidak ada yang memberitahunya? Baik itu Hana maupun ke enam sahabatnya?
Reiga
Si Anjing ngapain Hana?
Tristan
Rei, sabar, Rei
Rama
Si Anjing mencengkram tangan kiri Hana, Nyet!
Paksa- Paksa Hana buat ikut sama dia.
"Busetttt deh si Rama! Malah bangkitin malaikat Izrail!" tukas mereka berlima kembali kompak.
Reiga menggemeretakkan giginya. "Si Anjing," umpat Reiga. Belum pernah ia merasa semarah ini sebelumnya.
Reiga
Kenapa nggak ada yang kasih tahu gue?
Niyo
Takut reaksi lu begini, Rei.
Hana juga ngelarang kita.
Zidane
Rei, udah jangan diperpanjang.
Kasian anak yatim.
(;)
Rama
Lu terima cewek lu digituin, Nyet?
"Yaelahhhhhhh si Monyet malah komporin Reigaaa," tukas mereka berlima yang rasanya pengen nyamperin Rama dan langsung menaboknya bolak-balik.
Tanpa harus Rama tanya, Reiga tentu saja tidak terima.
Brandon
Nyet, kiamatnya jangan gede-gede.
Kasian anak orang (ω)
Niyo
Sahutan tidak patut lu, Ndon!!
Brandon
Zidane
Elu sih, Tan!
Anak yatim itu si Arnold.
Tristan
Lah emangnya gue tau kalo yang Lana
labrak malah Hana.
Bego di Lana lah.
Cowoknya yang salah, malah Hana yang dilabrak!
Syein
Reiga udah nggak jawab.
Tanda-tanda kiamat kubra ini buat Arnold.
Niyo
Santai, Rei.
Rama
Ayo gue temenin, Nyet!
Kita abisin bareng-bareng tuh si Kampret.
"Yaelahhhhhhhh," runtuk mereka berlima setelah membaca pesan balasan Rama di grup.
Reiga
Gue bisa abisin Arnold sendirian.
"Mampus dah si Arnold," sahut Zidane yang auto merasa bersalah telah mengirimkan foto muka bonyok-nya ke grup ini.
Zidane
Nyet, istigfhar.
Anak orang itu.
Sabarrrrr.
Rama
Gue suka semangat lu, Rei
Niyo
Si Anying, malah semangatin Reiga!!
00
Tristan
Yah, Rei jangan dong Rei.
Tahan, brother.
Tristan kini ikut menyesal sudah mengompori Lana. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Reiga sudah tidak bersuara di grup. Ia sudah berjalan menuju ruang kerja yang ada di penthouse miliknya yang berada di kawasan Upper West Side. Pria itu tengah merancang sebuah kiamat untuk Arnold Baskara Mahendra. Kiamat yang mungkin akan membuat Arnold bersujud untuk memohon ampunannya. Kiamat yang akan menjadi sebuah pelajaran berharga Arnold agar pria itu tidak sembarangan pada Adrianne Hana, perempuan kesayangannya.
Reiga menghubungi Dimas.
"Iya, Pak?"
"Buka akses cctv lapangan tenis tempat Hana latihan sama Zidane dan rekaman cctv after party premiere Hana."
"Untuk apa ya, Pak?"
"Apa saya ada kewajiban untuk menjelaskannya sama kamu, Dim?" dingin Reiga.
Dimas menelan ludah. "Ada apa nih? Kenapa Pak Reiga semurka ini?"gumam Dimas yang hanya berani menyuarakannya dalam hati. Dimas tahu betul tanda-tanda kemurkaan seorang Reiga Reishard. Seram. Bagai kemunculan Valak. Sialnya! Kemurkaan Reiga tidak mempan diusir dengan air suci, air pam, air sumur, atau segala jenis macam air yang bahkan jika tuh air udah dijampe-jampe sama dukun atau dibacain surat yassin bolak-balik sampai tahlil.
"E... Enggak, Pak," jawab Dimas takut-takut.
"Lakukan persis seperti perintah saya! Malam ini juga saya harus dapat rekamannya. Pastikan tidak ada yang tau rekaman kejadian di lapangan tenis malam ini," ucap Reiga masih dengan intonasi datar nan dingin yang membuat bulu kuduk Dimas meremang.
"Ini sumpah, ada apaan sih??? "Dimas makin bertanya-tanya tapi terlanjur takut bertanya.
