NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memujuk

Malam itu, mansion Valehart diselimuti keheningan yang mencekam, namun di ujung sayap barat, cahaya temaram masih mengintip dari celah pintu studio pribadi Aurora.

Di dalam ruangan yang berbau minyak cat dan kanvas itu, Aurora tidak sedang beristirahat seperti yang diperintahkan dokter pribadi Lucien tadi siang. Sebaliknya, ia justru duduk di puncak sebuah tangga kayu yang tinggi, menghadap kanvas raksasa yang menutupi hampir seluruh dinding studio.

Gaun tidurnya yang berwarna putih bersih tampak kontras dengan warna-warna di kanvas.

Rambut gelapnya yang biasanya tertata rapi dalam sanggul bangsawan, kini dibiarkan tergerai bebas hingga ke pinggang, mengalir seperti sutra hitam di bahunya yang terbuka. Beberapa helai rambut menempel di lehernya yang jenjang karena peluh tipis akibat konsentrasi yang dalam. Wajahnya yang pucat—sebening porselen mahal—kini dihiasi semburat merah di tulang pipinya, memberikan kesan kecantikan yang rapuh.

Jemarinya yang lentik, meski ternoda sisa-sisa cat minyak, tetap bergerak dengan keanggunan seorang balerina. Setiap kali ia mengayunkan kuas, otot-otot di lengannya yang halus tampak bergerak samar di bawah cahaya temaram, menciptakan pemandangan yang sanggup menghentikan napas siapa pun yang memandangnya.

Lucien berdiri terpaku di bawah sana, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

Dari sudut pandangnya, Aurora yang duduk di atas tangga dengan kaki telanjang yang mungil dan bersih itu tampak tidak nyata. Wanita itu terlihat seperti sebuah mahakarya yang jauh lebih indah daripada lukisan apa pun yang pernah ada di museum mereka.

Ada sesuatu yang sangat provokatif sekaligus menyakitkan saat melihat Aurora yang seanggun itu berada di tempat setinggi itu, sendirian, seolah-olah ia siap terbang atau... terjatuh kapan saja.

"Setiap orang waras akan berada di tempat tidur setelah kehilangan banyak darah karena stres," sebuah suara berat bergema dari ambang pintu, memecah kesunyian.

Aurora tidak berhenti.

Kuasnya masih menari di atas kanvas. Ia tahu itu Lucien tanpa harus menoleh.

"Melukis adalah satu-satunya cara agar aku tetap waras."

Lucien melangkah masuk ke dalam studio, langkahnya tidak bersuara di atas lantai kayu. Ia berhenti tepat di bawah tangga, mendongak menatap istrinya yang tampak begitu kecil namun keras kepala di ketinggian itu.

Ia tidak lagi mengenakan jas formalnya, hanya kemeja putih dengan kancing atas yang terbuka dan lengan yang digulung, memberikan kesan yang lebih santai.

"Turunlah, Aurora. Kau bisa jatuh jika kepalamu pening lagi," perintah Lucien.

Aurora akhirnya menghentikan gerakan tangannya. Ia menunduk, menatap Lucien dari atas tangga.

"Kau selalu ingin aku turun, bukan? Turun dari harga diriku, turun dari nama baikku, dan sekarang turun dari tangga ini."

Lucien menyipitkan mata.

Ia meletakkan satu tangannya di tiang tangga, seolah memastikan benda kayu itu tetap stabil.

"Aku tidak peduli kau ingin berdiri di mana, asalkan kau tidak pingsan dan menambah daftar pekerjaanku."

Aurora tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang tidak mencapai matanya.

"Jangan khawatir, Tuan Valehart. Aku sudah terbiasa berdiri di tempat yang tinggi sendirian. Jatuh bukan lagi hal yang menakutkan bagiku."

Lucien menghela napas panjang.

Sebuah suara yang jarang terdengar keluar dari mulut pria sesombong dirinya. Ada beban yang ikut terlepas bersama hembusan napas itu saat ia melihat Aurora yang masih bersikap keras kepala di atas sana.

Ia tidak langsung membentak.

Sebaliknya, Lucien melangkah setapak lebih dekat, membuat bayangan tubuhnya yang besar menelan sebagian cahaya yang mengenai tangga.

"Turunlah, Aurora. Aku tidak sedang ingin berdebat," suaranya merendah, kali ini terdengar lebih seperti bujukan daripada perintah.

Aurora hanya bergeming.

Ia memutar kuas di tangannya, matanya kembali terpaku pada kanvas, mengabaikan kehadiran pria di bawahnya.

Melihat reaksi dingin itu, Lucien menyipitkan mata. Ia terdiam sejenak, memandangi jemari kaki Aurora yang mungil dan kotor karena cat, sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya.

