NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilih Mana?

Dena membeku, sewaktu mencoba mencerna tawaran Alvaro dan keringanan yang dijanjikan kepadanya itu, harus Dena bayar kontan dengan bersedia untuk menjadi milik laki-laki itu.

Di detik yang sama pun kedua pipi Dena langsung memerah, rahangnya menegang saat berusaha keras menahan amarah.

Ingin pula Dena ngomel-ngomel pada laki-laki itu, yang seenak hati ngajakin kawin cuma gara-gara masalah bullying.

Untung, Dena masih sadar diri. Sekarang dirinya sedang berada di ujung tanduk sebuah masalah, dan bisa saja semakin parah jika ia kelepasan marah-marah.

Dena menghela napas, mencoba tetap tenang di situasi yang membuat kepalanya nyaris keliyengan.

"Nikah sama Om?" ulang Dena, takutnya tadi cuma salah mendengar.

Alvaro mengangguk, dengan entengnya mengiyakan tanpa beban.

"Secara sah?!"

Alvaro mengangguk lagi, dengan sedikit menunggingkan senyum licik membuat Dena merinding seketika.

"Kalau tidak sah, untuk apa dilakukan," kata laki-laki itu, santai.

Dena mendelik, sewot, apalagi ketika melihat wajah Alvaro yang lama-lama semakin menyebalkan di matanya.

Dena ingin sekali meninju wajah itu dengan sekuat tenaga.

"Kenapa melotot?"

"Karena saya nggak mau!"

"Lo nolak?"

"Ya iya lah! Masak iya Om yang udah dewasa mau nikahin anak SMA seperti saya?" dengus Dena.

"Om yang benar aja!"

"Bukan mau, tapi cuma ngasih penawaran," ralat Alvaro, tersenyum.

"Sama aja, Om!" sewot Dena.

"Gue kan nggak maksa," kata Alvaro.

"Iya saya tahu, dan saya juga nggak akan mau. Pokoknya sampai kapanpun itu saya nggak akan pernah mau nikah sama, Om!"

"Titik!" tegasnya.

Alvaro diam memperhatikan gelagat Dena yang sedang tidak baik-baik saja.

Semacam sedang asik menikmati lonjakan emosi kesal si gadis tukang bully itu, yang ironisnya membuat Alvaro senyum-senyum geli.

Terlebih lagi saat Dena masih ngomel-ngomel. Justru, di titik itu lah wajah Dena malah semakin terlihat comel.

"Kalau nggak mau ya sudah." Alvaro akhirnya memberi tanggapan, Dena menghela napas lega.

"Tapi jangan salahin gue, kalau besok pagi orang tua kalian dipanggil ke sekolah," ujar Alvaro beberapa detik setelahnya.

Dena langsung kicep, tapi setelah itu ia terpikirkan sesuatu.

"Om sadar? Barusan ngomong apa?" kata Dena yang malah tertawa kecil.

Alvaro mengerinyit, diam.

"Kan tadi saya udah bilang. Saya ini yatim piatu, Om. Jadi, yang bakal datang tuh siapa? Arwah?" kekeh Dena.

Alvaro justru tersenyum tipis.

"Yatim piatu artinya sudah tidak memiliki kedua orang tua, baik ayah ataupun ibu, jika keduanya sudah tiada, baru bisa dikatakan yatim piatu..."

"Sedangkan lo?" Alvaro menunjuk Dena.

"Bukannya masih punya salah satu?" katanya.

"Lalu, kenapa lo menganggap diri lo yatim piatu?"

"Maksud Om apa?" Dena mendadak waspada ketika Alvaro ternyata mengetahui satu rahasia besar yang selama ini ia tutup-tutupi dari siapapun.

"Bukan apa-apa," sahut Alvaro tenang.

"Cuma sekadar mengingatkan," imbuhnya, dan entah kenapa kalimat sesimpel itu membuat tengkuk Dena langsung terasa dingin.

Dena menelan saliva, seperti tiba-tiba curiga ada hal buruk akan segera terjadi di hidupnya.

Sementara Alvaro membuka galeri di ponselnya. Lalu muncul sebuah foto yang seketika membuat kedua bola mata Dena membola.

"Sialan!"

"Dari mana Om dapat foto itu?" tanya Dena dengan wajah memerah padam, saat mengetahui Alvaro menyimpan foto ibu tirinya yang sangat ia benci.

Alvaro tidak menjawab.

"Om tau saya punya ibu tiri?"

