"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: PEDANG DI BALIK ISAK TANGIS
Mobil SUV hitam itu membelah jalanan kota yang mulai diguyur hujan tipis. Di kursi belakang, Nerina menatap butiran air yang merayap di kaca jendela. Pikirannya melayang pada ucapan Ergino tentang pertemuan yang sudah ia atur.
"Gino, apa kamu yakin Tuan Besar Fidelis mau menemuiku?" tanya Nerina lirih. "Andrew adalah anak kebanggaannya selama bertahun-tahun. Menghancurkan Andrew sama saja dengan menampar wajah ayahnya sendiri."
Ergino, yang fokus mengemudi, melirik sekilas melalui spion tengah. "Tuan Besar Fidelis adalah seorang pebisnis murni, Nona. Baginya, darah memang lebih kental daripada air, tapi keuntungan jauh lebih berharga daripada kegagalan. Andrew bukan lagi aset, dia adalah liabilitas yang bisa membangkrutkan seluruh dinasti Fidelis. Dia butuh seseorang untuk membereskan kekacauan ini tanpa membuat tangannya kotor."
"Dan orang itu adalah aku," gumam Nerina.
"Tepat. Dan saya sudah memastikan beliau tahu bahwa hanya Anda yang memegang bukti penggelapan dana yang bisa menyeret Andrew ke penjara. Dia akan memilih untuk 'mengasingkan' putranya daripada melihat putranya berbaju oranye di televisi nasional."
Mobil berhenti di depan sebuah restoran privat dengan pengamanan ketat. Nerina melangkah masuk, didampingi Ergino yang tetap setia di belakangnya. Di dalam ruangan bernuansa klasik itu, duduk seorang pria tua dengan aura otoritas yang sangat kuat. Tuan Besar Fidelis.
"Duduklah, Nerina," suara pria tua itu berat. "Aku tidak menyangka kita akan bertemu dalam kondisi seperti ini. Putri angkat Lynn yang cerdik... dan pelayan yang terlalu kompeten."
Nerina duduk dengan tenang. "Saya datang bukan untuk berbasa-basi, Tuan. Saya datang untuk menawarkan jalan keluar. Andrew telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan—baik kepada saya maupun kepada perusahaan keluarga saya."
Tuan Fidelis menghela napas panjang. "Aku sudah melihat rekaman di pesta itu. Dan aku sudah mendengar apa yang terjadi di dermaga semalam. Andrew sudah hilang kendali. Apa yang kau inginkan sebagai ganti dari dokumen audit asli itu?"
"Sederhana," Nerina memajukan tubuhnya. "Cabut seluruh dukungan finansial dan hukum untuk Andrew. Biarkan dia menghadapi konsekuensi tindakannya sendiri. Sebagai imbalannya, aku akan menyerahkan dokumen itu hanya padamu, agar kau bisa membereskannya secara internal tanpa melibatkan otoritas publik lebih jauh. Nama besar Fidelis tetap terjaga, dan Andrew... dia akan menghilang dari peta bisnis selamanya."
Pria tua itu menatap Nerina lama, lalu beralih pada Ergino. "Pelayanmu... dia sangat pandai bernegosiasi melalui email. Siapa dia sebenarnya?"
"Dia adalah orang yang memastikan kesepakatan ini berjalan lancar," sahut Nerina cepat, mencegah Ergino menjawab.
"Baiklah," Tuan Fidelis mengulurkan tangan. "Deal. Andrew akan dikirim ke luar negeri malam ini untuk perawatan 'kejiwaan' permanen. Dia tidak akan pernah kembali ke negara ini, apalagi menyentuhmu."
Nerina menyambut jabat tangan itu. Sebuah beban berat seolah terangkat dari bahunya. Satu musuh telah tumbang. Namun, ia tahu, musuh yang paling berbahaya justru sedang menunggu di rumah.
Kediaman Keluarga Lynn - 21.00 WIB
Begitu Nerina melangkah masuk ke lobi rumah, ia disambut oleh suara jeritan histeris Anora Lynn yang menggema dari lantai atas.
"Elysia! Jangan, Nak! Buka pintunya!"
Nerina dan Ergino saling pandang. Mereka segera berlari menuju kamar Elysia. Di sana, Elyas dan Nero sedang mencoba mendobrak pintu kayu ek yang terkunci rapat dari dalam.
"Elysia, dengarkan Ayah! Kita bisa bicara baik-baik!" teriak Elyas dengan suara serak.
"Tidak ada yang mencintaiku di sini!" suara Elysia terdengar dari dalam, parau oleh tangis yang terdengar sangat meyakinkan. "Ayah lebih membela Nerina! Kak Nero juga menyalahkanku! Kak Nerina ingin aku mati agar dia bisa menguasai semuanya! Lebih baik aku mati sekarang daripada hidup tapi tidak dianggap!"
Brak!
Pintu akhirnya terbuka setelah Nero menendangnya dengan keras. Mereka semua menghambur masuk. Elysia berdiri di balkon kamarnya, angin malam memainkan rambutnya yang acak-acak. Di tangannya, ia memegang sebotol obat penenang yang sudah terbuka.
