NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring, memecah konsentrasi para siswa yang sejak pagi bergelut dengan buku.

Aliya merapikan tasnya dengan gerakan cepat, perasaannya jauh lebih ringan dibandingkan kemarin.

Saat ia melangkah keluar gerbang, ia melihat Emirhan masih setia menunggunya, berdiri tegak di samping mobil dengan wibawa yang tak luntur.

Aliya berjalan menghampiri Emirhan dengan senyum tipis yang tulus.

"Terima kasih, Emir. Terima kasih sudah menungguku seharian ini," ucapnya lembut.

Emirhan menganggukkan kepalanya, tatapan matanya yang tadi dingin kini melembut saat melihat Aliya kembali menjadi dirinya yang tenang.

"Sudah menjadi tugas-ku untuk memastikannya," jawabnya singkat namun penuh makna.

Ia membukakan pintu mobil untuk Aliya, namun sebelum melaju, Emirhan menatap Aliya dengan saksama.

"Aliya, apakah kamu merindukan Ibu Maria?"

Aliya tertegun sejenak. Pertanyaan itu menyentuh bagian terdalam di hatinya yang sejak semalam ia coba tekan.

Mengingat semua kekacauan di rumah keluarga Karadağ, pelukan hangat ibunya adalah hal yang paling ia butuhkan sekarang.

Aliya menganggukkan kepalanya perlahan, matanya sedikit berkaca-kaca.

"Ayo kita ke sana dan makan malam bersama," ucap Emirhan sambil menyalakan mesin mobil.

"Benarkah? Tapi, bagaimana dengan Ayah Onur?" tanya Aliya ragu.

"Aku sudah mengatur semuanya. Malam ini hanya ada kita, ibumu, dan Zartan. Aku ingin kamu merasa bahagia sebelum menghadapi ujian besar minggu depan," balas Emirhan tegas.

Mobil itu pun meluncur membelah jalanan, meninggalkan lingkungan sekolah yang mulai sepi.

Aliya menatap ke luar jendela dengan perasaan haru. Ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan Emirhan di balik dokumen-dokumen di ruang guru tadi, tapi untuk saat ini, bisa kembali ke rumah makan ibunya dan menikmati masakan rumah adalah kebahagiaan terbesar yang bisa ia bayangkan.

Sementara itu, di rumah makan, Maria yang sedang sibuk merapikan meja tiba-tiba merasakan firasat aneh, seolah ada sesuatu yang besar akan segera datang mengetuk pintunya.

Mobil sedan mewah itu berhenti tepat di depan pelataran rumah makan yang sederhana.

Debu jalanan tipis beterbangan saat ban mobil berhenti berputar, dan suasana sore yang tenang di sana seketika berubah menjadi penuh haru.

Zartan, yang kebetulan sedang berada di depan untuk merapikan kursi-kursi, langsung menghentikan kegiatannya.

Matanya membelalak saat melihat sosok yang turun dari kursi penumpang.

Tanpa mempedulikan Emirhan yang baru saja keluar dari sisi kemudi, Zartan langsung berlari sekencang mungkin ke arah adiknya.

"Aliya!" serunya.

Zartan segera menarik Aliya ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya, Aliya akan menghilang lagi ke balik tembok tinggi mansion Karadağ.

Aliya yang sempat terkejut akhirnya tertawa kecil dan membalas pelukan hangat kakaknya itu, membenamkan wajahnya di bahu Zartan yang kokoh.

"Akhirnya kamu datang. Kakak sangat merindukanmu," ucap Zartan dengan suara yang sedikit parau, mengungkapkan betapa sepinya rumah tanpa kehadiran Aliya di dapur setiap harinya.

"Aku juga merindukanmu, Kak," lirih Aliya, matanya mulai berkaca-kaca merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya.

Emirhan berdiri di samping mobil, menyandarkan punggungnya di pintu sambil memasukkan tangan ke saku celana.

Ia memperhatikan pemandangan itu dengan senyum tipis di bibirnya.

Ada rasa lega melihat binar bahagia kembali ke wajah Aliya. Meskipun ia tahu bahwa kehadirannya mungkin masih diragukan oleh keluarga ini, Emirhan merasa puas bisa memberikan momen ini untuk Aliya.

Maria muncul dari ambang pintu restoran dengan tangan yang masih membawa celemek.