"Tau," balas Alvaro tanpa ragu.

Dena menelan ludah, samar. "Tau dari mana?"

Alvaro menyeringai tipis. "Tau sendiri."

Dena menautkan sebelah alisnya.

"Gue tau, Ibu kandung lo meninggal sepuluh tahun lalu," ucap Alvaro pelan.

Dena memperhatikan.

"Dan setahun yang lalu, ayah lo menyusul. Tapi beberapa bulan sebelum kecelakaan itu terjadi...dia menikah lagi secara diam-diam."

Alvaro sejenak berhenti, kemudian menatap Dena lebih dalam.

"Dengan seorang perempuan muda yang sekarang menjadi ibu tiri lo," lanjut Alvaro.

"Perempuan yang mengincar warisan keluarga lo," imbuhnya.

Dena mengepalkan tangan erat.

Alvaro lalu menatap Dena lekat-lekat.

"Sedangkan setelah itu, lo kabur dari rumah, berpindah-pindah sekolah, menyembunyikan identitas, dan berpura-pura menjadi yatim piatu," katanya dingin.

"Dan semua itu lo lakukan untuk menghindari perempuan itu."

Dena membeku gemetar, "Om beneran tau semuanya?"

Alvaro tersenyum samar, kemudian bangun dari posisi duduknya dan berdiri di belakang Dena saat kepala gadis itu masih terasa nyat-nyut karena terkejut.

"Dena..." Alvaro menyentuh kedua bahu Dena, lalu berbisik pelan di sebelah telinganya.

Sesaat wajah Alvaro sempat tersentuh rambut Dena. Alvaro tersenyum kecil, rambut gadis itu benar-benar tercium sangat wangi.

"Kapanpun itu. Merahasiakan identitas asli setelah kabur dari rumah, lalu berusaha untuk terus menghindar dari kejaran ibu tiri yang sedang mengincar warisan keluarga."

"Itu bukan perkara yang sulit untuk gadis liar seperti lo lakukan," bisiknya.

Dena terhenyak, sejujurnya—di titik ini Dena sedang ketakutan setengah mampus.

Alvaro mundur perlahan.

"Begitupun sebaliknya. Mempertemukan lo dengan ibu tiri lo, juga bukan hal yang sulit untuk gue lakukan." Laki-laki itu tersenyum licik.

"Bahkan, bisa gue lakukan di detik ini juga kalau gue mau," sambung Alvaro tepat ketika bahu Dena mulai terasa hangat—ancaman itu terdengar begitu menakutkan untuk Dena.

Dena membalik wajahnya menghadap Alvaro. Matanya melotot dan garis urat di pelipisnya semakin jelas.

"Om sebenarnya siapa sih?!"

"Calon suami lo!" goda Akbar.

"Ck! Maksud saya bukan itu... Tapi Om itu siapa, dan kenapa Om bisa tau banyak tentang keluarga saya?"

Alvaro tidak langsung menjawab, ada beberapa detik jeda yang terjadi ia gunakan untuk mencari satu nama di kontak pribadinya.

"Om mau nelpon orang?" tanya Dena was-was.

Alvaro tertawa kecil sambil menunjukkan layar ponsel. Di sana tersemat nama seorang perempuan. Sial! Itu nomor telepon ibu tirinya.

"Mau gue panggil sekarang?"

Dena langsung panik, dan sesegera mungkin berusaha untuk merebut ponsel Alvaro, akan tetapi itu bukan perkara yang mudah.

"Om! Jangan coba-coba deh!" sewot Dena selepas gagal.

"Gue telfon ya—"

"Jangan!"

Alvaro jadi kasihan.

"Yasudah ...sekarang lo tinggal pilih. Lo bersedia jadi istri gue, atau ibu tiri lo yang gue panggil ke sini?" tawar Alvaro untuk kedua kalinya. Tawaran yang masih sama, hanya saja kali ini lebih sulit untuk Dena tolak.

Sialan!

Dena menghela napas berat, hatinya pun bergetar saat sebuah pilihan tidak masuk akal terpaksa harus dipilihnya.

"Om? Masak saya harus beneran nikah saya kan masih sekolah Om?"

"Lo boleh nolak, tapi konsekuensinya lo tau sendiri," balas Alvaro.

Dena memutar kedua bola matanya jengah, nyaris ingin pasrah. "Om, jangan coba-coba deh! Om nggak tau sebenci apa saya ke perempuan jalang itu!"

"Justru karena gue tau," kata Alvaro.

