NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Malam turun perlahan, membawa ketenangan yang kontras dengan hiruk pikuk kafe sepanjang hari.

Di taman belakang rumah Sonya, lampu-lampu kecil menyala hangat, memantulkan cahaya lembut di permukaan kolam renang. Pohon mangga dan persik yang tumbuh rapi bergoyang pelan tertiup angin malam, menciptakan suara gesekan daun yang menenangkan.

Di atas meja kecil, beberapa kaleng minuman bersoda dan sedikit alkohol terbuka. Satu kotak ayam goreng dan kentang goreng tersaji seadanya, tidak mewah, tapi cukup untuk menemani malam santai.

Nindi duduk bersila di kursi taman, memegang kaleng minuman di tangannya. Sementara di seberangnya, Sonya menyandarkan tubuh dengan lebih santai.

Hening sejenak.

Nyaman.

“Nindi… terima kasih,” ucap Sonya akhirnya, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Nindi menoleh.

“Untuk tadi,” lanjut Sonya. “Kamu mau mengikuti keinginanku.”

Nindi tersenyum kecil. “Itu bukan masalah besar.”

“Tapi tetap saja… aku merasa tidak enak.”

Nindi menggeleng pelan. “Yang harus merasa begitu justru aku. Kamu sudah menampungku, memberiku tempat tinggal, dan pekerjaan.”

Sonya terdiam sejenak. Matanya menatap Nindi dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Tapi aku tidak memberimu pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu.”

Nindi tertawa pelan. “Jadi kasir juga pekerjaan, Sonya. Dan aku masih bersyukur.”

Sonya tiba – tiba menghela napas panjang.

“Tadi… kamu sengaja, kan?”

Nindi mengangkat alis.

“Mengubah racikan kopimu.”

Nindi tertawa kecil. “Kamu jeli juga.”

“Itu bukan racikanmu yang biasa.”

Nindi menggaruk belakang kepalanya. “Ya… aku memang menurunkannya sedikit.”

“Sedikit?” Sonya menatapnya tak percaya. “Kamu sengaja membuat kopimu tidak lebih baik dari milik Clay.”

Nindi mengangkat bahu ringan. “Aku hanya menyesuaikan situasi.”

“Kamu mengorbankan standar profesionalmu.”

“Tidak,” jawab Nindi santai. “Aku hanya memilih tidak menonjol.”

Kalimat itu membuat Sonya terdiam. Ada sesuatu yang dalam dari cara Nindi mengatakannya, tenang, tapi penuh kesadaran.

“Aku hanya ingin memberi Clay pelajaran kecil,” gumam Sonya. “Tapi malah kamu yang ikut terseret.”

Sonya menunduk sejenak, memainkan ujung kaleng minumannya. “Kadang dia terlalu… keras kepala. Dan jujur saja, sedikit sombong. Susah diatur, bahkan olehku sendiri,” lanjutnya dengan nada setengah pasrah. “Padahal aku bosnya.”

Nindi tersenyum. “Kadang, pelajaran memang butuh peran tambahan.”

“Sepertinya… setelah ini anak itu makin tidak bisa diselamatkan,” ucap Sonya pelan.

Nindi menoleh, tersenyum tipis. “Tapi meskipun begitu, kamu tetap menyayanginya, kan?”

“Iya,” Sonya mengangguk kecil.

“Kadang dia seperti anak sendiri, bikin pusing, tapi tetap tidak bisa dilepas.”

Sonya tertawa kecil. Lalu mengangkat kaleng minumannya.

“Cheers?”

“Cheers.”

Kaleng beradu pelan. Mereka berdua meneguk minumannya. Lalu memakan ayamnya.

Sonya melirik sekilas ke arah Nindi, seolah baru teringat sesuatu. “Oh iya… tadi di kafe,” ucapnya santai, “lumayan ramai, ya?”

Nindi mengangguk kecil. “Iya.”

Sonya tersenyum tipis, lalu menambahkan, “Dan… sepertinya banyak yang datang bukan cuma untuk meminum kopi.”

Nindi berhenti sebentar, lalu terkekeh pelan. “Kamu sudah tahu, ya?”

Sonya mengangkat bahu ringan. “Kelihatan sekali. Bahkan tanpa harus diberi tahu.”

Ia sedikit mencondongkan tubuhnya, lebih serius sekarang. “Gimana? Mereka, sempat bikin kamu tidak nyaman?”

Nindi terdiam sejenak, lalu mengambil kentang goreng sebelum menjawab. “Beberapa… iya.”

Sonya mengangguk pelan, seperti sudah menduga. “Mereka memang begitu. Kalau sudah soal Clay, kadang bisa berlebihan.”

“Tapi aku tidak menyangka, mereka sampai seperti itu.”

Sonya tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan ekspresi Nindi.

“Maksudku…” lanjut Nindi, sedikit menghela napas, “tatapan mereka, cara mereka bicara, rasanya kalau aku tidak cukup sabar mungkin dari tadi aku sudah membalas mereka.”

Sonya tersenyum tipis, kali ini lebih mengerti.