"Dimas kamu dengar saya kan!?" Suara Reiga meninggi.
"I... Iya, Pak," jawab Dimas takut.
Lantas telepon itu diputus Reiga sepihak.
Hana masih tampak begitu kesal, meski tetap menuruti saran Nana yang menyuruh mereka semua ke apartemen Hana di Dharmawangsa ketimbang ke IGD. Ya! Termasuk Lana yang masih menatapnya penuh kebencian dari seberang sofa. Berhadapan dengan gigi bergemeretak dan dua tangan mengepal kuat di kedua sisi tubuh mereka.
"Gue belum selesai sama lu ya, Han!" pekik Lana sinis.
Hana berdecak.
"Lu kira gue udah!?" hardik Hana.
Nana menghela napas seraya menyilangkan kedua tangan didadanya.
"CUKUPPPPP! GILA YA LU BERDUAAAA!!!"
teriak Nana jengkel.
Baik, Hana dan Nana mereka mendengus sebal seraya membuang muka.
"Lu berdua sadar nggak sih!? Kenapa gue nggak bawa lu berdua ke IGD???" Nana berkata dengan frustasi.
Memangnya apalagi alasannya kalau bukan untuk menutupi fakta berbau aib ini? Soediro adalah dinasti keluarga dokter yang melegenda, ternama, dan terkenal di kalangan sesama dokter.
Entah apa yang terjadi jikalau muka acak-acakan Lana dan Hana yang habis tonjok-tonjokkan sampai tersebar. The worst is, keadaan wajah Lana yang sungguh jelas akan menghancurkan image-nya sebagai dokter teladan.
"Cuma gara-gara satu cowok brengsek aja lu berdua sampai kayak orang kesurupan!!" sewot Nana.
"Gue bela diri dari si Kunyuk itu ya! Bukan karena Arnold!!" tandas Hana dengan mata mendelik.
Nana jadi sedikit mengkeret.
Hana menatap Lana lekat tanpa berkedip.
"Cowok lo yang selalu deketin gue! BUKAN GUE!!" seru Hana.
Sejujurnya Lana juga tahu itu. Hanya saja, ia menuruti nafsu dan emosinya yang selama ini dia pendam untuk Hana. Memang sungguh kekanak-kanakkan dan konyol adanya. Dan meski tahu, ia akan bonyok di tangan Hana, Lana tetap melampiaskan inginnya ini. Tidak peduli lagi akan harga diri atau rasa malu. Juga keadaan tubuh dan wajahnya nanti.
"Gue benci sama lu, Han!" pekik Lana emosional.
Kedua matanya berkaca. Pelupuk matanya memanas dan berwarna merah. Hana terhenyak. Tiba-tiba dalam hatinya muncul simpati akan keadaan Lana. Hana tidak pernah benar-benar membenci Lana. Malah sedikitpun tak pernah. Hana justru cenderung kasihan pada Lana sejak kecil. Lana yang selalu sendirian dan kurang mendapat perhatian Pakde dan Budhe-nya itu.
"Alana! Lu ada masalah apa sih sama Hana!?
Hana selalu baik loh sama lu! DA-RI DU-LU!!" pekik Nana heran dan galak.
Lana membuang muka. Hana memperhatikan gesture Lana. "Lu apa-apaan sih, Han!? Lu harusnya marah. Bukan kasihan sama si beleguk ini!" ujar Hana dalam hati.
"Terserah lu berdua masih mau di sini atau enggak! Gue mau pulang!" sinis Hana lalu berjalan menuju pintu keluar.
Nana mendengus sebal. Tak berniat menghentikan Hana yang sudah ngeluyur pergi. Hanya kesal karena harus repot menemani Lana di apartemen Hana malam ini. Sementara Lana masih membuang muka.
*
Hana berjalan masuk ke dalam kamarnya. Syukurlah, Ibu-nya sudah tidur. Ia langsung masuk kamar mandi. Memandang wajahnya yang kuyup akibat berkelahi dengan Lana. Hana mencuci muka lalu melakukan ritual yang biasa dilakukannya selepas berkegiatan di luar. Namun ucapan Lana di apartemennya tadi terngiang begitu saja dalam kepala Hana.
"Gue benci sama lu, Han!"
Kenapa?
Persis seperti pertanyaan Nana yang kebingungan atas alasan dibalik Lana jatuh benci pada Hana. Hana sendiri pun ingin tahu mengapa. Padahal ia selalu baik. Selalu mencoba mendekat meski Lana selalu mendorongnya menjauh.