"Sekarang pilih mana, jadi istri gue atau seluruh harta warisan ayah lo jatuh ke tangan orang yang paling lo benci?"

Dena memejamkan mata sambil berpikir, alangkah baiknya ia memilih yang mana.

Menolak? Atau menerima...

...***...

"Nikahnya harus sekarang banget, Om?" tanya Dena ragu.

"Lebih cepat lebih baik," sahut Alvaro.

Dena melemas, "Nggak bisa nunggu saya lulus dulu? Anak sekolah kan belum boleh nikah Om!"

"Berapa usia lo sekarang?" tanya Alvaro.

"Delapan belas," jawab Dena, tetapi tak lama kemudian sorot matanya berpaling.

Alvaro tersenyum tipis, "Bukan sembilan belas?"

Dena melotot tiba-tiba, "Om tau?"

Alvaro tertawa pelan, "Sejak lo kabur dari rumah setelah ayah lo meninggal, lo sempat berhenti sekolah. Padahal, saat itu lo udah kelas dua belas," ujarnya.

"Lalu ketika pada akhirnya lo memutuskan untuk kembali bersekolah, di sini..."

Alvaro tersenyum miring.

"Di tahun ajaran baru SMA Harina, saat seharusnya lo udah lulus di sekolah lama lo. Lo masih harus mengulang di kelas yang sama ... Artinya, meskipun lo masih sekolah, secara hukum lo yang sudah berusia sembilan belas tahun, sudah diperbolehkan untuk menikah," lanjutnya.

Dena spontan menelan ludah, sungguh tidak disangka, Alvaro ternyata mengetahui hal itu pula.

Sialan!

Dena jadi kikuk kehilangan alasan. Ingin menolak karena alasan umur, rasanya juga sudah tidak mungkin. Benar sih! Ia memang sudah legal untuk menikah, tapi?

"Kalau saya jadi istri Om, pacar saya gimana?" tanyanya kemudian.

"Dia tidak perlu tau," jawab Alvaro cepat.

"Lah, gimana sih Om!" Dena reflek menggaruk-garuk kepala. "Jadi saya harus diam-diam jadi istri orang di belakang pacar saya gitu?"

"Ya."

"Asalkan setiap malam lo pulang ke rumah gue. Soal hubungan lo sama pacar lo, itu bukan urusan gue," kata Alvaro.

Dena mengerinyit sesaat, "Jadi maksudnya, saya tetep boleh pacaran meskipun sudah jadi istri Om?"

Alvaro mengangguk.

"Tapi, kalau dia tau gimana, Om?"

"Itu jadi PR buat lo!" tekan Alvaro menatap Dena tajam.

Dena mengerinyit, "PR?"

"Bagaimanapun itu dia nggak boleh tau, dan nggak cuma pacar lo, tapi semua orang tidak perlu tau, termasuk temen-temen deket lo yang udah lo bebaskan dari ancaman dropout!" tegas Alvaro.

"Pernikahan ini akan sangat dirahasiakan, dan kerahasiaannya tergantung dari bagaimana lo menjaganya!"

"Astaghfirullah... Om waras nggak sih?" kata Dena nggak habis pikir.

"Setidaknya gue masih lebih waras dari ibu tiri lo yang cuma mikirin harta warisan," balasnya.

Dena membeku antara menganggap Alvaro memang sudah nggak waras, atau justru dirinya yang sudah kehilangan logikanya.

Dena bahkan tidak mengira, hanya karena ia salah memilih korban, ia justru dihadapkan oleh sebuah pilihan rumit yang bikin kepalanya terlilit.

...***...

"Gue kasih lo waktu ... paling lambat sampai tengah malam."

"Sekarang lo boleh keluar," kata Alvaro.

Dena masih diam sesaat, bahkan untuk berdiri saja rasanya berat banget kayak ada sebongkah kapal tongkang yang berlabuh di atas kepalanya.

"Perlu gue gendong?" tawar Alvaro saat Dena masih saja tak kunjung berdiri.

"Nggak usah! Saya bisa jalan sendiri!" tolaknya.

"Kalau begitu silahkan keluar," kata Alvaro.

"Dan jangan coba-coba untuk lari, atau Identitas asli lo bakal gue ungkap ke publik!" ancamnya.

"Ihh! Om diem deh! Nggak usah ngancam mulu!"

"Kalau mau Om bongkar ya terserah. Saya masih punya kaki buat lari!" geram Dena sudah kepalang jengkel.

"Lo sadar barusan ngomong apa?"