Ia mematung melihat putrinya sudah berada di sana, dipeluk oleh Zartan.

Tatapan Maria kemudian beralih ke arah Emirhan, sebuah tatapan yang penuh dengan tanda tanya dan peringatan tersembunyi—mengingatkannya pada percakapannya dengan Onur kemarin.

"Ibu..." panggil Aliya saat melihat Maria.

Maria hanya bisa tersenyum lebar, meski matanya mulai basah.

"Masuklah, Aliya. Zartan, lepaskan adikmu, biarkan dia bernapas. Ibu sudah masak makanan kesukaan kalian."

Malam itu, di bawah temaram lampu rumah makan yang sederhana, aroma masakan Maria mulai menyeruak, menjanjikan ketenangan yang selama ini hilang dari hidup Aliya.

Malam itu, di sudut rumah makan yang hangat namun penuh ketegangan, Emirhan berdiri dengan sikap yang sangat formal di hadapan Maria.

Setelah makan malam usai, ia memutuskan untuk tidak menunda lagi niat yang sudah ia susun di hatinya sejak melihat Aliya menangis di klub malam.

"Ibu Maria," suara Emirhan terdengar berat dan mantap.

"Aku datang ke sini bukan hanya untuk mengantar Aliya. Aku ingin meminta restu Ibu. Aku berencana menikahi Aliya setelah ujiannya selesai."

Maria yang sedang memegang cangkir teh sontak terhenti.

Ia meletakkan cangkir itu dengan tangan bergetar, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Tidak, Emirhan. Aliya masih terlalu muda. Dia masih sekolah, dia masih punya banyak mimpi!" suara Maria meninggi, ada ketakutan yang mendalam di matanya.

"Keluarga Karadağ... kalian tidak tahu apa yang kalian minta. Aku tidak mau Aliya terjebak dalam lingkaran keluarga itu, sama seperti aku dulu yang harus menderita karena ulah Onur—"

Maria tiba-tiba menutup mulutnya, wajahnya memucat.

Ia nyaris saja membongkar rahasia kelam tentang hubungannya dengan ayah Emirhan di masa lalu yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

Zartan yang menyadari ibunya mulai kehilangan kendali segera bangkit dan merangkul bahu Maria.

"Sudah, Bu. Tenangkan dirimu. Ibu sedang lelah," bisik Zartan sambil menatap Emirhan dengan tatapan memperingatkan agar tidak menekan ibunya lebih jauh.

Suasana menjadi canggung dan mencekam. Aliya menatap ibunya dengan penuh tanda tanya, merasa ada sesuatu yang besar yang disembunyikan darinya.

Emirhan menghela napas, ia menyadari bahwa malam ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.

"Baiklah, mungkin ini terlalu mendadak. Ayo Aliya, kita pulang sekarang. Ayah menunggumu di rumah."

Aliya berdiri, namun ia tidak melangkah ke arah Emirhan.

Ia justru menggenggam tangan Maria yang dingin.

"Aku tidur di sini saja, Emir. Aku akan menemani ibuku malam ini," ucap Aliya dengan nada yang tenang namun tidak bisa dibantah.

"Tapi Aliya, Ayah Onur sudah memberikan izin hanya untuk makan malam. Kamu harus kembali ke rumah," bujuk Emirhan, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran jika ayahnya akan marah.

Aliya menatap mata Emirhan dalam-dalam, mencari pengertian di sana.

"Aku mohon, Emir. Hanya malam ini. Aku merindukan rumah ini, aku merindukan Ibu."

Emirhan terdiam cukup lama, menatap kegigihan di mata Aliya dan kerapuhan di wajah Maria.

Ia tahu ia tidak bisa memaksakan kehendaknya jika ingin memenangkan hati Aliya sepenuhnya.

Akhirnya, Emirhan menganggukkan kepalanya perlahan.

"Baiklah. Satu malam saja. Besok pagi-pagi sekali aku akan menjemputmu untuk pergi ke sekolah."

Emirhan berpamitan dengan kaku, lalu melangkah keluar menuju mobilnya.

Dari jendela, Aliya melihat mobil mewah itu perlahan meninggalkan pelataran rumah makan, meninggalkannya di rumah yang sederhana ini—tempat di mana ia merasa aman, namun juga tempat di mana rahasia masa lalu mulai tercium di udara.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!