“Selamat datang di dunia Clay.”

“Kamu tahu, tadi mereka menatapku dari ujung rambut sampai ujung kepala.” Keluh Nindi.

Sonya terkekeh pelan, tapi tanpa nada mengejek. “Ya… itu sudah jadi kebiasaan mereka.”

Sonya mengambil satu kentang goreng, lalu melanjutkan santai, “Bukan karena kamu salah. Mereka cuma, merasa wilayahnya terganggu.”

“Mereka semua aneh. Bisa merasa terganggu hanya dengan kehadiranku,” kata Nindi.

Sonya tersenyum tipis, menatapnya sekilas. “Itu artinya, mereka sudah menganggapmu sebagai saingan.”

Nindi mengernyit kecil.

Sonya mengangkat bahu santai. “Dan jujur saja, kamu memang cukup cantik untuk itu.”

“Kamu terlalu melebih-lebihkan.”

“Ini memang kenyataannya, buktinya mereka merasa terancam.”

“Sudahlah… tidak usah dibahas lagi.”

Sonya tidak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu ikut terdiam sejenak. Suasana kembali tenang, hanya diisi suara angin malam dan gemericik air kolam.

Beberapa detik berlalu.

“Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk pulang?” tanya Sonya.

Nindi menarik napas kecil, jarinya saling mengait di pangkuannya. Ia tersenyum,

“Aku ingin menikah.”

Sonya langsung menoleh cepat. “Menikah?”

“Iya.”

“Dengan siapa?”

Nindi tertawa kecil, tapi terdengar canggung “Belum ada.”

Sonya mengangkat alis. “Tunggu… kamu serius? Belum ada, tapi kamu sudah siap pulang demi itu?”

“Kedengarannya aneh, ya?” Nindi tersenyum tipis.

“Bukan aneh.” Sonya menggeleng pelan “Cuma… biasanya orang menemukan orangnya dulu, baru memutuskan langkah sebesar itu.”

Nindi menunduk sebentar, lalu mengangkat bahu kecil. “Aku cuma ingin… melakukan semuanya dengan cara yang lebih aman.”

“Aman?” ulang Sonya.

“Aku mau cari pasangan dari negaraku sendiri,” lanjut Nindi pelan. “Ibuku pasti tidak akan mudah menerima kalau aku membawa seseorang dari sini.”

Sonya mengangguk pelan. “Perbedaan budaya.”

“Bukan cuma budaya,” gumam Nindi. “Cara berpikir, cara hidup… bahkan hal-hal kecil yang kelihatannya sepele.”

“Kamu takut tidak direstui?”

Nindi tersenyum, tapi kali ini lebih lemah. “Bukan takut… cuma tidak ingin harus memilih.”

"Sonya memperhatikan wajahnya beberapa detik. “Memilih antara keluarga… dan seseorang?”

Nindi mengangguk pelan.

“Dan lagi… hidupku juga bukan di sini.” Suaranya merendah, nyaris seperti gumaman.

Tatapannya sedikit menerawang, seolah melihat sesuatu yang jauh di luar ruangan itu.

“Di sini cuma tempat aku berpijak sementara,” lanjutnya pelan. “Bukan tempatku benar-benar tinggal.”

Ia menarik napas kecil, lalu tersenyum tipis—lembut, tapi ada beban di baliknya.

“Di sana… ada banyak orang yang menungguku.”

Jeda sejenak.

“Terutama orang tuaku.”

Suaranya melemah, hampir tak terdengar.

“Mereka sudah mulai menua… tenaga mereka juga tidak seperti dulu.”

Nindi menunduk sedikit, jemarinya saling menggenggam lebih erat.

“Jadi sepertinya… memang sudah waktunya aku pulang.”

Sonya terdiam beberapa saat setelah Nindi selesai bicara.

Ia menatapnya lama, lalu menghela napas pelan.

“Alasanmu masuk akal,” katanya akhirnya.

Nindi sedikit terkejut, seolah tidak menyangka akan semudah itu dimengerti.

Sonya tersenyum tipis. “Kalau itu untuk keluarga… untuk orang-orang yang menunggumu di sana… ya, memang seharusnya kamu pulang.”

Ia menunduk sebentar, jemarinya memainkan ujung gelas di depannya.

“Aku tidak punya hak untuk menahanmu di sini.”

Nindi menatapnya, matanya mulai melembut.

Sonya mengangkat wajahnya lagi, mencoba tersenyum lebih ringan.

“Cuma…”

Ia berhenti sejenak, seolah menimbang kata-kata.

“Aku akan sangat merindukanmu.”

Suaranya tetap tenang, tapi ada kejujuran yang tidak disembunyikan.

Nindi tersenyum kecil, kali ini benar-benar hangat.

“Aku juga.”

Sonya terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana.

“Jangan sampai lupa sama aku setelah kamu menemukan ‘calon suami dari negaramu sendiri’ itu.”

Nindi tertawa kecil. “Tidak akan.”

“Bagus,” balas Sonya. “Karena aku tidak mau kehilangan teman… hanya karena dia terlalu sibuk mengejar masa depan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!