"Kalau cuma dari kejaran perempuan jalang itu saya nggak takut, Om. Udah biasa saya lakukan!" jawab Dena.

"Kalau dari kejaran musuh-musuh mendiang ayah lo?" Alvaro tersenyum miring sambil kembali duduk di kursi.

Dena kembali membeku, entah kenapa setiap kalimat yang Alvaro katakan seperti memberi Dena ancaman tak terduga. "Om kenal papa saya?"

"Cuma tau, dan sekarang silakan keluar, lalu segera pikirkan apa jawaban lo," tukas Alvaro.

Dena akhirnya keluar.

...***...

Dengan langkahnya yang seperti orang tiba-tiba kena linglung, seperti pula orang yang habis kena gendam di dalam bus kota. Sehingga saat ia berjalan lurus pun, jiwanya kayak nggak tau ketinggalan dimana.

Dena melangkah perlahan mendekat ke arah tiga makhluk yang sedang duduk di kursi.

Dan Micin adalah yang pertama kali menyadari Dena sudah keluar, dan seperti biasa—cungurnya yang sebelas dua belas kayak toa musala, langsung teriak-teriak sambil lari mendekat ke arah Dena.

Sedangkan Rola dan Elsa yang telat menyadari karena lagi pada asik adu suit. Baru menoleh ketika mendengar suara berisik Micin.

Rola pun ikut mendekati Dena, dengan langkah anggun sambil masih sempat-sempatnya pake parfum.

Tak lupa, Rola juga menggandeng tangan Elsa yang jalannya kayak orang ngantuk nguap-nguap mulu.

"Dena?"

"Gimana?"

"Kita nggak kena DO kan? Enggak kan? Ayo cepet ngomong enggak, atau gue cubit nih!" cerocos Micin sambil siap-siap nyubit perut Dena.

Di sebelah, Rola juga nggak mau kalah. Si centil itu juga sibuk ngasih pertanyaan yang nggak kalah berisiknya kayak si Micin.

Sedangkan cuma Elsa aja yang dari tadi keliatan anteng. Dan Dena langsung menatap kosong ke arah wajah mereka satu persatu.

Sewaktu ditatap semuanya diam. Tiba-tiba Dena ngomong.

"Tolong..."

Ketiganya langsung bengong.

"Apa?"

"Tolong?"

Dena menghela napas panjang. "Tolong, siapapun ceburin gue ke laut!" lanjutnya.

Micin langsung bereaksi, nyenggol-nyenggol lengan Rola. Ia bingung.

"Heh, lo kenapa sih, Den? Apa yang terjadi di dalam?" tanya Rola, cemas.

"Atau jangan-jangan ..." Micin menatap ke arah Elsa. "Kita berempat beneran kena DO?"

"Iya?!"

Elsa menarik napas, satu-satunya orang yang nggak panik di situasi ini.

"Den, bilang ke kita, hasilnya gimana?" pintanya.

Dena masih diam, lalu tanpa basa-basi ia langsung pergi ninggalin mereka.

Elsa menyipitkan mata, sebagai satu-satunya orang yang merasa ada suatu hal yang tidak beres baru saja terjadi di dalam ruangan itu. Elsa reflek mencengkram tangan Dena.

Dena berhenti, tapi tetep nggak bicara apapun.

Sunyi...

"Lo kenapa sih, Den?" tanya Elsa curiga.

"Kalau ada apa-apa ngomong sama kita!" sambung Rola memeluk pinggang Micin.

"Kita aman kok," jawab Dena singkat.

"Aman? Maksudnya?"

"Ya nggak ada satupun di antara kita yang kena Do," lanjut Dena yang langsung membuat mereka sontak lega.

Elsa pun melepas lengan Dena. "Terus kenapa lo pucet? Badan lo juga anget?" tanyanya keheranan.

"Kena santet kalik?" seloroh Micin. Tidak ada yang menanggapinya.

"Lo sakit?" Elsa semakin mendekat.

"Gue capek, El..." ucap Dena tanpa menoleh.

"Capek kenapa?" Ketiganya langsung saling bertukar tatap.

"Capek hidup," kata Dena langsung kembali jalan ninggalin mereka yang lagi-lagi dibuat bengong.

"Wah fix sih ini. Tuh anak pasti kena santet!" bisik Micin ke Rola.

"Atau abis digodain lagi sama Pak Waluyo?" celetuk Rola.

"Buat dijadiin istri muda?"

"Bisa jadi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!