Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Gema perintah Tuan Mahendra agar Adel meminta maaf masih bergetar di langit-langit aula yang tinggi, namun suasana justru semakin mencekam saat Nyonya Siska mengambil satu langkah maju. Ia melepaskan dekapannya pada Clarissa, berdiri tegak dengan dagu terangkat dan mata yang berkilat tajam—bukan lagi kilat kesedihan, melainkan kilat serangan yang terukur.
Siska menatap kerumunan tamu undangan dengan pandangan prihatin yang dibuat-buat, lalu menghela napas panjang seolah-olah ia sedang memikul beban penderitaan yang tak tertanggungkan.
"Hadirin sekalian... mohon maafkan pemandangan yang tidak menyenangkan ini," suara Siska kini terdengar stabil, berat, dan penuh wibawa seorang nyonya besar. "Inilah yang terjadi ketika sebuah keluarga harus menanggung risiko dari masa lalu yang kelam. Inilah yang terjadi ketika darah yang mengalir di tubuh seseorang tidak dibarengi dengan bimbingan moral dan pendidikan karakter yang benar."
Siska menoleh perlahan ke arah Adel, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.
"Tujuh belas tahun," lanjut Siska dengan nada menghakimi. "Tujuh belas tahun Adel tumbuh di lingkungan panti asuhan yang... yah, kita semua tahu betapa keras dan liarnya tempat seperti itu. Tanpa bimbingan seorang ibu yang berkelas, tanpa pengawasan ayah yang mampu menanamkan disiplin bangsawan. Hasilnya? Kalian bisa melihatnya sendiri malam ini. Sebuah ledakan emosi yang kasar, tanpa etiket, dan sangat meledak-ledak."
Adel mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih, menahan gemetar di tubuhnya. "Apa maksud Ibu membawa-bawa panti asuhan? Mereka adalah orang-orang yang memberikan aku kasih sayang saat Ibu tidak ada!"
"Bicaralah lagi! Teruslah bicara dengan nada kasar dan suara melengking itu, Adel!" Siska memotong dengan cepat, jarinya yang dihiasi cincin berlian menunjuk tepat ke wajah Adel. "Lihat, hadirin! Lihat betapa liarnya temperamen anak ini! Tidak ada ketenangan, tidak ada keanggunan. Hanya ada kemarahan jalanan yang dibawa masuk ke dalam aula suci keluarga Mahendra. Sikapmu malam ini, Adel, adalah bukti paling otentik bahwa kau memang 'kurang terdidik' secara moral dan mental!"
"Saya hanya membela diri dari fitnah!" teriak Adel.
"Membela diri atau menyerang?" sahut Siska sinis. Ia mulai berjalan perlahan di atas podium, seolah-olah sedang mengajar di sebuah kelas. "Sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di rumah ini, aku sudah merasakan aura kegelapan itu. Aku melihat bagaimana kau menatap perhiasan Clarissa, bagaimana kau memandang kemewahan mansion ini dengan mata yang penuh iri hati. Aku ingin sekali merangkulmu, sungguh. Aku sudah menyiapkan guru-guru etiket terbaik, instruktur dansa internasional, hingga konsultan kepribadian. Aku ingin menyembuhkan luka-luka panti asuhanmu dan membentukmu menjadi seorang wanita Mahendra yang sejati. Tapi apa yang kau berikan sebagai balasannya?"
Siska berhenti sejenak, membiarkan keheningan dramatis menguasai ruangan.
"Kau menolak setiap bimbingan. Kau menganggap aturan rumah ini sebagai penjara. Kenapa? Karena jiwamu sudah terlalu liar. Kau tidak terbiasa dengan sopan santun. Dan puncaknya malam ini... kau datang bukan membawa kerinduan seorang putri, tapi kau datang membawa 'pedang'. Sebuah pedang yang kau tempa dari dendam masa kecilmu untuk menghancurkan keluarga yang baru saja ingin menerimamu!"
Clarissa, yang duduk bersimpuh di belakang ibunya, menyeka air mata dengan gerakan anggun. "Adel... aku selalu mencoba membagikan pakaianku, aku mencoba mengajakmu makan bersama... tapi kau selalu menatapku seolah ingin membunuhku. Apakah... apakah di panti asuhan itu kau diajarkan bahwa orang kaya adalah musuh yang harus dihancurkan?"
"Jangan berani-berani kalian menghina tempat aku dibesarkan!" suara Adel meninggi, air mata kemarahan mulai menggenang.
"Lihat! Dia berteriak lagi di depan ibunya sendiri!" Siska memotong dengan suara yang lebih kencang, suaranya naik satu oktav untuk menekan suara Adel. "Hendra, apakah kau melihat ini? Ini bukan lagi tentang hasil tes DNA. Ini tentang keamanan dan kewarasan keluarga kita! Bagaimana bisa kita hidup satu atap dengan seseorang yang memiliki temperamen liar seperti ini? Dia tidak dididik untuk mencintai, dia dididik untuk bertahan hidup dengan cara menginjak dan menjatuhkan orang lain!"
Tuan Mahendra melangkah maju, berdiri di samping Siska. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak mengeras oleh rasa malu di depan para kolega bisnisnya.
"Siska benar, Adel," suara Tuan Mahendra terdengar dingin dan berat. "Sikapmu malam ini sangat tidak pantas. Kau bertindak seolah-olah kau adalah korban yang paling menderita di seluruh dunia, padahal kau baru saja mencoba melakukan pembunuhan karakter terhadap perusahaan yang akan menjamin masa depanmu. Ini membuktikan bahwa didikan panti asuhanmu memang meninggalkan lubang besar dalam etikamu."
