NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Dia melangkah masuk ke dalam rumah, mengambil joran pancing bambu tuanya, dan sebuah kotak kayu kecil berisi sepuluh butir pelet Umpan Herbal Penarik Ikan yang dia buat semalam. Lengan kirinya sudah pulih total, jadi dia bisa memancing dengan tenaga penuh hari ini.

Tap. Tap. Tap.

Lin Ye berjalan menyusuri jalan setapak desa menuju sungai. Suasana sore di Desa Qingshui sangat tenang. Hanya terdengar suara angin yang meniup daun-daun bambu dan suara gemericik air sungai di kejauhan.

Sesampainya di pinggir sungai, Lin Ye melihat beberapa orang warga desa juga sedang menghabiskan waktu sore mereka. Ada beberapa anak kecil yang berenang di bagian sungai yang dangkal, dan seorang pria tua kurus kering yang sedang duduk di atas kursi lipat, memegang pancingan modern yang terbuat dari karbon.

Pria tua itu adalah Paman Zhou, pensiunan guru sekolah dasar yang memang dikenal sebagai pemancing paling rajin di desa.

"Selamat sore, Paman Zhou. Apakah ikannya banyak hari ini?" sapa Lin Ye sambil berjalan mendekat.

Paman Zhou menoleh, menyesuaikan letak kacamatanya yang melorot. Dia tersenyum ramah melihat Lin Ye.

"Oh, Lin Ye. Selamat sore. Tidak, ikannya sedang malas hari ini. Aku sudah duduk di sini selama dua jam dan hanya mendapat dua ekor ikan wader kecil. Cuacanya terlalu panas tadi siang, ikannya pasti bersembunyi di lubang batu yang dalam," jawab Paman Zhou sambil menunjuk ember kecilnya yang hampir kosong. Matanya kemudian melirik pancingan bambu tua di tangan Lin Ye.

"Itu pancingan kakekmu, bukan? Bambu kuning beruas pendek. Aku ingat sekali, kakekmu dulu sering memancing di tikungan sungai sebelah sana dengan pancingan itu," kata Paman Zhou dengan nada nostalgia.

"Benar, Paman. Saya menemukannya di gudang pagi tadi saat sedang bersih-bersih," jawab Lin Ye. "Saya harap pancingan ini masih membawa keberuntungan kakek."

"Duduklah di batu sebelah sana, Nak. Air di sana cukup dalam, biasanya ada ikan nila yang lewat. Tapi jangan berharap banyak, sungainya sedang surut," saran Paman Zhou.

"Terima kasih atas sarannya, Paman," balas Lin Ye.

Lin Ye berjalan ke arah batu pipih yang ditunjuk oleh Paman Zhou. Tempat itu tidak jauh dari posisinya memancing kemarin. Dia duduk dengan nyaman, meletakkan ember kosong di sebelahnya, dan membuka kotak kayu kecilnya.

Aroma tajam getah pinus, daun mint, dan manisnya buah beri merah langsung menyengat hidung.

"Mari kita lihat sekuat apa efek dari umpan buatan sistem ini," batin Lin Ye dengan penuh antisipasi.

Dia mengambil sebutir pelet umpan herbal itu, menusukkannya ke kail besi kakeknya, dan mengayunkan pancingannya ke tengah sungai.

Swosh. Plup.

Pelampung kayu jatuh ke air, menciptakan riak kecil yang menyebar.

Lin Ye memegang gagang pancingnya dengan kedua tangan, siap merespons getaran apa pun. Beberapa detik pertama tidak terjadi apa-apa. Sungai mengalir dengan tenang.

Namun, di bawah permukaan air, hal yang sama sekali berbeda sedang terjadi. Pelet umpan herbal itu mulai larut perlahan, melepaskan zat aromatik magis yang menyebar dengan cepat mengikuti arus sungai. Bagi ikan dan makhluk air, aroma itu seperti panggilan magnetis yang tidak bisa ditolak, menjanjikan nutrisi dan energi murni.

Hanya dalam waktu kurang dari satu menit sejak umpan dilempar, Paman Zhou yang duduk sepuluh meter dari Lin Ye tiba-tiba berdiri dari kursi lipatnya.

"Eh? Apa yang terjadi dengan airnya?" seru Paman Zhou dengan nada heran.

Lin Ye menatap ke arah tengah sungai. Permukaan air yang tadinya tenang tiba-tiba bergolak. Ratusan ikan berukuran kecil hingga sedang terlihat berenang panik dari segala arah, berkerumun membentuk pusaran air kecil tepat di lokasi pelampung Lin Ye berada. Ikan-ikan itu saling berebut, melompat ke permukaan air seolah sedang memperebutkan sepotong daging segar.

"Luar biasa. Efek umpan ini menarik ikan dari seluruh penjuru sungai," batin Lin Ye takjub melihat pemandangan itu.

Dug. Dug. Dug.

Gagang pancing bambu di tangan Lin Ye bergetar hebat tiada henti. Puluhan mulut ikan mencoba menggigit umpan itu secara bersamaan. Namun, pelampungnya belum tenggelam sepenuhnya, menandakan bahwa belum ada ikan yang benar-benar menelan kailnya.

"Lin Ye, apa yang kamu gunakan sebagai umpan? Aku belum pernah melihat ikan bereaksi segila ini seumur hidupku," teriak Paman Zhou dari kejauhan, matanya terbelalak tidak percaya.

"Hanya cacing dan sedikit campuran adonan rahasia keluarga, Paman," jawab Lin Ye beralasan, pandangannya tidak lepas dari pelampungnya.

Tiba-tiba, kerumunan ikan kecil yang bergolak di permukaan air mendadak menyebar dan melarikan diri dengan panik. Permukaan sungai kembali tenang selama tiga detik. Kesunyian yang mencekam.

Dug.

Satu ketukan yang sangat pelan, namun getarannya terasa luar biasa berat di tangan Lin Ye.

Sreeet.

Pelampung kayu itu melesat ke dalam air dengan kecepatan peluru. Senar pancing menjerit nyaring akibat gesekan yang ekstrem. Ujung joran bambu melengkung sangat ekstrem, hampir patah menjadi dua bagian.

"Tarikannya datang," teriak Lin Ye.

Dia langsung berdiri, memasang kuda-kuda kakinya dengan kuat di atas batu. Otot lengan kanan dan kirinya yang sudah pulih sepenuhnya menegang maksimal, menarik gagang pancing itu ke belakang.

1
Heri Susanto8246
😄😄 jadi ingat novel nelayan yang tidak pernah mendapatkan ikan saat memancing.
Gege
bukannya ada ruang penyimpanan sistem ya tor.. simpan saja sampe menggunung didalamnya...
Junior Ian
Bgus
Manusia Biasa
keren thor mekanik Sistem nya🤣 benar benar kaya game rpg
Manusia Biasa
jir kirain dapat ikan grade s atau gede🗿
Yui: harus out of the box kak/Smile/
total 1 replies
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Manusia Biasa
jir ada fitu memancing juga asik🤣
Manusia Biasa
wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!