"Jangan mendekat!" teriak Elysia saat melihat Nerina. "Ini yang Kakak mau, kan? Kakak ingin aku pergi selamanya! Kakak selalu merasa paling hebat karena sudah sepuluh tahun di sini. Semuanya sayang pada Kak Nerina... sementara aku hanya orang asing yang pembawa sial!"
"Elysia, letakkan obat itu," Anora meratap, berlutut di lantai. "Ibu sangat menyayangimu, Nak. Tolong jangan lakukan ini."
Nerina berdiri diam di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan mata dingin. Ia melihat bagaimana tangan Elysia gemetar, namun matanya terus melirik ke arah Elyas untuk memastikan ayahnya melihat betapa menderitanya dia.
"Drama yang menarik, Elysia," ucap Nerina tenang, memecah suasana tegang itu.
"Nerina! Diam kamu!" bentak Nero. "Adikmu sedang bertaruh nyawa!"
Nerina melangkah maju, mengabaikan peringatan Nero. Ia berdiri tepat di hadapan Elysia, dipisahkan oleh jarak beberapa meter. "Kamu bilang tidak ada yang menyayangimu? Kamu baru kembali seminggu dan Ayah sudah memberikan posisi Direktur untukmu. Ibu memberikan perhiasannya padamu. Nero membela setiap kesalahanmu. Lalu kamu bilang mereka tidak sayang?"
"Itu semua palsu!" teriak Elysia. "Mereka hanya kasihan padaku! Tapi di dalam hati mereka, mereka tetap memujamu!"
"Jika kamu ingin mati, lakukanlah," tantang Nerina, membuat seluruh ruangan tersentak kaget. "Tapi jangan gunakan obat penenang itu. Itu terlalu lambat. Gunakan pisau di atas nakasmu, atau terjunlah sekarang. Jika kamu ragu, berarti kamu hanya sedang haus perhatian karena posisimu di kantor baru saja kubekukan."
"Nerina! Cukup!" Elyas Lynn menampar meja di dekatnya. "Bagaimana bisa kamu bicara begitu pada adikmu yang sedang depresi?!"
Elysia menangis semakin keras, menjatuhkan botol obat itu ke lantai. Ia terduduk lemas, menutupi wajahnya. "Lihat... Kak Nerina benar-benar ingin aku mati... dia tidak punya hati..."
Elyas segera memeluk Elysia, mengelus rambutnya dengan penuh rasa bersalah. "Maafkan Ayah, Elysia. Ayah janji, Ayah tidak akan membiarkan Nerina menyakitimu lagi. Soal posisi di kantor, Ayah akan membatalkan pembekuan itu besok pagi. Kamu adalah putri kandungku, kamu berhak atas segalanya."
Elysia tersenyum di balik bahu ayahnya, sebuah senyuman tipis yang hanya bisa dilihat oleh Nerina. Senyuman kemenangan.
Nerina merasakan sebuah kehadiran hangat di belakangnya. Ergino berdiri di sana, tangannya hampir menyentuh punggung Nerina sebagai bentuk dukungan diam-diam.
"Kita pergi dari sini, Nona," bisik Ergino. "Udara di sini sudah terlalu tercemar oleh kebohongan."
Nerina berbalik dan berjalan keluar tanpa sepatah kata pun. Begitu sampai di koridor yang sepi, ia berhenti dan bersandar pada dinding.
"Dia menang malam ini, Gino," bisik Nerina, air mata kemarahan menggenang di matanya. "Hanya dengan sedikit akting bunuh diri, Ayah langsung melupakan semua bukti kejahatannya."
Ergino berdiri di depan Nerina, menghalangi pandangan siapa pun yang mungkin lewat. Ia mengangkat tangannya, jemarinya menghapus air mata di pipi Nerina dengan sangat lembut.
"Dia tidak menang, Nerina. Dia hanya menunda kekalahannya," suara Ergino sangat dalam. "Biarkan dia merasa di atas angin untuk sementara. Karena saat seseorang merasa paling aman, itulah saat terbaik untuk menghancurkan mereka sampai ke akarnya."
Nerina menatap mata Ergino. "Gino... kenapa kamu begitu yakin?"
"Karena saya sudah menyiapkan sesuatu yang tidak bisa ia lawan dengan air mata," Ergino tersenyum misterius. "Besok, Tuan Besar Fidelis akan mengirimkan surat resmi pengusiran Andrew. Dan di dalam surat itu, Andrew akan meninggalkan 'pesan terakhir' yang akan membongkar siapa sebenarnya yang menghasutnya sejak awal. Elysia tidak akan bisa lari dari fakta itu."
Nerina menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya. "Kamu benar. Aku tidak boleh terpancing."
"Tidurlah, Nerina," Ergino membungkuk, wajahnya sejajar dengan wajah Nerina. "Besok adalah hari di mana mawar hitam akan menunjukkan duri yang sesungguhnya. Dan saya akan selalu ada di belakang Anda, memastikan tidak ada satu pun tetes air mata Anda yang terbuang sia-sia lagi."
Nerina menatap pelayannya itu. Di tengah kegilaan keluarga Lynn, hanya Ergino yang membuatnya merasa nyata. Ia tidak tahu siapa pria ini sebenarnya, tapi ia tahu, di tangan Ergino, takdirnya tidak akan berakhir di gudang tua itu lagi.