"Jadi Ayah lebih percaya pada sandiwara ini?" tanya Adel, suaranya parau. "Ayah tidak melihat bahwa Clarissa yang memegang pisau itu tadi?"
"Dia memegang pisau karena kau menekannya secara mental sampai dia gila, Adel!" sela Siska dengan cepat. "Anak mana yang tidak akan kehilangan akal jika setiap hari diancam, disudutkan, dan diberitahu bahwa dia adalah orang asing di rumahnya sendiri? Kau menggunakan kecerdasanmu yang licik itu untuk menyiksa batin Clarissa, dan sekarang kau berakting seolah kau adalah malaikat yang teraniaya?"
Siska kembali terisak, kali ini sambil menutup wajahnya dengan sapu tangan sutra bertuliskan inisial namanya.
"Maafkan saya, para hadirin terhormat... maafkan kegaduhan ini," isak Siska di balik sapu tangannya. "Saya hanya seorang ibu yang gagal. Saya gagal menjinakkan kemarahan anak kandung saya yang sudah terlalu lama terkontaminasi oleh lingkungan yang kurang beradab. Saya ingin sekali memberinya kasih sayang yang tulus, tapi dia hanya menginginkan satu hal: Melihat Mahendra Group bangkrut dan kami semua jatuh miskin agar dia merasa menang. Dia ingin kita semua berada di level yang sama dengannya di panti asuhan dulu!"
Bisik-bisik di antara para tamu undangan kini berubah menjadi gelombang penghakiman.
"Benar juga kata Nyonya Siska. Darah memang tidak bisa berbohong, tapi lingkungan membentuk sifat."
"Lihat cara bicaranya, tidak ada tenang-tenangnya sama sekali. Tipikal anak jalanan."
"Kasihan keluarga Mahendra, berniat baik malah dikhianati."
Adel menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Mereka semua tertipu. Mereka semua lebih memilih percaya pada tangisan seorang nyonya besar daripada kenyataan yang ada di depan mata.
"Ibu menyebutku 'kurang terdidik'?" Adel bertanya, suaranya kini mendadak tenang, sebuah ketenangan yang dingin dan menakutkan. "Hanya karena aku tidak tahu cara menangis dengan anggun sambil menusuk orang dari belakang? Hanya karena aku tidak tahu cara bersandiwara di depan kamera sementara aku membiarkan anak kandungku sendiri kelaparan di paviliun?"
"TUTUP MULUTMU, ADELARD!" Tuan Mahendra membentak, tangannya hampir saja melayang jika tidak ditahan oleh Devan yang tiba-tiba melangkah maju melindungi Adel.
"Jangan berani menyentuhnya, Tuan Mahendra," suara Devan terdengar seperti geraman harimau yang siap menerkam.
Siska tertawa sinis melihat Devan membela Adel. "Oh, lihatlah. Kau bahkan menggunakan pengaruh Tuan Muda Devan untuk melawan ayahmu sendiri? Licik sekali. Inilah yang Ibu maksud dengan 'kurang terdidik'. Kau tidak menggunakan akal sehat, kau menggunakan manipulasi murahan untuk mendapatkan apa yang kau mau."
Siska menatap Adel dengan tatapan kemenangan yang tersembunyi di balik mata merahnya. "Rencanaku hanya satu, Adel: Melindungi kehormatan keluarga ini dari pedang yang kau bawa. Jika kau merasa terhina karena disebut kurang terdidik, itu karena tindakanmu memang membuktikannya. Seorang putri sejati tidak akan pernah mempermalukan orang tuanya di depan publik, apa pun alasannya. Tapi kau? Kau justru menikmatinya."
Adel menoleh pada Tuan Mahendra. "Dan Ayah setuju? Ayah membiarkan Ibu menghina latar belakangku hanya untuk menyelamatkan harga saham malam ini?"
Tuan Mahendra menghindari tatapan mata Adel. Ia sibuk memperbaiki letak dasinya yang miring, wajahnya tampak sangat tidak nyaman namun tetap tegas. "Sikapmu malam ini tidak membuktikan bahwa Ibumu salah, Adel. Pergilah ke kamarmu. Jangan membuat keadaan semakin buruk sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran."
Di bawah cahaya lampu kristal yang menyilaukan, Adel merasa dirinya benar-benar asing. Ia memiliki darah pria dan wanita di podium itu, namun ia merasa lebih terhormat berdiri di tengah anak-anak yatim piatu yang jujur daripada berada di tengah kemewahan yang dipenuhi fitnah busuk ini. Ia menyadari satu hal: Di mata keluarga Mahendra, pendidikan bukan tentang ilmu atau kejujuran, melainkan tentang seberapa rapi seseorang bisa mengemas kebohongan agar terlihat seperti kebenaran yang elegan.
"Baiklah," ucap Adel, suaranya tenang namun bergetar oleh keputusan besar yang baru saja ia ambil. "Jika menjadi 'terdidik' versi kalian berarti harus menjadi pembohong ulung, maka aku bangga menjadi anak panti asuhan yang kalian hina ini."
Siska tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak dilihat oleh orang lain. Ia tahu, fitnahnya telah berhasil meracuni pikiran semua orang di ruangan itu. Adelard bukan lagi seorang putri yang hilang; bagi publik malam ini, ia hanyalah seorang pengacau yang tidak tahu terima kasih.