Kenapa?
Dering handphone Hana membuyarkan pertanyaan dalam kepalanya itu. Hana meraih handphone.
Mas Ayang.
Hana menghela napas sebal. Zidane tentu saja sudah melaporkan kejadian memalukan ini pada Reiga. Hana mendesah jengkel. Kenapa kalau sama Reiga, ia sama sekali tidak bisa tampil paripurna seperti di depan Arnold selama 4 tahun ini? Selalu apa adanya. Selalu konyol dan tidak ada anggun-anggunnya.
"Apa!?" galak Hana.
Reiga terkekeh.
"Yang ngelabrak Lana, kenapa aku yang digalakin sih?" keluh Reiga yang sudah melihat rekaman cctv lapangan tenis.
Ada dua reaksi yang ditunjukkan Reiga.
Pertama, Reiga takjub atas betapa garang dan kuatnya Hana. Sampai ia paham mengapa Hana berani mengajaknya tag team lawan delapan orang setengah mabok waktu itu.
Kedua, Reiga cukup prihatin pada Zidane yang habis jadi sasaran tinju Hana.
"Laporan dari Zidane kan?!" kesal Hana.
"Kenapa nggak kasih tahu aku kalau Arnold gangguin kamu?" tanya Reiga.
Hana diam.
Memangnya apalagi selain karena ia merasa jika Reiga sampai tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi pada Arnold. Ia hanya jatuh kasihan pada Arnold.
"Masih suka ya sama Arnold?"
Hana mendesis sebal.
"Apaan sih!? Mau dihajar juga kayak Lana!?"
sewot Hana.
Reiga terkekeh.
Hana berjalan keluar kamar mandi lalu berjalan menuju tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya. Tubuhnya baru terasa sakit sekarang. Sudah lama tidak menggunakan ilmu bela diri.
"Maunya disayang," sahut Reiga.
"Nggak lucu!" ketus Hana.
Reiga terkekeh pelan.
"Pertanyaan aku nggak dijawab?"
"Bukannya barusan udah kamu baca sendiri, makanya bisa keluar pernyataan seenak jidat!?"
galak Hana.
Tawa Reiga kembali berderai. Amarahnya pada Arnold yang nyaris meletus bak anak krakatau siaga 1, mendadak tenang tanpa riak. Reiga terkejut sendiri bahwa ada kekuatan semacam itu.
"Aku matiin teleponnya ya kalau masih ketawain aku!!" ancam Hana sebal. Padahal ia senang banget Reiga meneleponnya. Bahkan kalau ada orangnya, Hana mungkin akan mencarinya hanya untuk minta dipeluk. Just like she did it when her dad was alive. Untuk menguraikan penat dalam dadanya yang sangat menyebalkan ini. Kecupan dan pelukan almarhum ayahnya adalah obat yang terbaik.
"Bertolak belakang ya sama isi hatinya," ledek Reiga yang begitu mudah melihat hati Hana
Hana berdecak.
"Beneran minta dihajar ya?" ketus Hana.
"Kalau dengan hajar aku, emosi dalam diri kamu bisa mereda, than just do it, Sayangku. Aku juga ban hitam taekwondo kok. Pernah tiga kali dapat emas di Sea games dan satu kali di Asian games," ucap Reiga setengah bercanda.
Namun efek bagi Hana berbeda. Dada Hana tahu-tahu sesak. Pelupuk matanya memanas. Kedua matanya sudah berair. Dan tahu-tahu lelehan air mata perlahan mengalir turun terasa hangat dari kedua ujung matanya.
Minus-nya disayang Reiga, jiwa Hana jadi tidak sekuat sebelum mengenal kata 'Sayangku' dari mulut pria itu. Yang terasa begitu hangat. Yang terdengar begitu manis. Yang membuat Hana lupa diri dan membiarkan Hana si manja dan hobi dimanja keluar dari persembunyiannya.
"Are you crying?" tanya Reiga dengan suara tercekat.
Yah, amarahnya naik lagi.
Hana mengelap airmatanya. Menghentikan sesak yang memenuhi hatinya.
"I wish you are here, Reishard," ucap pelan Hana serius.
Memeluk Reiga seerat yang dia bisa, jelas akan membuatnya lega. Sebuah permohonan dan keinginan yang sungguh mengganjal hati Reiga detik itu juga.