"Kau marah padaku?"

Gerakan tangan Aurora terhenti di udara. Ia tidak menoleh, namun bahunya tampak sedikit menegang.

"Untuk apa aku marah?" sahut Aurora lirih.

"Karena aku membiarkan drama di pengadilan itu terjadi. Karena aku membiarkanmu melihat wajah asli asisten kesayanganmu itu di depan semua orang," lanjut Lucien. Nada suaranya terdengar datar, namun ada sedikit rasa penasaran yang terselip di sana.

Lucien tahu cara yang ia gunakan untuk memenangkan kasus ini sangatlah brutal. Ia tidak hanya membersihkan nama Aurora, tapi ia juga menghancurkan hati istrinya dengan cara membongkar pengkhianatan Bella tepat di depan matanya.

"Kau membenciku karena cara yang kupilih, bukan?" tanya Lucien lagi, kali ini ia mendongak, mencoba mencari jawaban di balik sorot mata Aurora yang tersembunyi.

Aurora perlahan meletakkan kuasnya ke atas palet. Ia menarik napas panjang, lalu akhirnya menoleh dan menatap Lucien dari ketinggian.

"Aku tidak marah karena kau menang," ucapnya dengan getaran yang sulit disembunyikan.

"Aku hanya benci karena setiap kali aku merasa sudah menang, kau selalu ada di sana untuk mengingatkanku... bahwa duniaku hanyalah sebuah papan catur yang sedang kau mainkan."

Lucien menghela napas panjang—bukan napas kemarahan, melainkan napas yang sarat dengan keletihan yang tidak biasa ia tunjukkan.

Ia menatap Aurora dengan sorot mata yang sedikit lebih lunak, meski wajahnya tetap setegas batu karang.

"Kau salah paham," ujar Lucien lirih.

"Kau marah padaku karena kau pikir aku hanya ingin bermain-main dengan hidupmu?" tanya Lucien lagi. Kali ini nadanya benar-benar tulus ingin tahu.

Aurora tidak menjawab, namun ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Lucien bisa melihat rahang istrinya itu mengeras, menahan emosi yang meluap.

"Aku membiarkan semua itu terungkap di pengadilan bukan untuk menghancurkanmu," lanjut Lucien.

"Aku melakukannya agar tidak ada satu orang pun di kota ini... bahkan keluargamu sendiri... yang berani meragukanmu lagi. Aku ingin mereka melihat kebenaran itu dengan mata kepala mereka sendiri, supaya kau tidak perlu lagi bersembunyi di balik bayang-bayang."

Lucien menjeda kalimatnya, menatap kaki telanjang Aurora yang berada tepat di depan matanya.

"Aku tidak sedang bermain catur denganmu. Aku sedang memenangkan perang untukmu. Apakah itu salah di matamu?"

Suara Lucien tidak lagi dingin.

Ada sedikit nada keputusasaan yang jarang ia tunjukkan. Ia ingin Aurora mengerti bahwa di balik sikapnya yang keras, dia ada di pihak wanita itu.

"Sekarang, turunlah," bujuk Lucien lagi, suaranya kini sehalus beludru.

"Kau tidak perlu berdiri setinggi ini sendirian untuk membuktikan kau kuat. Aku di sini."

Ia mengulurkan tangannya ke atas, telapak tangannya terbuka lebar, menunggu Aurora untuk menyambutnya.

Aurora menatap telapak tangan Lucien yang terbuka. Untuk beberapa saat, keraguan masih menari-nari di matanya. Ia terbiasa dikhianati, terbiasa menghadapi badai sendirian, sehingga keikhlasan Lucien terasa seperti sesuatu yang terlalu asing untuk dipercaya.

Namun, saat ia menatap mata gelap suaminya, ia tidak menemukan kilatan licik yang biasa ia lihat. Yang ada hanyalah kesabaran yang tenang.

Perlahan, Aurora meletakkan tangannya di atas tangan Lucien. Kulit mereka bersentuhan—dinginnya jemari Aurora bertemu dengan hangatnya telapak tangan Lucien yang kokoh. Lucien menggenggamnya dengan mantap, memberikan tumpuan saat Aurora mulai menuruni anak tangga satu per satu.

Begitu kaki Aurora menyentuh lantai kayu, Lucien tidak langsung melepaskan genggamannya. Ia memastikan istrinya berdiri dengan stabil sebelum akhirnya bersuara.

"Masih ada satu hal lagi yang harus kau selesaikan," ucap Lucien pelan.

Aurora mendongak, wajahnya yang letih menatap Lucien dengan bingung. "Apa lagi? Paman Moltemer sudah ditahan, dan Bella..."

"Bukan mereka," potong Lucien. "Nenekmu."

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!